Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Bukan Papa Kami Lagi


__ADS_3

Setelah helikopter mendarat dengan sempurna di kota tempat tinggal Miana dan keluarganya, Miana langsung membawa Jelita ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Miana begitu khawatir dengan keadaan Sang Putri. Hingga membuatnya tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk membawa Jelita ke rumah sakit.


"Parlan, tolong kamu bawa Mbok Darmi pulang terlebih dahulu. Biar aku di sini memeriksakan Jelita terlebih dahulu. kasihan kalau Mbok Darmi harus ikut menunggu di sini." setelah sampai di rumah sakit, Miana berpesan kepada Parlan.


" Jangan khawatir Miana, aku akan mengantarkan Mbok Darmi pulang. Biarkan beliau istirahat dan dilayani oleh orang-orang yang ada di rumah" Parlan mengangguk dan menjawab apa yang dikatakan oleh Miana.


" Dara kan lelah, lebih baik Dara pulang sama Om Parlan terlebih dahulu. Nanti sampai rumah bersih-bersih langsung istirahat. dengarkan mama dan Jangan membantah ya sayang" Miana berkata di depan Dara yang terlihat sangat kelelahan.


" Iya Mah Dara pulang saja" tanpa membantah apapun, Dara langsung mengiyakan apa yang dikatakan oleh Miana.


" Aku akan tetap di sini menemani kamu" sebelum Miana mengatakan apapun, Bagas sudah terlebih dahulu mengatakan bahwa ia akan tetap di sana untuk menemani Miana.


" Kamu lelah Bagas. Lebih baik kamu pulang terlebih dahulu. Biarkan aku yang menjaga jelita" Miana yang mendengar apa yang diucapkan oleh Bagas langsung mengatakan bahwa Bagas harus pulang.


" kalau aku lelah, Berarti kamu juga lebih lelah miana. biarkan aku menemanimu menjaga anak kita" Bagas mengatakan itu membuat miana semakin tak enak hati.


" Baiklah... Terima kasih untuk semuanya" miana mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Bagas yang sudah menerima dia dan anak-anaknya.


Pintu ruang pemeriksaan tertutup rapat setelah Jelita masuk ke dalam ruangan tersebut. Membuat Miana dan Bagas duduk berdua di depan ruang tunggu. Sebenarnya Miana ingin sekali ikut masuk ke dalam untuk melihat Bagaimana keadaan Jelita yang sebenarnya. Namun dokter melarang. Mungkin karena lelah, Miana duduk di kursi ruang tunggu ditemani oleh Bagas di sampingnya.


" Miana..." Bagas mengarahkan tangannya untuk menyentuh tangan kiri Miana.


" Jangan takut sayang. Aku akan selalu ada untukmu" Bagas mengungkapkan kata-kata itu dengan suara yang Lirih. membuat jantung Miana semakin berdebar-debar tidak karuan. Mereka berdua saling berpandang-pandangan.


" Aku akan menemanimu Dalam keadaan susah maupun senang. Biarkan Aku menjagamu" Lelaki itu berdiri dan langsung menarik Miana lalu meletakkan wajah wanita itu di dada bidangnya. Miana yang terkejut tidak langsung membalas pelukan tersebut.


"Jangan mengkhawatirkan keadaan Jelita. Kita akan bersama-sama merawatnya" Ucapan Bagas membuat Miana semakin derdebar. Hingga akhirnya, Miana mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan itu.


Pov Atika dan Prasetyo.


"Apa ada kabar dari mereka? " Ucap Prasetyo setelah Hendra menemuinya. Dan saat ini mereka berada di rumah Atika.


"Saya mendengar, kalau Jelita sudah di temukan tuan. Saat ini Jelita berada di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan" Jawab Hendra.


"Rumah sakit mana? " Prasetyo seakan peduli kepada sang anak setelah meninggalkan tanpa perasaan.


"Ini tuan" Hendra menunjukkan ponselnya ke arah Prasetyo. Setelah membacanya, Prasetyo langsung berdiri.


"Sayang, aku harus menemui Jelita dulu ya" Ucap Prasetyo meminta izin kepada istrinya yang sedang hamil.

__ADS_1


"Aku pengen makan martabak. Aku ikut nanti pulangnya beli martabak ya" Atika menarik lengan Prasetyo dan langsung memeluknya.


