
"Setelah ini, tolong jangan berurusan lagi dengan tindakan kriminal! Kasihan bayi dalam kandungan Anda!"
Vika hanya berdehem tanpa berniat menjawab apa yang polisi katakan.
"Ayo kita pulang" ajak Saka
"Apa yang sudah kamu tukar dengan Diandra untuk membebaskanku?!"
Saka menghentikan langkahnya kemudian menatap sang istri, "Tidak ada"
Wanita yang tengah mengandung itu tertawa sinis, "Kamu pikir aku percaya?"
"Terserah padamu. Yang jelas, aku tidak bertemu Dian beberapa hari ini!"
Saka menyetop angkot yang lewat di depannya, "Ayo, kamu mau pulang kan?"
Vika berdecak, ia naik dengan malas. Dulu kemana - mana dia akan naik mobil mewah. Tapi sekarang, naik angkot.
"Eh lihat deh, mereka berdua kayak raja dan ratu tahu nggak sih? Serasi banget. Cantik dan tampan. Nggak sabar pengen liat anaknya nanti secantik dan setampan apa" celetuk penumpang di sebelah Vika
"Iya, udah tampan dan cantik. Kaya pula. Ini mah the real sultan"
"Bener banget. Selain membuat pesta mewah. Mereka juga ngirim santuan buat semua panti asuhan yang ada di ibukota loh. Nggak kebayang sekaya apa mereka"
"Berita apa yang mereka bahas?" tanya Vika pada Saka
"Entahlah"
"Liat deh fotonya. OMG, keren banget"
Vika melirik pada ponsel orang di sebelahnya, matanya membola melihat siapa yang sedang mereka bicarakan.
"Coba lihat", Vika merebut ponsel tersebut untuk memastikan apa yang dia lihat.
"Eh, Mbak! Apaan sih main rebut aja. Copet ya?"
"Enak saja! Cuma mau lihat fotonya. Pelit banget"
"Tapi nggak main rebut gitu aja dong! Nggak punya sopan santun banget!"
"Apa yang kamu lakukan, Vik?"
"Aku cuma mau lihat fotonya saja, Mas"
"Pak, kami turun di sini" putus Saka. Ia mengajak istrinya turun setelah Vika membuat kegaduhan di dalam angkot.
"Kenapa harus turun sih, Mas?!"
"Kamu masih bertanya?" sahut Saka kesal
Apa benar yang aku lihat? Benarkah Dian sudah menikah lagi? Tapi bukan dengan Mas Saka. Jadi siapa sebenarnya pria itu? Mana mungkin Dian menikah secepat ini, kecuali dia sudah mengenal lama pria itu. Atau selama ini dia juga berselingkuh di belakang Mas Saka? Tanya Vika dalam hati
"Apa lagi yang kamu pikirkan?"
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" selidik Vika
"Apa maksudmu? Kamu mau menuduhku melakukan apa kali ini?"
__ADS_1
Melihat jawaban Saka, sepertinya suaminya itu tidak tahu tentang hal ini.
"Sudahlah lupakan"
"Dasar tidak jelas" sahut Saka
🍀🍀🍀
Saka dan istrinya baru saja tiba di rumah. Hastari yang melihat kedatangan anak dan menantunya segera berjalan ke arah mereka.
"Kalian sudah sampai?"
"Iya, Bun"
"Ya sudah, ayo kita masuk. Kalian lapar kan? Bunda baru selesai memasak"
Vika menatap mertuanya penuh selidik, "Tumben baik?"
"Vik, kita baru sampai. Jangan membuat masalah, bisa?"
"Kan aku cuma bertanya!"
Saka menatap Bunda, wanita itu hanya tersenyum, "Tidak apa. Ya sudah ayo kita masuk"
Vika cukup lega karena bisa bebas. Setidaknya dia tidak merasa pengap lagi jika berada di rumah.
"Ayo kita makan"
Vika menatap masakan yang tersaji di atas meja. Oseng kacang panjang, tempe dan tahu goreng.
"Kita makan ini?"
"Makanan ini mana ada gizinya. Aku ini sedang hamil, Mas! Mana bisa anakku sehat kalau makan makanan ini!"
Hastari nampak menghela nafas, "Ada telur di kulkas kalau kamu mau"
Vika tampak memberenggut kesal. Saka yang melihat hal itu segera berdiri dari duduknya. "Kamu duduklah, aku akan memasakkan telur untukmu"
Vika duduk dengan enggan, dia menatap mertuanya yang tampak lebih diam dari biasanya.
