
Tuan Heri mengangguk ketika mendengar penuturan dari putranya.
"Ayah serahkan kepadamu. Yang pasti jangan keterlaluan" Ucap Ayah Heri.
"Awan paham yah. Jadi ayah tenang saja" Awan tersenyum,iya tahu apa yang di maksudkan oleh ayahnya.
"Kita jangan terlalu sadis membalas keburukan orang lain Awan. Jangan lupa bahwa ada yang lebih adil dalam menjatuhkan hukuman terhadap manusia" Awan hanya mengangguk.
"Tapi kalau kita terlalu baik dalam dunia bisnis, kita yang akan kalah dan terus di remehkan sama pesaing yah" Awan yang memang bersikap tegas mengatakan hal seperti itu.
"Apa kamu lupa jika ayah selalu mengajarkan mu tentang arti memaafkan? " Tanya tuan Heri.
"Ingat yah, bahkan Awan sangat ingat dengan semua yang ayah nasihatkan kepada Awan" Awan mengangguk.
"Ayah tidak ingin kamu menghukum seseorang dengan keerlaluan seperti yang sudah-sudah. Jangan terlalu mengedepankan nafsu. Yang akhirnya hanya akan membuat dirimu menyesal"
"Baik yah, Awan paham apa yang ayah bicarakan. Awan harus pulang, Dina menunggu di rumah" Awan langsung pergi setelah berpamitan dengan sang ayah. Ttentunya setelah sang ayah sudah mengizinkan.
POV Miana.
"Mana baik-baik saja kan? " Dara menatap wajah Miana yang duduk di depan di samping Parlan.
"Mama baik-baik saja sayang" jawab Miana sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mulai sekarang yang menjadi papa Dara dan Jelita om Parlan saja ya. Jelita ngga ma punya papa yang ninggalin kita seperti ini. Kalau om Parlan orangnya baik. Om Parlan juga tidak memiliki keluarga baru seperti papa" Celoteh Jelita benar-benar merasuk kedalam hati Parlan dan Miana. Bagaimana tidak, jika anak kecil saja sudah mengerti mana orang baik dan mana orang yang tidak baik. Parlan menatap ke arah Miana yang berada di sampingnya. Di dalam mobil itu, Miana selalu memilih untuk duduk di kursi penumpang di samping kursi kemudi. Selain membuat anak-anaknya merasa nyaman karena tempat duduk yang longgar, Miana juga tidak pernah merasa sungkan kepada Parlan yang statusnya hanya seorang sopir pribadi. Bagi Miana, Dan status itu tidak pernah menjadi tembok pengalang antara keduanya untuk tetap bersikap seperti kakak dan adik. Bahkan Miana juga menyuruh anak-anaknya untuk memanggil Parlan dengan sebutan Om.
"Om Parlan ini kan hanya seorang supir, bagaimana mungkin bisa menjadi ayah kalian? " Parlan menanggapi apa yang baru saja di ucapkan oleh Jelita.
"Tapi om Parlan baik, dan papa jahat" Ucap Jelita.
"Jelita sudah ya, jangna menyebut kata papa lagi di depan kita. Kakak nggga mau mama semakin sedih karena mengingat dia yang sudah sangat jahat kepada kita" Kali ini Miana dan Parlan mendengar apa yang di katakan oleh Dara membuat hatinya seakan luluh.
"Sudah ya sayang, jangan terlalu membahas hal yang memang tidak penting. Yang penting kalian berdua jangan menjadi anak yang tidak menurut kepada mama. Ingat pesan mama, jangan menjadi orang jahat" Miana tersenyum. Iya tahu luka di hatinya benar-benar masih menganga. Tapi dengan tidak membahas prsetyo terus-terusan maka luka itu tidak akan kembali tergores.
"Insya Allah ma, kita akan selalu berusaha menjadi orang baik. Kita akan selalu menjaga mama. Mama jangan sedih lagi ya" Dara berkata, dan suara anak kecil itu terlihat begitu serius. Sehingga membuat Miana menghirup nafas dalam-dalam karena kagum. Parlan melirik, namun iya tak berkomentar sedikitpun. Iya hanya fokus pada suasana jalanan. Untuk suasana hati Miana, Parlan tidak mengetahui.
"Kalian mau makan sesuatu yang enak ngga? " Tanya Miana mencairkan suasana. Dan di sore yang belum terlihat tanda-tanda senja itu, Miana ingin makan yang enak bersama kedua anaknya.
'Kita nyari makan dulu ya nak, kan kita tadi sepulang jemput kalian sekolah belum makan sama sekali" Miana berencana mengajak kedua anaknya makan di tempat yang bagus.
