Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Tidak Ingin Terluka Kembali


__ADS_3

Miana terpaku pada sebuah pemandangan. Iya trenyuh dengan melihat seorang wanita yang menggendong kedua anaknya. Wanita itu menjajakan dagangannya di sekitar lampu merah. Miana dengan perlahan membuka kaca mobilnya.


"Bukk.. Saya mau" Panggil Miana. Dan ibu itu langsung mendekat.


"Iya non. Mau yang mana? " Miana memperhatikan dagangan wanita di depannya. Keranjang yang digunakan wanita itu terlihat bersih. Miana jadi bersemangat.


"Mau ini sama ini. 5 5 ya buk" Wanita itu pun mengangguk. Dengan segera iya mengambil apa yang di pilih oleh Miana dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Bersamaan dengan menyerahkan kantong tersebut, Miana menyerahkan uang sebanyak 2 lembar berwarna merah. Orang tersebut menggeleng karena tidak ada kembalian.


"Tidak ada kembalian non" Ucapnya.


"Ambil saja" Setelah mengatakan itu, Miana mengangguk lalu terswnyum.


"Terimakasih non" Ucap wanita tersebut sedikit berteriak. Selain merasa senang, juga karena mobil sudah perlahan berjalan. Miana tersenyum. Iya segera membuka bungkusan kantong itu. Mengambil satu buah makanan yang di bungkus dengan daun pisang. Lalu dengan lahap Miana memakannya.


"Apa nona Miana kelaparan? " Tanya Parlan keheranan. Miana tak pernah makan dengan pemandangan serakus ini.


"Iya... Kamu tahu kan dari pagi aku tidak makan apapunJadi aku lapar" Miana menjawab sambil mengunyah.


"Saya kira orang patah hati sudah tidak punya selera makan sama sekali. Tapi kali ini berbeda" Ucap Parlan.


"Aku sadar, tidak makan hanya akan membuatku lemah. Jadi untuk apa aku menyiksa diri dengan tidak makan." Jawab Miana. Parlan yang mendengar pun hanya manggut-manggut.


"Kamu memang unik" Ucap Parlan dalam hati.


"Jangan membatin. Kalau tidak kelaparan aku tidak akan makan serakus ini" Miana mengatakan masih dengan makanan di mulutnya.

__ADS_1


"Kalau makan yang sopan. Kamu itu perempuan Miana" Melihat Miana makan dengan bicara membuat Parlan tidak bisa diam.


"Hehe..." Miana nyengir mendengar apa yang dikatakan oleh Parlan. Akhirnya iya menyelesaikan makannya tanpa berbicara sedikitpun.


" aku melihat ibu-ibu Tadi kenapa jadi kasihan. padahal nasib aku tidak seberantung mereka" selesai memakan makanannya, miana berucap sembari mengelap bibirnya yang belepotan dengan minyak.


" Jangan pernah membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Kalau kamu tidak ingin hidupmu menjadi terasa berat" Arlan menjawab apa yang dikatakan oleh miana.


" mungkin mereka tidak keberuntungan aku dalam hal finansial. tapi secara hati mereka menemukan pasangan yang lebih baik dari diriku" miana kembali bergumam.


" ada hal yang harus kamu ambil sebagai pelajaran. Dan ada hal yang harus kamu buang ketika itu hanya menjadi beban dalam hidupmu" tanpa menoleh Parlan tetap menasehati miana.


" akan ada banyak hal yang kamu temui setelah kamu merasakan sakit yang bertubi-tubi. kalau kamu merasa rasa sakitmu itu adalah beban. maka kamu harus merubah mindset kamu. Ubahlah rasa sakitmu itu sebagai pijakan. agar kamu lebih baik dalam melangkah kembali"


"Siap pak guru" Miana tersenyum. Iya seakan mendapat pencerahan.


" itu mobil mama" ucap Dara sambil menggandeng lengan adiknya dan menunjuk ke arah mobil yang ditumpangi Parlan dan miana.


