
"Waahh... Hebat juga kamu Rin. Udah bisa kenalan apa belum? " Tanya teman-teman Karina yang dari tadi memperhatikan tingkah Karina di depan Parlan.
"Aku gitu lo" Jawab Karina berbangga diri.
"Dih, pasang tebal muka" Sindir teman di sampingnya yang merasa tidak suka akan tingkah teman-temannya.
"Ngga apa-apa lah. Yang penting aku bukan wanita pendiam yang tak tahu diri" Balas Karina dengan ketus. Sehingga membuat wanita tadi jengah mendengar jawaban itu. Hal seperti ini sering sekali terjadi d antara mereka.
Pov Parlan.
"Om.. Aku mau yang ini" Jelita dan Dara sudah berada di taman di perusahaan orang tuanya. Mereka dengan cepat memetik banyak sekali bunga. Hingga mwmbuat Parlan kuawalahn karena terus di siruh-suruh. Dan Parlan tidak melarang mereka, Parlan berfikir jika itu adalah milik mereka juga, jadi kenapa harus di larang.
"Om, aku may yang itu juga" Teriak Dara bergantian. Tangan Parlan yang 2 segera terulur mendekati bunga tersebut. Namun karena Dara dan Jelita merasa tidak puas di petikkan oleh Parlan, Mereka pun langsung memetik sendiri.
"Kalian ngapain di sini? " Seorang Satpam yang melihat ada orang yang sedang memetik bunga, langsung berteriak. Mereka saling menoleh.
"Eh kamu, kenapa anak-anak kamu kamu biarkan memetik bunga-bunga ini. Dan kamu malah membantu mereka. Kalian ini tidak tahu ya kalau bunga-bunga ini di rawat dengan baik. Seharusnya kamu bisa menasehati mereka supaya tidak melakukannya, malah kamu ikut-ikutan merusak" Ucap satpam tersebut sedikit membentak. Membuat Dara dan Jelita menciut nyalinya.
"Apa ada masalah ya pak? " Tanya Parlan dengan santai. Satpam tersebut terlihat srmakin geram.
"Kalian ini, di kasih tahu malah ngeyel. Kalau tamannya rusak bagaimana? Kalian mau bertanggung jawab? " Satpam itu malah semakin marah.
"Ayuk om, kita bilang sama mama, biar satpamnya di pecat" Celoteh Dara membuat satpam itu tertawa.
__ADS_1
"Kenapa ini? " Tanya seseorang mendekat ke arah satpam yang tertawa itu. Iya pun bertanya.
"Ini tuan, mereka merusak tatanan taman tuan. Mereka memetik banyak sekali bunga, ketika saya tegur, mereka bilang mau bilang mama biar saya di pecat" Jawab satpam itu.
"Kenapa kalian melakukan itu? " Tanya lelaki itu.
"Dan tadi kalian mau bilang ke mama? Bilang saja. Anak siapa sih kalian ini. Ke tempat seperti ini masih menggunakan seragam sekolah, apa ngga malu? " Lelaki tersebut terlihat sangat menyepelekan.
"Asal kalian tahu, mama kalian akan di pecat oleh tuan direktur ini kalau kalian berani macam-macam" Ucap satpam itu dengan penuh percaya diri.
"Jahat banget sih om tua" Ucap Dara secara tiba-tiba.
"Berani ya kamu anak kecil memanggil saya om tua. Saya ini masih muda tahu ngga" Jawab lelaki yang di sebut direktur tersebut dengan suara emosi.
"Lebih baik kalian pergi saja dari sini karena saya masih memaafkan kalian. Jangan sampai saya berubah fikiran dan menuntut kalian ya. Saya akan membuat kalian miskin secara tiba-tiba" Direktur itu masih terus membuncahkan emosinya.
"Om, mama aku orang penting di sini. Jafi jangan melarang kita untuk melakukan apapun yang kita mau." Jelita menimpali sehingga membuat lelaki tua berperawakan sedikit gemuk itu semakin emosi.
