
Dirga masih asyik bermain game di ponselnya menghabiskan jam kosong sembari menunggu bel istirahat berbunyi. Sekarang memang jam kosong bagi kelas mereka. Murid-murid kelas mereka masih berada di dalam kelas, namun mereka tidak belajar untuk jam ini karena guru yang mengajar tidak masuk. Jadi, mereka hanya duduk di dalam kelas sambil menunggu waktu istirahat tiba.
Beberapa orang membuat kelompok mereka masing-masing, mengobrol, bertukar cerita, bahkan tertawa lepas. Tapi tidak dengan Dirga, Rahman dan Udik, mereka bertiga fokus dengan kesibukan sendiri-sendiri, tak ada obrolan satu sama lain, karena hanya menatap layar ponsel masing-masing.
Waktu kosong memang sering diisi dengan menyibukkan diri sendiri, terkhususnya Dirga yang sampai saat ini masih dikelilingi oleh masalah pribadinya. Dirga lebih banyak menyibukkan diri saat-saat waktu seperti ini dibandingkan mengobrol gak jelas, atau membahas hal-hal menyenangkan seperti orang-orang pada umumnya.
Ayu yang sedari tadi mengobrol bersama Rafika beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan mendekati ketiga teman cowoknya itu. Berhenti di samping Dirga, Ayu langsung merampas ponsel milik temannya itu.
Mata Dirga langsung tertuju pada Ayu yang begitu beraninya mengganggu kesenangannya sekarang ini. Dirga berdiri, menatap Ayu dengan tatapan seramnya. “Mau ngapain lagi sih lo?” tanya Dirga yang tidak suka diganggu saat sedang nyaman.
Ayu menaikkan sedikit dagunya, menghadapi Dirga dengan santai. “Ngapain nge-game mulu.”
Dirga ingin merebut kembali ponselnya, namun Ayu tidak mau memberikan ponsel itu begitu saja kepadanya. Ayu seakan berkuasa atas barang milik Dirga.
“Game gak akan buat lo tenang. Lo pikir dengan main game masalah lo yang kemarin-kemarin selesai?” hardik Ayu.
Dirga diam.
“Gak perlu jadi nakal buat nyari kebahagiaan, Di!”
Dirga terdiam menatap Ayu.
“Lo itu harusnya nyari cara buat nyelesain masalah lo! Bukan malah nge-game mulu.”
Rafika yang melihat Ayu terus membentak di hadapan Dirga memutuskan untuk beranjak dari kursinya dan menghentikan tindakan temannya itu. Rafika merampas ponsel milik Dirga secara langsung dari tangan Ayu begitu saja.
“Ehh, lo mau ngapain, Ra? Kembalikan,” kata Ayu meminta agar Rafika mengembalikan ponsel Dirga padanya.
Namun, rasa kasihan Rafika terhadap Dirga keluar begitu saja. Rafika memberikan ponsel itu kepada Dirga. Dan dengan cepat Dirga mengambilnya tanpa bisa Ayu cegah.
Tatapan Rafika kini mengarah ke Ayu. “Lo jangan gitu, Yu. Emang dia sedang ada masalah, tapi nggak harus ngebuat seakan sepenuhnya salah dia sendiri. Dia juga paham dengan keadaannya sekarang ini, Yu. Lo kan tahu gimana keadaan keluarganya, harusnya lo coba nenangin dia, bukan malah memarahinya.” Rafika mengingatkan temannya itu atas tindakan Ayu tadi yang dirasanya berlebihan. Mau apa sih Rafika ini sebenarnya?
Dirga sendiri terpaku menatap Rafika dan Ayu yang sedang cekcok gara-gara dia. Perhatian apa yang diberikan Rafika kali ini, Dirga sendiri pun bahkan tidak pernah berharap kalau harus terus-terusan dibela olehnya, belum pernah Dirga meminta agar Rafika membelanya ketika Ayu memberinya nasihat. Namun kali ini Rafika kembali membela Dirga di hadapan orang banyak.
