Diandra

Diandra
Ngeyel Banget


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Zevania berangsur pulih, dia segera mengemasi barang-barangnya, dan memilih meninggalkan TURKEY, demi menghindari Alexander, yang sewaktu-waktu bisa saja kembali mengancamnya.


Zevania menemui Omnya, meminta alamat Radit di Indonesia.


Setelah itu dia terbang ke negara Indonesia, untuk memulai hidup barunya.


Sementara Andara masih tak sadarkan diri, ia masih terbaring lemah di bangsal rumah sakit, di temani Nessa yang terus menangis di sampingnya.


"Maafkan Mama, Dara. Ini terjadi karena kelalaian Mama," lirihnya menangis terisak.


Renita ikut sedih melihat ibunya terus menangisi kakaknya. Kemudian Renita berusaha menenangkan Nessa, ibunya.


Di ruangan sunyi itu, hanya terdengar suara isak tangis dari ibunya, dan suara alat medis yang terpasang di tubuh Andara, perlahan Renita duduk di samping Nessa, berusaha mengajaknya bicara.


"Mom's, Momy harus sabar, tidak boleh menyalahkan diri sendiri, ini semua bukan salahnya Momy. Ini semua salah Pria bejat bernama Alexander itu!" tukas Renita.


"Renita yakin, Daddy tidak akan tinggal diam, Daddy akan memberi balasan yang setimpal terhadap si pecundang itu!" ucap Renita merekatkan rahangnya.


Nessa hanya mengelus tangan putrinya, ia merasa tidak ada gunanya membalas Alexander, karena semuanya sudah terjadi, tidak mungkin mengembalikan kehormatan Andara yang sudah terenggut.


"Momy tahu, Daddy kamu pasti tidak akan tinggal diam Re, dia pasti membuat perhitungan dengan Orang itu, cuma yang Momy khawatirkan adalah dampaknya untuk kakakmu, semua media pasti menganggap kakakmu itu perempuan kotor, yang telah ternoda," lirih Nessa.


Buliran air mata jatuh bercucuran, sesekali Nessa menyekanya.


Alam bawah sadar Andara mungkin mendengar suara tangis ibunya, sehingga buliran air mata jatuh dari mata Andara yang masih terpejam itu.


Renita melihat hal itu, ia sangat bahagia, lantaran kakaknya masih merespon mereka.


"Mom's, lihat Kak Dara meneteskan air matanya, mungkinkah dia mendengarkan kita Mom's?" ucap Renita antusias, mengusap buliran bening yang terjatuh dari mata Andara .


"Kak, ayo buka matamu Kak, kami merindukanmu di sini, Kakak cepat bangun yah," lirih Renita berbisik di telinga Andara.


Kemudian Nessa ikut bahagia dengan perkembangan anaknya itu, Nessa menekan tombol yang ada di atas kepala tempat putrinya berbaring, tombol itu adalah tombol emergency langsung terhubung ke ruangan Dokter.


Sementara Hameed masih berada di luar ruangan ICU, masih memarahi Alexander yang tidak mau pergi dari rumah sakit itu.

__ADS_1


Tidak berapa lama Dokter, dan dua orang suster datang kembali memasuki ruang perawatan Andara, Hameed terlihat sangat khawatir pada saat itu, ia menghampiri Dokter dan menanyakan keadaan putrinya.


"Ada apa Dokter, kenapa Anda terlihat tergesa-gesa seperti ini?"


Raut khawatir terpampang nyata di wajah Hameed, ia sangat mengkhawatirkan putri sulungnya, hasil dari pernikahan pertamanya.


"Maaf Tuan, sepertinya Putri Anda sedang butuh penanganan khusus, tolong jangan menghambat pekerjaan kami," ucap Dokter tersebut.


"Tolong selamatkan Putri saya Dokter, berapapun biayanya, asalkan Putri saya sehat kembali seperti sedia kala!" ujar Hameed dengan wajah yang menegang.


"Lebih baik Anda bantu kami berdoa, karena semua ini tergantung Tuhan kami sebagai medis hanyalah perantara saja!" seru Dokter itu, perlahan memasuki kamar perawatan Andara.


Nessa, dan Renita pun di minta keluar oleh tim Dokter yang menangani Andara.


"Om, tolong biarkan saya tetap berada di sini yah! Anggap saja ini adalah penebusan dosa saya pada Andara," ucap Alexander berusaha membujuk Hameed.


