
"Kenapa mundur? Kamu takut?" sekarang Dian yang mengejek Gama. "Aku jadi ragu. Jangan - jangan kamu setuju dengan dramaku karena kamu-"
Cup
Hening. Tubuh Dian mendadak beku saat bibir Gama menempel pada bibirnya.
"Kamu masih meragukan aku, hm?" bisik Gama
Dian mendorong tubuh besar itu menjauh darinya. "Kamu gila!"
"Bukankah kamu ingin bukti?" tantang Gama, "Aku bisa lebih gila dari itu kalau kamu masih ingin mengujiku!"
Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu menatap Gama tajam, "Ternyata kamu sama bajingannya dengan pria - pria lainnya. Apa ini alasanmu mau mengikuti drama yang aku buat?" sinis Dian
"Kalau kamu berfikir aku sama dengan mantan suami dan mantan kekasihmu yang pecundang itu, maka kamu salah besar, Diandra! Aku sangat menyayangi Mamaku. Jadi aku tidak akan pernah mempermainkan wanita manapun!" ucap Gama tegas, "Dan satu lagi yang harus kamu tahu. Aku sudah memilihmu untuk menjadi bagian dari kehidupanku. Kamu milikku! Jadi, aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu milikku. Termasuk dua pria pecundang itu!"
"Kamu tidak bisa mengklaim sesuatu yang belum resmi menjadi milikmu! Aku bukan siapa - siapa mu! Jadi jangan melebihi batas, Gama Mahaditya!"
"Kamu calon istriku! Bukankah kamu sendiri yang mengatakan itu?"
"Semua hanya permainan, Gam. Kamu tidak tahu apa - apa tentang aku!"
Gama tertawa, "Aku tahu semuanya, Diandra! Kalau kamu mengira aku pria bodoh yang mau saja kamu bodohi. Kamu berhadapan dengan orang yang salah!"
Dian menatap Gama, "Oh ya? Jadi apa yang kamu tahu, pria pintar?"
Gama memiringkan tubuhnya dan menatap Dian lekat. "Masa lalumu. Penyebab kematian Mamamu. Rencana balas dendammu pada dua pecundang itu. Dan juga-"
Wajah Dian mulai berkeringat. Bagaimana bisa Gama mengetahui semuanya. Siapa sebenarnya pria ini? Apa dia telah salah berurusan dengan seseorang?
Tangan besar itu membelai wajah Dian lembut. "Dan ... Rencana balas dendammu pada Tuan Aditama"
__ADS_1
Deg
"S-siapa kamu sebenarnya?"
Mata elang itu menatap manik coklat mata milik Dian. Mata yang membuat Gama menyukainya untuk pertama kali. "Aku Gama Mahaditya. Calon suamimu!"
Dian menggeleng, "Apa lagi yang kamu ketahui tentang aku!"
Seringai muncul di bibir Gama, "Semuanya. Termasuk penderitaanmu selama menikah dengan Saka"
Sial! Bagaimana bisa lawanku kali ini bukan orang sembarangan. Mengalahkan Kak Rey dan Saka, rasanya mudah. Tapi Gama? Sepertinya aku akan kesulitan.
"Tidak ada waktu untuk mundur, Di. Maju adalah pilihan terakhir!"
Dian menyeringai, "Tentu saja. Bahkan aku akan menghadapimu hingga akhir perjuangan! Kita lihat, siapa yang berakhir sebagai pemenangnya! Aku, atau kamu!"
🍀🍀🍀
Saka memijat pelipisnya. Kali ini, kepalanya benar - benar pusing. Uangnya sudah sangat menipis. Vika di penjara dan dia tidak yakin bisa membayar pengacara untuk istrinya itu. Lalu bagaimana caranya ia membebaskan Vika? Memenuhi syarat yang Diandra berikan juga ia tak sepenuhnya tega. Bayi dalam kandungan Vika membutuhkan dirinya.
Saka menatap Bundanya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang, Bun?"