Ayu tertunduk merasa bersalah atas apa yang dia lakukan tadi terhadap Dirga. Bola matanya melihat ke semua teman-teman di dalam kelas yang memperhatikan mereka sedang cekcok. Ayu saat ini sangat ingin kalau Dirga itu bisa hidup seperti orang biasanya, bebas dari pemikiran masalah setiap harinya, tidak pernah ada lagi yang namanya keributan antara dia maupun keluarganya, makanya Ayu berani memberikan nasihat kepada teman dekatnya itu.
Andai Dirga punya perasaan lain terhadap Ayu, bisa saja mereka berdua sudah memiliki hubungan spesial, tapi Dirga tidak pernah menganggap Ayu lebih dari sekadar teman dekat. Walaupun mereka berdua sangat dekat setiap harinya, tapi perhatian itu hanya sebagai teman, gak lebih.
“Gue minta maaf sama lo, Di. Tapi gue harap lo gak terus-terusan nyaman dengan dunia lo sendiri, di sekitar lo ada orang lain. Semunya perhatian sama lo, gak seharusnya lo menyendiri mulu, nyaman dengan kesibukan lo,” ujar Ayu merasa bersalah.
“Udah, gue gak pernah nanggapin perkataan lo berlebihan kok, Yu. Lo santai aja kali. Gue juga tahu kok kenapa lo bersikap gini ke gue. Lo orang yang dari dulu emang menatap gue, Yu.”
Situasi saat ini menjadi sangat serius lantaran Rafika tadi yang menengahi mereka berdua.
“Lo ada benarnya juga, Yu. Tapi gak perlu berlebihan menasihatinya, Dirga butuh semangat buat masalahnya,” kata Rafika.
Ada apa dengan Rafika dan Dirga saat ini? Perhatian itu seolah menjadi sinyal kedekatan mereka.
“Dibelain terus sama Si Enengnya, Si Aa gimana, sih?” cibir Udik, masih asyik dengan ponselnya.
Rahman tertawa mendengar perkataan Udik yang seolah sudah sangat setuju kalau Dirga dan Rafika itu cocok. Udik memang gitu sih orangnya, gak pernah sekalipun gak ganggu Dirga.
Dirga menutup mulut Udik dengan tangannya, agar temannya itu tidak kembali asal bicara. Udik memberontak menyingkirkan tangan Dirga dari mulutnya. Lepas. Udik menghela napasnya lega. Dirga mulai tertawa melihat ekspresi Udik yang sangat lucu, ketakutan.
“Udah-udah, jangan bercanda mulu,” ujar Rafika.
“Iya, Neng.” Kembali Udik seolah menyindir Dirga. Membalas perkataan Rafika, tapi melihatnya ke arah Dirga.
“Nah, tuh bel istirahat bunyi,” ucap Rahman ketika mendengar bel istirahat benar-benar berbunyi. Ponselnya langsung disimpan kembali ke dalam saku, dia berdiri. “Di, go to kantin?” ajak Rahman.
Tanpa membalas perkataan Rahman, Dirga berjalan keluar kelas. Teman-temannya mengekor dari belakang. Tiba-tiba langkah kaki Dirga terhenti karena ada salah seorang siswi kelas sepuluh mencegahnya. Siswi itu bilang kalau Dirga dipanggil kepala sekolah untuk segera pergi ke ruangannya. Setelahnya siswi itu langsung pergi meninggalkan Dirga.
Dirga sama sekali tidak kaget mendengar kalau dia kembali dipanggil kepala sekolah, hal itu sudah diduga sebelumnya. Itu pasti urusan surat panggilan kemarin, tidak mungkin masalah baru lagi. Dirga sudah tahu itu dan dia akan pergi ke sana.
“Lo kok santai-santai aja sih, Di?” tanya Udik heran melihat ekspresi Dirga memang sangat santai ketika tahu dicari kepala sekolah.
