Diandra

Diandra
Bab 43


__ADS_3

Di temani Gama dan kedua orang tuanya, Dian meminta restu pada Mamanya. Tidak ada tangis air mata. Dian terlihat begitu tegar. Mungkin wanita cantik itu mulai ikhlas atas kepergian Mamanya. Clara juga berjanji di depan makam Denata, jika mulai sekarang Dian adalah putrinya. Bagian dari keluarganya. Jadi, dia dan keluarganya akan menjaga Dian dengan baik.


"Bagaimana kalau malam ini kamu menginap di rumah Mama. Kita makan malam di rumah. Mama akan memasak makanan kesukaan kamu"


Dian merasa terharu atas perhatian Mama Clara. Namun ia juga merasa tak enak hati jika merepotkan wanita itu. "Tidak apa, Ma. Aku pulang saja"


"Jangan sungkan begitu. Bukankah kita keluarga? Nanti kamu bisa tidur dengan Mama kalau kamu takut pada Gama"


Pria yang mereka bicarakan melirik ke arah keduanya dengan tatapan kesal. "Ayo cepat, sudah mulai petang"


"Pulang kerumah, Gam" pinta Clara


Gama hanya mengangguk, sementara Dian hanya bisa pasrah. Wanita cantik itu segera masuk ke dalam mobil Gama sebelum pria itu kembali menekan klakson seperti siang tadi. Begitu sabuk pengaman sudah selesai di pasang, Gama langsung menjalankan mobilnya.


"Mama itu sedikit pemaksa. Jadi jangan kaget kalau dia bersikap semaunya sendiri"


"Tidak apa. Aku justru senang, Mamamu begitu baik padaku"


"Percaya atau tidak, Mama seolah bisa menilai seseorang. Dia akan langsung baik pada orang jika merasa orang itu baik. Tapi kalau tidak, Mama akan bicara dan bersikap seperlunya saja"


Dian menatap Gama sekilas, lalu kembali menatap ke depan.


Ting


Satu pesan masuk ke ponsel Diandra. Tentu saja wanita itu langsung membukanya. Gama hanya melirik sekilas lalu kembali fokus menyetir.


Di, kalau kamu membaca pesanku. Segera telpon aku.


Dian segera menghubungi Rani, sepertinya ada hal penting.


[Hallo, Ran. Ada apa?]


[Kamu ada dimana? Kenapa tidak pernah mengabariku?]


Dian tersenyum, belakangan dirinya sangat sibuk hingga jarang mengabari Rani. Beberapa hari ini Rani dan Tri memang tidak tinggal dengannya lagi. Bayi dalam kandungan sahabatnya itu sepertinya tak mau tinggal di rumah mewah, Rani akan lemas dan tak punya tenaga saat dirumah. Tapi jika sedang di luar, wanita itu akan sehat. Jadilah mereka memutuskan untuk tinggal di rumah peninggalan orang tua Tri.


[Maafkan aku, beberapa hari ini aku begitu sibuk. Bang Tri juga sedang keluar kota jadi aku juga jarang bertemu dengannya. Besok aku akan mengunjungimu]


[Suamiku baru saja datang. Tadi dia sempat ke kantor, tapi katanya kamu sudah pulang]


[Ah ... Iya. Aku memang pulang lebih awal]


Keduanya sama - sama terdiam beberapa saat. [Kamu menyembunyikan apalagi dariku, hm?] tanya Rani dengan nada kesal

__ADS_1


[Akan aku ceritakan besok]


[Baiklah, aku tunggu besok. Oh ya, Kak Rey beberapa kali menghubungiku. Dia bilang dia tidak bisa menghubungimu karena kamu memblokir nomornya]


[Lalu?]


[Dia sangat menggangguku, Di. Saat mataku baru saja akan terpejam, ponselku lagi - lagi berbunyi karenanya!]


Dian terkekeh pelan, [Blokir saja nomornya]


[Nada bicaranya terdengar frustasi. Kalau bisa, coba bicaralah dengannya meski sekali. Hubungi dia]


Suara Rani yang cempreng membuat Gama bisa mendengar percakapan mereka. Lihatlah sekarang, wajah pria itu mulai terlihat kesal.


[Baiklah, aku matikan dulu panggilanku. Besok aku akan ke rumahmu]


"Mantan kekasihmu mencarimu?"


Tidak hanya tatapannya yang berubah, kini nada suara Gama pun terdengar dingin.


"Kamu cemburu?"


