
"Yakinlah semua skenario Allah itu pasti indah. Hanya terkadang kita tidak mudah memahaminya. Seringkali Allah membungkus hadiah dan anugerah terindah dengan lembaran-lembaran yang kita pandang tidak menarik bahkan terasa sakit dan menyusahkan. Kamu harus kuat" Parlan terus menenangkan Miana dalam pelukannya.
"Tapi kenapa semua ini terasa begitu berat. Aku merasa seperti sedang tertimpa reruntuhan bebatuan yang membuatku hancur tak terbentuk lagi" Miana berkata dalam tangisnya. Bahkan suara Isak tangisnya semakin jelas terdengar di telinga Parlan.
"Tidak ada hal yang terasa berat jika kita hanya menganggapnya cobaan. Seberapa besar kesengsaraan yang kamu terima, jika kamu menerimanya dengan ikhlas, maka kesengsaraan Itu hanya akan menjadi sebuah cobaan. Menangislah sepuasmu, jika itu adalah hal yang mampu membuatmu lega" Parlan masih mendekap Miana dalam pelukannya. Iya tahu saat ini wanita itu sudah dewasa, tak seharusnya Parlan membalas pelukan Miana demi menenangkannya. Tapi Parlan tahu jika Miana saat ini tak ada tempat bersandar. Karena sandarannya di dunia telah patah. Dan Parlan sadar jika dirinya sedang di butuhkan oleh Miana. Dalam hati Parlan berfikir, jika hanya Tuhan Yang bisa memberikan ketenangan. Dirinya hanya perantara.
"Makasih Parlan... Kamu memang seorang kakak yang baik untukku" Setelah mengatakan hal tersebut. Miana terdiam beberapa saat.
Beberapa detik kemudian, Parlan dan Miana di kejutkan oleh suara ponsel Parlan yang berdering dengan begitu nyaring.
"Maaf..." Miana melepaskan pelukannya, dan Parlan segera bangkit untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Siapa? " Miana ingin tahu siapa yang menghubungi parlan saat ini.
"Tiyo" Parlan menjawab dengan pelan.
"Jangan di angkat dulu. Kalau sampai anak-anak tahu papanya tidak berkata seperti itu, mereka akan kembali kecewa. Buatlah alasan sebaik mungkin. Keraskan, biar aku dengar! " Miana berkata. Dan Parlan mengangguk.
"Halo tuan Tiyo" Begitu selesai menggeser tombol jawab di layar ponselnya, Parlan menjawab.
" Kamu di mana saat ini? " tanya Prasetyo dari seberang telepon.
"Begini tuan, Dara dan Jelita saat ini sedang berada di rumah saya bersama nyonya miana. Dan tadi saya beralasan Kalau anda menyuruh saya pulang Untuk mengantarkan anak-anak" Parlan mengatakan hal tersebut dengan sedikit jengkel di hatinya.
"Apa miana tahu kalau saya sedang tidak berada di luar kota" pertanyaan dari Prasetyo membuat Parlan langsung menoleh ke arah Miana. dan Miana pun langsung menggeleng sambil Melambaikan tangannya supaya Parlan tidak memberitahu yang sebenarnya.
"Tidak tuan, anak-anak dan nyonya Miana sedang bermain bersama Devan" dengan terpaksa Parlan berbohong untuk menuruti keinginan Miana.
__ADS_1
" Oke baguslah..." jawab Prasetyo.
" Apa ada yang harus saya lakukan tuan? " Parlan kembali bertanya.
" Ya sebenarnya ada yang harus kamu lakukan. Tapi berhubung Miana ada di sana, Lebih baik aku naik taksi saja" Miana memberi isyarat untuk bertanya suaminya akan kemana.
" Kalau memang Tuan membutuhkan saya, saya akan ke sana" Parlan kembali memancing Prasetyo dengan pertanyaan.
" Saya mau ke Villa, kalau kamu mengantarkan saya ke Villa otomatis Miana akan curiga. Lebih baik saya naik taksi saja" tanpa merasa curiga sedikitpun, Prasetyo mengatakan tujuannya menelpon Parlan.
"Kalau begitu ya sudah, Kamu urus mereka bertiga. Jangan sampai mereka tahu tentang apa yang kamu ketahui" tanpa menunggu jawaban dari Parlan. Prasetyo memutuskan sambungan teleponnya.
