
"Jangan pernah menggodaku, Diandra. Atau ... Akan ku buat kau mengandung benihku lebih cepat!"
Dian menyeringai saat melihat Cila menutup jendelanya dengan keras. Dan Gama baru menyadari hal itu.
"Jadi kamu hanya ingin membuat Cilla cemburu?" tanya Gama dengan dingin
"Kamu tidak berfikir aku menyukaimu kan? Kalau ya, maka kamu terlalu berkhayal!"
Tangan kekar milik Gama mulai menyusuri wajah Dian. Kedua mata mereka saling menatap. Jika Gama menatap Dian dengan cinta, Dian justru menatap Gama dengan perasaan tak menentu. Dian bukan lagi remaja yang tak tahu bagaimana seseorang mulai jatuh cinta. Ia hanya membentengi diri agar tak merasakan lagi sakitnya di khianati.
Grep
Tangan Dian menahan tangan Gama saat pria itu mulai menyentuh lehernya. "Jangan melebihi batasanmu, Gam! Kamu harus ingat, pernikahan kita hanya simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan dan tidak ada kontak fisik. Setelah kita menikah, kamu dan aku akan tetap menjalani kehidupan awal kita masing - masing!"
Gama menyandarkan dagunya di bahu Dian. Tentu saja wanita itu berusaha menolak, namun Gama menahannya. "Aku juga mengingatkanmu satu hal. Tidak masalah kamu mau menganggap pernikahan kita hanya permainan. Tapi seperti yang aku katakan, pernikahan ini sakral dan suci bagiku. Dan aku tidak main - main untuk itu" bisik Gama. Pria itu tersenyum melihat wajah Dian memerah. "Satu lagi! Di umurku yang sudah sangat matang, aku ingin memiliki banyak anak. Jadi, bersiaplah calon istriku sayang" Gama berjalan ke arah pintu
"Jangan bermimpi! Siapa juga yang mau punya anak denganmu!" Dian menatap Gama kesal, niat hati mengerjai pria itu malah dirinya yang dibuat mati kutu.
Gama berbalik lalu tersenyum manis, "Setiap orang punya mimpi. Dan mereka akan berusaha mewujudkan mimpi itu dengan usaha dan kerja keras. Termasuk diriku. Dan aku pastikan kamu akan mendukung mimpiku itu" Gama berjalan keluar kamar lalu hilang di balik pintu
"Dasar pria sinting! Itu tidak akan pernah terjadi! Apa dia pikir aku mesin pencetak anak!Bagaimana bisa punya banyak anak di jadikan sebagai mimpi!"
Dian mendadak salah tingkah, apakah keputusannya untuk menikah dengan Gama sudah tepat? Kenapa dia jadi ragu. Gama tidak bisa di tebak. Bagaimana kalau nanti dia benar - benar membuktikan ucapannya?
"Astaga! Kenapa kamu seperti jailangkung?! Kenapa tiba - tiba muncul di depanku!" omel Dian kesal. Entah kapan datangnya pria itu.
Gama terkekeh pelan, "Ini baju dari Mama. Ada di depan pintu. Sepertinya Mama melihat kita ciuman, makanya dia menaruh paper bag ini di depan"
Dian melotot kesal, "Tolong bedakan antara ciuman dengan mencium! Jangan mengada - ngada!"
"Tadi memang aku yang menciummu. Tapi aku pastikan setelah kita menikah, kamu yang akan menciumku duluan!"
Bug
"Astaga, belum jadi istri saja sudah KDRT pada suami. Bagaimana nanti" keluh Gama saat Dian memukulnya dengan paper bag dari Mamanya
"Jangan banyak bicara. Keluarlah cepat. Aku mau mandi!"
"Kamu tidak butuh bantuan?"
Lirikan mata tajam itu membuat Gama segera melipir pergi.
🍀🍀🍀
"Ini dia calon mantuku. Ayo sayang, duduk disini" ajak Clara begitu melihat Dian tiba di dapur
"Terima kasih, Ma"
Semua orang sudah duduk di meja makan. Clara melirik suaminya. "Emh ... Ada yang ingin kami sampaikan" Perkataan Clara tentu membuat Dian dan Gama menatap ke arahnya.
