Diandra

Diandra
Kelicikan


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------"Akhirnya selesai juga!" ucap Hameed sambil mengelap keringatnya....


"Kalau begitu kita harus segera pulang, Mas!" ujar Nessa.


"Ya kita harus segera pulang dan mengemasi barang-barang kita, setelah itu kita berangkat ke Indonesia." ucapnya.


Nessa segera masuk kedalam mobil, duduk di samping suaminya. Sementara Hameed telah bersiap menyalakan mobil.


***


Sedangkan Andara dan Renita telah sampai di rumah.


Renita segera turun dari pintu kemudi untuk membantu Andara yang masih terlihat belum pulih.


"Tunggu dulu ya Kak, biar aku membantumu!" ucap Renita dengan segera mengambil kursi roda.


"Baiklah, terima kasih adikku," ucap Andara seraya melempar senyuman.


Renita pun membuka pintu dan membantu Andara untuk duduk di kursi roda, kemudian Renita membantu Andara memasuki rumah.


"Oh ya... kata Daddy, sore ini kalian akan pergi ke Indonesia Kak!"


"Kenapa secepat ini? Kamu enggak ikut Re?" tanya Andara terhadap adiknya.


"Aku pengennya ikut, tapikan perusahaan Daddy tidak ada yang urus, kalau kita pindah semua ke sana!" ujar Renita.


"Kalau begitu jaga diri kamu baik-baik ya! Maafkan Kakak, semua ini karena Kakak!" lirih.


"Kakak... kamu jangan ngomong seperti itu, aku tidak apa-apa kok!" ujar Renita mengulas senyum.


"Terima kasih sudah jadi Adikku, kamu adalah Adik yang sangat pengertian dan baik Dek," lirih Andara.


"Kamu jangan menangis Kak, aku enggak suka kalau melihat kamu menangis. Please jangan cengeng," ucap Renita berusaha menguatkan.


"Maafkan Kakakmu yang cengeng ini Dek... Kakak janji tidak akan menangis lagi setelah memulai semuanya dari awal di Indonesia," ucap Andara sambil menyeka air mata.


"Yaudah kalau begitu aku bantuin Kakak membereskan barang-barang bawaan Kakak, yah," kata Renita menawarkan dirinya untuk membantu Andara.


"Sekali lagi terima kasih..." kata Andara.


Renita ke kamar Andara, mengemas baju-baju yang akan di bawa ke Indonesia.


Sedangkan Andara hanya menunggu di lantai bawah.


TIN-TIN-TIN.


Suara klakson dari mobil Hameed mengalihkan Andara yang terduduk di kursi roda, lalu Andara mengayuh kursi roda. Menghampiri kedua orang tuanya.


"Dad's... Ma," ucap Andara tersenyum ke arah kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Di mana Renita?" tanya Nessa terhadap putrinya.


"Renita di kamarku Ma, dia mengemas barang-barangku," ujar Andara.


"Adik yang berbakti," ucap Hameed memuji Renita.


"Iya Mas... dia kan sangat menyayangi Kakaknya ini," Nessa menimpali suaminya seraya menangkup pipi cantik Andara dengan kedua tangannya.


"Apaan si Mama... enggak cantik kok, akutuh biasa-biasa aja," ujar Andara.


"Ya sudah! Istriku, ayo kita juga mengemas barang-barang kita. Nanti kita telat loh!" ucap Hameed mengajak istrinya mengemasi barang-barang mereka.


Kemudian Nessa segera bergegas menuju kamar, mengambil dua koper besar untuk barang-barang.


"Mama ke kamar dulu ya sayang... " ucap Nessa mengelus pipi cantik putri sulungnya.


"Iya Ma!" sahut Andara tersenyum.


Sementara Marcello terlihat sedang mengawasi rumah kediaman saudagar kaya asal arab itu.


Marcello sengaja di tugaskan oleh Alexander, memata-matai keluarga Hameed.


Dua jam kemudian terlihat Hameed beserta istri dan Andara putrinya, keluar dari rumah memasukkan koper ke dalam mobil Jip hitam.


"Dad's... setelah sampai di sana, jangan lupa kabarin Renita ya!" ucap Renita menyalim tangan Daddy-nya.


Kemudian Renita memeluk Andara, dan ibunya.


"Kak... semoga di sana kamu mendapatkan kebahagiaan kamu ya," ucap Renita memeluk Andara.


"Momy... selamat jalan hati-hati di jalan ya, doakan aku di sini agar baik-baik saja," ucap Renita dengan mata berkaca-kaca.