Kali ini air mata Miana benar-benar tak dapat untuk dibendung.
"Miana... Apa perlu kita melakukan sesuatu sebelum mereka terlalu jauh dalam melangkah" Parlan bertanya setelah meletakkan ponselnya. Dan miana hanya menggelengkan kepalanya. Namun tiba-tiba suara gaduh dari kamar Devan, berubah menjadi panggilan.
"Sayang... Itu kenapa Devan digendong kayak gitu. Kan kalau jatuh kasihan pasti sakit" Miana segera mengambil Devan dari gendongan dara.
"Dedek gemes kayanya lapar ma, dia dari tadi nunjuk luar terus" Dara menyerahkan Devan ke Miana.
"Om Parlan, Devan belum makan ya? " Tanya Jelita.
"Tadi sudah sarapan, mungkin ini sudah waktunya makan siang" Parlan menjawab.
"Kalau gitu kita cari makan bersama saja yuk. Kita keluar. Pasti om Parlan ngga punya makanan kan? " Dara dan Jelita terlihat begitu antusias.
"Ya sudah, om Parlan biar siap-siap terlebih dahulu" Kali ini Miana menyahut. Dan Parlan pun mengangguk.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 12.49. Dara dan Jelita memilih rumah makan mana yang akan mereka datangi. Hingga pilihan mereka jatuh pada sebuah rumah makan khas Indonesia.
"Selamat siang, selamat datang di ruma makan saung manis" Ucap salah satu karyawan yang khusus menyapa tamu di depan pintu masuk. Suasana di dalam rumah makan itu terlihat begitu menarik. Saat pertama masuk, kita akan disuguhkan sebuah kolam ikan. Beberapa sekat menjadi bagian dari kolam tersebut. Ada beberapa jenis ikan disana. Melihat itu, Devan seakan meminta untuk turun.
"Mah, kayaknya Devan mau turun" Ucap Jelita.
"Jangan sayang. Bahaya" Miana terus mendorong kereta bayi yang fi naiki oleh Devan. Dan mereka pun masuk ke dalam. Mencari suasana yang sedikit sepi agar anak-anak merasa nyaman.
"Mah, kita di sini saja ya. Sambil lihat ikan cantik itu" Dara menunjuk sebuah kolam yang khusus di isi oleh ikan KOI.
"Miana..." Sebuah suara mengejutkan Miana. Setelah menoleh Miana sedikit terkejut dengan siapa yang memanggilnya.
"Kakek, nenek" Dara dan Jelita langsung memanggil orang yang memanggil Miana. Namun tak ada jawaban sama sekali. Dan malah ibu Asti mendekat ke arah Miana.
'Plak Plak' Dua buah tamparan keras melayang ke kedua pipi mulus Miana.
"Ibu... Plak" Belum sempat Miana mengatakan apa yang akan dia katakan, Ibu Asti sudah menamparnya kembali.
"Nenek... Kenapa nenek memukul Mama. Apa salah Mama" Kedua putri Miana berteriak histeris.
"Kalian jangan ikut campur. Ini urusan orang tua" Dengan nada Marah diantara emosi, bu Asti membentak kedua cucunya.
"Berani kamu ya membuat aku malu. Kami fikir kamu siapa? " Ibu mertua Miana semakin membabi buta. Iya menjambak rambut Miana dan brrkata dengan suara pelan.
"Ah.. Ibu tolong lepaskan. Kita bisa berbocara baik-baik. Jangan seperti ini" Miana memegang rambutnya yang dijambak oleh ibu Mertuanya. Sedangkan Dara dan Jelita menangis keras. Ditambah Devan yang terkejut akhirnya ikut menangis. Entah kenapa Miana memilih tempat yang sedikit sepi. Jadi keributan ini tidak ada yang tahu.
"Berani kamu membuat kami seperti tadi. Dasar menantu tidak tahu di untung. Mrnnatu tidak tahu diri. Apa hebatnya dirimu" Ibu mertua Miana melampiaskan amarahnya. Iya mendorong Miana hingga terjatuh. Dan saat akan terjatuh ke tanah, Seseorang datang menangkapnya. Hingga Miana tak jadi terjatuh.
__ADS_1