Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Pengaruh Tante Aya


__ADS_3

"Miana... Maafkan aku" Kini Prasetyo sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Miana terdiam. Iya terus berjalan melewati Prasetyo. Entah apa yang iya rencanakan. Hingga saat melewati Prasetyo tepat di depannya, Prasetyo memegang lengan Miana.


"Lepaskan! " Ucap Miana sambil mengibaskan tangannya hingga tangan prasetyo melepaskan cengkramannya. Miana berjalan menuju ke sofa lalu duduk. Dan Prasetyo mengikutinya.


"Sayang... Miana, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa. Aku..." Miana serasa ingin muntah ketika mendengar panggilan Prasetyo. Ucapan lelaki itu juga terhenti seketika begitu ponselnya berdering. Prasetyo tak ingin melihatnya terlebih dahulu. Karena ponsel itu ada di atas meja nakas di samping Miana. Dan Miana jadi tahu siapa ID penelpon.


Dilihatnya nama Atika di layar ponsel tersebut. Miana masih terdiam. Iya tak ingin merasakan emosi yang lebih memuncak. Dan ponsel itu terus berdering. Prasetyo terlihat panik. Iya juga terdiam. Namun tak lama setelahnya, iya mendekat dan menggeser layarnya untuk menjawab panggilan.


"Iya kak Atika, ada apa? " Ucap Prasetyo sambil melirik ke arah Miana.


"Oh Miana... Ada kak, dia ada disini. Kakak mau bicara dengannya? " Sungguh terlalu pandai Prasetyo menyembunyikan. Padahal Atika tidak sedang mencari Miana. Kepiawaiannya dalam bersamdiwara membuat Miana serasa ingin muntah kembali mendengar percakapan itu. Iya pun bangkit lalu berjalan keluar kamar.


"Miana... Kak Atika mencarimu" Panggil Prasetyo.


"Suruh saja menghubungiku sendiri" Miana cuek mendengar panggilan Prasetyo. kali ini Prasetyo kelimpungan mendengar jawaban dari miana. Begitu Miana sudah menjauh,


"Jangan menelpon dulu, aku sedang bersama Miana! Sebagai alasan, kamu hubungi dia ya." Prasetyo lalu menutup panggilannya. Setelahnya miana pergi meninggalkan Prasetyo di dalam kamar. Namun iya masih dengan jelas mendengar apa yang di katakan Prasetyo kepada Atika.


Miana menuju dapur. Sebenarnya iya sudah begitu jijik berada di dekat Prasetyo. Duduk di atas kursi di ruang makan, Miana berpikir dia harus kuat menghadapi semuanya. Dan salah satu sumber kekuatan adalah makanan.


" Kelemahan seseorang adalah pada perutnya. Kalau aku lapar, aku tidak akan kuat menghadapi semua kenyataan. Lebih baik aku sarapan terlebih dahulu" Miana bergumam sangat lirih hingga tak ada orang lain yang mendengarnya. Mengambil satu centong nasi beserta lauknya. Setelahnya ia makan dengan lahap. Sebenarnya pikirannya masih tertuju kepada Prasetyo. Namun hatinya bersikukuh untuk meredakan luka di dirinya sendiri. Suap demi suap telah Miana masukkan ke dalam mulutnya. hingga akhirnya tinggal dua atau tiga sendok tersisa dalam piringnya. Saat miana akan memasukkan satu sendok lagi ke dalam mulutnya, Prasetyo datang menghampiri.


" miana kenapa kamu berubah? " pertanyaan Prasetyo membuat Miana menghentikan aktivitasnya. Iya langsung meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring. Tanpa menjawab Prasetyo, Miana bangkit lalu berjalan meninggalkan lelaki itu. Namun dengan cepat Prasetyo menarik lengan Miana kembali.


" Tanya saja kepada hatimu... Apa masih pantas aku bersikap baik kepadamu? " Miana merubah sikap penurutnya menjadi sikap keras kepala. Entah Mungkin karena ia tak mau merasakan sakit yang bertubi-tubi kembali. Dia pun dengan santai melenggang pergi meninggalkan Prasetyo yang merasa terkejut dengan perubahan miana. Iya masih memikirkan cara supaya Miana mau memafkannya. Entah itu karena perasaan yang tulus, atau hanya sebuah trik.

__ADS_1


Di saat Miana masuk ke kamar, iya mendengar ponselnya berdering. Begitu mendekat dan melihat siapa yang menghubunginya, Miana memutar bola matanya malas.


"Assalamu'alaikum, Kak Tika" Ucap Miana di buat senormal mungkin.


"Wa'alaikumsalam... Kamu ada di rumah atau tidak Miana? " Suara Atika terdengar begitu jelas di pendengarannya.


"Ada kak.. Ada apa? " Sebenarnya Miana juga merasa begitu malas dengan kakaknya. namun demi menutupi ketahuannya tentang perselingkuhan itu, Miana lebih memilih untuk diam dan bersikap senormal mungkin.


" Aku mau ke sana nih sama tante Aya. Kamu nggak sedang sibuk kan? " entah apa yang telah direncanakan oleh Atika, yang pasti Miana tidak mengetahui isi hati kakaknya itu.


" Datanglah kak, aku ada di rumah dan tidak sibuk. Mungkin nanti siang kalau Dara dan Jelita meminta untuk dijemput aku akan menjemput mereka ke sekolah" Miana merasa Sesuatu akan terjadi.


" Oke aku ke sana sama tante aya ya." Atika mengakhiri panggilannya tanpa mendengar perkataan dari miana kembali.


