
"Anak Mama sudah datang. Ayo masuk, Mama sudah menyiapkan makan siang untuk kalian berdua" sindir Clara. Bagaimana tidak kesal, panggilannya berkali - kali di abaikan. Gama janji akan membawa Dian pulang sebelum jam makan siang, nyatanya mereka baru datang jam setengah tiga sore.
"Maaf kami terlambat, Ma" ucap Dian tidak enak
"Kalian dari klinik?", Dian menatap Gama, meminta agar suaminya itu yang menjawab
"Tidak sempat" sahut putra Clara itu santai sembari masuk ke dalam rumah
"Memangnya dari tadi kemana saja sampai tidak sempat?" sebenarnya Mama Gama itu tahu kalau anak dan menantunya tidak pergi ke psikolog hari ini. Entah apa yang mereka berdua lakukan hingga membatalkan pertemuan dengan psikolog
"Kami ketiduran" sahut Gama lagi
Jengkel, begitulah yang Clara rasakan sekarang.
"Ya sudah kalian ke kamar dulu. Nanti Mama panggil kalau masakannya sudah selesai di hangatkan"
"Biar aku bantu ya, Ma"
"Jangan. Biar bibi yang saja. Kamu ke kamarlah dulu"
"Sudah, ayo"
Gama menarik tangan sang istri lalu mengajaknya ke kamar. Setibanya di kamar wajah Dian berubah kesal, "Semua ini karena kamu!"
"Kenapa memangnya?" tanya Gama sok tak tahu
"Ya karena itu!"
"Itu apa?"
"Ya yang itu tadi!" sahut Dian semakin kesal
"Memangnya itu tadi kenapa?"
"Jangan pura - pura tidak mengerti, Mas! Kamu itu ngeselin tahu! Aku jadi nggak enak sama Mama!"
Gama tertawa, "Mama juga pernah muda. Dia pasti paham kok. Apalagi kita ini pengantin baru"
"Pokoknya aku nggak mau aneh - aneh lagi!"
"Bercinta di dapur tidak ada yang aneh, Di. Kamu sudah merasakan sendiri bagaimana sensasinya, bukan?"
Bug
Dian melempar bantal sofa ke arah suaminya.
"Astaga, semakin kamu kesal. Semakin ingin lagi aku memakanmu!"
"Mas!!"
"Apa sih?" tanya Gama gemas
"Sudah lah, aku mau ke dapur saja", Dian beranjak namun Gama lebih dulu menahannya. "Kamu jangan aneh - aneh lagi ya. Kita ada di rumah Mama sekarang!"
"Memangnya kenapa? Mama justru semakin senang jika anak dan menantunya akur plus romantis seperti ini?" Gama membelai lembut wajah sang istri, "Kenapa aku tidak bertemu denganmu sejak dulu?"
"Kamu menyesal karena bertemu aku dengan statusku yang sudah janda?"
Gama menyentil hidung Diandra, membuat si empunya mengaduh, "Jauhkan pikiranmu dari hal - hal negatif. Aku menerimamu apa adanya"
"Lalu apa maksudmu berkata seperti itu?"
Gama mengecup bibir Dian sekilas, "Jika kita bertemu lebih awal, kamu tidak harus menderita selama ini"
Dian tersenyum, "Kamu selalu bisa membuatku tersentuh"
"Benarkah? Aku senang, karena secara tidak sadar kamu sudah bisa melihat ketulusanku"
"Menurutmu begitu?"
"Aku hanya perlu terus membuktikan kesungguhanku. Dan aku yakin, perlahan tapi pasti kamu akan jatuh cinta padaku"
__ADS_1
"MAKANAN SUDAH SIAP!!"
Keduanya terkekeh mendengar suara cempreng Mama Clara.
"Ayo kita turun, jangan buat Mama kesal lagi"
"Baiklah"
🍀🍀🍀
"Makan yang banyak. Kamu harus sehat menghadapi Gama!"
"Memangnya apa yang aku lakukan pada menantu Mama ini?" jawab Gama kesal
"Mama tahu kamu sering menyiksanya!"
"Ma ... Biarkan saja. Mereka masih muda. Mama seperti tidak pernah muda saja" bela David
"Papa memang yang terbaik!"
Clara menatap suami dan anaknya kesal
"Ayo kita makan saja sekarang" ucap Clara
Mereka berempat makan dengan suasana hangat. Bahkan sesekali melempar canda tawa.
"Gam, ada yang ingin Papa sampaikan"
"Ada apa, Pa?"
David menatap semua keluarganya bergantian, "Livia mencairkan uang dalam jumlah besar. Kita harus berhati - hati. Bisa saja dia sedang menyusun rencana untuk balas dendam"
"Aku tahu. Semalam sempat ada beberapa orang yang menyerangku. Tapi aku berhasil melawan"
Bukan hanya Dian, Clara dan David sama terkejutnya mendengar penuturan Gama.
