Diandra

Diandra
Bab 45


__ADS_3

Dian belum mampu memejamkan mata. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu sejak tadi bergerak gelisah.


Bagaimana ini? Kenapa tiba - tiba aku ragu? Menikah dalam waktu dekat setelah perceraian sama sekali tidak ada dalam rencanaku. Niatku hanya untuk balas dendam. Tapi Gama malah menganggap semuanya serius. Bagaimana aku bisa menjalani rumah tangga ini dengan Gama. Aku bahkan tidak percaya lagi bisa membina rumah tangga yang bahagia. Luka itu terlalu membuatku takut bahkan hanya untuk memikirkannya saja.


"Kamu belum tidur?"


Suara itu membuat Dian menoleh ke arah pintu.


"Kenapa kamu kemari?"


Gama melangkah masuk, kemudian mengambil kursi lalu duduk di samping Dian. "Tadi aku mengambil air minum. Dan terbersit untuk mengecekmu, rupanya kamu belum tidur"


Dian mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang.


"Apa yang kamu pikirkan?" pertanyaan Gama membuat Dian menatap pria itu


"Entahlah. Aku merasa ragu"


Gama menyipitkan mata, "Pasti tentang pernikahan kita, kan?"


Dian mengangguk, "Kenapa kamu mau menikahiku?"


Gama melipat kedua tangannya, "Kalau aku berkata aku mencintaimu, apa kamu percaya?"


Dian tertawa masam, "Kamu sudah tahu jawabannya. Selalu berakhir dengan di kecewakan oleh orang - orang yang aku percaya dan aku sayang, saat ini atau bahkan mungkin selamanya, aku tidak akan percaya lagi pada cinta"


"Tidak semua pria itu sama, Di"


"Kamu mau mengatakan dirimu berbeda?" tudih Dian


"Aku tidak mau mengatakan iya ataupun tidak. Tapi aku akan membuktikannya"


Dian menatap Gama lekat, "Kamu pria yang baik, Gam. Sebaiknya kita batalkan rencana ini. Kamu berhak mendapatkan wanita lain yang lebih baik dariku. Kamu tampan, kamu juga mapan. Aku rasa tidak sedikit perempuan yang tertarik padamu"

__ADS_1


"Kamu benar. Memang banyak perempuan yang tertarik padaku. Bahkan sampai ada yang menawarkan tubuhnya dengan percuma. Tapi tidak ada satupun yang mampu menarik perhatianku. Mereka semua terlihat biasa saja"


"Hanya aku yang mampu menarik perhatianmu dan terlihat berbeda? Rayuanmu sungguh kuno, Gam. Semua pria selalu saja membual apalagi saat berusaha mencapai tujuannya!"


Gama berjalan ke arah jendela kemudian membuka tirai. Langit terlihat begitu gelap karena awan mendung. Hingga tak ada cahaya bulan dan bintang yang menerangi malam ini.


"Kamu lihat, malam ini begitu gelap dan sunyi"


"Sekarang musim hujan, Gam. Tentu saja langit akan lebih sering terlihat gelap"


Gama tertawa pelan, namun tawa itu rupanya mampu menyihir hati seorang Diandra. Wanita penuh luka yang berusaha membatasi dan tak lagi mempercayai cinta.


"Padahal niatku ingin terlihat puitis. Tapi kamu malah merusak suasana"


Kini giliran Dian yang tertawa. Gama memperhatikan calon istrinya dengan seksama. Dian itu cantik, bahkan sangat cantik. Hidungnya mancung, kulitnya putih bersih, ada gigi gingsul yang akan terlihat jika wanita itu tertawa dan juga lesung pipi yang membuatnya semakin mempesona. Entah bagaimana bisa mantan suami Dian bisa berpindah ke lain hati padahal istrinya sudah begitu sempurna.


"Kamu cantik, Di"


Tawa Dian terhenti seketika, keduanya terlibat saling tatap beberapa saat. Hingga Dian akhirnya memutus pandangan keduanya dengan menatap ke arah lain.


