
Miana hampir saja terjatuh ke tanah jika Parlan tidak menangkapnya. Setelah Miana berdiri, Parlan pun ikut berdiri di sampingnya Miana.
"Ada apa ini? " Ibu Asti terlihat begitu garam dengan kedatangan Parlan. Matanya melotot seakan siap untuk membuat takut sopir di depannya itu.
"Jangan ikut campur urusanku dengan dia" mertua Miana berkata dengan Ketus sambil menunjuk menantunya.
"Mohon maaf Nyonya Asti. Bagaimana saya tidak ikut campur sementara anda menyakiti majikan saya" suara tenang Parlan membuat Ibu Asti tertawa.
"Hahaha... Kamu pikir kamu siapa bisa berkata sedemikian rupa kepadaku. Kamu tidak tahu aku ini juga majikan. Walaupun kamu tidak bekerja pada saya, tapi kamu digaji sama anak saya" ucapan bu Asti begitu merendahkan Parlan.
"Tapi bagaimanapun juga, Nona Miana adalah tanggung jawab saya selama Tuan Prasetyo tidak ada di sampingnya" Jawaban Parlan semakin membuat nyonya Asti geram.
"Apa hebatnya kamu, yang dapat bertanggung jawab atas wanita tidak tahu diri ini. Kalau begitu ajari dia sopan santun yang baik, Bagaimana memperlakukan mertuanya di depan umum." Ibu Asti tidak mau menyerah. Iya terus menyalahkan Miana.
"Apa sebenarnya yang terjadi? " Parlan bertanya.
"Dia sudah membuat kita malu. Aku tidak terima" Ibu Asti menjawab dengan ketus. Parlan memandang Miana seakan meminta penjelasan.
__ADS_1
"Bu Asti, bisa kita duduk dulu. Kita bicarakan baik-baik" Parlan mengajak bu Asti untuk duduk.
"Tidak... Tidak akan aku duduk dengan sopir rendahan dan wanita murahan seperti dia" Bu Asti segera berjalan meninggalkan Miana dan yang lain.
"Nenek mengerikan sekali ya ma" Dara dan Jelita bersembunyi di belakang Miana.
"Kita duduk dulu! " Parlan mendorong kereta dorong milik Devan. Setelah mereka duduk seorang pelayan datang setelah dipanggil oleh Parlan.
" Nanti saja ceritakan, sekarang masih ada anak-anak" Parlan mengadakan tersebut begitu pelan sehingga anak-anak tidak mendengarnya. Setelah makanan yang mereka pesan datang, Mereka pun menikmatinya.
Tak berselang lama, mereka makan dalam diam. Akhirnya mereka keluar dari rumah makan itu. Parlan membukakan pintu untuk miana dan anak-anak. Setelah semuanya masuk, Ia pun segera membuka pintu di kursi kemudi. Mobil berjalan dengan hati-hati. Miana duduk di samping parlen dengan Devan di dalam gendongannya. Sedangkan Dara dan Jelita duduk di belakang. Parlan sengaja pelan dalam mengemudikan mobilnya. tak ada 10 menit, Terlihat Dara dan Jelita telah tertidur.
"Kamu ingat laki-laki yang menolong aku, disaat aku mengikuti Prasetyo dan Atika? " pertanyaan Miana membuat Parlan mengurangi kecepatan laju mobilnya.
" Iya aku ingat... Bahkan saat itu dia mengucapkan jaga dia baik-baik" jawaban Parlan tanpa menoleh.
"Tadi pagi setelah mengantarkan Dara dan Jelita sekolah, tidak sengaja aku melihat dia menyeberang jalan. dan hampir tertabrak oleh mobil yang aku naiki. Aku masih ingat dengan jelas siapa laki-laki itu. Dan ternyata dia adalah laki-laki yang menolong aku waktu itu. Singkat cerita aku turun dan mengikuti dia. Sebagai permintaan maaf aku ingin mentraktirnya dengan makan di Cafe xxx. Dan ternyata dia adalah Bagas temanku aku SMK. Dan yang membuat aku lebih terkejut, ternyata Rendy adalah orang yang selama ini menjadi pimpinan perusahaan AIA Corporation. Tanpa disengaja, ayah dan ibu datang bersama rekannya. Mereka mengira kalau aku berselingkuh dengan Bagas. Di saat ibu mempermalukanku di depan umum, Rendy datang sebagai pimpinan AIA Corporation. Dan ternyata selama ini ayah sama ibu bekerja sama dengan mereka. Yang lebih mengejutkan lagi ternyata ayah sama ibu takut sama Rendy" cerita Miana didengarkan dengan baik oleh Parlan di sampingnya.