“Masalah surat panggilan kemarin ya, Di?” tebak Rafika.
“Buruan gih ke sana. Entar jadi tambah ribet kalau diundur-undur mulu,” suruh Ayu.
Padahal mereka berlima mau pergi ke kantin bersama, tapi rencana itu terhenti lantaran Dirga mendapatkan panggilan dari kepala sekolah yang memintanya untuk segera menemuinya. Dengan langkah santai, Dirga segera menuju kantor. Dan keempat temannya menunggu kabar baik dari Dirga di kantin saja.
__ADS_1
Dirga masuk ke toilet terlebih dahulu sebelum melanjutkan langkahnya menuju kantor. Dia merapikan dulu cara berpakaiannya. Mimpi apa Dirga semalam? Kenapa hari ini dia sangat ingin terlihat rapi saat mau ke kantor. Para murid SMA Cakrawala mungkin akan tercengang melihat penampilan Dirga saat keluar dari toilet nanti.
Selesai dari toilet, Dirga keluar ingin melanjutkan kembali menuju kantor.
“Mimpi apaan lo semalam, rapi banget hari ini, Di?” tanya seorang siswa yang hendak masuk ke toilet. Siswa itu heran melihat cara berpakaian Dirga yang sangat rapi, baju dimasukkan, dasi dipakai, rambut panjangnya terlihat seperti disisir rapi.
Dirga tidak menghiraukan pertanyaan dari orang itu, dia lanjut melangkahkan kakinya menuju kantor untuk segera memenuhi panggilan kepala sekolah.
Sepanjang jalan menuju kantor Dirga terus dipandangi para murid dengan penampilannya sekarang ini. Tidak sedikit juga yang merekam dengan ponsel mereka, bahkan karena penampilannya yang rapi itu membuat beberapa siswi kagum dengannya. Beberapa kali juga siswi-siswi di sekolah menghentikan langkah Dirga hanya untuk menggenggam tangan, atau menyentuh Dirga sebentar karena dia memang terlihat kalem dengan pakaian yang rapi.
“Itu benar Dirga? Sumpah, keren banget kalau dia kalem. Dirga ... lo kok ganteng banget sih.”
Dirga menghentikan langkahnya lagi, berbalik badan melihat ke orang yang menanyakan kebenaran penampilannya yang rapi kali ini. Dirga mendekati siswi itu, menatapnya sangat dekat sambil menggenggam tangan siswi itu.
“Kenapa? Lo mau nomor gue? Biar bisa chatingan entar,” rayu Dirga.
Sumpah. Demi apa Dirga mau membagi nomornya. Selama ini dia sangat tertutup akan privasinya, tapi kenapa sekarang dia menawarkan nomornya pada cewek lain. Perkataan Dirga itu sontak saja membuat siswi yang dirayunya langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya. Wajah siswi itu memerah akan tingkah laku Dirga terhadapnya. Siswi itu sangat girang saat detik-detik Dirga ingin memberikan nomornya.
Dirga mengambil ponsel siswi itu. Jari-jarinya mulai mengetikkan beberapa angka, setelahnya memberikan kembali ponsel itu pada siswi tadi.
Kesenangan siswi itu semakin memuncak kala melihat angka-angka yang tertulis di layar ponselnya. Dirga benar memberikan nomornya pada siswi itu, tapi ekspresi siswi itu langsung berubah sendu. Kerutan di dahinya terlihat jelas. Apa yang siswi itu inginkan tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
“Empat angkanya lo tanya ke Mbah Google, kali aja dia mau ngasih tahu. Ohh iya, jangan lupa kalau udah ketemu isiin pulsanya, ya,” ucap Dirga dengan senyuman menggodanya. Lalu dia melanjutkan langkah kakinya menuju kantor. Tanpa ada rasa tanggung jawab atas kelakuannya tadi, Dirga meninggalkan siswi itu begitu saja.
