Diandra

Diandra
Bab 62


__ADS_3

"Kamu harus menikah besok!"


"Jangan gila, Di! Bagaimana bisa Gama menikahi wanita lain, sedangkan lusa adalah hari pernikahan kalian!" ucap Clara kesal


"Ma, tenanglah dulu. Ikuti saja apa rencanaku!"


Gama menatap Dian penuh curiga. "Kamu sedang tidak merencanakan sesuatu yang aneh kan?"


"Tidak! Ini justru akan menjadi hal yang tidak terlupakan untuk mereka seumur hidup!"


"Jadi apa rencanamu?"


Dian tersenyum menyeringai,


Sementara di kediaman Aditama, Livia sedang menjamu para tamunya. Sebagian adalah rekan kerja Aditama dan sebagian lagi adalah teman - teman sosialitanya. Warga komplek? Jelas tidak di undang. Livia terlanjur dendam pada mereka yang kemarin mengusirnya dari sana.


"Jeng, bagaimana ceritanya sih? Kan Jeng Clara sebar undangan duluan. Nama mempelai wanitanya bukan anak Jeng loh. Tapi kok sekarang berubah jadi sama Cilla? Bikin bingung deh"


Livia tersenyum bangga, "Jelas saja lah Jeng, cinta tahu siapa pemilik aslinya. Sejak awal Gama itu kekasihnya Cilla. Tapi malah di rayu sama Diandra! Tapi ya ... Begitulah, akhirnya Gama sadar siapa wanita yang benar - benar tulus padanya. Jadi dia memilih kembali pada Cilla"


"Owh, ceritanya ini kayak pelakor gitu ya?"


"Ya bisa di bilang seperti itulah Jeng"


"Kayak mirip cerita yang kemarin viral ya? Tapi ceritanya siapa aku lupa!" sindir salah seorang teman Livia


Livia menatapnya kesal, "Jangan ngomongin cerita yang udah usai! Jeng semua ini saya undang buat pengajian pernikahan anak saya!"


"Duh, Jeng Livia mau mantu jadi sensian ya?"


"Enggak kok, Jeng. Saya biasa saja" jawab Livia berusaha santai


"Oh ya Jeng, kok saya nggak lihat keluarganya Jeng Clara. Ini beneran pernikahan anak - anak kalian kan?"


Livia kembali menatap temannya kesal, "Tentu saja. Acaranya sengaja di buat terpisah! Biar besok terasa sakral!"


Di dalam kamar, Cilla terus saja tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka jika Gama bersedia menikahinya. Perasaannya berbunga - bunga. Tidak ada lagi hal yang paling membahagiakan untuknya selain hari besok.


"Akhirnya tanpa susah payah, kamulah yang datang padaku, Kak"


Cilla kembali menatap pesan singkat dari Gama yang terselip di balik bucket bunga yang pria itu kirimkan kemarin siang.


Cilla, sebelumnya aku minta maaf. Aku sudah salah menilaimu. Aku juga sudah membuatmu terluka. Selama ini, aku sudah salah menilai perasaanku pada Diandra. Aku baru menyadari jika yang aku cintai adalah kamu, bukan Diandra.


Aku memang akan menikah, tapi itu bukan dengan Dian melainkan denganmu. Datanglah ke butik Ameraldy, aku sudah membuat janji dengan pemiliknya. Pilihlah gaun pengantin yang cocok denganmu. Kita akan menikah lusa.


Salam Sayang


Gama Mahaditya


Tak henti Cilla membaca ulang pesan dari Gama. Setelah mendapat pesan itu kemarin, Cilla langsung mendatangi butik Ameraldy. Dan benar, ada pesanan atas nama Gama. Awalnya ia merasa ragu, namun setelah mendapat pesan whatsapp dari Gama, barulah dia yakin jika dia tidak bermimpi. Cilla segera memberi tahu Mama dan Papanya tentang hal ini. Sama seperti dirinya, awalnya mereka tidak mempercayai hal ini. Namun setelah membaca pesan dari Gama, Livia baru yakin jika yang di katakan Cilla bukanlah omong kosong.

__ADS_1


Mama dari Cilla itu langsung mempersiapkan semuanya. Tentu saja, dengan uang dan koleganya, Livia bisa mengurus semuanya dengan cepat. Bahkan undangan pun selesai di cetak dalam hitungan jam saja. Tidak hanya itu, Livia juga langsung mendatangkan orang dari wedding orgenaizer untuk menghias rumahnya. Mendekor halaman depan untuk di jadikan tempat ijab kobul esok hari. Semua serba instan dan cepat.


"Anak Mama pasti gugup sekali kan? Duh, yang mau jadi pengantin, besok" goda Livia


Cilla tersenyum malu, "Mama bisa saja. Tapi aku merasa semua seperti mimpi, Ma. Apa benar Kak Gama akan menikahiku besok?"


Livia mengelus rambut putrinya dengan lembut, "Tentu saja, Sayang. Kenapa kamu bertanya seperti itu. Besok kamu dan Gama akan menikah. Impian kamu untuk menikah dengan orang yang kamu cintai akan segera terwujud"


"Lalu bagaimana dengan Diandra? Apakah dia tidak akan membuat masalah besok?" tanya Cilla khawatir


"Soal itu akan menjadi urusan Mama. Kamu tenang saja. Mama pastikan, dia tidak akan bisa berbuat apa - apa!"


"Aku bahagia sekali, Ma"


Livia memeluk putrinya, "Mama juga, Sayang. Yang terpenting adalah kebahagiaanmu. Sekarang istirahatlah, besok adalah hari penting dalam hidupmu"


🍀🍀🍀


"Senyumlah, Bung! Besok kamu akan menikah!" goda Dian


Gama kembali memberenggut kesal, "Bagaimana bisa kamu punya ide konyol seperti ini?"


