
Bagas dan Rendy menoleh. Beruntung Bagas sudah duduk di kursi yang biasa iya duduki, yang seharusnya menjadi kursi Rendy.
"Nika" Gumam Bagas pelan. Rendy hanya menatap Bagas tanpa melakukan apapun.
"Bagas... Apa kabar? " Wanita bernama Nika tersebut terus berjalan lurus menuju ke arah Bagas.
"Kenapa kamu kesini? " Bagas dengan nada dingin bertanya. Tanpa menoleh iya memasang wajah kesal.
"Jangan kesal sayang, aku kesini karenamu" Nika berkata mendayu-dayu seakan menggoda Bagas.
"Pergilah atau aku akan memanggil satpam untuk menyeretmu keluar dari ruangan ini" Bagas benar-benar tak menginginkan wanita yang dulu pernah singgah di hatinya tersebut berada di depannya.
"Eh eh galak banget sih sekarang. Kamu lupa ya siapa aku. Kamu dulu begitu mencintai aku. Aku yakin kamu senang kan aku kembali" Ucap Nika.
"Jangan berkata bodoh di hadapanku. Apa kamu sedang bermimpi atau sedang berkhayal berani mengatakan hal seburuk itu di depanku. Aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan" Bagas bertolak belakang dari sikapnya yang dulu.
"Nggak usah munafik ya Bagas, Aku tahu kamu masih mencintai aku. Aku mau kok kembali ke kamu. Dan aku berjanji tidak akan melakukan hal yang sama seperti kesalahan yang pernah aku lakukan padamu" Nika masih berusaha untuk merayu Bagas kembali.
"Jangan mimpi kamu ya... Kamu pikir aku kerbau yang bisa menurut kepadamu setelah semua rasa sakit yang kamu ciptakan. Aku bukan laki-laki bodoh seperti yang kamu pikirkan" Bagas mengatakan semuanya dengan menekankan pengertian kepada Nika yang sudah menyakitinya. Jadi Nika ini adalah wanita yang dulu pernah menjadi istri Bagas, namun hanya bertahan beberapa bulan saja. Karena Nika menginginkan laki-laki yang lebih kaya dari Bagas. Dan kini laki-laki yang telah dipilihnya itu telah mencampakkannya. Maka dari itu ia kembali menemui Bagas.
"Bagas kamu jangan sombong. Aku tahu sebenarnya dalam hati kamu ingin kembali kepadaku. Aku masih mau membuka hati untukmu. Dan asal kamu tahu wanita mana yang mau sama laki-laki yang cuma menjadi asisten dari perusahaan besar seperti ini. Aku ini wanita baik-baik yang mau menerima kamu apa adanya. Jadi jangan munafik" rasa kepercayaan diri Nika benar-benar masih menempel pada dirinya. Bagas menjadi geram dengan apa yang nikah katakan.
"Tuan Rendy yang terhormat. Bisakah anda memberitahu kepada Bagas, bahwa saya di sini untuk menemuinya" kali ini Nika berkata kepada Rendy. Namun Rendy hanya diam tak menjawab.
__ADS_1
"Cepat naik lah dan masuk ke ruanganku! " Rendy berbicara melalui telepon yang berada di depannya.
"Aku tahu kalian itu sahabat, Dan Kamu Bagas, aku masih setia kepadamu. Aku masih mengharapkan bisa kembali kepadamu kok" tanpa rasa malu nikah mengatakan semuanya. Tak berselang lama setelah ia mengatakan itu, pintu ruangan tersebut terbuka. Dua orang satpam masuk dan memberikan hormat kepada Rendy serta Bagas.
"Apa yang bisa kami lakukan tuan" tanya salah satu satpam yang masuk.
"Bawa wanita gila ini keluar dari ruanganku. Aku tidak bisa bekerja gara-gara dia berada di sini" kali ini Rendi yang berkata.
" Baik Tuan" kedua satpam tersebut langsung mendekati Nika dan ingin menarik tangannya. Namun Nika berhasil menghindar.
