
"Aku ngga sabar lihat Prasetyo di persidangan nanti" Ucap Miana setelah anak-anak turun dan masuk ke sekolah nya.
"Kenapa harus tidak sabar? " Tanya Parlan.
"Aku ingin tahu apa alasan dia menceraikanku. Apa alasannya karena dia selingkuh atau apa" Miana mengatakan dengan jelas mengapa hatinya merasa tidak sabar.
"Jangan seperti itu. Lebih baik kuatkan saja hatimu. Sebentar lagi kamu akan menjadi janda" Parlan bercanda mengatakan itu.
"Lebih baik menjadi janda dari pada harus hidup dengan orang yang terus-terusan menyakiti kita" Miana menjawab dengan nada sedikit ketus.
"Kamu tahu kan pandangan orang tentang janda? " Parlan mulai memancing.
"Aku tahu. Dan tidak semua janda sepeti yang ada di dalam fikiran mereka semua.
"Aku akan menjadi janda terhormat serta berkelas. Walaupun mereka memandang sebelah mata, tapi aku akan berusaha menjadi seorang wanita yang bermartabat tinggi" Miana seakan yakin dengan keputusannya.
"Saya pegang kata-kata mu Miana." Parlan berkata dengan serius kali ini.
"Insya Allah" Miana tersenyum, dan mereka melanjutkan perjalanan menuju ke tempat tujuan.
Keadaan di kantor pengadilan masih sangat sepi. Hanya terlihat beberapa orang berlalu lalang di sana. Belum terlalu ramai seperti biasanya karena ini masih pagi. Hanya karena Miana yang bersemangat, iya berangkat lebih awal.
"Apa kamu merasa gugup atau bagaimana gitu Miana? " Parlan menanyakan keadaan Miana saat ini. Namun Miana hanya menjawab dengan gelengan kepala. Iya terdiam tak tahu kenapa.
"Kamu kenapa? Apa ada hal yang mengganggu fikiranmu saat ini? " Parlan tak bisa diam melihat keadaan Miana terlihat tidak baik-baik saja. Bukan raganya, namun hatinya.
"Aku merasa takut untuk menghadapi persidangan ini Parlan. Apa ini bukan keputusan yang terbaik ya? " Miana kembali merasakan ragu di dalam hatinya. Iya juga merasa takut di dalam hatinya untuk menghadapi semuanya.
"Apa kamu merasa ragu dengan keputusan ini? " Parlan ingin memastikan jika Miana benar-benar telah siap menghadapi semuanya.
"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi aku berharap jika aku tidak berubah fikiran" Miana seakan mengharapkan sesuatu untuk bisa menghadapi kenyataan ini.
"Kamu jangan khawatir, semalam aku sudah mempersiapkan senjata apabila Prasetyo memutar balikkan fakta." Parlan menunjukkan sebuah rekaman video di ponselnya kepada Miana.
__ADS_1
"Apa ini rekaman di camera yang kita pasang saat itu? " Tanya Miana. Dan Parlan terlihat mengangguk."
"Benar sekali, dan aku sudah memindahkan semua copyannya ke dalam ponsel ini" Palan memberitahu Miana yang terlihat tidak terlalu percaya diri menghadai persidangan.
"Apa semalam kamu menyiapkan semuanya? " Pertanyaan Miana hanya di jawab anggukan oleh Parlan.
"Tadi kamu merasa tidak sabar, dan sekarang kamu merasa takut. Kenapa kamu seperti ini Miana? " Parlan merasa bingung. Dan di saat yang sama, tuan Heri, bu Yanti serta Awan datang. Mereka baru saja turun dari mobil dan langsung menghampiri Miana dan Parlan.
"Miana..." Panggil Awan yang terlrbih dahulu keluar dari mobil. Dan Miana serta Parlan menoleh ke arah mereka.
"Kamu sudah siapmenghadapi semua kenyataan ini? " Tanya Awan sembari berjalan menuju ke arah adiknya itu.
" Insya Allah sudah kak" Miana dengan pelan menjawab.
"Jangan takut menghaadapi sesuatu yang kamu tidak bersalah. Semua yang kita jalani memang ada konsekuensinya" Awan menasehati sang adek yang akan mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
"Kakak jangan khawatir, aku akan melakukan yang terbaik untuk hidup ku dan anak-anak setelah ini" Miana tersenyum, memandang ke arah orang tuanya dan memandang dengan pebuh rasa khawatir. Serta sang kakak tiri yang tak ada henti-hentinya memberikan dukungan.
"Kakak dan ayah serta ibu sudah sarapan? " Tanya Miana ingin tahu.
"Sudah tadi sebelum berangkat" Awan mengatakan kepada Miana.
