
"Terimakasih papa, mama" Dara dan Jelita mengucapkan terimakasih saat akan memasuki kamar selesai pulang dari jalan-jalannya.
"Sama-sama" Jawaban bersamaan dari Miana dan Prasetyo membuat tersenyum anak-anaknya.
"Mandi terus istirahat ya. Besok sekolah" Miana berkata kepada anak-anaknya. udara dan Jelita pun menjawab dengan anggukan kepala. setelah darah dan Jelita masuk ke dalam kamar, Miana berlalu meninggalkan Prasetyo yang masih ada di sana.
Membuka kamarnya sendiri, Miana terus berlalu menuju ke kamar mandi. Tanpa memperdulikan Prasetyo yang Mengikuti di belakangnya. Tangan nya bergerak mengambil handuk di ruang ganti. Dan kakinya berjalan menuju ke kamar mandi. Hal seperti ini yang membuat Prasetyo bingung ingin berbuat apa.
Hampir 10 menit berlalu, Miana telah selesai mandi dan sudah lengkap mengenakan pakaian dari dalam kamar mandi. Melihat miana yang masih terdiam tak ingin mengatakan sepatah kata pun, Prasetyo beranjak lalu mengambil handuk dan mandi. Tak ada suara dari Miana. Mungkin karena lelah seharian berjalan menuruti keinginan anak-anaknya. Mungkin juga lelah karena hatinya tergores beberapa luka yang menyebabkan rasa perih tak terkira. Setelah mengoleskan krim malam pada wajahnya, Miana beranjak keluar dari kamar tersebut. Iya berpikiran untuk tidur di kamar sebelah saja. Berjalan beberapa langkah, Miana membuka pintu kamar tersebut. Miana pun Mengunci pintu dari dalam.
"Sial... Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika Miana selalu diam" Prasetyo meninju udara di depannya saat ia keluar namun Miana tidak berada di dalam kamar tersebut. Prasetyo merasa jika diam adalah sebuah teguran paling ampuh untuk menyapa dirinya. Kini Miana selalu menjauh dan selalu diam.
"Apa mungkin Miana tahu tentang semua ini? " Gumam Prasetyo. Tiba-tiba iya iya bergidik ngeri. Di saat sedang membayangkan sesuatu yang menurutnya menakutkan, pintu kamar terbuka. Dan terlihat Miana yang masuk. Tiba-tiba ponselnya berdering, setelah dilihat salah satu staf perusahaan yang menghubunginya. Prasetyo buru-buru untuk mengangkat panggilan tersebut.
" Halo..." panggilan telah terhubung dan Prasetyo telah berbicara.
" Tuan Prasetyo kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Di kantor cabang sedang ada masalah yang kami tidak bisa untuk mengatasinya. Bisakah Anda datang kemari malam ini juga? " seorang direktur yang belum pulang dari kerja lembur nya menghubungi Prasetyo dan mengatakan jika keadaan perusahaan sedang tidak baik-baik saja.
" Maksud kamu perusahaan yang dipegang oleh ayah sama ibu? " Prasetyo bertanya untuk kejelasan lebih lanjut.
" Benar sekali tuan. ada2 masalah Yang kamu tidak bisa menjelaskan lewat telepon. Tolong anda ke sini saat ini juga" suara direktur tersebut terdengar begitu ketakutan.
" Oke Oke aku akan ke sana sekarang juga" setelah mematikan panggilannya, Prasetyo segera berganti pakaian. Karena udara sedang tidak menentu. kadang cuaca begitu cerah dan kadang juga tiba-tiba langsung turun hujan. bertepatan dengan hal itu, Miana yang masuk ke kamar mendengar semua pembicaraan antara Prasetyo dan si penelpon.
" Miana aku harus ke kantor cabang malam ini juga. Ada hal mendesak yang tidak dapat diselesaikan oleh direktur. Mereka memintaku untuk ke sana malam ini." sambil mengenakan jaket, setiap berkata kepada istrinya. Namun tak ada jawaban sama sekali. Miana memilih untuk diam daripada harus mengurusi pekerjaan yang bukan menjadi tugasnya. Prasetyo serasa ingin membentak Miana karena ia tak mendapatkan jawaban sama sekali. Namun akhirnya ia mengurungkan karena dia harus cepat-cepat pergi.
" Aku berangkat" kata terakhir yang diucapkan oleh Prasetyo sebelum ia menutup pintu kamar.
