
"Bagaimana keadaan anda nyonya? " Parlan tiba-tiba bertanya.
" Seperti yang kamu lihat Parlan, aku baik-baik saja. Aku bisa mengatasi emosi yang akan memuncak dalam hatiku. Aku bisa mengendalikan amarah ketika melihat atau berbicara dengan Prasetyo maupun Atika. Cuma aku ingin tahu apa yang mereka lakukan di saat aku tidak ada" Miana segera mengeluarkan ponselnya. Iya mencari sebuah rekaman yang berada di kamarnya.
" Nyonya lebih baik Jangan dilihat saat ini. Nanti saja kalau waktunya sudah benar-benar senggang." Parlan meminta Miana untuk tidak melihat rekaman tersebut saat ini juga.
" Memangnya kalau aku melihat saat ini juga ada apa? " Miana kembali menurunkan ponsel yang ia pegang.
" Jadi begini, saat ini nyonya mau menjemput anak-anak. Kalau misalnya Nyonya melihat rekaman itu, terus anda menangis. Maka anak-anak akan bertanya-tanya. Apa anda mau terlihat sedih di depan anak-anak? " Parlan menjelaskan tujuannya.
" Ya kamu benar... Aku tidak boleh mencari tahu apa yang tidak seharusnya aku ketahui. Dengan tidak mencari tahu hatiku akan menjadi lebih tenang. Terima kasih karena kamu sudah mengingatkan aku. Jika kamu tidak mengingatkanku, maka aku akan kembali terluka lagi" Miana tersenyum lalu ia memasukkan ponselnya ke dalam tas kembali.
" Segala Luka itu sebenarnya kita sendiri yang membuat. kalau misalnya kita tidak ingin terluka begitu dalam, kita harus membuang rasa sakit itu. Seperti yang tadi Nyonya katakan. Dengan tidak mencari tahu, rasa sakit itu akan berkurang dengan sendirinya" Parlan kembali memberikan nasehat.
Entah kenapa, Parlan tiba-tiba menyetel sebuah musik, Dan itu adalah sebuah lagu yang dibawakan oleh seorang musisi terbaru di tanah air, yaitu Deni Cak nan. yang berjudul KLEBUS.
Dalane rame atiku sepi
Angen angen tresno dibales tresno
Nyatane tresno dibales maturnuwun
Uwis nyaman sempet sayang kok malah ngilang
Meh lungo angel bertahan loro
Nyobo selalu ono meski koe raono roso
Roso sing jebul tak rasakne dewe
Kebacut sayang ngek i harapan koe milih liyane
Langit e peteng udane soyo deres klebus tekan atiku
Cedak e karo aku nanging atimu dinggo wong liyo
Wis dalane dadi pelarian
__ADS_1
Dinggo sliramu sing lagi butuh hiburan
Aku sing sayang aku sing berjuang
Bagianmu koyo biasane bagian sing nglarani aku wae
Langit e peteng udane soyo deres klebus tekan atiku
Cedak e karo aku nanging atimu dinggo wong liyo
Wis dalane dadi pelarian
Dinggo sliramu sing lagi butuh hiburan
Aku sing sayang aku sing berjuang
Bagianmu koyo biasane bagian sing nglarani
Wis dalane dadi pelarian
Dinggo sliramu sing lagi butuh hiburan
Aku sing sayang aku sing berjuang
Bagianmu koyo biasane bagian sing nglarani aku wae
"Maksud kamu apa? " Miana melirik ke arah Parlan. Di lihatnya Parlan begitu santai dan menikmati lagu tersebut.
" Saya hanya mendengarkan sebuah lagu, setiap hari mendengarkan curhatan dari nyonya membuat saya juga merasakan sakit" Arlan dengan santai pun menjawab.
"Ya ya yaaa.. Aku tahu maksud kamu. Nyindir aku kan? " Miana mencibir. Dan Parlan pun tersenyum melihat tingkah Miana.
"Masalah jangan membuatmu lemah. Kalau kamu merasa masalah sebesar kapal, yakinlah bahwa pertolongan Allah seluas lautan"
"Aku tahu seharusnya begitu"
"Kadang saat kita merasa sudah sabar Kok keadaan semakin Memburuk, orang orang semakin bersikap seenaknya? Karena ternyata selama ini kita mengira sabar itu hanya diam tidak melakukan apa-apa. Padahal sabar itu adalah respon terbaik kita dalam menghadapi setiap masalah hidup yang menimpa kita, bukan hanya sekedar diam. Ini adalah kata-kata yang pernah saya baca di sebuah akun Medsos" Parlan mengatakan hal yang membuat Miana menatap ke arahnya.
