Diandra

Diandra
Bab 60


__ADS_3

Dian tertawa, "Itu tidak akan pernah terjadi! Kamu menangis darah sekalipun, Gama tidak akan pernah menjadi milikmu!" Calon istri Gama itu menatap Cilla sengit, "Satu lagi! Aku bukan Kakakmu! Aku anak tunggal! Aku tidak punya saudara! Dan aku juga yatim piatu!"


Cilla menatap Dian dengan tawa tak percaya, "Bagaimana bisa kamu menganggap dirimu yatim piatu! Kamu masih memiliki Papa!"


"Siapa? Aditama?!" tanya Dian jengah, "Dia hanya memiliki satu anak dan itu kamu!"


"Tali dia juga Papamu!"


Dian tertawa sinis, "Papa? Coba tanyakan padanya apa pernah dia mengingatku? Pernah dia menemuiku? Pernahkah dia memberiku nafkah materi dan juga kasih sayang? Nothing! Semua hanya dia berikan untukmu!! Lalu apa bedanya aku dengan anak yatim? Sama saja!!"


Cilla menatap Dian lekat, "Tapi-"


"Jangan membicarakan omong kosong denganku! Jangan jadikan alasan saudara untuk menarik simpatiku. Karena aku tidak tertarik! Aku sudah menemukan keluarga baru yang sebenarnya! Jadi jangan ganggu aku lagi! Dan jangan pernah berfikir untuk bisa merebutnya dariku! Karena sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"


"Kamu tidak bisa egosi seperti itu?!"


"Egois? Aku?" tunjuk Dian pada dirimu sendiri, "Berkacalah sebelum menghina orang! Kalau kamu mencari orang yang paling egois di antara kita, jawabannya adalah Mamamu!!"


"Kita pergi sekarang, nanti terlambat!" ajak Gama


Keduanya meninggalkan Cilla yang masih berdiam di ruang tamu.


"Aku tidak akan menyerah, aku akan tetap memperjuangkan cintaku!"


🍀🍀🍀


"Kita mau pergi kemana?"


Gama melirik Dian, "Kejutan"


"Kamu selalu saja membuatku kesal!"


Gama terkekeh, ia terus fokus menyetir mobil. Tak menghiraukan wajah Dian yang memberenggut kesal.


Mobil yang di kendarai oleh Gama berhenti disalah satu toko yang tidak terlalu ramai. Namun terlihat estetik dari luar.


"Ayo" ajak Gama


Dian turun dari mobil lalu mengikuti Gama memasuki toko tersebut. Pemandangan pertama yang akan terlihat adalah nuansa alam. Ada banyak hiasan berbentuk pepohonan. Tidak terlihat seperti toko tapi lebih seperti sebuah taman. Bahkan ada kursi dan meja sebanyak dua pasang di tengah ruangan. Bagian kanan ruangan terlihat ada beberapa etalase. Dan bagian kiri terlihat ada seperti dapur kecil terbuka. Kesan yang ditimbulkan pertama kali saat memasuki toki ini adalah unik.


"Selamat pagi, Bro. Senang bisa melihatmu lagi!" sapa seorang pria yang Dian yakini adalah owner toko ini


"Selamat pagi, Win. Bagaimana kabarmu?"

__ADS_1


"Aku baik" Darwin melirik Dian, "Dia calon istrimu?"


"Kau benar. Kenalkan ini Diandra" Gama mengenalkan temannya pada Dian, "Ini temanku, Di. Namanya Darwin"


Darwin bersalaman dengan Diandra, "Senang bisa bertemu denganmu. Aku teman kuliah Gama dulu"


"Senang juga bisa bertemu denganmu. Aku suka dengan galerymu" puji Dian


"Terima kasih" Darwin lalu menatap Dian lamat. "Apa calon istrimu adalah owner DV Jawelry?" tanya Darwin berbisik


"Ya"


Darwin mendelik, "Kamu tidak salah membawanya kemari?"


"Memangnya kenapa?"


Darwin membawa Gama sedikit menjauh dari Dian, "Dia itu pemilik perusahaan perhiasan besar. Kamu malah membelikannya cincin kawin di galeryku? Tidak bisa di percaya!"


"Apa ada yang salah jika aku membeli perhiasan di galerymu?" tanya Gama santai


Darwin hanya mampu berdecak, ia kembali mengamati Dian yang tampak melihat - lihat perhiasan buatannya.