Entah apa yang membuat Miana terasa lebih ringan bebannya dari kemarin. Kali ini miana akan bersikap baik dan senormal mungkin. Iya tahu kedatangan Atika dan tante Aya mempunyai maksud tujuan tertentu. Miana merebahkan diri di atas ranjang, dia memandang ke langit-langit kamarnya. Saat ini hatinya benar-benar ingin sendiri. Meluapkan segala kekesalan di hatinya, serta melupakan semua luka yang telah digoreskan oleh sang suami dan juga kakak kandungnya.


" Bagaimana Atika, apa kamu berhasil membuat Prasetyo jatuh ke pelukanmu? " tanya Tante Aya dengan langkah tergopoh-gopoh sebelum ia duduk mendekati Atika yang duduk di atas sofa di kamarnya.


" Tante tenang saja, Tante mau tahu sesuatu nggak? " Atika ingin memberitahu tantenya perihal pernikahannya dengan Prasetyo. Dan tanda Aya pun tersenyum dan mengangguk.


" Lihat ini! " ketika membuka layar ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto kepada tantenya. Seketika mata tante Aya membulat, Iya menutup mulutnya dengan kedua tangan karena merasa terkejut atau merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


" Kamu serius? Kamu bener-bener sudah menjadi istri dari Prasetyo Nugroho? " tanya Tante Aya yang tidak percaya dengan kabar tersebut.


" Yuppsss... Selangkah demi selangkah apa yang kita rencanakan sudah berjalan lancar. Tapi Prasetya masih menikahiku secara sirih. Dia belum bisa menikahiku secara sah karena semua itu memerlukan persetujuan dari istri pertamanya. Siapa lagi kalau bukan miana perempuan bodoh itu" dengan mengangguk, Atika menjawab pertanyaan tantenya.

__ADS_1


" Tidak apa-apa... Tante akan terus berada di pihak kamu. Tante akan membantu kamu untuk mendapatkan Prasetyo. Sebenarnya tante tidak suka kepada Miana yang sukanya menghambur-hamburkan uang tidak jelas. Dia itu terlalu loyal dan tidak memikirkan uang yang dia punya. Coba kamu bayangin dia itu membantu sebuah panti asuhan yang sama sekali tidak menguntungkan atau sama sekali tidak bermanfaat kan untuk hidup dia maupun perusahaan, atau apalah pokoknya Tante ndak suka. Tante sukanya kamu sama Prasetyo nanti akan bisa menyimpan uang hasil kerja keras kalian. Tante akan membantu kamu semaksimal mungkin" tante Aya yang merasa tidak suka dengan Miana mengungkapkan ketidaksukaannya.


" Oh iya tante kemarin kan sudah mengambil buku nikah milih Prasetyo dan miana. Terus rencana Selanjutnya apa Tante? " Atika bertanya karena ia belum terlalu jelas tentang rencana yang dibuat oleh tantenya.


" Dengan buku nikah yang sekarang berada di tangan kita, kita bisa melakukan apapun untuk memisahkan mereka" senyum licik dari bibir tante Ayah membuat Atika ikut tersenyum juga.


" Berarti maksud tante, termasuk membuat Miana dan Prasetyo berpisah secara hukum? " Kini Atika paham dengan apa yang dimaksudkan oleh tante ayah.


" Kamu harus cerdas dong jadi orang. Kalau kamu berniat untuk mendapatkan sesuatu jangan setengah-setengah. Kamu harus berani mengambil semua resiko untuk mendapatkan apa yang kamu sukai" tante Aya tidak tanggung-tanggung mengajari keponakannya untuk berbuat yang tidak baik. Dan pada dasarnya memang Atika memiliki sifat yang buruk.


" Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan Prasetyo. Walaupun dengan jalan menghancurkan hidup adikku sendiri" saat ini niat Atika telah bulat untuk mendapatkan Prasetyo.


" Kamu kan sudah menikah dengan Prasetyo. Lalu kenapa kamu masih ada di sini? " tambah Ayah pun bertanya, dan saat itu juga Atika menoleh untuk memahami perkataan tantenya.


" Maksud tante bagaimana? Tante tahu kan aku masih istri sirih dari Prasetyo. Lagi pula Prasetyo memintaku untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Supaya anak-anaknya tidak terluka dengan keadaan yang begitu mendadak" Atika mengatakan apa yang dikatakan Prasetya kepadanya.


" Kamu jangan bodoh Atika. kalau Prasetyo lama-lama berada di samping Miana, maka Prasetyo akan mudah dipengaruhi. Kamu tahu kan bagaimana Miana itu. bisa-bisa kamu diceraikan karena Prasetyo tidak tega menyakiti istrinya yang bodoh itu" tante Aya kembali memprovokasi keponakannya.


" Apa yang dikatakan oleh Prasetya benar tante, aku tidak bisa berada di sana. Lagi pula Ini semua adalah perselingkuhan. Mana mungkin kita melakukan hal seperti itu di depan Miana si istri sahnya" Atika merasa apa yang dikatakan oleh Prasetyo lebih benar.


" Kamu jangan jadi ikut-ikutan bodoh seperti adikmu itu dong. Gunakan otak kamu ini. Kalau kamu tidak bermain cerdas, maka semuanya akan sia-sia. sekarang kamu telepon miana, lalu katakan kalau kita mau ke sana. Dengan begitu kita bisa mempengaruhi Prasetyo, Kamu paham? " Tante Aya tak ingin rencananya gagal. Iya pun kembali mengompori Atika.


"Oke..." Akhirnya Atika menghubungi Prasetyo. Namun begitu di angkat, Prasetyo malah mengatakan jika Miana ada.


"Hiih, kesel aku sama Tiyo. Bisa-bisanya dia seperti itu" Kesal atika.

__ADS_1


"Kalai begitu, kamu hubungi Miana. Bilang kalau kita mau kesana" Tante Aya pun memberitahu. Dan Atika segera menghubungi adiknya.


__ADS_2