"Parlan, kita ke alamat ini ya" Miana menunjukkan sebuah alamat yang tertera di layatr ponselnya. Parlan yang sedang menyetir mengambil ponsel Miana. Dan dengan perlahan iya membaca namun tetap terfokus pada jalanan.
"Kenapa harus kesini? Kamu tahu kan kalau tempat ini adalah jalur macet. Nanti kita bisa kemalaman sampai rumah kalau kita ke tempat ini' Parlan mengembalikan ponsel yang di pegangnya ke Miana sembari mengatakan apa yang ada di benaknya.
"Jalanan kalau sore seperti ini sudah di pastikan sangat macet Miana. Ini adalah jam sibuk. Kamu jangan aneh-aneh saja. Kalau kita ke sana sekarang bisa memakan waktu yang sang sangat lama. Bukan karen jauhnya perjalanan, tapi karena kelamaan berhenti karena macet" Parlan menjelaskan kepada Miana kenapa dirinya sangat keberatan di ajak ke tempat itu.
"Baiklah, kita bisa ke sana lain waktu saja. Kalau begitu, kita ke tempat yang ini ya" Miana kembali mendekatkan ponselnya ke arah Parlan.
__ADS_1
"Tolong bisa di bacakan saja, aku sedang fokus menyetir" Parlan meminta Miana untuk membacakan saja, dan Miana langsung membacakan. Kali ini Parlan tidak memprotes keinginan Miana untuk menuju tempat yang di tunjukkan oleh wanita di sampingnya itu. Iya langsung memutar arah ketika melewati belokan.
"Waah... Ma, kita sudah lama banget ya ngga ke tempat ini." Jelita mengungkapkan ke kegumannya. Sedangkan Dara hanya terdiam. Iya berhenti di belakang ketika semua orang yang datang bersamanya tadi sudah berjalan ke depan beberapa langkah. Jelita yang menyadari bahwa sang kakak tidak ada di sampingnya segera menole ke belakang.
"Kak Dara" Panggil Jelita. Dan suara gadis kecil itu di dengar oleh Parlan dan Miana. Mau tak mau, kedua orang dewasa itu langsung menoleh ke sumber suara. Di lihatnya Dara yang berada di belakang. Terlihat anak itu berdiri dan diam mematung.
"Dara... Ada apa? " Tanya Miana ketika iya sudah kembali dan mendekat ke Dara. Namun Dara masih terdiam.
"Kakak kenapa? " Tanya Jelita yang kini juga sudah ikut mendekat.
"Mama... Dara ngga mau makan di sini" Ungkap Dara kepada sang mama. Seketika Miana menjadi bingung kenapa anaknya tiba-tiba tak mau masuk.
"Kenapa nak? " Tanya Miana dengan sabar kepada anaknya.
"Kalau kita makan di sini, Dara jadi teringat sama papa. Dara ngga mau mengingat-ingat papa ma. Dara benci sama papa" Akhirnya apa yang membuat Miana kebingungan pun terjawab. Dan saat ini, Dara malah menangis di tempat. Melihat hal itu, Parlan tidak bisa diam di tempat sambil melihat saja. akhirnya iya pun melangkahkan kakinya untuk mendekati Miana dan kedua anaknya.
"Miana, ada apa? " Tanya Parlan yang saat ini melihat Dara menangis sesenggukan.
"Kak Dara ngga mau masuk om, katanya jadi teringat sama papa. Kak Dara membenci papa" Ungkapan polos gadis lugu di depannya itu membuat Parlan mengerti mengapa Dara menangis.
"Dara, kalau ngga mau ikut masuk berarti kita sema juga ngga jadi masuk ya. Kita cari saja tempat lain" Dengan sigap, Parlan meraih Dara lalu menggendongnya. Miana terdiam memandan perlakuan Parlan ke anaknya. Iya langsung mengikuti langkah kaki Parlan dari belakang. Terlihat Parlan yang membukakan pintu mobil setalah menurunkan Dara. Dan Dara pun segeras masuk.
"Miana, kita cari tempat lain. Aku ngga mau anak-anak kamu terus di hantui rasa benci kepada papanya hanya karena kita mengunjungi tempat di mana anak-anak masih menyimpan kenangan tentang tempat itu' Parlan mengatakan setelah Jelita masuk menemani sang kakak.
__ADS_1
"Bodohnya aku. Kenapa harus ke tempat ini. Ya sudah yuk, kita cari tempat yang lain" Miana segera berputar mengitari mobil untuk menuju ke tempat duduknya. Iya merasa menyesal sudah mengajak ke tempat yang dimana dulu iya dan keluarga kecilnya sering mengadakan acara kecil-kecilan di sana.