" Ayo kita ke sana! " Jelita begitu antusias menyambut kedatangan mamanya yang baru keluar dari mobil.


" Ayo Sayang cepat" miana menyuruh kedua putrinya untuk Segera menaiki mobil. dan kedua anak itu pun menurut.


" Mama habis ini kita mau ke mana? " Dara iseng-iseng bertanya kepada mamanya.


" Emangnya Kalian mau ke mana? " karena miana merasa juga begitu Suntuk di dalam rumah. Ia pun sengaja menanggapi permintaan putrinya.

__ADS_1


" Aku pengen jalan-jalan ma. minggu depan kan kita sudah mulai ujian. Jadi sebelum ujian Dara mau kita jalan-jalan untuk refreshing terlebih dahulu" miana langsung mengangguk tanpa berbelit-belit.


" hore..." sorakan terdengar dari mulut kedua bocah kecil itu.


" Mama beneran mau ngajak kita jalan-jalan? " sekali lagi jelita menanyakan apakah miana benar-benar akan mengajaknya untuk jalan-jalan.


" bener sayang. tapi sebelumnya kita makan dulu. habis itu Nanti kita sama-sama cari baju untuk ganti kalian. kan nggak enak juga kalau misalnya kalian jalan-jalan terus pakai baju kayak gini" miana menjelaskan kepada kedua putrinya.


" Oke siap... jarang-jarang loh Mama kayak gini. Biasanya kalau pulang sekolah kita harus ngerjain PR terlebih dahulu baru kalau kita ngajak jalan-jalan mama mau nurutin. hari ini Mama beda. Makasih ya Ma" Jelita dengan polosnya mengatakan kebiasaan miana di dalam mobil tersebut.


" sama-sama... Tapi nanti kalau ada PR sepulang dari jalan-jalan kalian tetap harus mengerjakan" miana tetap pada pendiriannya. ke sekolah tidak boleh dilupakan oleh anak-anak. apalagi sampai tidak mengerjakan PR yang diberikan oleh gurunya. Parlan yang melihat hal tersebut benar-benar bisa tersenyum.


" Mama itu kayak mobilnya papa ya? " tangan kecil darah menunjuk ke mobil yang berada di sampingnya. karena mereka berhenti saat jalanan Sedikit macet. karena pertanyaan itu, miana dan Parlan menoleh ke samping. Mereka melihat apa yang ditunjuk oleh Dara dan jelita.


" mungkin itu mobil yang sama dengan mobil papa sayang" Miana mencoba mencari alasan. dan ternyata apa yang dikatakan oleh putrinya tersebut adalah benar adanya. Itu adalah mobil milik Prasetyo.


" tapi aku tahu persis bagaimana ciri-ciri mobil papa. stiker yang ada di kaca samping itu yang nempelin aku" cerita penunjuk sebuah kabar kecil yang berada di pintu.


"Oh begitu ya.. Mungkin papa sedang ada urusan di luar perusahaan sayang. Jadi papa keluar" Miana masih tetap tenang. walaupun dalam hatinya timbul rasa ingin tahu.


" Bagaimana kalau kita ikut apa saja Mah. kita ikutin mobil Papa Ke mana perginya" usul dari darah.


" bener mah. nanti kita malah bisa makan siang bersama dengan papa" Jelita menambahi.


"Papa kan masih kerja sayang. Kita lanngaung jalan-jalan saja ya. Kan ngga enak kalau kita gangguin papa" Miana bertekat untuk tidak mencari tahu apapun yang berhubungan dengan Prasetyo. hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak menuruti apa yang anaknya katakan.

__ADS_1


" Ya sudah kalau gitu, kita lanjut aja jalan-jalannya. Nanti papa marah-marah kalau kita mengganggu kerjanya" ucapan kedua bocah polos tersebut begitu membuat hati miana terharu.


"Tapi nanti om Parlan ikut kita ya. Biar kita kaya keluarga" Jelita mengatakan itu. Membuat Miana menoleh ke arah Parlan.


__ADS_2