"Dasar tidak tahu diri, kamu tidak dengar saya


mengusir kamu, Alexander. Cepat pergi saya tidak inging melihat wajah yang menyakiti Putriku!" geram Hameed terhadap Alexander.


"Om, saya berjanji saya akan bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan pada Andara," ucap Alexander tetap bersikukuh.


BOUGH. Suara bogem mendarat bebas, darah segar mengucur dari sela bibir merah, nan penuh itu.


"Pukul Alex, Om! Jika itu membuat Om puas, ayo pukul lagi Om!" kesal Alexander, rasa ingin tanggung jawabnya, sama sekali tidak di hargai oleh Hameed, ayahnya Andara.


"Dengan senang hati saya akan memukulmu!"


tukas Hameed.


Namun saat Hameed akan melepaskan pukulannya lagi, Nessa menjerit histeris menangis melihat suaminya menyerang Alexander dengan cara membabi buta.


"Mas, hentikan..." jerit Nessa di sertai tangis.


"Jangan di lanjutkan lagi Mas, aku enggak mau Mas Hameed di pidanakan!" lirihnya.


Sementara Alexander jatuh terkapar, dengan wajah yang bersimbah darah.


Nessa histeris memeluk suaminya, ia takut suaminya akan menjadi seorang pembunuh dan di tahan di negara TURKEY, yang terkenal akan kepatuhannya soal hukum.

__ADS_1


Hameed pun melepaskan Alexander, yang sudah tak berdaya.


"Kalau bukan karena istriku, mungkin kau sudah ada di neraka Anak muda!" murka Hameed.


Kemudian Renita meminta perawat, agar segera menolong Alexander untuk segera di obati.


"Suster, tolong teman saya, cepat obati dia," ucap Renita.


"Kau masih bernasib baik Alexander, Daddy-ku masih berbaik hati, jauhi keluarga kami, dan lupakan mimpimu itu!" ucap Renita dingin.


Alexander tersenyum miring, menatap kepergian Renita yang pergi meninggalkannya di dalam ruangan.


"Aku belum kalah Om, aku akan tetap memperjuangkan cintaku, sekalipun Andara menolakku!" gumam Alexander.


"Lebih aik Tuan beristirahat di sini, jangan banyak bergerak dulu, atau luka-lukanya akan terinfeksi." ucap seorang suster menasehati Alexander, kemudian keluar dari ruang perawatan itu.


***


Renita kembali menemui kedua orang tuanya, yang masih dengan setia melihat perkembangan Andara, sedang di rawat oleh Dokter dan timnya.


"Mom's, lebih baik Momy istirahat yah, tidak apa-apa walaupun tiduran di kursi, yang penting Momy jangan sampai drop," ucap Renita yang merasa sangat prihatin terhadap keadaan ibunya.


"Tidak apa-apa, Momy berdiri saja, Momy khawatirkan keadaan Kakak kamu Re..." lirih Nessa menatap nanar Andara, dari balik pintu kaca.


"Benar kata Renita, lebih baik kamu istirahat Nessa, apa kamu tidak capek seharian menangis, dan sampai semalam ini kamu masih menangis juga," ucap Hameed meminta istrinya untuk beristirahat.


"Renita, ajak Momy-mu mencari hotel di sekitaran sini, biarkan Daddy yang berjaga malam ini!" tegas Hameed.


"Iya Dad's!" sahut Renita menurut pada perkataan Daddy-nya.


"Ayo Mom's, benar kata Daddy. Lebih baik kita cari hotel terdekat di daerah sini," ajaknya terhadap Nessa, ibunya.


"Momy tidak mau Re, Momy mau menemani Kakakmu, kasihan dia," lirih Nessa.


"Iya Mom's... Renita juga kasihan sama kak Dara, tapi bagaimana pun. Momy tetap harus jaga kesehatan juga ya," bujuk Renita terus berusaha mengajak Nessa, untuk mencari hotel, agar Nessa bisa beristirahat malam itu.


"Nanti besok kita ke sini lagi ya," ucap Renita kembali membujuk Nessa, hinggap pada akhirnya Nessa pun mau mendengar apa kata putrinya.


Halo manteman, pusing ya dengan ceritanya, karena latarnya berada di dua negara.

__ADS_1


Nanti ya ada saatnya kok, mereka semua di setting satu Negara, yaitu di negara tercinta kita Indonesia.


__ADS_2