__ADS_1
"Jadi itu sebabnya Kenapa bu Asti memanggilmu wanita murahan. Memang mereka selalu semena-mena." Parlan bergumam sendiri. Dan Miana pun mengangguk.
" Pantas saja Bu Asti terlihat begitu marah. Padahal dia sendiri biang keroknya" Parlan pun masih berkata dan miana hanya menunduk. Dan mungkin saat ini air matanya sudah membasahi kedua pipinya.
" Mungkin anak-anak lelah kita pulang atau ke mana? "
" Kita pulang saja, tapi ke rumah kamu" Parlan pun mengangguk mendengar permintaan miana. Akhirnya Parlan pun terdiam setelah mendengar cerita dari Miana. Dia mengemudikan mobilnya dengan menambah kecepatan agar cepat sampai di rumah.
Saat berhenti tepat di lampu merah, Parlan menghentikan laju mobilnya. Dan di sana tepat berada di depan toko mas terbesar di kota tersebut. Miana memandang ke sekeliling. Tanpa sengaja kedua netranya menangkap sosok yang begitu ia kenal sedang turun dari mobil tepat berada di depan toko emas tersebut. Miana terus memperhatikan kedua orang tersebut yang begitu mesra. Kembali lagi terulang, tergores hatinya. sakit dan perih bercampur menjadi satu. Tanpa ia sadari, air matanya menetes dan Isak tangisnya terdengar oleh Parlan yang berada di kursi kemudi.
" Miana Bersabarlah! " Pqrlan mengatakan hal tersebut tanpa menoleh.
" Itu... Dua orang yang sedang membangun kebahagiaan. Mereka masuk ke dalam toko emas" dalam Isak tangisnya, Miana menjawab. Dan Parlan pun menoleh untuk melihat Apa yang dimaksud oleh Miana. Dan Alangkah terkejutnya Parlan melihat pemandangan tersebut. Atika dan Prasetyo bergandengan tangan masuk ke dalam toko emas.
" Keterlaluan... Kamu foto mereka, jadi di saat kamu ingin membongkar kebusukan mereka, kamu punya bukti sendiri. mati-matian Ayah dan ibumu membesarkanmu dan takut menyakitimu, tapi prasetyo dengan mudah membuatmu hancur seperti ini. Mereka memang pantas. penggoda dan pengkhianat memang sama-sama pantas untuk bersatu" panjang kali lebar Prasetyo mengungkapkan kekesalan di hatinya. dan terlihat Miana yang semakin menangis.
" Kamu tidak pantas banyak menangisi b******* seperti mereka. Biarkan saja mereka bersenang-senang saat ini. Yakinlah, setiap apa yang mereka tanam pasti akan mendapatkan hasilnya. Kamu harus yakin juga, bahwa Karma tidak akan pernah salah alamat"
__ADS_1
"Tin tin tinn" lampu merah telah berubah menjadi hijau, dan Parlan masih belum juga menjalankan mobilnya. Hingga akhirnya suara klakson dari belakang mobilnya terdengar bersahut-sahutan. Dengan segera Arlan menginjak pedal gas dan segera meluncur. Dan di sepanjang perjalanan, suasana menjadi begitu hening. Miana tidak mampu untuk berkata-kata. Hanya air mata yang menunjukkan kesedihan dan kehancuran di hatinya.
Saat tak sengaja mengikuti rasa penasaran, tiba-tiba Miana disadarkan oleh kenyataan. Miana lupa bahwasannya dia dan Pasetyo tak lagi sejalan, dia lupa kalau dirinya tidak berhak lagi menekankan kecemburuan. Miana menggeleng keras, menghapus air matanya. Kebebasan, frasa itulah yang dia inginkan. Lepas dari ikatan yang menyatukan, pergi dari selimut ketakutan. Sederhana, Miana ingin menjalani hari-hari selajutnya dengan tawa yang lebih jenaka. Melunakkan keras kepala, bersosialisasi dengan yang namanya bahagia. Itulah yang saat ini berada di dalam fikiran Miana. Namun kembali lagi iya teringat kepada kedua putrinya.