"Boleh... Tapj aku khawatir kamu akan banyak fikiran" Sebenarnua Prasetyo ingjn aekali melarang. Namun karena Atika bilang ingin Martabak, iya tidak jadi.


"Tidak akan. Kamu jangan khawatir. Aku pasti baik-baik saja" Atika tetap bersikeras. Hingga akhirnya Prasetyo mengalah dan menuruti keinginan istrinya. setelah bersiap-siap, Atika dan Prasetyo pun berangkat menuju ke rumah sakit tempat di mana Jelita dirawat.


Pov Bagas dan Miana


"Kok lama sekali ya. Ada apa dengan Jelita Bagas? " Tanya Miana kepada Bagas yang berada di sampingnya dengan raut wajah penuh ke khawatiran.


"Jangan khawatir. Jelita pasti baik-baik saja" Ucap Bagas menenangkan calon istrinya itu. Dan di saat rasa khawatir itu benar-benar memuncak, pintu ruangan dokter terbuka. Seorang perawat keluar dari ruangan tersebut.


" keluarga pasien Atas Nama jelita" mendengar apa yang diucapkan oleh perawat tersebut Iyalah langsung berdiri dan berlari mendekatinya.


" Saya ibunya jelita. Bagaimana keadaan putri saya? " dengan tidak sabar miana bertanya kepada perawat tersebut di depan pintu ruangan dokter yang memeriksa jelita.


" Silakan masuk terlebih dahulu" perawat tersebut menyuruh miana untuk masuk ke dalam ruangan. tanpa berkata apapun lagi, miana langsung menerobos masuk disusul oleh Bagas yang berada di belakangnya.


"Jelita" Miana memanggil anaknya yang saat ini sudah duduk di ranjang tempat pemeriksaan.


"Dokter Bagaimana keadaan jelita? " Miana bertanya kepada dokter yang saat ini duduk di kursinya.


" Anak saya tidak dirawat di rumah sakit manapun. Karena ceritanya seperti ini..." Miana pun menceritakan semua kejadian hingga akhirnya Jelita dibawa ke rumah sakit ini atas rekomendasi dari Bagas.


" Masya Allah sekali ya. Tidak ada bantuan medis sedikitpun untuk Jelita. Tapi waktu yang diperlukan untuk mencapai kesembuhan begitu cepat. saya jadi penasaran dengan wanita tersebut" dokter tersebut memuji kemahiran Mbok Darmi dalam merawat luka.


"Yang saya tahu dari cerita mbok Darmi, orang yang merawat Jelita, Iya menggunakan tanaman-tanaman di hutan untuk mengibati Jelita. Dan rumah mbok Darmi itu sangat jauh dari pedesaan karena letaknya berada di tengah hutan. Hanya ada 1 rumah yaitu rumahnya" Cerita Miana membuat sang dokter melongo. Iya semakin penasaran dengan wanita yang hidup di hutan bernama Mbok Darmi itu.


"Kok bisa ya dia hidup sendirian di hutan tanpa siapa-siapa. Dan hebatnya lagi dia juga bisa mengetahui jenis tanaman yang bisa digunakan untuk obat dan jenis tanaman yang beracun" sang dokter memuji kehebatan Mbok Darmi meskipun ia belum melihatnya sama sekali.


" kapan-kapan Saya ingin bertemu dengan Mbok Darmi" ucap dokter tersebut kepada miana. dan di samping miana ada Bagas yang terus menatap tajam ke arah dokter tersebut.


" Sudah bicaranya? " kata Bagas ketika dokter tersebut ingin mengatakan sesuatu lagi.


" Sudah Tuan, mohon maaf" dokter tersebut langsung meminta maaf kepada Bagas. Dokter yang menangani Jelita adalah rekomendasi dari Bagas. sehingga Bagas mengenal dengan baik siapa dokter tersebut.


" Tangani saja Jelita dengan baik. Aku akan membantumu dengan sebaik mungkin" Bagas yang juga mengerti tentang permasalahan di dalam medis mengatakan hal tersebut. Hanya saja mereka beda ahli. Jadi Bagas merekomendasikan temannya untuk merawat calon anak perempuannya.


"Kalau sudah, aku akan kembali" Ucap Bagas membuat Dokter di depannya langsung mengangguk.

__ADS_1


"Jelita... Ayo kita pulang" Bagas mendekati Jelita. Dan langsung merentangnya kedua tangannya untuk menggendong gadis kecil itu.


