
Setelah tiga hari Dirga tidak masuk sekolah, hari ini terlihat mobil berwarna biru sudah memasuki lingkungan sekolah menuju parkiran. Mobil itu berhenti di ujung parkiran, salah seorang turun. Semua orang yang baru saja datang―sedang berada di parkiran―menatapnya tajam. Dirga seakan sedang awasi oleh para murid cowok ataupun cewek ketika sedang berada di parkiran sekolah. Tanpa mau bertanya apa yang menyebabkan mereka semua begitu, Dirga berjalan menuju kelasnya dengan menyandang sebelah tali tasnya.
Itulah Dirga, selalu menjadi pusat perhatian setiap murid. Bukan hanya karena dia memakai mobil ke sekolah atau dia yang selalu terlihat keren, tapi caranya yang sangat santai ketika di sekolah membuat para murid sedikit kesal terhadapnya. Rambut panjang, baju dikeluarkan, terkadang dia ke sekolah hanya membawa satu buku dan badan yang siap duduk di kursi. Kenapa gak kena marah sama guru? Kena marah, surat panggilan orang tua, hukuman, semua itu sudah pernah Dirga terima selama bersekolah di SMA Cakrawala Jakarta ini.
Kakinya melangkah di sepanjang koridor sekolah. Lagi dan lagi mata para siswi yang dilewatinya mengikuti pergerakannya pergi. Semua siswi yang ada di sana seakan sudah terhipnotis dengan wajah ganteng Dirga, ahh, mereka pasti berharap bisa menjadi pacar Dirga, tapi itu sangat sulit untuk semua cewek. Hanya satu yang pernah mengisi hatinya, itu dulu, saat dia masih kelas sepuluh. Namanya, Indira, sekarang sudah jadi mantan pacar Dirga. Walaupun Indira sendiri masih mengharapkan bisa kembali dekat dengan Dirga, akan tetapi dia tidak menghiraukan setiap perjuangan Indira.
Dirga berhenti sejenak, melepaskan jaket yang dikenakannya, lalu memasukkannya ke dalam tas. Kemudian Dirga kembali berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai dua. Dia berjalan dengan santai menaiki tangga. Dirga memang sangat terlihat keren ketika di sekolah, di luar sekolah pun dia juga masih tetap keren. Mungkin bagi murid SMA Cakrawala Jakarta terkhususnya cewek sudah mengenal siapa sosok Dirga, namun mereka hanya mengenal Dirga lewat gosip-gosip yang sering beredar di sekolah, kalau kepribadiannya sedikit orang yang tahu. Sulit untuk bisa mengetahui kepribadian Dirga yang sebenarnya.
BUKK....
Ketika Dirga hendak berjalan mengarah ke kanan, dia menabrak salah seorang murid. Buku-buku yang tadi dipegang murid itu berjatuhan ke lantai. Namun, tanpa ada rasa bersalah atau mau menolongnya, Dirga hanya memperlihatkan wajahnya pada siswi itu, lalu kembali melanjutkan berjalan menuju kelasnya. Beruntung sekali bagi siswi itu karena sudah melihat wajah orang yang menabraknya tadi.
“Guys, guys, guys!! Ini dia orang yang ditunggu-tunggu ternyata sudah dateng. Ehh, gandengannya ke mana, nih?” Rahman, teman akrabnya di kelas langsung berbicara ketika Dirga baru memasuki kelasnya.
Mata Dirga langsung menuju ke arah Rahman yang sedang duduk di kursi samping Ayu. Dirga mendekati temannya itu, tanpa basa-basi lagi tangannya langsung mencengkeram kerah baju Rahman. “Ngomong apaan lo tadi?!” Amarah Dirga mulai terpancing dengan ulah Rahman yang tadi menanyakan gandengannya. Hal yang tidak Dirga sukai adalah selalu ditanya tentang pasangan. Sampai saat ini dia bahkan tidak peduli dengan status jomblo yang dimiliki. Itu memang dari dia sendiri yang belum mau berpacaran lagi setelah kecewa dengan Indira.
“Owhh, santai dulu, Di,” ujar Rahman ketakutan. Rahman menyingkirkan tangan Dirga perlahan.
