Diandra

Diandra
Hampir Kecelakaan


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


DUARRRR...


Suara menggelegar membuat Hameed kehilangan keseimbangan dalam mengemudikan mobilnya.


Membanting stir ke kanan dan menginjak rem, seketika mobilnya berhenti melaju.


"Cepat ayo turun!" ucap Hameed kepada anak dan istrinya, panik.


"Ada apa Dad's?" tanya Andara dengan wajah pucat pasi lantaran, mobil yang ia tumpangi hampir kecelakaan.


"Tidak ada apa-apa, ayo cepat turun!" ucap Hameed mengulang kalimat.


Nessa pun segera turun membuka pintu penumpang untuk Andara.


"Ayo sayang cepat turun," kata Nessa membantu putri sulungnya, yang masih terlihat lemas.


Hameed melihat ke sekeliling mobil, ia heran lantaran ban mobilnya terlihat rontok meledak ketika ia sedang mengendarakannya dengan kencang.


'Ini ada yang tidak beres, saya yakin ada yang berniat mencelakai keluargaku?' batin Hameed bertanya-tanya.


Kemudian Hameed menghampiri Andara dan juha Nessa, istrinya.


"Kalian pulang baren Renita saja ya! Daddy harus membawa mobil ini ke bengkel!" ujar Hameed.


"Iya Mas... kalau begitu aku telepon Renita," ucap Nessa sambil merogoh ponsel di saku.


TUT-TUT-TUT


Nada sambung dari ponsel Renita.


"Halo Mom's... kenapa menelpon aku?" tanya Renita diseberang sana.


"Kamu masih di mana sayang? Kamu bisa jemput Momy sama Kakak kamu nggak?" ucap Nessa bertanya pada Renita putrinya.


"Aku masih di jalan mi, memangnya kenapa? Bukannya Momy sama Kak Dara diantara sama Daddy ya?" ujar Renita diseberang sana Via ponsel.


"Ini Nak... mobil yang di kendarai kita bannya meledak sayang, kamu bisa ya. Jemput Momy dengan Kak Dara!" seru Nessa.


"Iya aku bisa, share lock aja lokasinya ya!" jawab Renita mengakhiri panggilan itu.


Kemudian Nessa mengantongi kembali ponselnya.


"Gimana Ma, Renita bisa kan jemput kita?" tanya Andara memastikan.


"Iya bisa, mungkin dia dalam perjalanan. Diakan di belakang kita tadi!" ujar Nessa menyunggingkan senyum.


"Yaudah kalau begitu kita tunggu!" kata Andara.


Kemudian Hameed berusaha membuka ban serep, dengan alat-alat yang tersedia di mobil.


Pria berdarah Arab itu masih terlihat hot, meski usianya tak lagi muda.

__ADS_1


Tubuh kekarnya terpampang nyata, ketika tersorot oleh pancaran sinar matahari.


"Mas... sudah panas, biar nanti orang bengkel saja," ucap Nessa memberi saran kepada suaminya.


"Enggak apa-apa, cuma mengganti ban doang kok!" jawab Hameed.


Hameed berhasil membongkar ban serep mobil, lalu menggelindingkan ke depan mobilnya.


Dengan beberapa kunci di tangan, Hameed melepaskan beberapa baut yang mengunci Velg mobil sport tersebut.


"Gila... panas sekali hari ini," ucap Hameed membuka kaosnya.


"Mas... harus ya pake membuka kaos segala?" protes Nessa.


"Aku enggak rela loh, kalau orang-orang lewat pada ngelihatin kamu! tubuh seksi kamu banyak di lihatin orang-orang, dan aku enggak mau itu!" rajuk Nessa.


Andara sangat tak menyangka kedua orang tuanya, ternyata punya tingkat kecemburuan dan ke romantisan di atas rata-rata, terhadap pasangannya masing-masing.


'Ya Tuhan... aku bisa gila, jika terus berada di dekat dua sejoli ini,' batin Andara merasa risih ketika kedua orang tuanya, seperti ini. Seperti anak baru kemaren sore membina biduk rumah tangga.


"Sayang... biarkan saja mereka melihat-lihat aku, toh yang bisa merasakan kasih sayang dari aku cuma kamu!" ujar Hameed.


"Tetap aja aku enggak mau Mas!" keluh Nessa terus merajuk.


Kurang lebih memakan waktu perjalanan, sekitar lima menit Renita telah sampai di tempat lokasi terjadinya ledakan ban mobil kendaraan orang tuanya.


Renita menepikan mobilnya, lalu turun menghampiri kedua orang tuanya dan juga Kakaknya.