"Biar aku saja yang menggendongnya" Tiba-tiba Miana mengatakan.


"Jangan takut sama om. Om tidak akan menyakitimu." Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bagas mengangkat Jelita dalam gendongannya.


"Terima kasih ya om Bagas" Ucap Jelita. Bagas pun keluar dari ruangan itu.


"Sama-sama cantik. Om senang kamu sudah sembuh. Jangan banyak bergerak dulu ya supaya lebih cepat proses penyembuhannya" Bagas mengusap kepala Jelita dengan penuh kasih sayang.


"Jelita" Bagas, Miana dan Jelita menoleh ketika mendengar suara yang di kenalinya memangil. Namun, setelah tahu siapa yang memanggilnya, Jelita hanya terdiam dan membuang muka.


"Miana... Tolong izinkan aku bertemu dengan Jelita. Aku hanya ingin tahu keadaanya" Prasetyo yang merasa tak di pedulikan oleh anak dan mantan istrinya pun berani berkata.


" Apa yang ingin kamu tahu? dan sekarang kamu sudah lihat kan, Bagaimana keadaan Jelita saat ini" miana berkata dengan Ketus kepada mantan suaminya itu.


" bagaimanapun juga Prasetyo adalah Ayah dari jelita miana. dia juga berhak mengetahui keadaan putrinya" kali ini Atika yang berbicara. awal-awal mendengar apa yang diucapkan oleh Atika ingin atika tidak menganggapnya.


" kamu tidak berhak melarang ayah kandungnya untuk bertemu dengan anaknya sendiri" Atika kembali berbicara ketika miana tidak menanggapi sama sekali.


Atika mengepalkan tangannya menahan emosi yang bergejolak di dalam hatinya. karena kesabarannya sudah tidak bisa dibendung lagi, miana melangkah beberapa langkah mendekati Atika.


" Jangan berbicara tentang hak di sini. Kalau kamu sendiri tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. kamu sendiri tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang wanita"


" plak plak plak" tangan miana dengan cepat melayang ke pipi Atika dan menamparnya sebanyak tiga kali.


" Jangan pernah mengajari aku menjadi seorang ibu. kamu tahu, 3 tamparan itu tidak sebanding dengan hatiku yang kalian hancurkan." Atika memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan miana begitu keras mendarat di pipinya. sedangkan Prasetyo masih terdiam di tempat.


" berani kamu ya sama kakakmu sendiri" di saat Atika akan melayangkan tamparan untuk membalas miana, miana dengan sikap memegangi tangan Atika yang sedang melayang di udara sebelum mengenai pipi mulusnya itu.


" aku bisa saja membunuhmu dan anak dalam kandunganmu saat ini. membuat Prasetyo hancur dan menjadi Gelandangan saat ini juga. tapi sebagai seorang wanita, aku masih memiliki hati nurani yang tidak akan pernah hilang dalam jiwaku" miana melemparkan tangan Atika yang ia pegang. hingga membuat Atika mundur beberapa langkah. dengan Sigap Prasetyo pun menangkap istrinya.


" kalau sampai terjadi apa-apa dengan istriku aku tidak akan memaafkan kamu" Prasetyo mengancam kepada miana.


" Apa perlu aku melakukan sesuatu untuk membuat kalian benar-benar menyadari semua kesalahan kalian. Apa perlu aku bertindak untuk menghancurkan kamu kembali. membalasmu dengan sadis dan mencabik-cabik hidupmu tanpa perasaan seperti yang pernah kalian lakukan kepadaku? " ucapan miana membuat Prasetyo kembali terdiam.


" Jelita ini papa sayang... Kenapa kamu tidak mau menyapa papa? " Prasetyo ganti beralih kepada jelita yang berada dalam gendongan Bagas.


" Anda jangan pernah menyebut kata Papa di depan saya lagi. Dimulai dari anda meninggalkan kami. Anda bukan papa kami lagi" Tiba-tiba suara Dara terdengar dari belakang Miana dan yang lain. Ucapan Dara membuat semua orang di sana terkejut.

__ADS_1


" Benar apa yang diucapkan oleh kak Dara. Anda bukan papa kita lagi" kali ini Jelita ikut berbicara. Terlihat Dara dan Parlan yang berjalan mendekat ke arah miana dan yang lain.


__ADS_2