Dirga berjalan menuju kursinya. Sekarang dia duduk di barisan paling belakang, tepatnya di kursi samping Didik atau biasa dipanggil “Udik”. Sebenarnya, itu Dirga sendiri yang memberikan julukan pada teman sebangkunya, menurutnya nama itu cocok untuk Didik, ya, sekelas jadi ikut-ikutan memanggil “Udik”.
“Dateng lo? Ke mana kemarin-kemarin?” tanya Udik, ketika Dirga sudah duduk di kursinya.
Rahman mendekati mereka berdua. Duduk di kursi berlawanan arah dengan mereka.
“Benar kemarin-kemarin lo sakit, Di?” Rahman ikut menanyakan tentang kenapa beberapa hari belakangan Dirga tidak bersekolah.
“Iya, gue emang sakit. Sakit hati!” tegas Dirga dengan jawaban candaan. Dia tertawa.
“Gue serius, Di. Lo ke mana kemarin-kemarin?” Udik kembali menanyakan hal sama setelah mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya.
“Gue sakit. Puas lo?”
Jawaban Dirga seakan membuat Udik ataupun Rahman sedikit merasa kurang nyaman. Dirga seolah-olah tidak senang ketika ditanya masalah kenapa dia tidak masuk dalam beberapa hari belakangan.
“Lo kenapa sih, Di?” tanya Ayu, berjalan mendekati mereka bertiga. Dia duduk di kursi depan Dirga. “Kalau ada masalah cerita sama kita, mungkin kita bisa bantu nyelesain masalah lo,” lanjut Ayu.
Dirga menaruh tasnya di atas meja, dan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Dia langsung membuka game yang ada di ponsel tanpa menjawab pertanyaan dari Ayu tadi. Memang, wajah Dirga hari ini terlihat murung, dia sama sekali tidak pernah senyum selama masuk kelas tadi, wajahnya selalu ditekuk seperti orang akan sedih selamanya.
Ayu mengambil paksa ponsel Dirga. Mata Dirga terarah ke mata Ayu.
“Lo udah tahu kan masalah apa yang sedang gue alami saat ini, Yu,” kata Dirga. Lalu pandangannya kembali mengarah ke lain.
“Udah, lo gak usah banyak mikirin masalah itu, Di. Sekarang di sekolah, fokus belajar, sayang kan kalau nilai lo turun terus. Lo itu pintar, tapi ... ya udah, gak usah mikirin maslah itu lagi pokoknya. Jangan buat masalah itu jadi beban di kehidupan lo, Di. Gue, Udik, Rahman, dan teman-teman yang lain percaya bahwa lo akan kuat menjalani ini semua. Cukup untuk lo menanggung ini semua sendirian, sekarang lo bebas mau minta bantuan kita kapan aja, kita siap,” ucap Ayu.
Perkataan Ayu itu menjadi penyemangat untuk kehidupan Dirga. Dirga seakan sangat diperhatikan oleh teman-temannya, dia seperti orang penting bagi teman-temannya. Namun, semenjak masalah bertubi-tubi menghampiri hidupnya, Dirga lebih banyak memendam masalah pribadinya sendirian ketimbang berbagi bersama teman-temannya. Mungkin teman-teman terdekatnya sudah tahu masalah yang Dirga alami saat ini, Ayu, Udik, Rahman sangat tahu keadaan Dirga sekarang ini. Merekalah yang sampai saat ini masih memperhatikan Dirga.
Beberapa menit kemudian guru yang mengajar mereka masuk bersama dengan salah satu murid yang tidak dikenali Dirga. Ayu segera kembali ke tempat duduknya, sedangkan Rahman hanya berpindah kursi saja―tempatnya berada di depan Udik dan Dirga. Mata Dirga menatap ke arah siswi yang membawa buku mengiringi guru berjalan ke mejanya. Setelah menaruh buku-buku, siswi itu berjalan ke kursinya, duduk tepat di samping Ayu. Sontak saja Dirga heran dengan siswi itu yang ternyata murid kelas mereka. Dirga sama sekali tidak mengetahui siapa dia.
Udik langsung menepuk pundak Dirga, menyadarkannya dari lamunan.
“Ehh, dia siapa?” tanya Dirga menunjuk siswi yang berada di samping Ayu.
