
Miana sedikit membulatkan matanya karena terkejut. Iya tak menyangka jika kedua mertuanya akan setega itu. Iya pun berfikir. Duduk dengan rasa terkejut dengan manjatuhkan diri di atas sofa.
"Aku tidak boleh lemah. Demi kewarasanku sendiri, aku akan berbuat yang terbaik" Gumam Miana dalam hati. Lalu iya pun mengangkat pandangan. Dipandangnya sepasang lelaki dan wanita paruh baya di depannya tersebut. Miana mengatur nafas supaya terlihat tenang. Setelahnya ia mulai berbicara.
" Baiklah... Tuan Adi dan nyonya Asti yang terhormat. Kenapa kalian selalu berburuk sangka kepadaku. Menuduhku dengan sadis tanpa mencari tahu sebuah kebenaran. Menuduhku dengan penuh amarah padahal itu tidak pernah kulakukan. Apa kalian berpikir jika aku berteman dengan Rendy dan Bagas, berarti aku memiliki hubungan spesial dengan mereka. Kenapa tidak kalian sendiri yang menanyakan perihal pembatalan kerjasama itu kepada Rendy ataupun Bagas. Kalian tahu kan, saya tidak pernah mencampuri urusan orang lain. Dan saya tidak pernah mau tahu urusan orang lain. Dan anda bu Asti yang terhormat, kenapa anda begitu tega menuduh menantu anda sendiri menghancurkan kehidupan yang telah kalian bangun. Apa kalian pikir saya ini tidak memiliki hati nurani. Apa kalian pikir dengan dipermalukan, aku akan membalaskan semua rasa sakit itu. Kalian Jangan berpikir serendah itu Tuan Adi dan nyonya Asti" Miana menekankan pada saat menyebut kata tuan Adi dan nyonya Asti. Hal yang tidak pernah melakukan sebelumnya. Dan tentu saja semua pernyataan Miana membuat Tuan Adi dan bu Asti tidak percaya. Mereka mengira bahwa Miana masih akan tetap menurut kepada mereka.
"Kamu fikir kami akan percaya dengan semua omong kosong mu itu, hehh... Jangan berharap. Bualanmu itu tidak akan mempan untuk kami" Bu Asti mencibir Miana.
"Saya juga tidak meminta anda untuk percaya nyonya Asti. Terserah anda berdua akan percaya atau tidak. Yang pasti saya sudah mengatakan hal yang sebenarnya" Miana masih bersikukuh untuk melawan ketidakadilan.
"Satu lagi Tuan Adi dan nyonya Asti. Kalau saya berselingkuh dengan, sudah pasti saya akan meninggalkan Prasetyo yang tidak ada apa-apanya di banding Rendy. Tapi saya selalu berpikir positif. Kalau suami saya adalah Prasetyo, berarti saya harus setia kepadanya. Saya tidak seperti kebanyakan wanita di luar sana yang mengumbar nafsunya hanya untuk kesenangan di dunia. Kalau kalian menganggapku seperti itu, kalian salah. Apa kalian belum bisa mengenal menantumu yang kalian bilang tidak tahu diri ini. Seharusnya sebagai orang tua, kalian mengecek Apa yang sebenarnya terjadi. Bukan malah menuduh yang bukan-bukan. Satu lagi saya peringatkan. Kalau kalian mau membuat saya dan anak-anak saya menderita, silakan. Saya tidak takut. Serta apapun yang menyangkut anak saya, saya tidak akan tinggal diam. Tuan Adi dan nyonya Asti yang terhormat, anda tadi sudah membentak anak saya. Bagi anda itu adalah hal yang wajar karena Anda tidak mengenalnya. Tapi bagi saya itu adalah sebuah problem. Saya takut jika mereka akan membenci Anda berdua. Maaf saya lebih ingin menuruti Keinginan anak-anak saya. Selamat pagi" dalam keadaan emosi miana meninggalkan kedua mertuanya di ruang tamu. Miana takut jika emosinya akan lebih menyakiti mertua yang sidah tidak ingin di anggap mertua itu. Iya segera mengambil tas dan ponselnya lalu menuju ke mobil. air matanya tak berhenti untuk mengalir. Baru kali ini miana berani berkata sedemikian rupa kepada mertua yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Mama" Miana langsung membuka pintu di kursi penumpang di samping Parlan. Sedangkan kedua anaknya duduk di belakang. Iya dengan cepat menghapus air matanya.