Sialan! Orang sudah berharap dapat nomor dia, ehh dianya malah php-in anak orang. Kan goblok Si Dirga. Anak orang sudah girang mau nge-save nomornya, malah kecewa lantaran kurang empat angka lagi, gimana mau disimpan. Dirga! Lo bisa aja buat anak orang berharap.
Bagi Dirga itu hal biasa, gak usah diseriusin juga kali. Sudah biasa bagi Dirga ngebuat anak orang berharap. Raja php nih Dirga. Beberapa siswi sih sudah tahu gimana sikap Dirga sebenarnya, dia orangnya tertutup kalau tentang pribadi, lagian dia itu cuek. Untungnya menang ganteng sih.
Dirga langsung masuk ke ruangan kepala sekolah ketika sudah berada di kantor. Harapan yang Dirga inginkan bahwa salah satu orang tuanya datang ke sekolah memenuhi surat panggilan itu ternyata harus sirna. Di dalam ruangan kepala sekolah tidak ada orang tuanya, yang ada hanya Bi Siti sedang duduk di hadapan Pak Burhan. Sontak saja hal ini melukai perasaan penuh harap Dirga.
Pintu ditutup pelan. Dirga masih terdiam melihat Bi Siti yang datang. Apa yang menjadi keinginannya kali ini gak bisa dipenuhi oleh orang tuanya. Kekesalan Dirga menggumpal di dalam benaknya setelah tahu tidak ada orang tuanya yang datang. Andai ruangan ini bukan ruangan Pak Burhan, Dirga pasti akan berteriak kesal meluapkan amarahnya.
Cuma satu yang Dirga inginkan saat ini, cukup salah satu orang tuanya datang ke sekolah, jangan diwakilkan oleh siapa pun kecuali orang tuanya! Wajah Dirga yang awal mula terlihat senyum karena berharap kedatangan orang tuanya, kini berubah drastis ditekuk bersedih. Sama sekali tidak dapat Dirga duga sebelumnya bahwa lagi-lagi Bi Siti yang datang.
Dengan berat hati Dirga duduk di kursi samping Bi Siti menghadap ke Pak Burhan.
Pak Burhan menjelaskan semuanya kenapa Dirga sampai dapat surat panggilan kepada Bi Siti―sebagai wakil Dirga. Pak Burhan juga menjelaskan sikap Dirga saat di sekolah kepada Bi Siti. Hampir semuanya tentang keburukan Dirga saat di sekolah, namun dengan baik hatinya Pak Burhan masih membela Dirga dengan prestasi yang dulu sempat Dirga dapatkan, salah satunya menjadi pemain basket terbaik untuk SMA Cakrawala ini. Dan pernah mengantarkan SMA Cakrawala menang dalam kejuaraan basket tingkat SMA.
Sedangkan di kursinya Dirga sendiri terdiam tidak pernah sekalipun bicara, pertanyaan dari Pak Burhan bahkan tak pernah dia jawab. Pak Burhan yang ingin mengajaknya mengobrol tak pernah direspons. Kekesalan Dirga pada kedua orang tuanya memang menjadikan dia terus terpikirkan. Dirga tertunduk diam mendengarkan semua pembahasan Bi Siti dan Pak Burhan di dalam ruangan yang menjadikan dia seperti patung.
“Sudah, sekarang kamu silakan kembali ke kelas lagi, dan jangan pernah buat masalah lagi setelah ini,” kata Pak Burhan setelah semuanya selesai dibahas. Dirga mendapatkan peringatan lagi dari kepala sekolah.
“Kalau begitu kami permisi dulu, Pak,” ucap Bi Siti mewakili Dirga. Mereka keluar dari ruangan kepala sekolah.
Dirga mengantar Bi Siti menuju depan gerbang sekolahnya menunggu angkot karena dia sendiri tidak bisa mengantarnya langsung pulang ke rumah. Tangan Dirga melambai kepada angkot yang hendak melewati mereka. Angkot itu berhenti, dan Bi Siti segera naik. Dirga kembali masuk ke area sekolah dengan rasa kesal yang masih terbenam dalam hatinya. Dirga berjalan menuju kantin sekolah, sebelum itu dia kembali dengan sikapnya awal, bajunya dikeluarkan lagi.