Udik sudah tahu siapa orang yang dimaksud Dirga, karena sedari pertama siswi itu masuk kelas Dirga menoleh ke arahnya terus. “Namanya, Rafika Zahra. Dia itu murid baru di kelas kita, Di. Menurut lo dia cantik, nggak?” Udik malah bertanya pendapat Dirga tentang Rafika.
“Dirgantara! Silakan maju!” panggil guru yang sudah berada di kursinya, menyuruh Dirga untuk menghadap dia.
Dirga berdiri dari kursinya. Mata para murid tertuju padanya, termasuk juga Rafika. Dirga berjalan menuju meja guru dengan santainya tanpa tahu apa-apa.
“Iya, Bu. Ada apa?” tanya Dirga, setelah duduk di kursi tepat depan meja guru. Dirga tidak disuruh untuk duduk, tapi dia malah langsung duduk begitu saja tanpa mendapatkan perintah dari guru.
“Berdiri lagi,” suruh guru itu.
Dirga mengikutinya, dia berdiri. “Kenapa lagi, Bu? Ada yang salah?” tanyanya dengan tolol.
“Bajumu masukan.” Guru itu menunjuk baju Dirga yang dikeluarkan.
“Ahh, setiap hari juga gini, Bu,” keluh Dirga. Tapi tetap dia mengikuti perkataan guru itu. Bajunya dimasukkan, dan dirapikan. “Sudah, Bu,” kata Dirga setelah selesai.
“Duduk!”
Tanpa harus mengeluh atau mendengus kesal, Dirga berjalan kembali ke kursinya melewati barisan Ayu.
Tidak perlu mengecek cara berpakaian Dirga setiap hari, guru-guru pasti sudah tahu bagaimana Dirga berpakaian ketika di sekolah. Setiap hari seragam sekolahnya selalu dikeluarkan, terkadang juga dia tidak memakai dasi, itu disengaja. Kalau dihukum, ya, Dirga tinggal mengikuti apa hukuman yang diterimanya. Dirga tidak pernah menolak hukuman yang diberikan kepadanya, menurutnya itu pantas dia dapatkan karena ulahnya sendiri, namun guru-guru sudah lelah dengan masalah yang Dirga perbuat. Masalah Dirga di ruang BP sudah menumpuk.
***
Sekarang jam istirahat sedang berlangsung, Rafika mengajak Ayu untuk ke perpustakaan membaca beberapa buku, Ayu pun dengan senang hati mengikutinya. Mereka berjalan menuju perpustakaan. Rafika mengambil dua buku sejarah yang hendak dibaca, sedangkan Ayu hanya mengambil satu buku, entah itu buku tentang apa.
__ADS_1
“Woy! Ada yang berkelahi di kantin, buruan lihat!”
Dari dalam perpustakaan terdengar suara orang berteriak memberitahukan bahwa sedang ada orang berkelahi di kantin. Sontak Ayu langsung berpikiran bahwa itu pasti ulah Dirga. Ayu langsung meninggalkan tempat duduknya, dia berlarian menuju kantin sekolah, Rafika juga berlari menyusul Ayu.
Benar saja, orang yang sedang berkelahi di kantin adalah Dirga. Ayu dan Rafika jelas melihat Dirga sedang memukuli siswa kelas dua belas bertubi-tubi, semua orang yang berada di kantin histeris melihat wajah mereka berdua sudah lebam, terlebih lagi hidung siswa kelas dua belas itu sudah mengeluarkan darah. Dasi yang membalut jari-jari tangan kanan Dirga sudah berlumuran darah.
Namun, ada juga para siswa yang berada di sana malah berteriak keasyikan melihat perkelahian mereka berdua. Memang tidak ada yang berani memisahkan Dirga ketika dia sedang berkelahi, orang-orang takut kalau nanti jadi imbas amarahnya, makanya mereka semua hanya diam menonton. Bu kantin juga histeris ketakutan.
Perkelahian mereka baru terhenti saat salah satu guru menarik Dirga dengan paksa. “Berhenti, Dirga!” Guru itu menarik paksa Dirga menuju kantor. Tanpa ada perlawanan yang berarti dari Dirga sendiri, dia lebih memilih mengikuti guru yang menariknya. Siswa kelas dua belas itu juga mengikuti dari belakang.