"Jadi tadi malam, kamu-?" Dian menatap Gama dengan rasa bersalah
"Kamu tidak terluka kan?" tanya Clara khawatir
"Tidak, Ma. Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk mematai - matai Livia dan Cilla. Kita tidak bisa menganggap remeh mereka berdua"
"Yang mereka inginkan adalah aku" ucap Dian
"Tidak, Di. Bukan hanya kamu tapi aku juga. Livia sakit hati pada kita berdua" sahut Gama
"Bagaimana kalau kita lapor polisi saja?" usul Clara
"Tidak semudah itu, Ma. Harus ada kejahatan yang mereka lakukan baru kita bisa melapor pada pihak berwajib"
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa diam saja kan?"
Gama mengangguk, "Kita hanya perlu waspada", Gama menatap Dian, "Jangan terlalu di pikirkan, semua akan baik - baik saja"
"Tentu"
"Ya sudah. Sebaiknya kita sekarang istirahat. Besok kalian jadi menemui psikolog itu kan?"
"Jadi, Ma. Setelah jam makan siang kami akan ke klinik"
"Baiklah. Sekarang kalian istirahat saja. Kamu berdua juga akan istirahat"
🍀🍀🍀
Rutinitas setiap pagi kembali Dian dan Gama lakukan. Keduanya berangkat ke kantor bersama - sama. Tentu saja Gama harus mengantar Dian terlebih dahulu.
"Kamu harus hati - hati. Kabari aku kalau ada hal - hal mencurigakan. Kita bertemu lagi nanti siang"
"Iya, Mas. Kamu juga hati - hati ya. Jangan lupa memberiku kabar"
"Tentu. Kalau begitu aku pergi dulu"
__ADS_1
Dian masuk ke dalam kantor setelah mobil Gama meninggalkan pelataran DV Grup. Wanita cantik itu segera menuju ke ruanganya. Seperti biasa, banyak karyawan yang menyapanya.
"Selamat pagi, Bang. Selamat pagi Ran" sapa Dian
"Pagi istrinya Gama"
Dian segera duduk di kursinya, kemudian mulai mengerjakan pekerjaannya seperti biasa. Fokusnya terganggu mendengar Tani tertawa cekikikan,
"Ada apa dengan istrimu, Bang?"
"Entahlah, dia sepertinya punya kesibukan baru"
Penasaran, Dian mendekati Rani dan mengintip apa yang membuat sahabatnya terlihat begitu asyik.
Aku suka bunga darimu, Mas Saka. Terima kasih banyak. Aku juga suka hadiah yang kamu kirimkan
"Ran!!"
"Astaga, kamu mengagetkan saja sih"
"Kamu sedang apa? Kenapa mengirim pesan seperti itu?"
"Aku sedang mengerjai si lampir!"
"Kamu membuat masalah, Ran"
"Tentu saja tidak. Lihatlah" Rani menunjukkan chat nya bersama Vika, "Aku yakin saat ini Vika sangat marah pada Saka"
"Jangan keterlaluan mengerjai orang. Nanti kamu sendiri yang menyesal" ucap Tri
"Iya. Iya"
Dian kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Saking banyaknya pekerjaan yang dilakukan, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Dian mengecek ponselnya dan ada pesan dari Gama dan sama sekali belum ia balas.
"Aku keluar sebentar ya. Gama sudah dalam perjalanan"
"Baiklah. Kami juga akan makan siang. Kamu mau barengan?"
"Tidak, lain kali saja. Aku akan ke suatu tempat sebentar"
"Ah, iya deh yang pengantin baru. Kami pergi dulu ya"
"Hm, hati - hati"
Setelah Tri dan Rani pergi, tak lama ada pesan dari Gama yang mengatakan jika dia sudah ada di depan lobi. Dian segera turun tak lupa membawa tas dan ponselnya.
"Kamu sudah lama?"
"Baru saja sampai"
Gama mengemudikan mobilnya, begitu Dian masuk ke dalam. "Kita makan dulu, ya"
"Mau makan dimana?"
"Korean food kamu mau?" tanya Gama
"Boleh lah"
Gama tersenyum pada istrinya, dia kembali melanjutkan mengemudi mobil menuju ke restoran Korea. Namun di tengah perjalanan, Gama melihat jika mobilnya di ikuti. Dan Dian pun menyadari hal itu
"Jangan panik. Tetap waspada"
"Hm"
Akhirnya mereka berdua tiba di salah satu resto Korea. Gama dan Dian turun dari mobil. Mobil yang mengikuti keduanya, rupanya juga ikut berhenti disana. Tak lama terlihat seseorang keluar.
"Hallo Diandra!! Senang bisa bertemu denganmu lagi!"
"Nyonya Livia!"
__ADS_1