Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Melawan ketidakadilan


__ADS_3

Pov Miana.


di saat Tuan Adi dan nyonya Asti keluar dari rumah Miana, Parlan masih terdiam di tempatnya. Iya begitu kagum saat melihat miana yang berani melawan ketidakadilan. Dan di saat Nyonya Asti dan Tuan Adi melewati Parlan, Parlan hanya terdiam dan tertunduk. Dia tidak mau dikira terus-terusan ikut campur.


" Kamu juga ngapain di sini? Mau sok-sokan jadi pahlawan kamu. Sana urusin majikan kamu yang tidak berguna itu" bu Asti tiba-tiba memarahi Parlan tanpa sebab hanya karena Parlan berdiri di sana. Namun Parlan hanya diam tidak menjawab. Dan hal itu malah bu Asti semakin geram. Tiba-tiba Tuan Adi pun menarik lengan bu Asti untuk mengajaknya keluar dari rumah miana.


" Lama-lama di sini bisa membuat darah kita naik, Ayo kita pulang! " ucapan Tuan Adi seakan membuat Parlan tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin berada di rumah miana bisa menyebabkan darah tinggi, kalau bukan dia sendiri yang menyebabkan semua masalah yang ada.


Setelah bu Asti dan Tuan Adi keluar dari rumah niana, Parlan menertawakan Sikap kedua orang tua tersebut.


"Ada-ada saja orang kaya, sesuatu dibuat rumit sendiri. Akhirnya pusing kepalanya karena darah tinggi" sambil berjalan Parlan mengatakan hal tersebut. Iya berjalan menuju ke kamar miana.


'Tok tok tok' dengan pelan-pelan Parlan mengetuk pintu kamar miana. Tidak lama menunggu akhirnya pintu terbuka. terlihatlah darah yang sedang tersenyum.


" Om Parlan jangan mengambil Devan deh. Dedek gemes sedang tidur jangan diganggu. Nanti aja kalau Devan sudah bangun Om Parlan ke sini lagi" udara kembali tersenyum lalu menutup pintunya. Parlan menggelengkan kepalanya karena heran dengan sikap kedua anak tersebut yang begitu menyayangi Devan, Sang putra. Akhirnya Parlan kembali dengan tangan kosong.


"Mama hebat, aku suka mama seperti itu sama kakek dan uti. Mereka memang keterlaluan selalu memarahi mama" Dara dan Jelta memujivmiana Ketika sang Mama masuk ke dalam kamar selesai menemui kakek dan neneknya.


" Tidak ada yang hebat sayang, melawan orang tua bukan hal yang baik. Kita harus tahu posisi kita di mana Kalau ingin bersikap seperti mama tadi. Kalian jangan pernah menirunya ya" Miana berjongkok memeluk kedua putrinya.


" Mama jangan khawatir, Dara sama Jelita akan melindungi Mama dari kakek dan nenek yang terus marah-marah seperti ini" kepolosan Jelita membuat Miana menghapus air matanya. Bagaimana ia tidak bahagia memiliki dua orang putri yang begitu cantik dan baik hati.


" Terima kasih sayang" setelah mengucapkan Ibu Miana menarik anak-anaknya untuk tidur di tempat tidur bersamaan dengan Devan.

__ADS_1


" Waktu Mama ke kamar mandi tadi om Parlan ke sini. Tapi Dara nyuruh kembali lagi soalnya Devan pun tidur, Ya udah daripada Devan terganggu lebih baik dijemput nanti saja." Dara menjelaskan kepada mama nya. Dan Miana mengangguk menjelaskan penjelasan tersebut.


"Oke... Anak pinter. Sekarang ayo istirahahat dulu, supaya nanti bisa lebih leluasa bermain sama dedek gemes" Ucap Miana. Setelah mendapatkan anggukan dati kedua putrinya, Miana merebahkan tubuhnya.


Hampir 10 menit menunggu anak-anaknya supaya tertidur, kini Miana beralih tempat. Yang tadinya miring ke kiri sekarang jadi ke kanan. Tiba-tiba iya teringat bagaimana sang ibu mertua memperlakukan dirinya.


"Begitu jahat aku di mata mertuaku sendiri. Kenapa mereka dengan mudah terus menuduhku yang bukan-bukan. Apa ini pertanda supaya aku memang harus mengikhlaskan semuanya? " Miana berfikir dengan air mata yang menetes.


"Ya Allah, pasti ada hikmah di sebalik semua ini. Aku yakin semua adalah jalan yang sesuai dengan Kehendak-Mu. Kuatkanlah hati untuk menghadapi semuanya" Miana berkata dalam hati. Miana memejamkan matanya, seolah-olah rasa lelah menghampiri. Lelah hati, lelah fikiran, membuatnya enggan untuk melakukan apapun. Rasa sakit di hatinya juga mendominasi diri untuk menjadi lebih malas. Namun dalam hati Miana tetap berpegang teguh kepada Tuhan. Iya tidak ingin, masalah membuatnya larut dalam kesedihan yang berlebih. Miana menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar kembali. Berharap seluruh rasa sakit itu hilang. Iya kembali mencoba memejamkan matanya. Hingga akhirnya ia perlahan-lahan tidur dalam dekapan lelah dan harapan kepada Tuhan untuk selalu menguatkan pundaknya.