Hastari menatap iba putranya. "Bunda juga bingung, Ka" jawab Hastari jujur
Saka menghela nafas frustasi, "Bagaimana caranya aku mendapatkan uang untuk membebaskan Vika, Bun? Keuangan kita saat ini sulit. Tabunganku juga sedikit. Mustahil aku bisa menyewa pengacara" keluhnya lirih
Hastari duduk di samping Saka. "Bunda mau tanya satu hal padamu, Ka. Apa benar yang di katakan Dian bahwa kamu masih mencintainya? Kamu mengajaknya kembali?"
Saka kembali menatap Bundanya, "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas hal ini, Bun!"
"Justru karena itu! Semua masalah yang terjadi berawal dari apa yang kamu lakukan!"
__ADS_1
"Maksud Bunda apa?" tanya Saka tidak paham
"Kamu mempermainkan perasaan Dian, Ka! Kamu seolah lupa bahwa kamu sudah memberinya luka yang begitu besar! Kamu hanya memikirkan diri sendiri tanpa mau tahu sesakit apa yang Dian rasakan akibat perbuatanmu! Kamu menduakannya kalau kamu lupa! Kamu berselingkuh dan menghamili wanita lain saat kamu masih menjadi suaminya! Sekarang Bunda tanya! Bagaimana jika kamu yang berada di posisi Dian? Bagaimana perasaanmu?!"
"Bun, semua tidak ada sangkut pautnya! Sekarang yang kita bahas adalah masalah Vika! Bagaimana cara Vika bisa bebas dari penjara!"
Hastari tertawa sinis, "Kalau itu yang kamu khawatirkan, kamu pasti tahu jawabannya! Mustahil Dian mau mencabut tuntutannya. Istrimu terbukti bersalah! Dia sudah melakukan kesalahan!"
"Aku akan menemui Dian dan memohon padanya agar dia mau membebaskan Vika"
"Lakukan! Kamu hanya akan membuat dirimu sendiri malu!"
"Aku hanya berusaha, Bun!"
Hastari menatap putranya, "Kalau kamu pikir, Dian akan berbaik hati seperti saat ia masih menjadi istrimu, kamu melupakan satu hal, Ka! Sekarang kalian bukan siapa - siapa. Kamu hanyalah pria yang memberinya luka. Sedangkan istrimu? Dia adalah penjahat yang berusaha mencelakai Dian. Menjebloskan Vika ke penjara, membuatmu bangkrut dan tak berdaya. Bukankah dengan begitu, dendam Dian sedikit terbayar?"
Deg
Saka tak mampu berkata apa - apa lagi. Dia kembali tersadar akan kesalahannya. Apalagi kala ingat pernyataan cintanya kemarin. Bukankah dia memang terasa tak tahu malu?
"Aku akan meminta maaf pada Dian, Bun"
Hastari tertawa, "Ternyata, selama tiga tahun menikah dengan Dian, kamu tidak benar - benar bisa mengenalinya, Ka. Dian memang pemaaf, dian memang sangat baik hati, tapi ... Dia tidak akan memaafkan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya!"
Saka merasa frustasi, dia bahkan tak tahu akan hal ini? Kenapa malah Bundanya yang lebih mengerti Dian di banding dirinya? Kenapa dia tidak memahami seperti apa mantan istrinya itu dulu?
"Bun, jujur ... Aku masih mencintai Dian. Aku ingin kembali padanya. Tapi di sisi lain, aku tidak bisa meninggalkan Vika. Bagaimana pun, dia sedang mengandung anakku"
Hastari benar - benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Setelah dia berkata panjang lebar tadi, Ia berharap Saka akan mengerti kesalahannya. Tapi lihat, Saka malah dengan tidak tahu malunya berkata demikian.
"Bunda seperti tidak mengenalimu lagi, Ka. Kamu berubah menjadi orang yang jadi tidak tahu malu. Bagaimana bisa kamu berharap untuk kembali pada Dian setelah semua yang kamu lakukan?!"
__ADS_1
"Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan, Bun. Apa yang salah?"
"Salah!! Salah jika kamu berkata demikian! Kamu dan Vika adalah dua orang yang mungkin paling dia benci. Dan sekarang, kamu membuat lelucon dengan dalil perasaanmu?" Hastari kembali tertawa, "Bersiaplah untuk menerima kehancuranmu, Ka. Bersiaplah untuk kehancuranmu yang sebenarnya!"