
"Dara, mama minta maaf ya sayang. Mama ngga bermaksud untuk membuat kamu sedih.Mama lupa kalau tempat itu..." Miana meminta maaf kepada sang anak karena sudah membuatnya sedih.
"Tidak apa-apa ma. Tapi Dara minta kita jangan lagi mengingat semua tentang papa. Dara ngga mau mengenang papa. Dara ngga mau semua yang berhubungan dengan papa terlihat kembli" Dara terdiam setelah mengatakan itu Miana juga tak mampu untuk menyanggah lagi. Iya tahu putri sulungnya sangat terluka dengan semua kejadian ini.
"Mama minta maaf sayang. Mama akan mengingat apa-apa yang tidak Dara sukai" Miana benar-benar menyesal telah mengajak ke tempat itu. Dan kali ini iya baru menyadari sesuatu. Bahwa Dara menyimpan luka dari apa yang telah di lakukan Prasetyo. Iya kembali melihat ke depan. Tanpa bisa di bendung lagi, air matanya menetes tanpa permisi. Parlan hanya terdiam belum berani mengatakan apapun.
"Jadi kita mau makan di mana ma? " tiba-tiba Jelita bertanya.
"Bagaimana kalau kita ke sebuah tempat yang bagus. Om Parlan tahu tempat bagus. Kalian pasti suka" Untuk menghindari Jelita tahu akan air mata Miana, Parlan mencoba mencairkan suasana. Dan Miana langsung mengusap air matanya dengan capat.
"Wah, benarkah Om. Kalau tempatnya asik, Jelita mau ke sana. Kakak juga pasti suka kalau tempatnya bagus" Kini Jelita yang paling antusias menanggapi ajakan dari Parlan. Dara pun terlihat sumringah. Sedangkan Miana tersenyum memandang tanggapan anak-anak. Iya menoleh ke arah Parlan, lalu mengangguk dan tersenyum.
Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Parlan berhenti di sebuah tempat Parkir yang sangat luas. Ada banyak mobil berjejer dengan rapi di sana, Membuat mood Dara yang tadi benar-benar down kini sedikit demi sedikit lekas membaik. Miana yang melihat sang anak tersenyum pun merasa bahagia.
'Ini tempat apa om? " Tanya Jelita. Iya dengan tidak sabar ingin mengetahui tempat apa yang sedang di tujunya.
"Ayo masuk, om sudah memesan tempat. Om jamin kaliain pasti suka" Parlan segera mengajak Miana dan kedua anaknya untuk masuk setelah mengunci mobil. Miana berjalan di samping Parlan, sedangkan Dara dan Jelita berjalan terlebih dahulu.
"Maaf, apa anda tuan Alan? " Tanya seseorang yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.
"Benar" Parlan menjawab dengan santai. Miana menatap Parlan yang begitu keren sore ini.
"Kalau begitu mari ikut saya. Baby sitter anda sudah menunggu di dalam tuan" orang ber jas yang bertanya tadi memberitahu sekaligus mengajak Parlan untuk menuju ke ruangan yang sudah Parlan pesan.
"Parlan, apa aku tidak salah dengar, dia memanggilmu Alan? " Miana merasa heran dengan sebutan orang tadi kepada Parlan.
"Biar keren sedikitlah" Parlan begitu santai dalam menjawab. Dan di saat Miana menatap ke depan, Dara dan Jelita sedang berbicara dengan seorang bayi. Setelah mendekat, ternyata itu adalah Devan, anak semata wayang Parlan.
__ADS_1
"Parlan, itu Devan? " Parlan mengangguk. Dan Miana dengan cepat berjalan terlebih dahulu untuk menemui Devan.
"Devan...' Miana dengan cepat memeluk Devan. Bocah itu terlihat melongo karena kedatangan Miana.
"Susi, kamu sudah lama di sini? " Setelah mengambil Devan dan meletakkannya di dalam pangkuan, Miana bertanya kepada susi, seseorang yang menjadi orang kepercayaan dari Parlan untuk mengurus kebutuhan sang anak.
"Baru saja datang nyonya, setelah tuan menyuruh saya satu jam yang lalu" Jawab Susi dengan sopan. Miana beralih menatap ke arah Parlan.
"Tadi pas kita gagal ke tempat yang pertama, aku langsung mengirim pesan ke Susi untuk segera ke tempat ini. Dan beruntungnya Devan sudah mandi. Jadi tidak lama setelah Susi menerima pesan dariku, dia langsung berangkat" Penjelasan Parlan akhirnya membuat Miana mengerti.