"Ada apa, Ma?" tanya Gama curiga
"Biar Papa yang bicara"
David menatap istrinya cengo. Kenapa jadi dirinya. Bukankah tadi dia yang mengatakan akan bicara. "Kenapa Papa, Ma?" bisik David
__ADS_1
Clara menatap suaminya sambil berdecak. "Papa kan kepala rumah tangga. Imam. Jadi Papa yang bicara"
David menghela nafas, lalu berdehem pelan. "Begini, Gama, Dian-" pria itu melirik istrinya, "Mama dan Papa berencana untuk memajukan pernikahan kalian. Kalian berdua bukan remaja lagi. Bahkan umur kalian juga sudah begitu matang. Jadi kami rasa, lebih cepat lebih baik"
"Kenapa mendadak?"
"Mama hanya takut kalian tidak bisa menahan godaan setan. Sekarang cuma kiss aja, besok nyicil hidung, lusa mata. Mama nggak mau sampai kalian kebablasan!" celetuk Clara
Ketiga penghuni meja makan itu langsung menatap Clara. Yang di tatap malah balik menatap tanpa rasa bersalah. Gama paham maksud Mamanya, pria itu menatap Dian lalu tersenyum mengejek.
"Ma, kami tidak melakukan apa - apa" bantah Dian
"Penglihatan Mama masih sangat sehat. Jangan mengelak!"
Skak
*Benarkan yang aku katakan? Mama melihat kita ciuman.
Kamu yang menciumku! Kita tidak ciuman*!
Gama dan Dian berbicara lewat tatapan mata.
"Kenapa malah tatap - tatapan? Pokoknya Mama tidak mau ada bantahan! Kalian berdua hanya punya satu pilihan yaitu setuju. Dan Mama ingin pernikahan kalian di adakan minggu ini!"
Dian menelan ludah, sedangkan Gama tertawa dalam hati. "Aku setuju" balas Gama
"Tap-"
"Biar Mama yang mengurus semuanya. Jangankan satu minggu, besok pun Mama bisa mewujudkan pernikahan yang mewah dan sempurna!" potong Gama menang
Dian menatap Gama tajam, berbeda dengan Gama yang terlihat santai.
"Ma, aku masih-"
"Sayang, kamu jangan memikirkan apapun. Semua menjadi urusan Mama. Oke"
"Dan untuk-" David menjeda kalimatnya. Dia menatap Gama kemudian Gama pun mengangguk. "Bagaimana pun Dian tetap memerlukan wali nikah yang sah. Papanya masih hidup, jadi alangkah lebih baik jika Papanya Dian yang menikahkan Dian dan Gama"
Raut wajah Dian berubah murung. Wali nikah? Menikahkannya? Dulu saja waktu ia menikah dengan Saka, pria itu hanya memberinya pesan untuk memakai wali hakim. Lalu sekarang saat Dian akan menikah dengan pria yang putri kesayangannya cintai, apa pria itu akan menikahkannya? Jawabannya pastilah tidak.
"Jadi Dian masih punya Papa?"
Dian mengangguk, "Hubungan kami tidak baik. Jadi sebaiknya kita memakai wali hakim saja"
"Tidak bisa, Di. Papa kandungmu masih hidup. Kita harus menemuinya dulu. Perkara nanti dia menolak untuk menjadi wali nikahmu, kita bisa memakai wali hakim" usul David
Dian tertawa masam, "Dulu waktu aku menikah, dia hanya mengirim pesan dan mengatakan padaku untuk menggunakan wali hakim. Aku rasa, dulu dan sekarang pun tidak akan berbeda"
"Biar Papa yang menemui dia. Apapun jawaban darinya, kamu dan Gama akan tetap menikah" putus David
"Mama ikut! Mama ingin tahu seperti apa sosok Papanya Dian. Bagaimana bisa dia memperlakukan putrinya seperti itu? Seharusnya sebagai orang tua tunggal, dia menjadi Ayah yang terbaik bagi putrinya!!" Clara terlihat kesal dan emosi
David menatap istrinya, "Mama yakin ingin menemui dia?"
