
Pov Atika dan Prasetyo
"Maaf tuan, nyonya Miana meminta seluruh aset yang menjadi hak nya, dia sendiri yang mengelola" Hendra menyampaikan pesan dari Miana kepada Prasetyo,
"Kenapa secepat itu dia meminta hak nya" Prasetyo seakan tak rela memberikan hak Miana.
"Dan juga, aset yang berada di kantor cabang. Nyonya Miana meminta semuanya" Hendra menyampaikan semua yang sudah di katakan oleh Miana.
"Aku akan segera mengurusnya. Terimakasih" Prasetyo menutup panggilan tersebut. Dan Atika yang baru saja datang, mendengar kalimat terakhir Prasetyo.
"Ada apa? Kamu mau mengurus apa? " Atika yang tak mendengar percakapan itu dari awal merasa menyesal.
"Miana meminta seluruh aset miliknya" Jawab Prasetyo.
"Apa dia menuntut harta gono gini? " Atika bertanya.
"Bisa di bilang seperti itu" Prasetyo dengan perlahan menjawab.
"Apa kamu tidak ikhlas memberikan kepada mantan istrimu? " Tanya Atika.
"Dulu kita merintis usaha ini bersama. Hingga biaa berkembang pesat. Namun Miana juga tidak bodoh. Dia meminta separuh atas nama dia dan separuh atas namaku. Jadi kalau misalnya aku tidak memberikan apa yang menjadi hak nya, aku bisa di tuntut" Penjelasan Prasetyo membuat Atika sedikit terkejut.
"Ternyata prasetyo hanya memiliki separuh dari hartanya. Tapi ngga apa-apa. Separuh dari harta itu saja audah bisa membuatku hidup mewah. Jadi aku tidak perlu bekerja keras lagi."
"Tapi, kalau bisa memiliki segalanya, aku akan merebutnya lagkkb dari Miana. Tunggu saja Miana, kamu akan ku buat menangis darah kali ini" Gumam Atika dalam hatinya.
"Jangan terlalu di fikirkan. Sudah ada aku yang akan terus menemanimu" Atika dengan penuh percaya diri mengatakan itu. Kedua telapak tangannya di letakkan di kedua pundak Prasetyo. Membuat Prasetyo semakin percaya pada wanita itu.
Pov Miana.
"Parlan, kita ke kantor dulu ya. Ngga usah pulang terlebih dahulu. Kita lohat-lihat keadaan di perusahaan." Sepulang dari kantor pengadilan negeri. Miana meminta Parlan untuk langsung ke kantor saja.
"Tapi Dara dan Jelita bagaimana? " Tanya Parlan.
"Kita jemput mereka dulu. Karena ini sudah hampir waktunya pulang sekolah." Miana tidak mengatakan bahwa lupa. Iya hanya mengelak untuk menghindari rasa malu kepada Parlan.
__ADS_1
"Oh baiklah" Parlan melajukan mobilnya menuju ke sekolah Dara dan Jelita.
Di Sekolah.
Parlan dan Miana menunggu di dalam mobil. Mereka berdua tidak turun karena cuaca terasa begitu panas.
"Apa kamu sudah merasa lega? " Tanya Parlan.
"Aku lega sekali karena sudah bisa terlepas dari lelaki pengecut seperti Prasetyo. Aku merasa tidak ada beban" Miana berkata dengan menyandarkan punggungnya ke sandaran mobil.
"Ada 1 lagi tugas yang belum selesai" Ungkap Parlan. Miana langsung menoleh ke arah Parlan
"Apa itu? " Miana bertanya karena tak tahu apa yang di maksud oleh Parlan.
"Menyembuhkan lukamu" Kata Parlan lagi. Dan Miana tersenyum mendengar itu.
"Aku sudah berusaha menyembuhka luka ini. Jika aku terluka terus dan tidak sembuh-sembuh. Aku tidak akan bangkit dan berdiri" Miana seakan menjelaskan keadaan hatinya.
"Aku turut senang mendengarnya. Kalau kamu terluka lagi, berusahalah untuk bangkit sendiri." Parlan menggatakan apa yang ada di dalam angannya.
"Aku terlalu bergantung kepada mu untuk mampu bangkit dan berdiri. Untuk mampu menyembuhkan luka ini aku tidak bisa sendiri" Miana memejamkan mata, tiba-tiba teringat semua rasa sakit akibat terus memikirkan Prasetyo.
"Jangan khawatir." Parlan berkata dalam sekejab.
'tok tok tok' kaca pintu mobil di ketuk dari luar. Setelah menoleh ternyata Dara dan Jelita suda menunggu.
"Mama... Kenapa pintu nya di kunci? " Dara yang baru masuk memprotes apa yang baru saja di di alaminya.
