Diandra

Diandra
Bab 71


__ADS_3

"DIANDRA!!!"


Teriakan Livia dan Cilla membuat Aditama yang berada di halaman belakang segera masuk ke dalam rumah.


"Ada apa, ini?" tanyanya


Dian tersenyum ke arah Aditama, "Baguslah Anda datang. Silahkan angkat kaki dan bawa serta istri juga anak kesayangan Anda keluar dari rumahku sekarang juga!"


"Kau tidak bisa melakukan ini pada kami!!"


"Haruskah kamu bertindak sejauh ini?" lirih Aditama


Wajah Dian berubah sinis, "Sejauh ini? Anda sedang bertanya?" tatapan Dian terlihat begitu tajam, "Ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kalian lakukan pada mendiang Mamaku!!"


"Kematian Denata sudah menjadi takdir!"


Dian tertawa kecut, "Takdir? Mungkin benar kematian Mamaku adalah takdir. Tapi kalianlah yang menyebabkannya memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri!"


"Itu tidak ada hubungannya dengan kami!!" Livia terus saja menyangkalnya


"Tidak ada hubungannya?", Dian menatap anak buahnya, "Seret mereka semua keluar!!"


"Baik, Nona!"


Aditama mengangkat tangannya, mengisyaratkan jika dirinya bisa keluar sendiri. "Aku harap kamu bahagia setelah ini!"


Dian tak menghiraukan perkataan Aditama, Sementara Livia dan Cilla, tentu saja mereka memberontak.


"KAU AKAN MENYESAL, DIANDRA!!"


"Aku pasti akan membalas semua perbuatan ini!!"


Gama mengusap bahu sang istri setelah anak buah Dian membawa Aditama dan keluarganya keluar rumah dengan paksa.


"Kamu baik - baik saja?"


Dian tersenyum tipis, "Aku baik - baik saja"


Anak buah Dian datang, "Semua sudah siap, Nona"


"Pak Alim ikutlah dengan Desi, pastikan semua buruh memperolah upah mereka yang telah di potong oleh Livia. Jangan lupa juga dengan bonus mereka selama beberapa tahun ini"


"I-ini serius, Non?"


"Tentu. Dan mulai hari ini, tanggung jawab perkebunan aku serahkan padamu"


Mata Alim tampak berkaca - kaca, "T-tapi saya-"


"Kemampuanmu lebih dari sekedar penjaga perkebunan, Pak. Bukankah dulu kamu manajer di perkebunan ini? Aku yakin, di dalam pengelolaanmu, perkebunan ini akan semakin berkembang. Dan ... Ajak istri serta anakmu tinggal disini mulai sekarang"


Alim seketika menangis dan berlutur, "T-terima kasih, Non. Terima kasih"


"Bangunlah, Pak. Jangan seperti ini" Gama membantu Pak Alim berdiri.


"Saya hanya terharu, Tuan"


Gama menatap Dian lalu tersenyum, "Mulai sekarang, Bapak yang akan menjalankan perkebunan. Saya dan istri saya akan datang sesekali untuk mengecek perkembangannya"


"T-tentu. Terima kasih sudah memberikan saya kepercayaan"


"Saya juga minta tolong, pastikan semua buruh mendapat upah yang sepadan. Dan berikan mereka bonus saat penjualan meningkat"

__ADS_1


"Pasti. Pasti!. Saya yakin, mereka semua akan senang"


"Kalau begitu, jemputlah istri dan anakmu, Pak. Saya ingin mengenal istrimu juga. Saya akan menunggu disini"


"Baik. Saya segera menjemput mereka"


Dian menatap Pak Alim dengan senyum haru. melihat hal itu, Gama merangkul istrinya. "Aku bangga padamu"


"Kenapa begitu?"


"Kamu sangat rendah hati dan peduli dengan kebahagiaan orang lain"


Dian tersenyum, "Terkadang kita bahagia jika melihat orang lain bahagia, bukan? Mungkin bagi kita, hal ini terasa kecil. Tapi bisa besar bagi mereka. Selama kita masih bisa berbuat baik, kenapa harus berbuat jahat"


"Aku benar - benar tidak salah memilih istri"


🍀🍀🍀


"Baik, kita periksa dulu, ya" Dokter mulai proses USG, "Semuanya baik. Detak jantungan juga bagus. Air ketubannya juga bagus"


"Jenis kelamin apa dok?" tanya Saka


"Bayinya perempuan, Pak"


Vika terlihat tidak begitu bahagia saat mengetahui bahwa jenis kelamin bayinya perempaun."Semuanya normal kan dok?"