"Ya! Aku cemburu"


Deg


"Aku tidak akan membiarkan orang lain merebut sesuatu yang sudah menjadi milikku. Jadi berhenti memberi harapan pada para pecundang itu! Kalau sampai kamu masih melakukannya, maka aku akan menghukummu!"


Ancaman Gama terdengar menakutkan, tapi tidak bagi Dian. "Aku takut dengan ancamanmu" ejeknya dengan kekehan pelan


Baiklah, calon istriku sayang. Sepertinya kamu ingin merasakan hukuman dariku. Kalau begitu, akan ku buat kamu tidak akan pernah melupakan hukuman yang aku berikan.


🍀🍀🍀


"Ayo masuk. Jangan sungkan, anggap rumah sendiri. Kamu kan juga bagian dari keluarga ini" Clara begitu antusias. Ia menggandeng calon menantunya masuk ke dalam rumah.


"Gam, Cilla memperhatikan kita dari kamarnya" bisik David


Gama memilih tidak menoleh pada gadis belia itu. Biarlah dia di katakan kejam. Gama hanya tidak mau di anggap memberi harapan palsu pada Cilla. Perhatian dan kebaikannya selama ini saja, sudah Cilla salah artikan.


"Gam, bawa Dian ke kamarmu untuk istirahat. Mama dan Bi Sri akan menyiapkan makan malam"


"Aku akan membantu Mama"

__ADS_1


"Tidak usah, kamu pasti lelah setelah kerja seharian. Mandi dan istirahatlah sebentar di kamar Gama"


Dian sebenarnya merasa sungkan, tapi karena Clara terus melaranganya akhirnya Dian menuruti apa yang wanita itu katakan.


"Loh, kok Gamanya sudah hilang? Astaga! Anak itu benar - benar! Ya sudah kamu naik saja, kamar Gama yang nomor dua. Nanti Mama akan bawakan baju gantimu"


"Terima kasih, Ma. Kalau begitu aku ke atas dulu"


Dian mulai menaiki tangga, wanita cantik itu sebenarnya tahu dimana kamar Gama. Hanya saja, mungkin Mama Clara lupa.


Ceklek


Dian masuk dengan santai, terdengar suara gemericik air yang menandakan jika sang empunya kamar tengah mandi. Tak membuang waktu, Dian mengambil kemeja milik Gama dari lemari. Sengaja memilih warna putih supaya rencananya berhasil.


Kita lihat, siapa yang akan menghukum siapa!


Suara akhir tak terdengar lagi, artinya Gama baru saja selesai mandi. Dian bersiap menunggu Gama tepat di depan pintu kamar mandi. Tapi tak sengaja ia melihat Cilla sedang menatap ke arahnya.


Wah ... Ada beruang kecil rupanya. Baiklah, mari kita lihat seberapa besar nyali dan perasaannya.


Dian berdiri dengan pose seksinya. Tubunya yang putih mulus terlihat begitu menggoda. Di tambah lekuk tubuh yang terlihat jelas, pasti akan membuat siapapun yang melihatnya tergoda.


Ceklek


Gama mematung melihat Dian berdiri di depan pintu. Apalagi dengan kemeja miliknya yang di pakai oleh perempuan itu. Tubuh seksinya mampu membuat pria itu tergoda. Bahkan bukan hanya dirinya. Jika ada pria lain yang melihat Dian saat ini, Gama yakin pria itu akan langsung terpesona.


Dia pasti sengaja melakukan ini. Sial ... Diandra benar - benar menguji iman dan kesabaranku.


Gama berusaha bersikap biasa. Pria itu pergi melewati Dian begitu saja. Dengan santai Gama mengenakan kaosnya


"Kamu tidak tergoda padaku?" pancing Dian


Gama bergeming, berbeda dengan Cilla yang mulai cemburu melihat Dian berada di kamar Gama. Apalagi melihat pakaian yang Dian kenakan.


"Kenapa aku curiga denganmu ya? Jangan - jangan kamu itu penyuka sesama jenis"


Cup


Bibir Gama mendarat sempurna di atas bibir Diadra. Tidak hanya menempel, Gama juga menyesapnya pelan. Diandra membeku beberapa saat. Ia tak menyangka Gama malah menciumnya. Manik mata kesukaan Gama itu menatapnya lekat.


"Jangan pernah menggodaku, Diandra. Atau ... Akan ku buat kau mengandung benihku lebih cepat!"


Deg

__ADS_1


__ADS_2