Ayu mengajak Rafika untuk melihat kondisi Dirga ketika di kantor, mereka bergegas menyusulnya.
Rafika baru pertama kalinya melihat Dirga berkelahi, sampai-sampai murid kelas dua belas itu mengalami luka di hidungnya dan lebam di wajah. Beruntung sekali tadi Rafika diam-diam mengadu kepada salah satu guru di kantor, dengan cepat masalah ini diurusi. Rafika menenangkan Ayu yang sudah mulai menangis setelah melihat perkelahian Dirga tadi.
“Gimana kabar Dirga, Yu?” tanya Udik, setelah mendekati Ayu yang sedang berdiri di depan kantor.
“Dirga langsung dibawa ke ruang kepala sekolah bersama siswa yang berkelahi dengannya tadi,” jawab Ayu. Tangisnya mulai reda setelah dia benar-benar mencoba menahannya.
“Ahh, gila tuh anak. Bodoh, baru masuk hari ini udah buat masalah lagi,” kata Rahman kesal. Rahman tadi datang bersama Udik.
Bel masuk tanda jam pelajaran selanjutnya dimulai berbunyi. Mereka berempat segera menuju kelasnya lagi.
“Gimana kalau nanti Dirga dikeluarkan dari sekolah, Man?” tanya Ayu kepada Rahman setelah mereka masuk ke kelas.
“Udah, lo tenang aja. Gue tahu Dirga itu gimana orangnya, nggak mungkin dia berkelahi tanpa ada sebab. Walaupun dia nakal, tapi Dirga itu gak akan mukul anak kelas dua belas tanpa sebab. Lo tahu sendiri kan gimana tingkah laku Dirga di sekolah,” balas Rahman.
“Iya, tapi ....”
“Jadi yang dibilang Bu Resti kemarin itu Dirga, ya?” tanya Rafika, menengahi mereka.
“Iya, Ra,” jawab Udik.
“Lo sekarang mulai tahu kan gimana sikap Dirga di sekolah,” kata Ayu menghadap ke arah Rafika.
“Benar apa kata Rahman, Yu. Dirga nggak mungkin berkelahi tanpa sebab, lagian kita belum tahu juga apa masalah sebenarnya, kita tunggu aja nanti setelah dia kembali dari kantor,” lanjut Rafika.
Kini, Rafika ikut dalam masalah mereka. Sebagai teman Ayu, Rafika akan membantunya sebisa mungkin, lagian juga Dirga itu teman sekelasnya, ya walaupun Rafika sendiri baru melihatnya, tapi dia juga ingin membantu menyelesaikan masalah mereka. Rafika sangat peduli dengan teman-temannya, apa pun masalahnya pasti dia bantu, selagi itu masih bisa dilakukan. Rafika melihat Ayu yang sangat panik di antara dua teman lainnya, entah kenapa Ayu begitu perhatian dengan sosok Dirga.
“Lo kenapa sih, Yu?” tanya Rafika melihat Ayu panik.
Ayu menoleh ke arah Rafika. “Kenapa apanya?” tanyanya balik.
“Bukan pacar ataupun gebetan, Ra. Gue tahu gimana kondisi Dirga sekarang ini, lo belum tahu dia, jadi lo gak akan sekhawatir gue. Kalau lo nanti udah tahu gimana keadaan Dirga sebenarnya, mungkin lo akan sama dengan gue, Ra. Dirga itu ....”
Sontak Rafika terdiam serius ingin mendengarkan penjelasan tentang Dirga. Namun Ayu terlihat ragu untuk mengatakannya. “Dirga itu kenapa, Yu?” tanya Rafika serius.
“Dirga itu―” Perkataan Ayu terhenti ketika ada salah satu guru masuk ke kelas mereka.
Dirga kenapa, ya? Kalau lihat dari orang di sekitarnya yang sangat khawatir, gue yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan dari Dirga, kata Rafika dalam hati. Rafika bahkan sampai heran dengan Dirga yang tiba-tiba saja terlibat perkelahian tadi saat di kantin, ditambah lagi dengan penjelasan Ayu yang menggantung membuat rasa penasarannya semakin besar. Ahh sudahlah, Rafika hanya menunggu waktu untuk bisa mengetahui itu semua.