"Maaf sayang. Tadi mama sama om Prlan lupa mau buka." Miana meminta maaf karena pintu mobil masih terkunci.
Di dalam perjalanan, Miana memberitahu jika mereka akan ke kantor.
"Nanti kita makan siang di kantor saja hang sayang. Mama ada urusan di kantor. Dan ini kita mau kesana" Miana memberitahu.
"Ke kantor? Berarti kita ketemu sama papa ya ma? " Dara terlihat sangat membernci papanya, bahkan untuk sekedar menyebut namanya saja tidak mau.
__ADS_1
"Kakak gimana sih. Kan papa sedang ngga ada di rumah. Jadi dia tidak akan ada di kantor." Jelita yang masih ingat pun memberitahu kakaknya.
"Papa ngga ada nak" Ucap Miana.
"Bagus mah... Dara pokoknya ngga mau ketemu sama papa yang jahat. Dara malas" Miana mendengar jika ucapan Dara benar-benar penuh rasa benci kepada sang ayah.
"Dara, membecilah sewajarnya. Jangan berlebihan ya sayang. Mama khawatir Dara akan terus membenci papa hingga besar nanti" Miana menasehati sang anak sulung. Sedangkan Parlan hanya terdiam. Iya masih fokus pada kemudinya.
"Memang Dara membenci papa ma. Jadi tolong jangan biarkan Dara bertemu papa terlebih dahulu" Dara bisa berkata seperti itu, Miana berfikir mungkin anak itu benar-benar terluka hingga belum bisa memaafkan sang ayah.
"Dara, rasa benci itu hanya akan membebani kita. Jadi lebih baik kita membiarkan hati kita ini hidup tanpa rasa benci. Lebih baik memafkan dari pada menyimpan benci yang tak berkesudahan" Kali ini Parlan mengeluarkan jurusnya.
"Sekali Dara ngga suka, maka seterusnya Dara ngga akan suka sama dia." Dara malah berkata dengan ketus. Akhirnya, daripada hati Dara semakin memanas, Parlan meminta Miana untuk membiarkannya terlebih dahulu. Mereka terdiam hingga sampai ke perusahaan.
"Parlan, kamu ikut masuk ya. Aku akan memanggil seseorang untuk memarkirkan mobilnya." Miana meminta Parlan.
"Apa tidak sebaiknya aku Parkirkan dulu mobilnya" Parlan merasa memiliki tanggung jawab.
"Ikut saja." Setelah mobil itu sampai di depan lobby perusahaan, Miana membuka pintu. Lalu iya memanggil seorang satpan untuk mendekat.
"Pak, tolong kesini! " Melihat Miana yang memanggil, satpam tersebut segera mendekat.
"Iya nyonya. Ada yang bisa saya bantu? " Dan di saat yang bersamaan, Parlan, Dara dan Jelita keluar dari mobil.
"Tolong Parkirkan mobilnya. Saya sedang buru-buru" Ucap Miana. Parlan serta anak-anak Miana mendekat. Parlan menyerahkan kunci mobilnya.
"Baik nyonya" Satpan Tersebut mengangguk setelah menerima kunci mobil dari Parlan.
Mereka berjalan berempat, Miana berjalan sejajar dengan Parlan, dan anak-anak berada di depannya berjalan terlebih dahulu. Namun aneh nya,, kedatangan Miana kali ini mengundang perhatian banyak orang. Semua menunduk melihat bos nya berjalan dengan sangat anggun bersama dengan seorang lelaki tampan yang tak mereka kenal. Apalagi Parlan berpenampilan sangat menarik. Iya menggunakan sebuah celana casual sebawah lutut berwarna cream serta kaos putih yang benar-benar menempel di badannya dengan sempurna. Jika di lihat-lihat, Parlan tidak seperti seorang sopir.
"Waah, ganteng banget yaa. Itu apa saudaranya bu Miana ya?" Gumam seorang wanita yang menjadi salah satu karyawan si perusahaan itu.
"Iya, kayanya baru kali ini ke sini" Jawab yang satunya.
"Aku mau ah jadi istrinya" Seseorang lagi menyahut.
__ADS_1
"Jangan berharap terlalu tinggi. Kita bukan selera mereka" Ucap orang yang pertama tadi. Mereka bisa sekagum itu saat pertama kali melihat Parlan. Dan mereka tidak tahu jika Parlan adalah seorang sopir karena penampilannya yang tak seperti sopir. Dan Parlan baru kali ini turun ke perusahaan. Biasanya, setelah mengantarkan, Iya akan menunggu di mobil dan tidak ikut masuk. Namun kali ini Parlan benar-benar membuat heboh seisi kantor dengan kedatangannya.