“Ada apaan lagi, Di?” tanya Ayu ketika Dirga baru saja duduk di kursinya di kantin.
Masih diam dengan rasa kekesalan tadi. Dirga menyantap makanan yang dipesannya tadi tanpa menjawab pertanyaan dari Ayu. Dengan tergesa-gesa Dirga menghabiskan makanan dan minumannya.
Ayu, Rafika, Rahman dan Udik hanya menyaksikan Dirga yang sedari tadi makan dengan tergesa-gesa. Mereka tidak mau mengganggu Dirga yang sedang makan, dan baru saja kembali dari kantor usai dipanggil kepala sekolah tadi. Mereka tahu kalau sedang terjadi sesuatu dengan Dirga setelah kembali dari kantor. Makanya, mereka hanya terdiam melihat kelakuan Dirga sekarang ini.
“Gue mau ke kelas duluan,” pamit Dirga pada teman-temannya setelah selesai dengan makanannya. Tidak harus menunggu jawaban dari teman-temannya untuk pergi, Dirga berjalan begitu saja menuju kelasnya lebih dulu.
Mereka berempat hanya tercengang melihat sikap Dirga sekarang ini. Ayu ataupun yang lainnya sulit untuk memahami kejadian apa yang sebenarnya terjadi saat Dirga berada di kantor tadi. Justru mereka berempat hanya bisa menerka-nerka saja apa yang dialami Dirga di sana tadi.
“Lo lihat gak ekspresi Dirga tadi?” tanya Udik pada Rahman.
Mereka berempat masih berada di kantin.
Kini topik pembahasan mereka terfokus pada Dirga yang bersikap sangat acuh pada teman-temannya. Tidak ada penjelasan yang efektif dari Dirga mengenai apa yang terjadi di kantor tadi.
“Gue lihat wajahnya kayak nahan sedih dan kesal gitu,” ujar Rahman yang tadi sempat memperhatikan ekspresi Dirga saat menghampiri mereka sebentar.
“Udah, gak usah mikir negatif dulu pada Dirga. Mending sekarang kita susul dia ke kelas,” saran Rafika.
Dari dalam hatinya, jujur Rafika sangat khawatir dengan sikap Dirga tadi. Dirga sama sekali tidak menegur mereka. Rafika baru kali ini melihat sikap Dirga yang super cuek.
“Ayo ke kelas,” putus Ayu.
Mereka berempat segera pergi ke kelas menyusul Dirga.
__ADS_1
***
Entah apa yang Dirga pikirkan saat ini, dia mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Jalanan seakan tidak membuat nyalinya ciut, malahan Dirga terus menambah kecepatan mobilnya tanpa menghiraukan pengemudi lainnya. Berkali-kali juga Dirga membunyikan klakson mobilnya agar pengemudi di depannya membuka jalan untuknya.
“Sial!” teriak Dirga kesal karena terjebak lampu merah.
Tiiiinnnnn!!!
Dirga terus membunyikan klakson mobilnya, kesabarannya sekarang ini mungkin tidak ada lagi. Kekesalan di dalam hatinya membuat amarahnya liar, siapa pun menjadi imbas karena kekesalannya, pengendara mobil dan motor yang sedang berada di dekatnya terganggu dengan suara klakson mobil Dirga.
Mau pergi ke mana lagi Dirga setelah pulang sekolah?
Setelah lampu lalu lintas kembali hijau, Dirga segera melajukan mobilnya. Dirga terus menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di tempat yang dia tuju.
Dirga berhenti di depan kantor yang cukup besar, dia keluar dari mobil dan langsung masuk begitu saja ingin menemui Bastian. Beberapa orang yang bekerja di sana sudah tahu dengan Dirga―kalau Dirga itu anak pemilik kantor ini. Makanya mereka tidak menghalangi langkah Dirga yang tergesa-gesa mencari Bastian.
