
Pov Jelita dan Mbok Darmi.
"Mbok, makan siang nanti kita masak apa? " Tanya Jelita yang tak tahu bahwa dirinya sedang berada dalam daftar pencarian. Polisi dan tim pencari tidak dapat menemukan Jelita karena jauhnya rumah yang di tempati mbok Darmi. Hanya ada jalan berukuran sekitar 1,5 meter saja menuju rumah itu. Sedangkan jalan menuju ke desa terdekat masih harus memakan waktu sekitar 2 jam.
" Jelita mau makan apa? " pertanyaan Mbok Darmi membuat jelita berpikir sejenak.
" Jelita pengen makan telur sama sambal yang dibuat oleh Mbok Seperti yang kemarin itu" Jelita yang tidak tahu apa namanya pun mengatakan sesuai dengan apa yang ia lihat.
" Oalah telur bebek sama sambal. Baiklah kita masak untuk sekalian makan malam nanti ya" Mbok Darmi dengan sabar menuruti apa yang jelita inginkan.
" Mbak ambil telurnya dulu di belakang kamu tunggu di sini jangan kemana-mana." Jelita mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Mbok Darmi.
" Jelita mau istirahat boleh ya. Rasanya kaki Jelita sakit sekali ini" mendengar permintaan dari sang anak yang baru ditemukannya itu, Mbok Darmi mengangguk sambil tersenyum.
" Istirahatlah, nanti kalau Mbok sudah kembali dari mengambil telur bebek Mbok akan membangunkanmu" Jelita melihat Mbok Darmi yang keluar dari rumah menuju keluar melewati pintu bambu hasil buatan suami Mbok Darmi yang telah meninggal. Setelah Mbok Darmi menutup pintu dengan rapat, Jelita merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang terbuat dari kayu jati yang terlihat begitu kokoh dan kuat.
" Coba jarak dari sini ke rumah Jelita dekat. Pasti Jelita akan pulang bersama Mbok Darmi. Tapi sayang sekali rumah Jelita sangat jauh. Jadi aku harus bersabar menunggu sampai kakiku benar-benar sembuh" jelita Merenung memikirkan nasib dirinya yang harus terdampar di sebuah rumah di tengah hutan terpencil yang jauh dari jangkauan orang-orang. Jelita merasa sedih dengan apa yang dialaminya saat ini. Jelita memejamkan matanya hingga akhirnya ia pun tertidur dengan pulas.
__ADS_1
Jelita yang merasa baru saja tertidur, mendengar ada suara-suara aneh yang selama Iya tinggal di rumah Mbok Darmi tidak pernah iya mendengarkannya.
" Itu seperti suara mobil" Jelita yang Mendengar pun lalu bangkit dan mencari tongkat kayunya. Namun sebelumnya ia telah mengumpulkan kembali semua kesadarannya.
" Jelita..." suara Mbok Darmi terdengar di luar memanggil namanya.
" Iya Mbok Jelita ke sana" sahut Jelita dari dalam rumah. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Jelita berjalan secara perlahan-lahan menggunakan tongkat kayu yang dibuatkan oleh Mbok Darmi untuk menopang kakinya yang tidak mampu berdiri tegak karena patah.
" Mbok Darmi di..." ucapan Jelita Terhenti Di saat ia melihat banyak orang di rumah tersebut.
" Mbok Darmi ini ada apa? " pertanyaan Jelita hanya dijawab air mata oleh Mbok Darmi. Jelita tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun di saat ia akan berjalan untuk mendekati Mbok Darmi, sebuah suara memanggilnya. Suara yang begitu ia kenal.
" Mama..." suara Jelita tercekat di tenggorokan karena air mata yang mendahuluinya. Jelita tak mampu berkata-kata di saat ia melihat sang Mama berlari menghampiri dirinya.
" Jelita" tangis Miana pecah ketika ia memeluk putrinya setelah berlari.