"Ini. Sekarang ayo kita makan" ucap Saka setelah menyajikan telur mata sapi di atas meja
Ketiganya makan tanpa suara. Hastari dan Saka menikmati makanan mereka dengan kurang selera berbeda dengan Vika yang makan dengan lahap.
"Apa kalian tahu kalau Diandra sudah menikah lagi?" celetuk Vika di tengah makannya. Hal itu membuat Saka dan Hastari saling tatap
"Bagaimana kamu tahu hal itu?"
"Aku tidak sengaja melihatnya tadi. Jadi berita itu bukan kabar bohong?" tanyanya santai
"Jadi itu alasanmu merebut ponsel penumpang tadi?"
"Aku hanya penasaran. Dan tentunya memastikan itu mantan istrimu atau bukan!"
"Dian memang akan menikah" sahut Hastari lesu
"Bukan akan. Tapi dia sudah menikah!"
__ADS_1
Hastari meletakkan sendoknya, raut wajahnya berubah sendu.
"Bunda tidak tahu? Ah, pasti Bunda tidak di undang ya?" ledek Vika
"Jangan memastikan sesuatu yang belum jelas kebenarannya" tutur Saka
"Tidak percaya ya sudah. Atau kalian bisa melihat televisi. Ops, aku lupa kita tidak punya televisi!"
Saka kembali menatap Bundanya yang semakin terlihat sendu.
"Jangan sedih begitu, Bun. Biarkan saja mantan menantumu itu menikah" Vika semakin membuat Hastari tertunduk lesu
"Bun", panggil Saka
"Bunda mau masuk ke kamar dulu"
Saka hanya mampu menatap sendu kepergian Bunda.
"Bunda sensitif ya?"
"Semua karena kamu"
"Loh, kok jadi aku? Memangnya aku berbuat apa?" Vika tak mau di salahkan
"Kamu membuat Bunda sedih"
Vika melipat kedua tangannya di dada, "Aku hanya menyampaikan fakta. Salahnya dimana, coba? Eh, tapi ya. Diandra sedikit keterlaluan sih. Masak Bunda nggak di undang ke pernikahannya. Katanya Bunda nggak ada hubungannya sama kamu. Tapi di hari bahagianya, Bunda malah di lewatkan. Wah, kasihan Bunda"
Saka menghela nafas, "Mau di undang atau tidak. Bukan urusan kita juga"
"Jangan bilang kamu cemburu?"
"Tidak. Dian berhak bahagia dengan pria lain"
"Baguslah. Setidaknya aku tidak punya saingan lagi!"
Vika beranjak hendak pergi meninggalkan Saka.
"Kamu mau kemana?"
"Ya tidur lah. Aku capek"
Lagi - lagi Saka hanya mampu menghela nafas, ia membereskan sisa makanan dan piring kotor yang berserakan di atas meja.
Setelah mengumpulkan piring kotor, Saka membawanya ke wastafle untuk di cuci. Dia jadi teringat masa rumah tangganya bersama Diandra. Perempuan itu selalu menyiapkan makanan untuknya. Menyiapkan segala keperluannya. Membereskan piring kotor dan sisa makanan yang ada. Dian juga mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Sekarang, istrinya bahkan enggan menyentuh pekerjaan apapun.
"Kamu bisa merasakan kan, Ka. Apa perbedaan Dian dan Vika"
Bunda muncul dari balik pintu, dia menghampiri Saka lalu mengambil alih piring kotor yang sedang Saka cuci.
"Inilah akibatnya jika kamu tidak mensyukuri apa yang kamu punya dulu, Ka"
"Bun, jangan membahas hal ini lagi"
"Bunda ikut bahagia mendengar Dian sudah menikah. Bunda juga berdoa semoga kali ini Dian mendapatkan kebahagiaan bersama pria yang menjadi suaminya sekarang. Karena Bunda tahu, saat bersamamu, Dian hanya merasakan penderitaan"
"Aku tahu itu"
__ADS_1
"Bahkan tanpa Bunda minta, dia membebaskan istrimu. Sekarang seperti yang pernah kamu katakan pada Bunda, kita harus pergi menjauh dari kehidupan Dian selamanya"