"Maa... Mama ngga apa-apa kan? " Jelita yang masih belum mengerti pun bertanya. Sedangkan Dara masih terdiam.
__ADS_1
"Mama ngga apa-apa sayang. Ayo om Parlan. Kita berangkat! " Miana menatap ke depan lagi. dan Parlan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.
"Mama... kenapa kakek sama Oma suka sekolah marah sama mama? Kan mama nggak pernah marah-marah sama mereka" suara khas anak kecil Jelita membuat Miana kembali tersenyum.
"Sayang... Kakek sama Oma bukan marah-marah. Tapi mereka sedang dalam posisi marah. Kalau misalnya kakek sama Oma seperti itu lagi, kita tidak boleh emosi dan tidak boleh kembali memarahi mereka. Ini sebagai contoh, kalau misalnya ada kebakaran, apa yang akan kalian lakukan? " Miana mencoba memberikan pengertian kepada kedua putrinya.
" Kita bakal memadamkan apinya Ma" Dara dan Jelita menjawab dengan bersamaan.
" Kalian akan memadamkan api itu dengan apa? "Miana masih terus memberikan contohnya kepada kedua putrinya.
"Nah begini ya... Amarah atau emosi itu sama halnya dengan api. Sedangkan kesabaran kita itu sama halnya dengan air. Jadi kalau misalnya ada orang yang sedang marah, kita tidak boleh menjadi api. Kita harus bisa menjadi air yang memadamkan api tersebut" Miana masih terus menasehati anak-anaknya. sedangkan Parlan yang berada di sampingnya hanya mendengarkan tanpa berkomentar sedikitpun. Dan disaat mobil Miana akan keluar, terlihat sebuah mobil yang biasa ditumpangi oleh Prasetya masuk ke dalam gerbang. Miana menatap kedatangan mobil tersebut dari dalam mobil yang ia tumpangi. Karena kaca mobil yang gelap, Miana tidak dapat melihat siapa saja yang berada di dalam mobil tersebut.
" Itu Papa pulang mah" Jelita yang masih belum mengerti bagaimana Prasetyo yang saat ini, menganggap Prasetyo adalah seorang papa yang baik.
" Nanti pulang sekolah insya Allah kita bisa ketemu sama papa. Waktunya sudah mepet sayang kalau mau turun. Parlan Tolong nyalakan klaksonnya" Setelah itu mobil yang ditumpangi Miana pun melaju ke Jalan Raya.
__ADS_1
Pov Prasetyo.
"Anak-anak baru mau berangkat sekolah sepertinya" saat berpapasan dengan mobil yang biasa dikendarai oleh Parlan, Prasetyo bergumam sendiri. Mendengar suara klakson yang dinyalakan, Prasetyo pun membalas dengan menekan klakson juga. Akhirnya mobil yang akan mengantar Dara dan Jelita ke sekolah pun melaju ke Jalan Raya. Dan Prasetyo masuk ke dalam gerbang berhenti tepat di depan pintu. Dilihatnya mobil ayah dan ibunya masih berada di sana. Prasetyo bergegas turun. Tanpa disengaja ternyata kedua orang tuanya sudah keluar dari pintu rumah dengan ekspresi yang tidak dapat dijabarkan olehnya.
"Ayah dan Ibu sudah lama disini? " Tanya Prasetyo saat mereka berpapasan.
"Kamu baru pulang? " tanya bu Asti.
"Iya bu. Baru saja sampai. Tadi juga lihat mobil Miana keluar. Kayanya mau nganterin anak-anak sekolah" Jawab Prastyo.
"Dia tidak turun? " Tanya tuan Adi.
"Tidak yah. Sepertinya mereka buru-buru. Ini kan sudah jam 6 lebih" Prasetyo masih belum tahu jika orang tuanya habis memarahi Miana.
"Masuk lagi yuk yah, bu... Kita bicara di dalam" Prasetyo mengajak orang tuanya masuk. Dan kerua orang tua itu kembali masuk. Mereka berjalan di depan mendahului Prasetyo. Setelahnya, mereka menuju ke ruang tamu. Prasetyo dengan cepat duduk lalu mengendorkan dasinya dan melepaskan sepatu serta kaos kaki. Begitu memandang ke depan, iya melihat kedua orang tuanya dengan tatapan sinis menatap ke arah dirinya.
__ADS_1