"Mama, Dedek gemes taruh aja di kursinya, biar kita bisa main sama dia" Dara kali ini sudah melupakan kejadian di tempat yang tidak ingin iya datangi tadi. Dan Miana yang mendengar permintaan anaknya langsung mengiyakan.
"Oke kakak Dara, Devan kembali ke tempat. Sini dong mainan sama aku" Miana meletakkan Devan dalam kursi khusus bayi itu lalu menirukan suara seperti anak kecil. Dara dan Jelita yang melihat itu langsungn bersorak gembira. Mereka berdua langsung mendekat.
"Permisi" Dan dalam suara gaduh antara Dara Jelita dan Devan, seseorang datang, Miana dan yang lain menoleh.
"Kita belum memesan apapun lo, kok pesanannya sudah datang saja" Miana mengatakan sambil menatap Parlan.
"Tadi tuan menyuruh saya untuk memesan terlebih dahulu nyonya, makanya pesanan saya sudah datang terlebih dahulu" Susi menjawab ketidaktahuan Miana.
"Mbak, tolong layani dia ya! " Parlan berkata kepada pelayan yang baru saja menyelesaikan pekerjaanya itu. Dan pelayan tersebut mengangguk.
"Om, tempatnya bagus banget, aku suka banget' Jelita bergumam mengungkapkan kekagumannya.
"Kok aku baru tahu ya tempat sebagus ini. Kemana saja aku selama ini" Miana tiba-tiba menyahut.
"Makanya aku ngajakin kamu ke sini biar tahu tempat bagus seperti ini" sahut Parlan.
__ADS_1
"Mohon maaf, ini buku menunya" Pelayan yang tadi masih menunggu dengan sabar. Iya baru berkata setelah semua pengunjung itu menyelesaikan obrolannya.
"Aduh maaf ya mbak, saya jadi lupa kalau mbak masih menunggu" Miana mengungkapkan kata maafnya.
"Tidak menjadi masalah nyonya, karena itu semua masuk dalam system pelayanan kami di sini" Parlan hanya mengangguk dan tersenyum melihat pelayanan yang begitu bagus itu.
"Kamu pesan apa? " Miana menoleh ke arah Parlan lalu bertanya.
"Dahulukan Dara dan Jelita, aku kan sudah di pesankan sama Susi" Parlan menjawab Miana yang bertanya. ?Akhirnya Miana dan kedua anaknya mencari menu sesuai yang mereka inginkan.
"mama, aku mau ini" Dara menunjuk sebuh nama menu, iya langsung menginginkannya.
"Kalau aku mau yang ini ma' Jelita memilih menu melalui gambar yang ada. Akhirnya pelayan mencatat apa yang di inginkan oleh sang tamu. Setelah di rasa cukup, pelayan itu berlalu meninggalkan Parlan dan yang lain untuk memproses pesanan.
"Mam, lihat... Di sana ada taman. Bunga nya bagus-bagus sekali" Jelita menunjuk ke arah yang di penuhi dengan bunga dengan hiasan sebuah aquarium yang sangat besar.
"Ma, boleh ngga kita ke sana, tempatnya bagus sekali" Dara dan Jelita meminta di izinkan untuk mendekat.
"Boleh kan om? " Tiba-tiba Dara bertanya kepada Parlan. Dan Parlan segera mengangguk.
"Om, kalau aku mau petik salah satu bunga yang di sana apa juga boleh? " Kali ini Dara yang bertanya. Belum sempat Miana melarang, Parlan sudah mengangguk. Miana membulatkan mata ketika melihat. Dan Dara dan Jelita langsung berlari ke arah yang mereka mau.
"Parlan, kenapa kamu mengizinkan mereka melakukan itu? " Miana heran kenapa Parlan sampai bisa melakukan itu.
"Biarkan anak-anak lupa dengan rasa sakitnya. Biarkan mereka bersenang-senang sampai puas. Daripada mereka teringat Prasetyo lalu menangis lagi" Parlan meneguk jus avocado yagn di pesankan oleh Susi tadi sebelum menjawab pertanyaan Miana.
"Tapi kalau kamu mengizinkan mereka memetik bunganya, mereka akan kena marah dari pemilik restoran ini' Miana merasa khawatir.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku yang akan menanggung semuanya" Parlan masih sangat santai menjawabbba kekhawatiran Miana.