"Mom's... ayo kita pulang!" ucap Renita mengajak Nessa, ibunya.


"Kamu duluan aja dengan Kakak kamu, Momy masih mau nemenin Daddymu!" ucap Nessa.


"Owh... yaudah kalau gitu, aku duluan pulang nih!" sahut Renita.


"Ayo Kak, kita pulang duluan aja!" ajaknya.


"Yaudah ayo, lagian di sini panas banget!" kata Andara.


Kemudian Renita membantu Andara untuk memasuki mobil, lalu mereka pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


Sementara dari kejauhan, terlihat Alexander tersenyum menyeringai.


"Ini baru permulaan Om... kamu tidak tahu kedepannya akan seperti apa! Kau akan tahu siapa sebenarnya Alexander!" gumam Alexander menatap dari kejauhan.


Perlahan Alexander menghampiri mereka dengan mobil yang dikendarainya pelan.


Kemudian ia menepikan mobilnya, datang terlihat seperti sosok pahlawan.


"Ada apa Om?" tanya Alexander menyadarkan mereka.


Sekilas Hameed dan Nessa menoleh ke sumber suara Alexander.


"Kamu tidak bisa lihat apa! Masih saja banyak bertanya, cepat pergi dari sini saya muak melihat kamu!" ketus Nessa.


"Ya benar kata Istri saya, lebih baik kamu pergi!" tukas Hameed.

__ADS_1


"Oke kalau begitu Alex pergi!" ucap Alexander dengan seringainya.


"Rasakan emang enak aku kerjain!" gumamnya kemudian pergi.


Sementara Radit kini terlihat sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit.


Terlihat di temani oleh Maxcton asisten pribadinya.


Maxcton langsung menghubungi Milloma, ketika mendapat kabar jika Radit sedang di rawat di rumah sakit.


TUK-TUK-TUK


Suara langkah dari high heels yang di gunakan Milloma mengalihkan perhatian Maxcton.


"Nyonya selamat siang..." sapa Maxcton terhadap Milloma.


"Kenapa Radit bisa sampai seperti ini Maxc?" tanya Milloma menatap Maxcton.


"Maaf Nyonya saya juga baru menerima kabarnya barusan!" jawab Maxcton terhadap Milloma.


"Asisten macam apa kau! Menjaga keselamatan Cucuku saja kau tidak bisa. Apa yang kau kerjakan selama ini ha!" sentak Milloma menatap Maxcton marah.


Kemudian Milloma mengitarkan pandangan ke sekeliling, mencari sosok Andara pacarnya Radit, namun tidak ada di sana.


"Ke mana Andara, kenapa dia tidak menemani Cucuku di saat seperti ini?" gumam Milloma.


"Maxct... saya akan ke kantin sebentar, kamu jaga Radit ya! Ingat jangan lengah, kau kan tahu Radit ini sebenarnya siap, jadi saya harap kamu harus ekstra menjaganya!" tukas Milloma berjalan meninggalkan Maxcton.


"Huh... untung saja Nenek tua itu tidak memakanku," gumamnya melihat kepergian Milloma dengan pakaian yang serba merah.


Tidak berapa lama seorang Dokter, keluar dari dalam ruang perawatan Radit.


"Anda keluarganya?" tanya seorang Dokter terhadap Maxcton.


"Bukan Tuan... saya hanya asistennya!" jawab Maxcton singkat.


"Tuan Radit harus segera di operasi Tuan? Dia banyak sekali terinfeksi, sepertinya senjata yang di gunakan lawan bertarungnya telah di bumbui racun ular!" ungkap Sang Dokter.


Maxcton terbelalak kaget, matanya membulat sempurna lantaran yang ia tahu Radit hanya kecelakaan.


"Bukannya bos saya ini menabrak tiang pondasi rumah sakit ini ya? bukan karena bertarung?" ucap Maxcton heran.


"Benar sekali Tuan, si pasien ini memang menabrak pondasi rumah sakit ini, tapi ternyata setelah saya tangani, ternyata beliau seperti habis bertarung Tuan..." ucap sang Dokter berusaha mengungkap kejadian yang sebenarnya.


"Kalau begitu segera lakukan operasi Dok, saya tidak mau mengambil resiko untuk keselamatan Bos saya!" tukas Damian.


Bersambung...


IG: Blazingdark15.


Kira-kira apa ya yang akan terjadi sama Radit selanjutnya?


Ikuti terus kisah selanjutnya ya, jangan lupa tambahkan ke Rak kalian.


Teruntuk kalian yang silent Readers, tolong komentar dong, kasih aku semangat gituuuh!

__ADS_1


Happy reading, miss u All.


__ADS_2