" Kalau kalian berani menyentuh tanganku sedikitpun, Aku akan membuat kalian menyesal seumur hidup" Nika mengancam kedua satpam tersebut. Namun dengan tegas kedua satpam tersebut lebih takut kepada Rendi dan Bagas.
"Jangan banyak bicara, keberadaan anda di sini benar-benar mengganggu Bos kami. Berani-beraninya kamu membuat keonaran di ruangan ini" Tangan Nika di tarik paksa oleh satpam. Namun karena Nika memberontak, akhirnya satpam Menarik dengan sekuat tenaga.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya tuan. Kami tidak tahu jika wanita tersebut datang untuk membuat keonaran. Kami kira wanita tadi adalah tamu tuan, makanya kami membiarkannya masuk" salah satu dari satpam tersebut menunduk dan memohon maaf.
" Lain kali tandai wanita tersebut, jangan biarkan dia kembali masuk" Rendy berkata dengan tegas.
" Baik Tuan Sekali lagi kami mohon maaf" setelah mengucapkan kembali kata maaf, kedua satpam tersebut pun keluar dari ruangan Bagas.
"Apa kamu baik-baik saja? " kata Rendy setelah Kepergian Nika dan kedua satpam tersebut.
"Jangan khawatir, Aku tidak akan terpengaruh dengan wanita ular itu" Bagas yang masih merasa kesal kembali membuka pekerjaannya. Hanya dalam hati Bagas, kenapa Nika bisa kembali setelah luka yang dia torehkan. Setelah berperang melawan rasa penasaran, akhirnya Bagas kembali tersadar. Dan mereka pun kembali fokus untuk menyelesaikan pekerjaan.
__ADS_1
Pov Miana
" Dara... Jelita" Panggil Miana kepada kedua putrinya setelah mereka kembali dari rumah Parlan.
" Iya Mah..." kedua putri cantik Miama tersebut menghadap ke arah Miana.
"Maafin mama ya sayang" Dengan erat Miana memeluk kedua putrinya.
"Mama kan ngga salah, kenapa minta maaf? " Dara bertanya.
"Maaf kalau kalian berdua merasa tidak nyaman karena kakek dan nenek tadi marah-marah ke mama" Miana menjelaskan kepada putrinya.
" Nenek memang selalu begitu mah, sepertinya memang nenek itu nggak sayang sama kita. Nggak sayang sama Mama. Sering kok kita lihat nenek marah-marah ke Mama" Dara menjelaskan apa yang selama ini ia lihat.
"Tapi bagaimanapun juga, nenek Asti tetap nenek kalian. Kalian jangan sampai tidak hormat kepada yang lebih tua ya" Miana memberikan wejangan terbaiknya kepada Dara dan Jelita.
" Iya mah pasti... Dara dan jelita akan selalu mengingat nasehat mama" Dua putri Miana bersikap baik. Karena Miana selalu mengajarkan yang terbaik.
"Tapi mama tidak apa-apa kan. Tadi kita lihat nenek nampar sama dorong mama. Mama hampir jatuh kalau nggak ada Om Parlan" kali ini Jelita ikut bertanya.
"Sayang kalian lihat mama nggak apa-apa kan. Mama itu wanita kuat. Dan nggak mungkin mama akan rapuh hanya dengan hal seperti ini" Miana tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Iya tahu putrinya melihat semua yang terjadi di rumah makan Saung manis. miana tidak ingin putrinya menyimpan dendam kepada nenek kandungnya sendiri.
"Iya mah, Kita percaya mama tidak apa-apa" Akhirnya kedua anak kecil tersebut tersenyum. Dan mereka melanjutkan perjalanan. Dara dan Jelita yang duduk di pinggir melihat-lihat keadaan luar mobil. Melihat keadaan jalanan yang terlihat padat merayap. Sedangkan Miana pun terdiam entah sedang memikirkan apa. namun dengan tiba-tiba, Dara melihat sesuatu yang membuatnya tak percaya. Iya pun berbisik kepada mamanya karena tak ingin Jelita mendengarkan.
__ADS_1
"Mama... Itu lihat disana! Miana menoleh, dan melihat apa yang Dara tunjuk.