"Tentu saja! Kalau perlu, Mama akan memakinya biar dia tahu siapa mertua dari putrinya itu!! Sekarang katakan pada Mama, siapa namanya dan dimana rumahnya!!"
__ADS_1
Diandra, Gama dan David saling berpandangan.
"Mama keluar dari gerbang rumah ini kemudian masuk ke rumah sebelah. Di sana Mama akan bertemu dengan orang yang Mama cari" ucap Gama santai
"Rumah sebelah? Maksud kamu?-" Clara tercekat, dia menatap suami dan putranya bergantian lalu menatap Diandra yang terlihat murung. "Jadi Aditama adalah Papanya Diandra?"
"Benar. Mama bahkan sangat mengenalnya"
Clara tak mampu menyembunyikan kemarahannya. Selama mengenal keluarga Aditama, Clara menilai jika pria itu adalah Ayah yang sangat menyayangi putrinya. Cilla tumbuh dengan kasih sayang dan materi yang melimpah. Tapi rupanya, di balik sikap manis dan baiknya seorang Aditama, pria itu rupanya berperangai buruk pada putrinya yang lain.
"Mama berjanji! Mau tidak mau, Aditama yang akan menjadi wali nikah Diandra dan Gama!"
🍀🍀🍀
Saka berjalan gontai menapaki rumah. Setelah pertemuannya dengan Dian tidak membuahkan hasil, pria itu terlihat semakin frustasi.
"Ka, bagaimana?" tanya Hastari
Saka menggeleng pelan, kemudian menghela nafas. "Dian memberiku pilihan yang sulit, Bun"
"Maksud kamu?"
Saka memberikan surat perjanjian dari Dian pada Bundanya. Dengan segera Hastari membacanya. "Dian ingin kamu menceraikan Vika?"
"Benar"
"Apa tidak ada pilihan lain, Ka?"
Saka menggeleng lemah, "Dian tidak memberiku pilihan lain selain harus menceraikan Vika. Aku harus bagaimana, Bun? Aku tidak mungkin menceraikan Vika saat dia tengah mengandung anakku"
Meski Hastari tak terlalu menyukai Vika, tapi yang Saka katakan ada benarnya. Dia pernah dicampakkan, dia tahu bagaimana sakitnya itu. Lagipula, mana mungkin Saka tega menceraikan Vika disaat wanita itu hamil anaknya. Bukankah akan terlihat kejam jika Saka melakukannya.
"Ka, Bunda akan menemui Diandra. Bunda akan mencoba membujuknya agar dia mau memberikan sedikit belas kasihnya pada istrimu"
Saka menatap Bundanya tak percaya, "B- bunda mau membantuku?"
Hastari mengangguk, "Bunda akan membantumu kali ini. Tapi setelah itu-"
"Kenapa, Bun?"
"Jika Dian mengabulkan permintaan Bunda. Setelah itu kita harus menjauh dari kehidupan Dian selamanya"
Deg
Saka bergeming, menjauh dari hidup Dian bukanlah hal yang dia inginkan. Saka masih mencintai mantan istrinya itu. Tapi Saka juga tak mungkin melepas Vika sekarang.
"Kamu mau berjanji pada Bunda kan, Ka?"
Lagi - lagi Saka hanya bungkam. Berat dan sulit sepertinya.
"Ka, kamu tidak bisa menjadi manusia serakah. Pilihanmu sudah jatuh pada pada Vika, bagaimana bisa kamu masih mengharapkan Dian juga?"
"Bun, aku-"
"Jangan menjadi pria jahat, Ka. Kamu sudah bahagia dengan istri barumu. Kenapa kamu masih menyusahkan hidup Dian"
__ADS_1
Saka berfikir keras, Vika dan Diandra. Dalam hati terdalamnya, Saka masih mencintai Dian. Ada harapan untuk bisa kembali pada mantan istrinya itu. Tapi bagaimana pun, Saka tak mungkin memiliki keduanya.
"Pikirkan apa yang Bunda katakan dengan baik, Ka. Jika kamu sudah setuju, beritahu Bunda"