"Iya sayang... doa Momy akan selalu menyertai semua Anak-Anak Momy, jaga dirimu baik-baik ya!"


Nessa memeluk Renita, mencium kedua pipi putrinya itu.


"Ayo Mas... nanti kita telat, ayo sayang cepat naik!" ucap Nessa kepada suaminya dan putri sulungnya Andara.


"Renita jaga dirimu baik-baik Nak!" ujarnya memeluk lagi pada Renita.


Tak berapa lama taksi yang telah mereka pesan akhirnya datang, Andara langsung masuk ke dalam taksi, begitu juga Nessa dan Hameed.


Kini mereka pergi menuju bandara, sedangkan Renita menetap di Istanbul.


Sementara Marcello mengikuti mereka, kemudian memberitahu bosnya, yaitu Alexander. Bahwa keluarga Andara akan berpindah ke luar negeri.


Alexander sedang berada di kantor, ia baru saja sampai di kantor, lantaran baru saja menyelesaikan meeting bersama dengan Arsene Pramudya Alvazo adik dari sahabatnya, Radit.


DRT-DRT-DRT. Ponsel di sakunya berdering dengan segera Alexander menerima panggilan tersebut.


"Ada apa kau menghubungiku?" ucap Alexander menerima panggilan dari Marcello.

__ADS_1


"Ini benar-benar gawat Tuan..." ucap Marcello di seberang sana.


"Cepat katakan yang jelas, jangan terlalu bertele-tele!" tukas Alexander kesal.


"Mis Andara dan keluarganya, akan berpindah ke luar Negeri Tuan!" ungkap Marcello memberitahu Alexander.


"Apa... cepat cari tahu negara mana yang menjadi tujuan mereka!" seru Alexander.


"Baik Tuan," sahut Marcello di seberang sana.


"Ya sudah cepat segera dapatkan informasi, setelah itu beritahu aku!" tukasnya mengakhiri panggilan tersebut.


Alexander sangat kesal, dan cemas pada saat yang bersamaan. Ia sungguh tidak menduga sebelumnya, jika Hameed memboyong keluarganya pindah ke luar Negeri.


"Aku tahu ini pasti untuk menghindariku! Om Hameed, kau akan tahu siapa sebenarnya aku. Tidak akan aku biarkan siapapun memisahkan aku dengan Andara!" gumamnya kesal.


Alexander berjalan gontai menuju ke ruangannya, ia murka pada saat itu.


"Tidak, mudah-mudahan mereka tidak pergi ke Negara itu," gumam Alexander kesal.


"Aku tidak bisa membayangkan, jika Andara bertemu lagi dengan Radit. Rencanaku untuk menghancurkan keluarga Om Hameed bisa berantakan!" murka Alexander.


TOK-TOK-TOK.


Seseorang mengetuk pintu ruangannya, Alexander langsung beralih memutar kursi lalu berteriak.


"Masuk!" dengan sedikit mengencangkan suaranya, agar terdengar oleh seseorang dari balik pintu.


KLEK. Suara pintu terbuka menampakkan seorang Arsene Pramudya Alvazo.


"Alva," ujar Alexander menatap adik dari sahabatnya.


"Ada apa kau datang kemari?" tanya Alexander terhadap Alva.


"Saya hanya ingin mengantarkan berkas Anda yang tertinggal di perusahaan saya Tuan Alexander!" seru Alva.


"Oh ya... terima kasih!" ujar Alexander.


"Simpan terima kasihmu Tuan, saya tidak membutuhkannya!" seru Alva.


"Lantas apa yang kau inginkan dariku?" ucap Alexander yang mengetahui maksud dari Alve.


"Aku ingin kau membantuku, untuk melenyapkan Radit! Sehingga pewaris tahta kerajaan bisnis Ayahku hanyalah aku!" ucapnya meminta bantuan pada Alexander.


"Hahaha... rupanya kau licik juga Alva, apa kau tidak kasihan pada Kakakmu itu!" ujar Alexander tertawa menyeringai.


'Aku bisa menggunakan Alva, untuk menghancurkanmu Radit!' seringai Alexander dengan pikiran jahatnya.


"Kau jangan menertawakan aku, aku hanya ingin mendengar kau bersedia membantu atau tidak!" sentak Alva.


"Baiklah, aku akan membantumu! Tapi aku ingin lima belas persen dari saham perusahaan Ayahmu! Bagaimana kau setuju?" ujar Alexander.

__ADS_1


Sejenak Alvazo terdiam berusaha memikirkan konsekuensinya.


'Dasar licik... berani sekali dia meminta saham perusahaanku,' batinnya kesal.


__ADS_2