"Ini kan masih jam kerja ya, kenapa kalian malah di sini. Mengurusi sesuatu yang bukan menjadi urusan kalian" Parlan mengatakan itu. Sehingga orang yang menjadi direktur entah di devisi apa itu semakin murka.
"Heh anak muda, berlaku sopanlah kepada tuan Feri. Beliau ini adalah orang penting di sini. Jangan sampai kamu menyesal telah membuatnya marah" Satpam yang berada di sampingnya mengatakan hal yang menurutnya sangat menakutkan bagi Parlan dan kedua gadis kecil itu.
"Oh iya? Jadi nama mu tuan Feri? " Parlan malah menjawab seolah menantang.
__ADS_1
"Berani sekali kamu ya? Apa kamu sudah tak sayang lagi dengan nyawamu anak muda? " Parlan yang mendengar itu serasa ingin tertawa.
"Memangnya ada apa dengan nyawaku sehingga anda bisa sampai bisa berkata seperti itu? " Parlan masih tak ingin mengalah.
"Kamu ini, di bilangi ngeyel. Sana pergi" Satpam yang tadi merasa jengkel juga.
"Kalau kita ngga mau pergi memangnya kenapa? " Kini Dara ikut menimpali lagi. Membuat dua orang dewasa itu semakin geram.
"Jangan berbuat sesukamu seolah perusahaan inkm adalah milik kakekmu" Direktur itu masih terus membalas apa yang diucapkan oleh Dara, Parlan maupun Jelita.
"Memang bukan punya kakek ku. Tapi..." Ucapan Dara terpotong ketika direktur itu menimpali lagi.
"Makanya, sadar diri juga kamu anak kecil. Lebih baik kamu belajar dengan giat supaya orang tua mu bangga. Bukan malah berdebat dengan orang dewasa" Karena emosi, ada saja ucapan yang keluar dari mulut lelaki tua itu.
"Anda itu tidak dewasa, tapi tua" Jawab Parlan santai. Sehingga kedua orang yang tak di kenalnya itu sampek muak menahan emosi.
"Kamu ya, siapa yang menyuruhmu berbicara. Aku tidak suka mendengar jawaban kamu. Pantas saja anak-anak kamu terdengar ketus saat berbicara, ternyata ayah nya saja mengajari tidak benar." Satpam itu terus membela seseorang yang di sebutnya direktur itu.
"Bukan urusan bapak berdua ya untuk menilai bagaimana orang tua mendidik anak-anaknya. Setiap orang pasti akan melakukan hal yang sama ketika mengetahui kesombongan anda berdua" Lama sekali mereka berdebat belum juga selesai. Hingga habis sudah kesabaran dari dua orang dewasa di hadapan Parlan itu.
"Sekali lagi kamu berani menjawab, aku pastikan kamu akan menyesal. Dan kalian berdua, masih kecil sudah berlagak sok pintar. Sekolah sana yang benar dulu, baru sok pintar" Lelaki yang menjabat sebagai direktur tersebut mengangkat tangannya ke arah Dara dan Jelita. Namun sebuah suara membuatnya menurunkan tangannya kembali.
"Kalau sedikitpun kalian berani meyakiti mereka, akan aku pastikan kalian tidak akan bisa bekerja lagi mulai detik ini" Suara seseorang yang teramat di segani di perusahaan itu terdengar begitu jelas. Sehingga membuat direktur dan satpam yang tadi arogan itu menoleh. Di saat melihat siapa yang datang, mereka lanngsung gemetar seluruh badan. Mereka menunduk, tak berani mengangkat wajah yang dari tadi berbicara dengan penuh kesombongan itu. Kini nyali mereka menciut sepert kerupuk tersiram air.
__ADS_1
"Tuu.. Tuan... kami hanya menegur mereka karena sudah merusak tatanan taman. Tapi mereka malah terus mendebat kami tanpa berhenti." Penjelasan seorang direktur kemungkinan akan di dengar oleh orang penting di perusahaan itu, pikirnnya.
"Apa kamu tahu siapa orang-orang yang telah kalian bentak-bentak ini? " Tanya lelaki yang di takuti itu. Dan mereka pun menggeleng. Namun rasa khawatir sudah hinggap di dada.