"Hiks hiks hikss... Jelita ini benar-benar kamu kan sayang. Maafkan mama baru bisa menemukanmu kali ini sayang. Maafkan Mama yang terlambat Menemukanmu. Sehingga membuatmu harus terdampar di tempat seperti ini" mendengar apa yang diucapkan oleh Miana, Jelita pun semakin histeris dalam tangisnya. Orang-orang yang berada di sana menangis sesenggukan mendengar keharuan ibu dan anak yang baru bertemu setelah berpisah Beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
" Mama tidak salah. Ini semua salah papa. Papa begitu jahat kepada kita. Mulai sekarang, Mulai hari ini, Jelita tidak akan lagi memanggil laki-laki tua itu papa. Dia bukan Papa Jelita lagi" Jelita mengatakan kekesalannya di depan Miana. Miana hanya diam tak menanggapi. Namun iya tersenyum.
" Kaki kamu kenapa sayang? " tanya Miana. Namun Jelita hanya menjawabnya dengan memandang ke arah kakinya yang patah.
" maaf Nyonya, kaki Jelita patah karena terjatuh dari ketinggian. Tapi kali ini sudah sedikit mendingan dan bisa berjalan walaupun harus dengan bantuan tongkat" Mbok Darmi menjelaskan keadaan kaki jelita yang belum bisa berjalan dengan baik.
" Mama kok bisa ada di sini? Jelita sangat merindukan mama. Jelita nggak tahu jalan pulang. Dan kita nggak mungkin pergi ke kota dengan keadaan kaki jelita yang patah seperti ini." Jelita mengatakan kepada Miana tentang Kerinduan serta keinginannya untuk segera pulang menemui dirinya.
" Yang penting kamu selamat nak. Mama Bahagia sekali bisa bertemu denganmu hari ini" Miana memeluk Jelita dengan begitu erat. Iya mengekspresikan rasa rindu yang begitu menyiksa di saat ia harus berpisah dengan putrinya dalam waktu yang tidak singkat. Disusul dengan Dara yang ikut memeluk Jelita dari belakang.
" Maafkan Kakak juga ya Dek. Kakak sebagai saudara yang tertua di rumah ini tidak bisa melindungimu" ucapan Dara benar-benar membuat orang yang berada di sana terharu. Mereka semua mengusap air mata yang menetes membasahi pipinya masing-masing.
Beberapa saat telah berlalu setelah pertemuan antara Miana, Dara dan juga Jelita. Keharuan itu berakhir ketika Mbok Darmi memanggilnya masuk ke dalam rumah.
" Ayo kita masuk terlebih dahulu. Kita istirahat dulu nyonya" Mbok Darmi yang mengetahui bahwa Miana bukan lah orang yang tidak punya, maka ia pun berpikiran untuk memanggil Miana dengan sebutan nyonya. Dan ajakan Mbok Darmi disambut baik oleh Miana. Disusul Parlan dan juga Bagas yang mendekati Jelita, mereka semua masuk ke dalam rumah Mbok Darmi yang berukuran tidak terlalu luas. Rumah dengan ukuran 9 * 6 itu menjadi tempat berteduh jelita dari panas dan hujan, serta dari hembusan angin malam yang begitu dingin di dalam hutan. Rumah itu bukan terbuat dari tembok yang kokoh. Hanya terbuat dari kayu jati yang dipotong menjadi sebilah-sebilah dan disusun menjadi susunan tembok yang begitu rapi.
" Terima kasih Mbok Darmi, Kalau tidak ada anda, saya tidak tahu apa yang akan terjadi kepada putri bungsu saya" Miana mengucapkan terima kasih dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
__ADS_1
" Sama-sama nyonya. Bahkan saya merasa sangat bahagia dengan kehadiran Jelita di sini. Saya pun berharap kalau Jelita tidak usah bertemu dengan orang tuanya jadi saya bisa memilikinya sebagai anak. Saya hidup Sebatang Kara di tempat ini nyonya. Dan saat saya menemukan jelita yang masih pingsan, saya begitu bahagia. Saya mengira bahwa Jelita adalah kiriman dari Allah yang diberikan kepada saya. Maafkan saya karena ingin memiliki jelita" Mbok Darmi mengusap air mata yang juga menetes membasahi pipinya. sedangkan Miana yang mendengar penjelasan itu pun tersenyum dalam tangis.
" Bagaimana Mama tahu kalau Jelita ada di sini? " tanya Jelita Ketika sang Mama masih mengusap air matanya.