" Mungkin rasaku telah mati kepada orang tua serta kepadamu Prasetyo. Hingga apa-apa yang bersangkutan dengan orang tuamu dan kamu aku merasa sudah tidak peduli lagi" Miana bergumam pada dirinya sendiri setelah Prasetyo pergi. Terdengar suara mobil yang menyala dan berjalan di halaman rumah. Siapa lagi jika bukan suami brengseknya itu.
" Apa ini yang di namakan dengan kebencian. Bahkan di saat mereka dalam kesusahan, aku benar-benar sudah tidak peduli lagi. Entahlah aku lelah menghadapi semuanya" Miana mengambil ponselnya lalu merebutkan diri di atas tempat tidur. Iya melihat beberapa notifikasi di ponselnya yang satu hari ini hanya beberapa kali ia lihat. Bukan untuk melihat pesan masuk ataupun panggilan, namun dia hanya melihat jam supaya tidak terlalu larut malam saat pulang. di bukanya salah satu aplikasi hijau. Miana membuka Story pada aplikasi tersebut.
" Today is holiday" Story yang pertama miana buka adalah milik dari Parlan. Miana tersenyum memandang foto Devan yang tersenyum cerah.
__ADS_1
" pasti hari ini kamu sedang jalan-jalan ya Devan" pesan balasan untuk Story Parlan dikirim oleh Miana. Dan tangan miana menggeser beberapa Story. Pada satu Story yang membuat hatinya terasa panas. Namun sekali lagi ia tak menggubris.
"Kamu memang menang hari ini, tapi besok besok dan besok bahkan seterusnya kamu akan menangis di saat melihat aku sudah beraksi" Miana terdiam. Dia merasa jika Story tersebut ditujukan untuk dirinya.
" Mungkin aku lelah, menganggap semua untuk diriku. Lebih baik aku istirahat daripada memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti ini." Miana meletakkan ponselnya di atas meja. Iya juga mematikan lampu besar dan menyalakan lampu tidur yang nyalanya tidak terlalu terang. miana mencoba merebahkan tubuh dan memejamkan mata lelahnya.
'drrrt drrtt drrttt' ponselnya kembali bergetar menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Sebenar nya Miana mencoba untuk tidak mengambil ponsel tersebut. Namun karena masih sulit untuk tertidur, Ia pun meraih ponsel tersebut dan melihat Siapa yang mengiriminya pesan.
"Iya dong..." Balas Parlan.
" Devan sudah tidur apa belum? " Miana mengetikkan pesan tersebut Lalu mengirimkan kepada Parlan.
"Belum... Apa terjadi sesuatu? " Balasan Parlan.
"Tidak. Hanya saja malam ini Prasetyo keluar, katanya kantor cabang sedang ada masalah" Balas Miana.
"Dia pergi dengan siapa? " Balasan Parlan.
"Biarkan dia mengurus sendiri urusannya. Istirahatlah. Kalau kamu ikut campur, nanti salah lagi" kali ini Miana merasa apa yang dikatakan oleh Parlan benar-benar akan berpengaruh kepadanya.
"Oke" balasan Miana kepada Parlan kembali. Akhirnya miana menutup ponselnya lalu meletakkan kembali di atas meja.
" Kalau sampai mereka menyalahkan aku dalam hal ini, Aku akan kembali melawan. Demi kewarasanku, Aku tidak mau semua kesalahan dilimpahkan kepadaku" Miana bertekat dalam hatinya. Setelah itu ia mencoba mengejamkan matanya.
Pov Prasetyo.
" Apa kerja kalian selama ini. Kenapa hal segenting ini kalian baru mengabariku. Aku membayar kalian untuk bekerja di sini dengan baik. Bukan malah untuk bersantai dengan. Sekarang Aku tidak mau tahu, kalian Perbaiki seluruh sistem di sini kalau kalian tidak ingin kehilangan pekerjaan. Karena kalau sampai semua sistem ini tidak bekerja dengan baik kembali, maka seluruh pekerjaan akan terhenti" Prasetyo sudah merasa pusing. bahkan dirinya sendiri pun tidak bisa memperbaiki kembali sistem yang telah dirusak oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Seluruh aplikasi yang bisa digunakan terkunci tanpa bisa dibuka sedikitpun. Jaringan internet down tanpa tahu penyebabnya. Dan Hal itu membuat perusahaan harus berhenti total dalam mengerjakan sesuatu.
"Huuuuhh... Cepat cari tahu Apa penyebab dari semua ini! " Prasetyo membentak beberapa karyawan staf informatika. Mereka yang paling terkena imbas dari semua masalah yang terjadi.
