Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Kedatangan Ayah dan Ibu Miana


__ADS_3

"Miana" Panggil seorang lelaki paruh baya. Miana menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya saat ini.


" ayah..." miana begitu terkejut dengan kedatangan ayah tirinya yang sangat baik itu. dengan cepat miana pun berlari dan menghampiri ayahnya yang sudah sejak dulu merawatnya dengan penuh kasih sayang seperti anak sendiri.


" Ayah kenapa mau ke sini tidak mengabari miana? " miana meraih tangan Ayah tirinya dan lalu mencium punggung tangannya.


" Ayah hanya ingin bertemu kamu. Bagaimana kabar kamu? " tanya Tuan Heri.


"Kakekk..." tiba-tiba saja Dara dan Jelita berlari dan langsung memeluk kakeknya.


"Cucu kakek sudah besar. Bagaimana kabar kalian?" Tuan Heri langsung membalas pelukan kedua cucunya. Iya tersenyum memandang kedua cucunya yang begitu cantik.


" kita baik-baik saja kek. kakek Bagaimana kabarnya? " kedua anak itu terlihat begitu sumringah melihat kedatangan orang yang begitu bijaksana itu. miana mendekat sambil mendorong kereta bayi milik Devan.


" Diana ini siapa? " Tuan hari menanyakan si Devan.


" mohon maaf Tuan ini adalah anak saya" tiba-tiba Parlan datang dan memberitahu bahwa yang berada di kereta dorong itu adalah anaknya.


"Parlan..." Panggil tuan Heri. Iya langsung memeluk Parlan.


"Bagaimana kabarmu nak? Kamu sudah lama tidak ke tempat ku" Tuan Heri sudah menganggap Parlan seperti keluarga.


"Alhamdulillah baik tuan" Parlan sedikit membungkuk lagu tersenyum.


" Ayah Ayo masuk dulu. Oh iya tadi ayah ke sini sama siapa? " terlihat senyum lebar di bibir miana.

__ADS_1


" sama kakakmu dan juga kedua keponakanmu. Sendi dan Rengga" Miana menyapu seluruh halaman rumah dengan pandamgannya. Dan disaat memandang ke arah gerbang, iya melihat 3 orang lelaki masuk.


"Kak Awan, Sendi Rengga" Miana segera berlari dan mendekat ke arah mereka.


"Miana... Tante" Sambil berjalan mendekat ke arah tuan Heri, Awan dan kedua anaknya menyapa Miana.


"Kak" Dengan malu-malu Dara dan Jelita menyapa kedua kakak sepupunya.


"Kalian Dara dan Jelita kan? " Sendi dan Rengga bertanya. Mereka pun saling tersenyum dan mengangguk.


"Ayo ah masuk dulu" Miana menyambut kedatangan ayah tirinya dengan hangat.


"Ibu ngga ikut ya yah? " Miana bertanya.


"Mian kira tidak ikut" Miana tersenyum. Akhirnya mereka semua masuk ke rumah Miana. Dara dan Jelita malah mendorong kereta bayi milik Devan dan membawanya masuk.


"Ayuk kita ke ruang tengah saja. Di sana lebih nyaman" Miana mengajak semuanya ke ruang tengah.


"Parlan, kamu mau kemana? " Tanya tuan Heri ketika melihat Parlan mau berjalan krluar.


"Saya mau keluar tuan" Jawabnya sopan.


"Kenapa keluar. Sini gabung sama kita saja" Tuan Heri mrngajak Parlan untuk bergabung.


" Terima kasih tuan. tapi saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan terlebih dahulu" Farhan merasa sungkan atas tawaran untuk bersama mereka.

__ADS_1


" pekerjaannya nanti saja. sini Duduk Saya mau bertanya ke kamu." Tuan Heri memaksa Parlan untuk duduk bersamanya.


" kamu masih sendiri saja? " belum ada niatan untuk mencarikan Devan Ibu baru? " Fadlan merasa terpojok dengan pertanyaan ini.


" Ayah jangan bertanya seperti itu kepada Parlan. dia masih sangat mencintai Arum" Tuan Heri menoleh ketika mendengar Miana mengatakan itu.


" Memangnya kamu masih betah untuk menjomblo? " dalam pertanyaan itu diselipkan canda.


" Saya tidak jomblo Tuhan itu ada penggantinya Arum. Lagian saya juga tidak mau berburu-buru. saya kan duda tampan" parlen pun membalas candaan itu. Mereka terlihat begitu saling menghargai. karena selain Parlan yang pandai membawa diri, Iya juga pandai membuat lawan bicaranya nyaman saat berada di dekatnya.


"Hahahaha... betul. Kalau kamu memang tampan kenapa masih jomblo aja? " Celoteh tuan Heri kembali.


"Karena saya belum menemukan yang pas yang sebanding dengan ketampanan saya ini" Parlan menimpali.


"Hahahaa" Akhirnya semua orang yang berada dalam ruangan itu tertawa.


"Ya sudah tuan, nanti kalau saya di sini malah pekerjaan saya akan terbengkalai. Saya izin untuk menyelesaikan pekerjaan dulu" Parlan tak menunggu lama lagi. iya langsung keluar dari ruang tamu. Dan saat akan keluar melewati pintu utama, iya berpapasan dengan bu Yanti dan Atika.


"Nyonya" Sapanya.


"Parlan" Bu Yanti kembali menyapa sopir dari anaknya itu. Dan iya langsung melanjutkan berjalan menyusul suami dan yang lain di ruang tengah rumah Miana. Miana menyambut kedatangan ibu dan kakaknya dengan hangat pula. Mereka pun akhirnya mengobrol. Namun, di saat duduk belum ada 5 menit. Mereka semua di kejutkan dengan suara ledakan yang lumayan keras.


'Duuoorr'


"Astaghfirullahal'adzim..." Ucap semua orang dalam ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2