***
“Apa yang kalian lakukan tadi sangat keterlaluan!” bentak Pak Burhan di hadapan Dirga dan siswa kelas dua belas itu.
Mereka langsung dibawa ke kantor, guru BP menyerahkan permasalahan ini kepada kepala sekolah langsung. Dirga tidak pernah henti-hentinya membuat masalah di sekolah, namanya terkenal karena kelakuannya yang nakal. Satu hal yang perlu kalian ketahui tentang Dirga, dia itu sebenarnya lumayan pintar, tapi karena masalah pribadi yang membuatnya terus tertekan membuat Dirga sendiri tidak teratur setiap harinya. Dia semakin bertambah nakal di sekolah maupun di luar sekolah.
Baik Dirga ataupun siswa kelas dua belas itu, mereka berdua hanya tertunduk di hadapan kepala sekolah. Tidak ada yang berani menjawab perkataan dari kepala sekolah. Dirga melepaskan dasi yang sedari tadi masih membalut jari-jari kanannya. Tangan Pak Burhan dengan cepat mengambil dasi itu dari tangan Dirga. Pak Burhan, kepala sekolah SMA Cakrawala Jakarta. Dirga hanya diam, tidak mau mengambil kembali dasinya karena masih menghargai Pak Burhan sebagai kepala sekolah, kalau Pak Burhan itu guru biasa atau guru pengajar, Dirga sendiri pasti memberanikan diri untuk mengambil kembali dasinya.
“Dia yang salah, Pak,” kata Dirga lirih, menunjuk siswa kelas dua belas yang sedang berdiri di sampingnya.
“Jelaskan kepada Bapak kenapa kalian berdua sampai berkelahi!” pintanya.
“Di depan mata saya dia menarik paksa siswi kelas sepuluh agar mau duduk di dekatnya,” kata Dirga memulai penjelasan, “orang ini memang pantas dihajar, Pak. Siswi kelas sepuluh itu sampai harus menahan malu di hadapan semua murid lantaran ulah orang ini yang keterlaluan, Pak,” jelasnya sambil menunjuk siswa kelas dua belas itu.
“Lo gak usah ikut cam―”
Perkataan siswa kelas dua belas itu terhenti oleh Pak Burhan yang melemparnya dengan pena―yang terletak di atas meja―hingga tepat mengenai mulut siswa itu. Siswa itu tertunduk takut.
“Kalau lagi di hadapan saya bicara yang sopan!” hardiknya.
Pak Burhan jadi semakin marah kepada mereka berdua lantaran siswa itu bicara agak kurang sopan di hadapannya.
“Jelaskan lagi,” suruh Pak Burhan pada Dirga.
“Dia kurang ajar, Pak. Siswi itu nangis karena terpaksa terduduk di pangkuan siswa ini, Pak. Dia maksa siswi itu tanpa ada rasa bersalah. Yah, saya gak peduli mau dia anak jendral, pejabat, guru, atau siapa pun, yang pasti kalau berbuat kurang sopan harus dihajar.”
Pak Burhan berpaling ke arah komputernya, dia mengetik sesuatu yang entah mau ngapain. Jelas mereka berdua pasti mendapatkan masalah yang besar. “Kalian akan mendapatkan surat panggilan, Bapak harap orang tua kalian hadir besok pagi,” kata Pak Burhan kepada mereka berdua sambil mengetik surat panggilan itu.
__ADS_1
“Udah, Bapak nggak perlu repot-repot bikin surat panggilan segala, percuma. Papa atau Mama gak bakalan dateng, Pak. Panggilan ini gak penting menurut mereka. Mereka cuma mikirin kerjaan, kerjaan, dan kerjaan. Udah, gak usah repot-repot bikin surat panggilan segala, Pak,” kata Dirga. Sontak hal itu membuat Pak Burhan terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Dirga. Berani sekali Dirga mengatakan hal itu.
“Kenapa?” tanya Pak Burhan ingin tahu lebih lanjut.
“Gak usah tanya kenapa, Pak,” jedanya, “di dunia ini banyak masalah yang membuat kita terpojok menyendiri, tanpa harus orang lain ketahui masalah apa itu.”
Wajah Dirga terlihat bersedih, kali ini matanya mulai berkaca-kaca. Ahh, masa Dirga nangis? Gak mungkin. Ya, Dirga dengan sekuat hati harus menahan kesedihan di dalam hatinya di hadapan Pak Burhan. Dirga tidak mau terlihat cengeng di hadapan siapa pun.