__ADS_1
" Lalu aku harus melakukan apa lagi? " Miana yang masih merasakan buntu pada pikirannya, meminta nasehat terhadap Parlan kembali.
"Menurut saya, boleh berjuang, tapi jangan berlebihan. Boleh bertahan, tapi tahu waktu dan batasan. Boleh mencintai, tapi jangan sepenuhnya. Karena sekuat apa pun kamu berusaha, jika bukan kamu orang yang dia mau, semua akan berakhir sia-sia" Parlan kembali berkata.
"Aku sudah memikirkan semuanya. Tapi aku takut untuk bertindak" Miana mengusap setetes air mata yang menerobos bendungan dan membasahi pipinya. Akhir-akhir ini air mata itu sudah banyak mengalir. Dan saking sakitnya, saat ini tak banyak air mata yang keluar lagi.
"Percaya ga percaya ketika seorang wanita sudah tau kualitas dan value dirinya sangat berharga, dia paham betul akan target hidupnya, jangankan mengejar dan mengemis cinta, melihat orang yang tidak menghargainya saja tidak akan sudi? " Parlan mengatakn sesuatu yang membuat Miana kembali menoleh. Benar apa yang dikatakan Parlan saat ini.
"Benar apa katamu, aku merasa sakit dalam mempertahankan semuanya."
"Trust me, disappointed but not angry is a very extraordinary patient." (Percayalah, kecewa tapi tidak marah itu adalah sabar yang sangat luar biasa)"
"Tapi kalau kecewa terus tidak marah seperti ada yang tertahan dalam diri" Miana masih menyela.
"Saya tahu, dengan mengeluarkan Amarah, perasaan kita menjadi lega. Tapi kita juga harus memikirkan apa akibat dari marah tersebut" Parlan masih bisa mengimbangi.
"Yang aku tahu, yang patah akan tumbuh, dan yang hilang akan berganti. Aku pernah berada di posisi sakit yang luar biasa. Yang membuatku kuat adalah walaupun runtuh, tapi tetap tumbuh. Meskipun terluka, tapi tetap tertawa. Sekalipun Hancur, tapi tetap bersyukur. Itu adalah kekuatan. Dan semua kembali pada diri kita masing-masing. Hanya diri sendiri yang akan membuat semuanya kembali seperti semula" Parlan seakan menceritakan bagaimana dirinya mampu melewati cobaan yang Dulu Tuhan ujikan kepadanya.
"Memang berat, tapi bedanya aku dan kamu, Arum pergi dalam keadaan jihad, sedangkan prasetyo pergi dalam keadaan jahat" Prasetyo teringat bagaimana sakitnya di tinggal belahan jiwa.
"Dan keduanya memang menyisakan luka" Miana masih setia mendengar, seolah Parlan sedang curhat tentang keadaannya dulu, namun memberikan kekuatan pada dirinya.
"Maka dari itu Miana, kamu harus menjadi wanita kuat. Jangan lemah di terjang badai kehidupan. Kamu tahu, nahkoda yang tangguh bukan iya yang tak pernah menghadapi badai di lautan. Namun iya yang selalu melatih ketangkasan dan belajar bagaimana menghadapi badai tersebut. Tersapu ombak, terombang ambing di lautan luas. Namun akhirnya iya mampu mengendalikan perahunya. Sama seperti kita" Parlan tak sungkan-sungkan.
"Ayah dan ibu apa sudah tahu tentang semua ini? " Tanya Parlan.
"Aku tidak berani memberitahu mereka. Aku takut" jawab Miana.
"Terserah kamu, yang pasti berhati-hatilah!"
"Aku lebih nyaman bercerita kepadamu dari pada ke Ibu. Bukan apa-apa, aku hanya malu. Dan kamu tahu sendiri jika aku tidak sedekat denganmu sama ibu" Miana terdiam.
"Aku tahu... Bagaimana dengan ayah? " Miana masih menggeleng.
"Entahlah..." Miana menunduk. Iya tak ingin kedua orang tuanya khawatir.
Hayoo readerku tercintaah, jangan lupa tinggalkan jejak ya.
__ADS_1
Like dan coment dari reader begitu berarti untuk mengetahui kualitas dari novel ini. Jangan lupa yaa, tinggalkan jejak.
Terimakasih.