Dian sendiri tampak tengah mengamati perhiasan yang berada di dalam etalase. Jika dia tidak salah, perhiasan disini terbuat dari emas dan emas putih. Meski demikian, keindahannya tak kalah dengan perhiasan mahal lainnya.


Darwin segera menghampiri Dian lalu mengambilkan cincin yang Dian inginkan.


"Kamu menyukainya?" tanya Darwin


"Tentu. Desainnya cantik. Selain itu ada ukiran bulan dan bintang di balik cincinnya"


Darwin menatap Gama, ia dibuat kagum pada sosok Dian. "Kamu jeli juga rupanya"


"Itulah yang membuat cincinnya terlihat berbeda. Apa yang membuatmu menyelipkan ukiran bulan dan bintang itu?"


"Kalau soal itu, tanyakan pada yang merequestnya"


Dian menatap Gama, "Kamu yang memesannya?"


Gama mengangguk, "Aku sudah menduga kalau kamu akan tertarik dengan cincin itu"


"Tidak ada alasan untuk menolak cincin secantik ini"


Gama mengambil cincin itu kemudian menyematkannya di jari manis Diandra. "Bulan akan semakin bersinar jika bintang juga bersinar. Mereka adalah pasangan tak terpisahkan. Bahkan jika cuaca sedang mendung, keduanya sama - sama tidak menampakkan cahaya. Tidak ada filosofi berarti dariku saat memesan cincin ini. Aku hanya ingin menjadi seperti bintang yang selalu bersinar bersama bulan. Aku berharap rumah tangga kita akan seperti bulan dan bintang yang selalu bersama. Kita akan melewati semuanya berdua, baik suka maupun duka"

__ADS_1


Terharu, itulah yang Dian rasakan. Sebelumnya, ia mengenal Gama sebagai pria dingin. Tapi siapa sangka, rupanya dia juga menyimpan sisi romantis.


"Sejak kapan kamu belajar menggombal!"


Prrfff


Darwin tak mampu menahan tawanya, pria itu tertawa terpingkal - pingkal.


"Apa yang lucu, Win?" tanya Gama kesal


"Maaf! Tadi aku sudah baper. Orang sepertimu bisa juga bersikap romantis. Kamu sudah seperti romeo yang berusaha mendapatkan hati juliet. Aku kira si juliet akan terharu, nyatanya dia malah meragukanmu!"


Diam ikut tertawa, "Jujur aku terbawa suasana, Win. Hanya saja setelah melihat wajah Gama, aku jadi ragu. Benarkah dia Gama yang aku kenal?"


Gama kembali berdecak, "Bungkus cincinnya, Win!"


"Loh, cincinnya mau kamu ambil lagi? Dia sudah terpasang di jari manisku" Dian menunjukkan cincinnya yang berada di jarinya


"Kamu akan memakainya setelah aku selesai mengucapkan akad. Sekarang lepaskan dulu. Biar Darwin membungkusnya!"


"Ish, kamu ternyata masih sama. Menyebalkan!" Dian membuka cincinnya kemudian memberikannya pada Darwin


"Dia memang menyebalkan sejak dulu" imbuh Darwin yang langsung mendapat tatapan tajam dari Gama, "Damai, Bro. Oke aku bungkus sekarang"


🍀🍀🍀


Seorang gadis tengah memilih gaun pengantin. Dia tampak memperhatikan satu - persatu Gaun yang ada di depannya.


"Aku mau yang ini"


"Baik, kita bisa fitting sekarang, Kak" ucap karyawan butik, "Em ... untuk tuxedonya apa mau dipilih sekalian?"


"Calon suamiku sudah memilihnya"


"Oh, baiklah. Mari saya antar untuk mencoba gaunnya"


Cilla mengikuti karyawan tersebut menuju ke fitting room. Gaun berwarna putih tulang menjadi pilihannya. Dengan belahan dada rendah yang memperlihatkan bagian depan, gaun itu terlihat seksi saat ia kenakan.


*Kamu begitu cantik, Cilla. Dan aku yakin, kamulah yang akan menjadi mempelai wanitanya!


🍀🍀🍀


Kira - kira Cilla mau merencanakan apa ya*?

__ADS_1


__ADS_2