"Berapa kali lagi harus aku katakan jika aku serius! Jangan pernah berfikir untuk mundur, Di. Karena kamu hanya akan menyakiti hati kedua orang tuaku"


"Itulah yang aku takutkan, Gam. Mama dan Papamu begitu baik padaku. Tapi aku? Aku hanya mempermainkan mereka"


Gama menghampiri Dian, kemudian pria itu duduk tepat di depan Diandra. "Ada satu cara yang bisa kamu lakukan jika kamu tidak mau mempermainkan orang tuaku"


"Kamu pasti akan memintaku menjalani semuanya dengan sungguh - sungguh kan? Aku tidak bisa, Gam. Dan aku tidak mau! Aku menikahimu hanya untuk membalas dendam pada Aditama. Tidak pernah sekalipun terbersit dalam pikiranku untuk kembali berumah tangga. Aku takut gagal lagi! Aku trauma di sakiti lagi! Kamu tidak tahu rasanya di khianati, Gam. Kamu tidak pernah berada di posisi dimana kamu di khianati oleh orang - orang terdekatmu!"


"Di-"


"Hari dimana Mamaku mati bunuh diri, hari itu pula Kak Rey menikahi wanita lain! Luka seperti apa lagi yang tidak aku rasakan! Aku sudah hancur berkali - kali! Dan aku tidak sanggup jika harus hancur untuk yang kesekian kalinya! Jadi jangan minta aku melakukan hal yang tidak sanggup aku lakukan!"


Deg

__ADS_1


Kerongkongan Gama tercekat, melihat betapa terlukanya Dian membuatnya ikut terluka. Gama mengira, luka hati Dian akan mudah ia sembuhkan. Nyatanya, luka wanita itu lebih dalam dari yang ia kira.


Perlahan Gama mengusap air mata yang mengalir dari mata Diandra. Mata yang telah membuatnya jatuh cinta. Gama juga merengkuh Dian ke dalam pelukannya.


"K-kamu tidak tahu sedalam apa luka yang aku rasakan, Gam" Dian menghirup nafas dalam, "Aku sempat ingin mengakhiri hidupku sendiri karena luka itu terlalu menyakitkan!"


Tangan Gama mengepal, "Mulai sekarang ada aku yang akan menjagamu, Di. Aku janji, air matamu tidak akan pernah kubiarkan keluar untuk menangisi kesedihan! Sekarang berhentilah menangis"


Gama terus menenangkan Dian, memberikan rasa nyaman yang saat ini Dian butuhkan. "Selama aku masih hidup, aku berjanji akan selalu membuatmu tersenyum, Di"


Apapun akan aku lakukan agar kamu selalu bahagia, Diandra. Mulai sekarang, kamulah tujuan utama hidupku.


🍀🍀🍀


"Jadi apa keputusanmu, Ka?"


Saka menghela nafas kasar, "Aku memilih Vika"


Jawaban Saka membuat Hastari terdiam, namun beberapa saat kemudian, wanita paruh baya itu tersenyum. "Besok Bunda akan menemui Diandra. Bunda tidak tahu Dian mau mengabulkan permintaan Bunda atau tidak. Bunda akan berusaha. Tapi seperti yang Bunda katakan sebelumnya, setelah ini, jangan ganggu kehidupan Dian lagi. Pergilah menjauh sejauh yang kamu bisa. Mulailah hidup bahagia bersama wanita pilihanmu. Bunda pun akan memulai kehidupan Bunda yang baru"


"Bunda tidak akan ikut denganku?"


Hastari menggeleng, "Bunda akan kembali ke rumah"


"Tapi bagaimana jika warga kampung masih membicarakan Bunda?" tanya Saka khawatir


"Omongan itu akan hilang dengan sendirinya nanti. Bunda hanya perlu menutup telinga dan tidak menghiraukan yang mereka katakan"


Saka memandang Bundanya sendu, "Bun, tidak bisakan Bunda ikut denganku saja? Aku khawatir kalau Bunda harus hidup sendirian"


"Bunda ingin menikmati masa tua dengan damai, Ka. Kamu tahu sendiri, bagaimana keseharian Bunda jika tinggal serumah dengan istrimu. Kamu pun pasti bosan melihat perdebatan kami setiap hari. Jadi solusi terbaik adalah, kita tinggal terpisah"


"Sebenarnya aku berat jika Bunda harus tinggal sendirian. Tapi yang Bunda katakan ada benarnya juga. Aku tidak bisa memaksa Bunda jika memang Bunda sudah punya keputusan. Aku akan sering - sering mengunjungi Bunda nanti"

__ADS_1


Hastari menggeleng, "Perbaiki hidupmu, Nak. Perbaiki diri dan jangan mengulang kesalahan yang sama. Kalau bisa, memintalah maaf dengan tulus pada Diandra. Dia sudah sangat menderita karena perbuatanmu"


"Pasti, Bun. Jika dia mau memberiku dan Vika pengampunan, aku akan menemuinya dan meminta maaf seperti yang Bunda katakan"


__ADS_2