
...HAPPY READING...
...----------------...
Pagi itu Andara dan Zevania sudah pergi dari rumah sakit, sementara Alexander tidak mengetahui kepergian mereka, lantaran ia tertidur sangat pulas pada malam itu.
“Sial... kenapa aku kecolongan, dasar bodoh! Kenap harus tertidur,” umpatnya mengumpati dirinya sendiri.
“Selamat pagi Tuan Alexander, gimana keadaannya sudah membaik?” tanya seorang suster itu dengan genit menggoda Alexander.
Namun Alexander hanya menatap tajam pada seorang suster yang mencoba menggodanya.
“Anda tidak lihat saya sudah baik-baik saja!” ucapnya dingin.
Namun seketika Alexander, menatap suster yang hanya menggunakan rok pendek itu, ia menatapnya dari atas hingga bawah, kemudian meminta suster itu mendekat ke arahnya.
“Coba kau mendekat padaku!” perintahnya terhadap suster yang lumayan cantik itu.
Alexander berseringai, dengan pikiran kotor yang ada di dalam otaknya.
‘Kalau di lihat-lihat Suster ini lumayan cantik juga,' batinnya.
Perlahan suster itu mendekat padanya.
“Lebih dekat lagi! Saya katakan lebih dekat lagi!” sentaknya.
“Ba-baik Tuan,” ucap suster tersebut gugup.
Dengan segera Alexander menerkam suster itu, membuatnya terlentang di atas ranjang itu dan menikmati suster tersebut.
Sesaat kemudian adegan itupun usai, Alexander meninggalkan segepok uang untuk suster tersebut, sementara suster itu meringis kesakitan di bagian pangkalnya.
Namun ia puas dengan mendapatkan uang dari Alexander.
“Dasar wanita murahan, bilang saja kalau lagi butuh uang, asalkan kau mempunyai barang yang dapat kau tukar!” ucap Alexander terhadap suster itu.
Kemudian Alexander segera merapikan pakaiannya, dan bergegas untuk pergi, mencari Andara pujaan hatinya.
Sementara Andara, rupanya di antarkan pulang oleh sahabatnya. Mereka telah sampai di rumah megah kediaman keluarga Andara.
Andara dan Zevania kini berjalan bersamaan memasuki rumah megah itu, di sambut oleh kedua orang tuanya.
“Ya ampun... Andara kamu membuat khawatir Mama saja Nak!” ucap Nessa.
Sekilas menoleh pada Zevania, tersenyum hangat padanya.
__ADS_1
“Ayo silahkan masuk,” ucap Nessa mengajak Zevania.
Namun di dalam rumah rupanya sudah ada yang menunggu Andara, yaitu Hameed ayahnya Andara yang berdarah Arab, sementara Nessa berdarah indo.
“Dari mana saja kamu Dara? Daddy dan Mama kamu sangat khawatir, kamu ini selalu saja membuat kita khawatir!” ucap Hameed dingin.
“Maafkan Andara Dad’s... maaf telah membuat kalian khawatir,” ucap Andara merasa bersalah.
“Ya sudah cepat kamu sarapan, Daddy akan mengajakmu pergi ke suatu tempat,” ucap Hameed seketika Andara terdiam dan bertanya dalam hatinya.
‘Suatu tempat, apa mungkin Daddy akan membawa aku kembali ke Indonesia, untuk bertemu dengan Diandra, apakah Diandra masih mengingatku,” batin Andara melamun.
“Dara... Andara!” ucap Zevania menyadarkannya.
Seketika Andara tersadar dari lamunannya. “Ah iya... kenapa Zee?” ucap Andara.
“Kamu kok, malah bengong sih? Kenapa?” tanya Zevania.
“Tidak... tidak ada apa-apa! Ayo masuk,” ucap Andara melangkahkan kakinya.
Kemudian mereka berdua masuk secara bersamaan, setelah menerima ceramah dari Hameed.
“Kamu tunggu sebentar ya? Aku mau ke kamar dulu,” ucap Andara berjalan memasuki kamarnya.
Namun Zevania masih bertanya-tanya dalam hatinya, terkait seseorang yang telah melecehkan Andara pada saat malam itu.
‘Sebenarnya yang melecehkan kamu siapa Andara, kenapa kamu tidak mau cerita sama aku,' batin Zevania.
Kemunculan Zevania bangkit, ia memilih menyelidiki sendiri soal siapa yang telah melecehkan Andara, Zevania berpameran pada kedua orang tua Andara yang masih berada di meja makan.