Seandainya, ada satu ruang kosong di dunia ini yang terkhusus meluapkan emosi dan kesedihan, mungkin Dirga akan masuk tanpa harus keluar lagi dari ruangan itu. Mungkin dia akan meluapkan semua yang ditahannya selama ini, atau menangis sejadi-jadinya di dalam ruangan tertutup itu. Mungkin juga Dirga akan selamanya berada di dalam ruangan itu tanpa mengajak siapa pun yang akan merasakan hal sama. Sungguh, masalah pribadi yang Dirga alami saat ini sangat membuat dia terpuruk.
“Ya sudah, kalau begitu kalian saling memaafkan, dan cepat pergi ke lapangan, hormat kepada bendera sampai nanti disuruh berhenti,” suruh Pak Burhan.
Mereka berdua segera bersalaman, saling memaafkan satu sama lain. Dirga pun sudah meredahkan amarahnya kepada siswa itu, dia rela memaafkan siswa itu, begitu juga dengan Dirga sendiri, dia dimaafkan oleh siswa itu. Setelahnya, mereka berdua berjalan menuju lapangan upacara yang berada di tengah-tengah bangunan sekolah.
Dengan kepala yang terus tertunduk, dan rasa bersalah di dalam hatinya, Dirga berjalan menuju lapangan upacara.
Mereka berdua langsung hormat kepada bendera merah putih yang sudah berada di ujung tiang atas. Terik matahari mulai membakar pundak mereka berdua. Dirga mulai merasakan panas yang seperti membakar semua bagian tubuhnya.
Berjam-jam mereka berdua berdiri di depan tiang bendera sambil hormat membuat keduanya sangat kelelahan. Tetap saja, hukuman yang Dirga terima harus dia lakukan dengan berat hati. Karena itu semua kesalahan dia yang perbuat, ya, mau gimana lagi, Dirga harus menerima hukumannya.
Sialan! Gini aja terus hampir setiap hari, aaakkhh!!! teriaknya dalam hati. Dirga kesal dengan dirinya sendiri yang setiap hari harus merasakan masalah, masalah dan masalah. Di rumah ataupun di luar rumah Dirga selalu memikirkan masalah pribadinya sendirian.
“Kalian berdua silakan kembali ke kelas masing-masing!” teriak Pak Burhan dari pinggir lapangan menyuruh Dirga dan siswa kelas dua belas itu kembali ke kelas mereka. Dan hukuman mereka selesai.
Dirga kembali ke kelasnya. Begitu juga dengan siswa kelas dua belas itu.
Tepat ketika dia baru masuk ke kelas, guru yang mengajar pelajaran jam terakhir pun keluar. Tanpa melihat ke arah Dirga, guru itu langsung keluar kelas menuju kantor begitu saja. Tidak ada pertanyaan tentang kenapa Dirga gak masuk kelas tadi? Atau, dari mana saja kamu? Biasanya, kalau ada anak murid yang terlambat masuk atau tidak masuk sama sekali, guru yang mengajar di kelas pasti bertanya langsung kepada murid bersangkutan, atau kalau guru itu sudah tahu kenapa muridnya terlambat masuk ke kelas pasti guru masih akan bertanya beberapa hal, bahkan basa-basi sedikit untuk memberikan nasihat.
Kenyataan yang diterima Dirga di kelasnya tidak terlalu dia hiraukan. Dirga menerima sikap guru itu terhadapnya. Dia duduk di kursinya sambil memasukkan buku ke dalam tasnya lagi, mengambil kunci mobilnya di dalam tas, kemudian beranjak ingin segera keluar kelas. Namun, tangannya ditahan oleh Ayu ketika Dirga hendak melewati kursinya.
“Tunggu sebentar, Di!” cegahnya, “lo harus kasih tahu kenapa tadi berkelahi.” Ayu meminta agar Dirga mau menjelaskan kenapa dia sampai berkelahi tadi.
Dirga melepaskan tangan Ayu yang menggenggam lengannya. “Udah, lo gak perlu tahu, Yu. Ini masalah pribadi gue,” jawab Dirga. Dia masih menutupi masalah apa yang membuatnya sampai harus berkelahi dengan siswa kelas dua belas itu.