"Emh, ada sedikit-"


"Anak kita pasti normal lah, Mas! Kamu kenapa bertanya seperti itu?!"


"Aku hanya-"


"Sudah kan dok? Kalau sudah, kami bisa pulang kan?!"


Setelah mendapatkan resep dari dokter, Vika segera meninggalkan ruangan dokter tersebut.


"Kamu yang tebus obat dan bayar, Mas! Aku tunggu disini!"


Saka mengangguk, dia segera menuju ke bagian apotek untuk memberikan resep tadi. Tak lama, Saka mendapatkan vitamin milik Vika. Ia pun segera menuju kasir untuk membayar biaya pemeriksaan sekaligus obat milik sang istri.


"Tagihan atas nama Ibu Avika totalnya satu juta empat ratus lima puluh ribu"


"B-berapa?"


"Satu juta empat ratus lima puluh ribu rupiah"


Saka membuka dompet miliknya. Ia ingat jika uangnya hanya tersisa tujuh ratus dua puluh ribu.


"Sebentar ya. Saya akan menemui istri saya dulu"


Saka segera menghampiri Vika yang sedang duduk di bangku tunggu


"Sudah?"


"Emh, uangnya kurang"


"Apa??! Kurang?!"


"Iya. Kalau kamu bawa uang, kamu tambahi dulu uang pembayarannya ya"


"Kamu ini gimana sih, Mas? Malu - maluin tahu nggak! Seharusnya kamu bilang dari awal kalau nggak punya uang!"

__ADS_1


"Ya kan aku mikirnya periksa itu nggak semahal ini"


"Tapi aku nggak bawa uang, Mas!"


Saka terlihat bingung, tanpa sengaja dia melihat cincin kawin yang dikenakan istrinya.


"Kamu buka dulu cincin itu"


Vika menatap cincin di jari manisnya, "Kamu mau menjaminkan cincin ini? Ini cincin kawin kita, Mas!"


"Nanti aku akan menebusnya, sekarang kita jaminkan dulu cincinmu, ya?"


"Tidak mau!"


"Vik, kita tidak akan bisa pulang kalau tidak membayar pemeriksaan. Kamu mengalahlah sebentar, besok aku akan mengambil cincinnya kembali"


"Ish!!", dengan kesal Vika melepas cincin di jarinya. "Besok cincin ini harus kembali lagi padaku!!"


"Iya"


Saka kembali ke kasir, dengan senyum canggung, "Mbak, ini saya bayar enam ratus dulu. Saya jaminkan cincin ini untuk kekurangannya. Bisa kan? Ini asli kok"


Si kasir menatap Saka tak percaya, "Pak, tapi kami bukan pegadaian"


"Saya tahu, nanti saya akan kembali kemari untuk membayar sisanya dan mengambil cincinnya kembali. Saya janji"


Si kasir nampak menghela nafas, "Baiklah, Pak. Tapi saya minta kartu identitas Bapak sebagai jaminan"


Suara kasir yang cukup nyaring membuat beberapa orang menatap ke arah Saka. "I-iya" pria itu mengambil dompet lalu mengeluarkan kartu identitis miliknya.


"Terima kasih"


Vika lebih dulu keluar dari klinik. Dia kesal setengah mati. Hari ini dia dan Saka pergi memeriksakan kandungannya yang sudah berusia tujuh bulan. Siapa sangka ternyata uang Saka kurang. Tentu saja dia malu. Dengan terpaksa, Vika menjaminkan cincin kawinnya.


"Ayo"


Vika hanya melirik tanpa menjawab perkataan suaminya.


"Kalau nggak punya uang, periksa ke puskesmas aja. Disana ada USG gratis juga kok!" cibir seorang ibu - ibu


"Jangan seenaknya menuduh ya! Dompet saya ketinggalan!"


"Pakai alasan segala. Miskin ya miskin aja!"


"Mulutmu sungguh kurang ajar!!"


Wanita tadi segera pergi tanpa menghiraukan Vika lagi!"


"Semua ini gara - gara kamu, Mas!!'


"Ya maaf"


"Maaf. Maaf!! Aku itu malu, Mas! Gara - gara kamu nggak punya uang, aku jadi di hina orang!"


"Aku kan mengira uangnya cukup. Ternyata biaya periksa mahal juga!"


"Kamu itu hidup dijaman modern Mas!! Semua serba mahal!!"


"Maaf, Vik"


Tanpa keduanya sadari, ada dua orang yang melihat mereka.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Kira - kira dua orang ini siapa ya?


__ADS_2