“Aaaaaaakkkhh!!!” teriak Dirga kesal setelah masuk ke ruangan Papanya. Dirga mengacak-acak semua yang ada di dekatnya, bahkan dia dengan beraninya memecahkan vas bunga yang terletak di atas meja kerja Papanya.
Bastian belum tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan anaknya, Dirga sampai-sampai memberontak gak karuan di dalam ruangannya. Bastian memaksa anaknya itu untuk berhenti melakukan tindakannya yang justru merusak semua benda yang ada di dalam ruangan.
Kelakuan Dirga kali ini sudah tidak terkendali lagi. Dirga mengacak-acak ruang kerja Papanya karena ingin meluapkan semua emosinya. Tidak ada satu orang tuanya yang menghadiri surat panggilan kemarin, makanya dia jadi semarah ini dengan Papanya. Dirga tidak tertahankan lagi untuk terus mengikuti nalurinya yang ingin meluapkan amarah di hadapan Papanya.
“BERHENTI!!!”
Satu tamparan keras mengenai pipi kiri Dirga. Spontan saja Dirga menghentikan tindakannya.
Dirga mematung sambil menyentuh pipi kirinya yang ditampar tadi. Sungguh, kelakuan apa yang Dirga terima sekarang ini membuat dirinya merasakan sakit. Dirga tidak menyangka kalau akan mendapatkan tamparan. Tamparan itu benar-benar melukai perasaannya.
“Ma―maafkan Papa, Nak,” sesal Bastian di hadapan Dirga.
Dirga terus menatap wajah Papanya dengan penuh kekesalan atas tamparan yang dia terima. Suasana kali ini menjadi tegang akibat kelakuan Bastian terhadap anaknya. Dirga semakin menaruh rasa kesal terhadap Papanya setelah mendapatkan tindakan tak nyaman tadi.
“Ok! Dirga terima tamparan Papa ini! Tamparan ini akan selalu Dirga ingat, jadi jangan pernah menyesal dengan apa yang sudah Papa lakukan terhadap Dirga!” hardik Dirga.
Bastian terus meminta maaf pada anaknya karena tindakan dia tadi yang kurang baik. Memang Dirga yang memancing emosi Papanya ketika baru masuk ke dalam ruangannya, wajar saja kalau Papanya sampai tidak bisa mengontrol diri lagi, saking kesalnya terhadap Dirga, Papanya melakukan hal yang justru membuat Dirga semakin membencinya.
Sebenarnya, kelakuan ini tidak perlu terjadi dengan mereka berdua, tapi emosi yang terus memuncak menjadikan satu sama lain tidak bisa mengontrol diri mereka sendiri. Alhasil, kejadian ini menjadikan hubungan mereka semakin berjarak.
“Dirga ingin Papa atau Mama dateng ke sekolahan tadi, bukannya Bi Siti! Dirga tahu, Pa. Dirga tahu kalau Papa dan Mama sibuk dengan kerjaan masing-masing, tapi apakah sedikit saja waktu untuk Dirga masih ada? Dirga ingin Papa dan Mama tahu kenapa Dirga sampai diberikan surat panggilan, kenapa Dirga selalu membuat masalah di sekolah, kenapa Dirga jadi senakal ini? Papa dan Mama harus tahu kenapa! Dirga ingin diperhatikan, Pa. Itu yang Dirga mau, agar Dirga setiap harinya bisa hidup dengan tenang, bisa merasakan kebahagiaan dari keluarga. Papa dan Mama setiap hari sibuk dengan kerjaan masing-masing, sampai lupa bahwa Dirga masih ada. Dirga masih sekolah. Dirga masih butuh perhatian yang lebih, bukan malah diberi tamparan seperti ini!” hardik Dirga yang sudah sangat kesal dengan orang tuanya. Dirga berkata jujur di hadapan Papanya kali ini, apa pun yang ada di benaknya disampaikan bersama rasa kesal yang masih menguasainya.