"Oh iya Parlan, terima kasih atas semua kontribusimu melindungi Miana selama ini, aku masih saat yakin kalau kamu memang sealu bisa di andalkan" Awan mengucapkan terima kasih nya kepada Parlan.
"Sudah menjadi kewajiban saya Awan, kamu jangan bicara seperti itu. Bahkan aku selalu menanggap Miana sebagai adikku sendiri sampai saat ini" Parlan tetap seperti keluarga bagi Awan dan semuanya.
"Kamu itu cerdas Parlan, kenapa tidak mau melakukan hal yang lebih baik lagi daripada hanya menjadi sopir Miana. Kalau kamu mau berusaha lebih banyak lagi, aku yakin kamu tidak akan menjadi seorang sopir ini" Awan sebenarnya ingin sekali Parlan mengubah hidupnya dan menjadi orang yang sukses. Namun Parlan bersikeras menolak.
'Kalau aku pergi dari sini, siapa yang akan menjadi sopir sekaligus bodyguard untuk Miana? " Parlan malah mencoba untuk membuat Awan kesal dengan menjawab seperti itu.
"Kita bisa mencari sopir pengganti Miana." Awan merasa Parlan benar-benar tidak ingin mengubah haluan hidupnya.
"Kita di sini adalah untuk menemani Miana menghadapi masa sulitnya, bukan untuk membahas hidupku" Jawaban Parlan seakan-akan memprovokasi Awan. Lelaki yang menjadi kakak tiri Miana itu kalah telak dengan apa yang di ucapkan oleh Parlan.
__ADS_1
"Baru kali ini aku tahu ada seorang sopir lulusan S2. Pintar banget menjawab apa yang di katakan oleh boss nya" Awan seakan menyindir.
'Dan baru kali ini juga aku lihat ada bos selalu ingin mengurusi hidup sopirnya." Parlan masih tak ingin mengalah. Iya masih terus ingin membuat Awan merasa marah.
"Tapi kamu terlalu pintar Parlan. Bahkan aku saja sangat membutuhkan seseorang sepertimu di kantor. Kalau kamu mau akau akan mencarikan sopir baru untuk Miana" Awan masih belum juga menyerah. Iya masih bersikeras untuk membujuk Parlan.
"Kamu tanya saja kepada Miana' Parlan dengan santai mengutarakan kalimatnya.
"Kalau tanya ke Miana aku tidak yakin dia akan mau" Awan menggaruk teku knya yang tidak terasa gatal itu menghadapi Parlan yang memang Pandai.
"Untung kamu itu sopir kesayangan keluarga, kalau tidak aku sudah akan memecat kamu" Karena merasa tak bisa mengimbangi berdebat dengan Parlan, Awan berkata seperti itu.
"Coba aja kalau berani" Parlan juga tak mau mengalah.
"Kalian itu ngga ada habisnya kalau lagi bersama. Bisa ngga sih ngga terus-terusan berdebat karena hal-hal yang sepele seperti itu" Ayah Heri yang sudah mengetahui watak dua orang di belakangnya itu. Dan Parlan serta Awan hanya bisa menjawab dengan senyuman. Mereka pun akhirnya masuk ke dalam ruang persidangan karena waktu sidang di mulai tinggal beberapa menit lagi.
"Miana..." Panggil Parlan. Miana yang berjalan di depan pun menghentikan langkahnya karena mendengar panggilan itu. Iya kembali menoleh ke belakang menghadap ke arah Parlan.
"Ada apa? " tanya Miana.
"Ini, kamu melupakan sesuatu" Parlan memberikan ponselnya kepada Miana.
"Tunjukkan ini saja kalau sampai Prasetyo menyulitkan mu dalam persidangan ini" Miana menerima ponsel Parlan.
"Makasih ya, aku akan melakukan yang terbaik kalau sampai bajingan itu menyulitkanku." Miana langsung memelu Parlan tanda sadar.
"Maaf aku tidak bisa ikut campur sampai ke persidanganmu, tapi kalau kamu membutuhkan aku di persidangan nanti, aku akan masuk." Ucap Parlan.
"Dan tolong lepaskan pelukanmu atau semua orang akan salah paham kepada kita" baru setalh Parlan mengatakan itu, Mianan melepaskan pelukannya. Miana mengangguk, iya langsung sedikit menjauhkan diri dari Parlan.
"Kamu seorang sopir yang beruntung" Sindir Awan. Namun Parlan hanya menanggapi dengan tatapan yang tajam.
"Mulai lagi kan? " ucap ayah Heri melihat tingkah laku anak dan orang lain yang sudah di anggapnya anak itu. Awan hanya tersenyum. Sedangkan Parlan tak menanggapi.
__ADS_1