“Om... Tante... Zevania pamit ya! Salam untuk Andara, Zevania ada keperluan mendadak soalnya,” ujar Zevania. Kemudian Nessa dan Hameed menimpalinya.
“Owh iya... makasih ya, sudah mau mengantarkan Andara, kamu enggak ikut sarapan sekalian sama Om dan Tante Zevania?”
“Enggak Tante... Lain kali saja, nanti Zevania pasti mampir kok!” seru Zevania menyalim tangan kedua orang tua Andara.
“Hati-hati di jalannya sayang...,” ucap Nessa tersenyum.
Kemudian Zevania pergi dari rumah Andara, dengan kecepatan sedang ia melajukan mobil sportnya.
Andara yang sedang mengganti pakaiannya, tersadar mendengar suara mobil Zevania keluar dari halaman rumahnya.
Andara segera beranjak untuk menghampiri, namun nihil Zevania telah pergi.
“Zevania pergi ya Ma?” tanya Andara berdiri di atas tangga.
__ADS_1
Sekilas Nessa menimpali putrinya, meskipun Andara bukan anak kandungnya, Nessa sangat menyayanginya seperti menyayangi anak kandungnya.
“Iya katanya dia ada keperluan lain sayang, sudah sini ayo sarapan. Nanti kita jemputan adek kamu ke bandara!” seru Nessa terhadap Andara.
Perlahan Andara menarik kursi di meja makan, lalu meletakan pantatnya. Kemudian bertanya pada ayahnya yang akan membawanya ke suatu tempat.
“Oyah... Daddy mau ajak Dara pergi ke suatu tempat, tempat apa itu Dad’s?”
“Yaitu Mama kamu sudah menjawabnya!” ucap Hameed tersenyum menatap putrinya itu.
“Owh... kirain Andara mau ke mana? Ternyata jemput Ade,” ucapnya seraya mengoleskan selai di rotinya.
“Kamu kira memangnya Daddy mau ajak kamu jalan ke mana hem...,” ucap Nessa tersenyum mengelus puncak kepala putrinya.
Andara menelan lagi ucapan yang hampir di lontarkannya, lantaran Andara tidak ingin merusak suasana keluarga mereka yang sudah baik-baik saja, tanpa di bayang-bayang oleh Sessi ibu kandungnya, yang selalu ingin memisahkan ayahnya dari ibu tirinya.
Kemudian Andara kembali menimpali Nessa. “ Enggak... Dara kira Daddy mau ngajakin kita makan di luar Ma, itu saja kok!” ucapnya tersenyum, menyembunyikan bait kata yang akan ia ucapkan.
Sontak saja Hameed tertawa dengan tingkah putri sulungnya itu. “Kamu ini ada-ada saja Andara, sudah gede masih saja ingin di ajak jalan bareng Daddy dan di traktirin, ish dasar gratisan melulu maunya,” ucap Hameed mengelus puncak kepala putrinya.
“Iya ya Mas, padahal anak kita ini duitnya sudah segunung, secara model yang mendunia gitu,” ucap Nessa memuji putri sulungnya.
“Ishhh... Mama sama Daddy, apa-apaan sih! Walaupun Andara sudah jadi model yang mendunia, tapikan... yang paling banyak uangnya kan Daddy,” ucap Andara balik memuji orang tuanya.
“Sudah-sudah bercandanya udahan, sebentar lagi Adek kamu sampe bandara,” ucap Hameed sambil melihat arloji di tangannya.
Kembali Andara segera bersiap, mengambil tas di kamarnya, begitu juga dengan Nessa ibunya.
“Kalian sudah siap?” tanya Hameed merangkul dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
“Siap dong Mas...,” ucap Nessa menimpali suaminya.
“Siap dong Dad’s...,” ucap Andara.
Kemudian mereka memasuki mobil, segera bergegas menuju bandara internasional Turkey.
Namun rupanya Alexander sedang mengawasi gerak gerik mereka, Alexander mengawai Andara dari dalam mobilnya.
“Tidak salah aku memilih kamu jadi istriku Andara, ternyata kau dari keluarga kaya keturunan Arab,” gumam Alexander tersenyum menyeringai.
Kemudian ia mengikuti mobil Hameed dari belakang, hati Alexander bergeming lantaran mobil keluarga Andara menuju bandara, ia berpikir jika keluarga itu akan pergi meninggalkan Turkey.
“Kenapa mereka menuju Bandara? Tidak, ini tidak boleh dibiarkan Andaraku tidak boleh pergi ke manapun,” gumamnya.
Alexander mulai gusar, lantaran perempuan yang sangat di cintainya akan pergi meninggalkannya dirinya.
__ADS_1