Pov Prasetyo.


Ponselnya berdering tepat di waktu Prasetyo sedang memikirkan jalan keluar. Prasetyo tersentak kaget mendengar nada dering hp-nya sendiri.


"Tiyo... Istrimu benar-benar kurang ajar kepada kami... Dia berani melawan kepada kita hisk hiks" Kini Bu Asti menelpon Prasetyo dalam keadaan menangis.


" Ada apa lagi sih Bu, apa yang ibu lakukan hingga membuat Miana berani melawan kepada ibu dan ayah? " Prasetyo yakin jika Miana melakukan hal tersebut karena ia mungkin merasa lelah dengan sikap Ayah dan Ibunya.


" Tadi ayah ke rumahmu sama ibu, berniat untuk membuat Miana mengakui bahwa dia yang sudah menyuruh orang untuk menghancurkan perusahaan cabang. tapi memang Miana sekarang sudah pandai melawan. Bahkan dia memelintir tangan ibu dan mengatakan kalau ayah sama ibu masih bersikap bodoh maka dia tidak akan segan-segan untuk mematahkan tangan ibu" bu Asti mengadu kepada putranya.


"Bu, Prasetyo yakin miana itu tidak tahu apa-apa tentang semua yang terjadi. Kenapa itu malah ke sana dan membuat keributan di rumah. jelas saja Miana marah. setiap kali ada masalah ibu selalu menuduh dan menyalahkannya" kini Prasetyo ganti menyalahkan orang tuanya yang terus menuduh Miana. Walau bagaimanapun, dan meskipun Prasetyo sudah tidak mencintai Miana, tapi Prasetyo tahu bagaimana sifat Miana. Dia tidak akan menyakiti orang lain jika dia tidak dalam keadaan terhimpit.


" Kamu kok malah membela miana sih dibandingkan dengan orang tua kamu sendiri? Ingat Prasetyo Ibu ini orang yang sudah melahirkan dan membesarkanmu. Jangan sampai kamu durhaka hanya karena seorang wanita yang kamu cintai" bu Asti malah mengancam putranya sendiri. Dia tidak terima jika Prasetyo malah membela miana.

__ADS_1


" Prasetya bukan membela Miana dan menyudutkan ayah serta ibu. Tapi Prasetyo Tahu Bu Bagaimana Miana. Karena Prasetya sudah hidup bertahun-tahun dengannya. Sudah Cukup aku itu untuk aku bisa mengenali bagaimana Miana itu" ini Prasetyo menjelaskan bahwa ia tidak membela miana ataupun menyalahkan orang tuanya.


" Prasetyo Seharusnya kamu berterima kasih kepada ayah dan ibu, karena saat ini ayah dan ibu sedang berusaha untuk membantumu mengembalikan perusahaan yang sudah berada di ambang kehancuran. Bukannya berterimakasih kamu malah menyalahkan ayah sama ibu seperti ini" kini Tuan Adi ikut membela istrinya, bukan hanya istrinya tapi ikut membela dirinya sendiri.


" Oke oke Maafkan Aku Ayah Ibu, aku tidak bermaksud untuk menyalahkan kalian berdua ataupun membela Miana. Tapi tolong jangan melakukan hal yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Ayah sama ibu tahu kan, Aku di sini juga sedang berusaha keras untuk mengembalikan keadaan perusahaan ke posisi seperti semula. Jadi biarkan aku bekerja dengan fokus terlebih dahulu. Tolong jangan memecahkan konsentrasiku untuk memikirkan bagaimana jalan keluar yang harus kutempuh untuk menghadapi semua ini" Prasetyo berkata panjang lebar untuk menjelaskan kepada orang tuanya yang menurutnya begitu kolot itu.


" Tolong jaga diri kalian baik-baik, Aku ada urusan penting. Nanti setelah semua urusan selesai aku akan menghubungi kalian atau aku akan ke rumah" tanpa menunggu jawaban Prasetyo memutuskan panggilan itu sepihak. kali ini kepalanya terasa mau pecah memikirkan berbagai hal yang menurutnya terasa berat.


Pov Miana.


Sore hari setelah kejadian di rumahnya, miana meletakkan Devan di atas kereta dorongnya. lalu ia berjalan-jalan di halaman bersama kedua putrinya.


" Wah seru sekali ya mah, Dedek Devan kalau di sini terus kita pasti nggak pernah kesepian" Jelita memulai pembicaraan ketika ia baru keluar dari pintu utama.


" Kalau misalnya Devan terus ada di sini bagaimana ya? " kali ini Dara ikut berbicara.


" Yang pasti kita harus Tanya dulu dong sama yang punya anak" jawaban niana membuat anak-anaknya tertawa.


" Kalau begitu biar Om Parlan juga di sini. otomatis kan Devan juga pasti ada di sini" kepolosan Jelita membuat miana merasa terhibur.


" Kalau Om Parlan sama Devan di sini, Terus yang jaga rumahnya siapa? " kali ini terlihat darah sedang memikirkan sesuatu.


" Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting. Ayo kita lanjut jalan-jalannya. Kita ke taman belakang ya" iyana mengajak anak-anaknya untuk ke taman belakang. Namun langkah Miana terhenti ketika mendengar sebuah suara memanggilnya.

__ADS_1


__ADS_2