“Tapi, Di ... gue juga sahabat lo, kan?”
“Iya, Yu. Tapi, urusan ini biar gue aja yang nanggung.”
“Udah, gak usah dipaksain, Yu,” ucap Udik menengahi mereka.
“Mending kita pulang sekarang, yuk,” ajak Rafika pada Ayu.
Mata Dirga kembali tertuju pada Rafika yang berada di kursi dekat dinding di samping Ayu. Ekspresi datar yang ditunjukkan Dirga seakan membuat Rafika sedikit bingung dengannya. Namun, Rafika tetap memberikan senyuman pada Dirga.
“Ohh iya, kita belum kenalan, kan?” tanya Rafika pada Dirga. Rafika mengulurkan tangannya ingin berkenalan dengan Dirga. Tangan Rafika tidak disentuh, diterima, atau dijabat oleh Dirga. Mereka berdua hanya saling tatap, Rafika pun masih menatap wajah datar Dirga.
Ayu langsung mengalihkan pandangan kedua temannya itu. Ayu berdiri, dan langsung mengajak Rafika keluar kelas menuju parkiran.
Sedangkan, Dirga, Udik, dan Rahman juga berjalan keluar kelas setelah Ayu dan Rafika pergi. Di sepanjang perjalanan menuju parkiran Dirga menanyakan tentang sosok Rafika. Udik menjelaskan tentang Rafika yang dia ketahui, begitu juga dengan Rahman yang menambahkan sedikit penjelasan tentang sifat Rafika dalam beberapa hari belakangan. Dirga merespons semua perkataan temannya itu dengan santai, tidak melebih-lebihkan.
“Ehh, lo pulangnya bareng siapa, Yu?” tanya Dirga kepada Ayu yang sedang berdiri di depan pintu gerbang.
“Nunggu jemputan, kalau gak ada, ya terpaksa naik angkot.”
“Gue duluan ya, Di,” kata Udik, mengendarai motornya ketika melewati Dirga.
“Gue juga duluan, Di,” kata Rahman, ketika melewati Dirga dengan mengendarai motornya.
“Tunggu bentar, Man,” cekal Dirga.
Rahman menghentikan motornya tiba-tiba. Menoleh ke belakang.
“Kenapa, Di?” tanyanya, setelah menaikkan kaca helmnya.
“Lo antar Ayu sampai ke rumahnya,” suruh Dirga.
“Nggak usah, Man. Gue bisa naik angkot, kok,” cegah Ayu.
Dirga menyuruh Rahman untuk mengantarkan Ayu sampai ke rumahnya dengan selamat.
“Ayo naik, Yu,” ajak Rahman, “tenang, gue bakal antar lo sampai di depan rumah dengan selamat.”
Ayu menerima niat baik Rahman yang mau mengantarnya pulang ke rumah. Ayu naik ke motor Rahman, dia berpamitan dengan Rafika untuk duluan pulang. Setelah itu, Rahman melajukan motornya meninggalkan area sekolahan.
“Dirg―”
Rafika yang hendak menegur Dirga seketika menghentikan perkataannya karena Dirga sudah terlanjur pergi meninggalkan dia begitu saja.
__ADS_1
Baru kali ini gue ketemu orang yang cueknya minta ampun. Teman sekelas lagi, ahh, awas aja lo kalau minta bantuan sama gue, jangan harap gue mau bantu, gerutu Rafika dalam hati. Rafika kesal dengan sikap cuek yang ditunjukkan Dirga terhadapnya. Dari tadi Dirga tidak pernah menegurnya sekalipun, padahal Dirga sendiri sudah tahu kalau dia murid baru di kelas 11 IPS2.
Dirga berjalan pergi meninggalkan Rafika sendirian di depan gerbang sekolah menuju parkiran. Dia mengambil mobilnya, kemudian menjalankan mobil menuju pintu gerbang sekolah. Saat melewati Rafika yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah, Dirga membunyikan klakson mobilnya―pertanda bahwa dia pergi duluan―itu jelas ditujukan kepada Rafika, tanpa membuka kaca mobilnya. Mobil yang dikendarai Dirga meninggalkan area sekolah dengan kecepatan standar.