“Papa minta maaf, Nak.” Bastian terus saja minta maaf pada anaknya itu.
Emosi menjadikan mereka berdua bertengkar. Dirga sama sekali tidak bisa menerima tindakan yang dilakukan Papanya itu.
“Gak perlu ngurusin Dirga lagi, Pa. Silakan fokus dengan kerjaannya, jangan pernah mengkhawatirkan Dirga lagi. Dirga akan ingat tamparan ini,” Dirga menunjuk pipi kirinya. Lalu, Dirga pergi begitu saja dari ruangan itu. Dirga menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.
Dirga masuk ke mobilnya, dan segera menancap gasnya untuk pergi menjauh dari kantor itu. Kecepatan saat ini di atas rata-rata, Dirga terus menambah kecepatannya dengan rasa kesal yang semakin bertambah. Bukannya menyelesaikan masalah saat menemui orang tuanya, Dirga malah mendapatkan masalah lainnya.
Jalanan seakan dikuasai oleh Dirga sendiri.
Hari ini menjadi hari yang paling buruk dalam hidup Dirga. Kesalahan fatal yang terjadi hari ini akan Dirga ingat selamanya.
Mobilnya masih melaju dengan cepat, mungkin sekarang ini dia akan menenangkan diri di kosan Rahman. Dirga mengambil ponsel yang terletak di depannya.
“Hal yang paling menyakitkan hari ini akan gue ingat selamanya!”
Dalam hitungan detik, status yang ditulis Dirga di whatsapp-nya itu mendapatkan balasan dari temannya, terutama Ayu dan Rafika. Mereka seperti mengikuti kehidupan Dirga setiap detiknya. Ayu dan Rafika bertanya tentang kenapa Dirga membuat status seperti itu, dan menanyakan masalah apa lagi yang dia perbuat. Kedua temannya itu seperti polisi yang sedang menginterogasi pelaku kejahatan agar cepat mengetahui kejadian sebenarnya.
Dirga tidak menanggapi pertanyaan dari teman-temannya itu. Dia menaruh kembali ponsel itu di hadapannya, dan fokus menyetir mobil.
Sesampainya di kosan Rahman, Dirga langsung disuguhi pertanyaan bertubi-tubi dari Rahman yang sangat ingin tahu ada apa dengan temannya itu sekarang ini. Rahman terus mendesak Dirga agar mau bercerita padanya.
Pusing dengan pertanyaan Rahman yang terus-menerus mendesaknya, akhirnya Dirga bercerita kepada Rahman apa yang sebenarnya terjadi pada dia hari ini. Dari mulai dia berada di ruangan kepala sekolah tadi, sampai dia mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari papanya saat berada di kantornya. Dirga menjelaskan semuanya dengan sejelas-jelasnya di hadapan Rahman. Dan penjelasan itu membuat Rahman terdiam, membuat Rahman memilih untuk membiarkan Dirga menyendiri untuk saat ini. Rahman takut kalau nanti Dirga akan marah padanya.
“Lo tenangin diri aja dulu, Di. Gue masuk dulu,” kata Rahman sedikit takut karena melihat Dirga masih emosian.
Rahman bergegas masuk ke kosannya. Dan membiarkan Dirga menyendiri di luar.
Menyandarkan tubuhnya di kursi, dan menenangkan pemikirannya. Dirga mulai memejamkan matanya hingga membuat dia benar-benar tertidur pulas. Masalah tadi membuat harinya menjadi semakin buruk. Berharap, berharap dan lagi-lagi berharap agar suasana besok akan indah dibandingkan hari ini.
Ponsel Dirga di atas meja terus berbunyi tanpa ada yang mengangkat atau melihat pesan masuk. Entah akan berapa banyak pesan dan telepon masuk di ponsel Dirga nantinya. Saat ini Dirga lebih memilih untuk tidur agar pemikirannya cepat tenang.
__ADS_1