"Hahah, entahlah. Aku sendiri tidak tahu. Tapi yang jelas, aku hanya mengikitu kata hatiku"


Gama menatap Dian lekat, "Apa ini tidak keterlaluan?"


"Kamu khawatir pada bocah itu?" tanya Dian dengan nada sedikit tidak suka


"Tidak. Hanya saja, mungkin kejadian ini akan membuat mentalnya down"


Gama terdiam, mungkin dia memikirkan apa yang baru saja Dian ucapkan. "Kalau kamu berat dan merasa kasihan pada bocah itu, nikahi saja dia sungguhan!"


"Aku hanya akan menikahimu!" sahut Gama tegas


"Kalau begitu, lakukan peranmu seperti yang aku katakan!"


🍀🍀🍀


Malam telah berganti pagi. Tibalah sekarang hari dimana Gama dan Cilla akan menikah. Sejak jam lima tadi, Cilla sudah di rias oleh MUA. Menggunakan kebaya putih panjang di tambah aksesoris di atas kepalanya, Cilla tampak memukau.


"Anak Mama cantik sekali. Mama yakin, Gama akan pangling melihatmu"


Cilla tersenyum dibalik pantulan cermin, "Aku gugup, Ma"


Livia menghampiri putrinya, "Wajar kalau kamu gugup, Sayang. Semua perempuan yang akan menikah pasti merasa gugup. Kamu tarik nafas lalu hembuskan. Itu akan mengurangi rasa gugupmu"


Cilla melakukan apa yang dikatakan Mamanya untuk mengurangi rasa gugup yang dia rasakan.


"Apa Kak Gama belum datang?"


"Mungkin sebentar lagi. Mama mau kedepan dulu ya. Mama akan kemari lagi kalau Gama dan keluarganya sudah datang"

__ADS_1


Livia berjalan keluar dari kamar Cilla. Senyum selalu menemani setiap langkahnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Penghulu dan para tamu undangan sudah tiba, tapi Gama dan keluarganya belum juga datang. Harusnya, akad sudah dilaksanakan. Bisik - bisikpun mulai terdengar dari para tamu.


Livia nampak gelisah, begitupun dengan Cilla yang berdiri di atas tangga lantai dua. Gadis itu menunggu kedatangan calon suaminya dengan harap - harap cemas.


"Tuan Aditama, coba Anda hubungi mempelai pria. Ini sudah melebihi waktu yang seharusnya" ucap penghulu


"Sebentar, Pak. Akan saya cek ke rumahnya!"


Aditama bergegas ke rumah David dan Clara. Dengan langkah tergesa, pria paruh baya itu memasuki halaman rumah calon besannya.


Suasana cukup ramai. Ada beberapa orang di depan rumah. Perlahan namun pasti, Aditama masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti saat melihat sesosok pengantin yang mirip dengan mendiang istrinya, Denata. Ada rasa rindu, haru dan perasaan bersalah dalam hati Aditama kala mengingat mantan istrinya tersebut.


Namun yang ia lihat di depannya bukanlah Denata, melainkan Diandra, putri kandungnya. Melihat Dian duduk bersanding dengan Gama, ada rasa perih dalam hatinya kala mengingat Cilla. Bagaimana nasib putri satunya itu setelah ini.


"Ayah mempelai pria sudah datang. Acaranya bisa kita mulai sekarang" ucap David


"A-apa maksudnya ini?" tanya Aditama bingung


"Hari ini adalah hari pernikahan Gama dan Diandra. Anda sebagai Papa kandung Dian, Andalah yang harus menikahkan mereka. Benarkan Pak penghulu?" tanya Clara


"Benar, Pak. Anda bisa menikahkan putri Anda secara langsung atau melalui Saya. Baiklah, karena Ayah mempelai pria sudah tiba, maka pernikahan ini bisa dilaksanakan segera"


"Tapi saya-"


"Tuan Aditama ..." panggil Dian pada Aditama


Sekali lagi, wajah Denatalah yang terlihat di mata Aditama. Senyuman itu, sungguh membuat Aditama semakin merasa bersalah.


"Hari ini adalah hari pernikahanku. Bisakah Anda menyaksikannya? Setidaknya, berbuat baiklah padaku kali ini saja!"


Aditama di landa kebimbangan, dia bingung harus menentukan antara Diandra dan Cilla.


"Aku datang kemari untuk menjemput Gama. Seharusnya dia menikah dengan Cilla, kenapa-?"


"Gama akan menikah dengan Dian, Pak Aditama!" potong Clara, "Pak Penghulu, kami memasrahkan pernikahan ini pada Anda"


Si penghulu menatap Aditama, "Benar begitu, Pak?" Aditama tidak langsung menjawab, "Maaf, Pak. Kalau bisa acaranya segera dimulai saja. Saya masih harus menikahkan pengantin lainnya setelah ini"


"Saya-"


"Silahkan duduk, Pak Aditama" David membawa Aditama duduk berhadapan dengan Gama


"Silahkan Pak penghulu, acaranya di mulai saja"


"Baiklah, kita mulai acaranya sekarang. Silahkan mempelai pria menjabat tangan Saya" pinta penghulu, "Saudara Gama Mahaditya Bin David Mahaditya Saya Nikahkan dan Kawinkan Engkau dengan Saudari Diandra Veronica Abraham Binti Aditama dengan Mas Kawin uang sebesar dua juta tiga ratus dua belas ribu dua puluh tiga rupiah, tunai!"


"Saya terima Nikah dan Kawinnya Diandra Veronica Abraham binti Aditama dengan Mas kawin tersebut, tunai!"


"Bagaimana para saksi?"

__ADS_1


"Sah!!"


"Papa!"


__ADS_2