"Bruaaakkk" Prasetyo menggebrak meja hingga membuat seluruh staf di sana menjadi lebih ketakutan. Dan mereka pun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Karena mereka juga telah berusaha keras memperbaiki seluruh ke eroran yang terjadi. Namun hingga malam ini belum juga membuahkan hasil.
Saat ini Prasetyo sedang turun tangan untuk melihat sistem yang tidak dapat berjalan di perusahaannya. Prasetyo yang tidak memiliki ilmu IT yang memadai, juga tidak bisa melakukan apa-apa. tiba-tiba ponselnya kembali berdering.
__ADS_1
" cep2at Lakukan sesuatu, atau kalian akan pekerjaan akan kehilangan pekerjaan kalian" Prasetyo meninggalkan semua orang yang berada di ruangan IT dengan rasa amarah yang memuncak. Iya pun segera mengambil ponsel dari sakunya, dilihatnya nama ibu yang tertera dalam layar ponselnya.
" Iya Bu ada apa? " Prasetya mengangkat panggilan tersebut.
" Apa yang terjadi? Kenapa perusahaan dalam masalah besar? Apa ini semua ada hubungannya lagi dengan Miana? " setiap kali ada masalah, orang tua Prasetyo selalu menyalahkan menantunya. mereka menganggap bahwa Miana adalah sumber dari permasalahan ini. Dan saat ini kepala Prasetyo terasa mau pecah setelah mendengar panggilan dari ibunya.
" Ibu jangan terus menyalahkan Miana. bahkan seharian ini Miana bersama saya keluar untuk jalan-jalan dengan anak-anak. Tidak mungkin Miana melakukan hal seperti ini. Mana bisa dia. Kepala saya sudah pusing, Tolong jangan ditambah dengan hal yang tidak masuk akal" Prasetyo mematikan panggilan tersebut. Iya pun segera memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu masuk lagi ke ruangan. Iya tidak berpikir bahwa masalah itu terjadi karena orang lain. hanya yang menjadi masalah lagi saat ini, Prasetyo bertambah emosi ketika para staff IT tidak mampu mengatasinya.
" Maafkan kami tuan. kami benar-benar sudah putus asa untuk mengatasi masalah ini" direktur staff it mengatakan permohonan maaf kepada Prasetyo.
" Apa gunanya aku membayarmu di sini. Kalau hal seperti ini saja kamu tidak bisa mengatasinya" Prasetyo mendekat ke arah orang yang meminta maaf tadi, ia menarik kerah bajunya dan berkata dengan Ketus.
" Maaf tuan, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Dan pada kenyataannya kami tidak bisa membuka kunci permanen seluruh aplikasi yang kita gunakan. Karena aplikasi itu bisa terkunci sendiri secara permanen" direktur staff it mencoba menjelaskan kepada Prasetyo. Mendengar penuturan salah satu karyawannya, Prasetyo terdiam. Iya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Apa mungkin seluruh system di kunci permanen oleh orang yang tidak bertanggung jawab? " Gumam Prasetyo dalam hatinya. Iya langsung keluar dan berjalan menuju ke ruangannya sendiri. Dan di saat yang bersamaan, seorang lelaki yang sejak tadi mengintip dan mendengar apa yang lakukan Prasetyo sedikit menunduk. Iya tak ingin ketahuan. Namun seluruh informasi telah iya dapatkan.
"Tuan, seluruh informasi sudah saya kirim. Besok kalau ada informasi baru, saya akan mengabarkan secepatnya kepada anda" lelaki yang mengawasi di perusahaan Prasetya kini menelpon orang yang menyuruhnya.
" kerja bagus. Kalau kamu bisa melakukan yang saya minta dengan sempurna, maka akan ada tips tersendiri untuk kamu. Lakukan semuanya dengan baik, tanpa harus ketahuan siapapun" Lelaki Yang ditelepon tersebut menyatakan kepuasan.
" Pulanglah! Pekerjaanmu hari ini telah selesai" lelaki itu menyuruh orang suruhanya untuk pulang.
"Baik tuan" panggilan pun berakhir. Lelaki misterius yang di hubungi melalui telepon tersebut mematikan panggilannya. Dia tersenyum memandang ke arah laptop di depannya. Ada hal menarik tersendiri yang membuatnya melakukan semua ini.
" Aku tidak jahat, hanya menyesuaikan dengan keadaan" gumam lelaki itu di depan layar laptopnya.
" Apa yang kalian tanam, kalian harus mendapatkan hasilnya." Lelaki itu tersenyum.
Jangan lupa berikan dukungannya ya reader.
Like, Comment dan share.
Terimakasih.
__ADS_1