Diandra

Diandra
Bab 59


__ADS_3

"Usir mereka dari sini!!"


"Komplek kami harus bersih dari pelakor!! Usir mereka dari sini!!"


Livia dan Aditama segera berlari ke depan gerbang saat mendengar kegaduhan. Beberapa ibu - ibu komplek datang sambil membawa tulisan yang berisi "Usir pelakor dari komplek ini"


"Ada apa ini? Kenapa kalian membuat keributan di depan rumah kami?" tanya Aditama


"Ini dia pelakornya!! Wanita sok suci yang bermuka dua!!"


Livia yang tidak terima segera membuka gerbang dan berhadapan langsung dengan para ibu - ibu.


"Siapa kalian yang berhak menghinaku?!"


"Kami hanya mengatakan fakta!!"


"Maaf ibu - ibu, ini sebenarnya ada apa? Kenapa kalian berdemo di depan rumah kami seperti ini?" tanya Aditama lagi


"Ini lagi, Ayah kejam! Cocok banget memang mereka berdua ini!!"


"Begini ya Pak Aditama! Warga di komplek ini keberatan kalian tinggal disini! Kami mau kalian meninggalkan komplek ini!"


"Loh, apa hak Anda mengusir kami? Rumah ini saya beli dengan uang saya sendiri!! Jadi kalian tidak berhak mengusir kami dari rumah ini! Enak saja!"


Keributan itu membuat Dian terbangun, ia segera menuju ke jendela dan melihat apa yang terjadi.


"Tapi gara - gara perbuatan kalian, komplek kita juga kena imbasnya! Berita viral dimana - mana! Kami sebagai penghuni komplek merasa malu memiliki tetangga seperti kalian! Jadi sebaiknya kalian pindah dari sini!!"


"Itu bukan urusan kalian!! Mau berita viral saya tidak peduli!! Saya tetap tidak mau meninggalkan rumah saya sendiri!!"


"Dasar wanita bermuka tebal!! Begini nih kalau berasal dari kalangan bawah, susah di peringatkan!!"


"Mulut Anda kurang ajar sekali ya!! Siapa yang Anda maksud dengan kalangan bawah? Saya ini wanita terhormat dari kalangan atas!!"


Dian tertawa mendengar pengakuan Livia,


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Gama yang entah sejak kapan berada di belakangnya


"Tidak ada. Hanya merasa lucu mendengar apa yang Livia katakan"


"Kamu bahagia?"


Dian menatap Gama, "Kenapa kamu bertanya seperti itu"


"Tidak. Hanya ingin tahu saja"


"Dasar tidak jelas!"


"Daripada melihat gosip, bersiaplah. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat"


"Kemana?"


"Nanti kamu akan tahu sendiri"


"Padahal sedang seru!"


"Kamu akan lebih senang pergi denganku daripada menonton drama ibu - ibu itu. Jadi cepat bersiaplah!" ucap Gama meninggalkan kamar


Dian tersenyum, "Jalan - jalan sepertinya akan menyenangkan"


🍀🍀🍀


Livia berdecak marah. Dia memasuki rumah dengan langkah kesal "Bisa - bisanya mereka mengusirku dari rumahku sendiri! Gila!!"


"Ma, apa tidak sebaiknya kita pindah?"

__ADS_1


Livia menatap Aditama tajam, "Kenapa aku harus pindah? Aku tidak hidup dari uang mereka! Bisa - bisanya kamu malah berfikir untuk pindah! Aku tidak mau dan tidak akan pernah setuju jika kita pergi dari sini!"


"Lalu bagaimana kamu akan menghadapi mereka? Kamu sanggup setiap hari mendapat sindiran dari mereka? Kamu mungkin sanggup, lalu bagaimana dengan Cilla?"


"Cilla berada di luar negeri. Dia pasti tidak mendengar kabar ini! Aku sudah meminta Nia untuk mengurus berita sialan itu. Dan Cilla, aku pastikan dia tidak akan mendengar apapun soal ini!"


"Jadi ini maksud Mama mengirimku untuk berlibur?"


"C-cilla? Kenapa kamu sudah pulang?" tanya Livia terkejut saat melihat Cilla berada dirumah. Bukankah seharusnya dia berada di luar negeri untuk berlibur?


"Cilla, kamu tidak jadi berlibur?"


"Aku tidak jadi pergi! Aku sudah curiga dengan Mama dari awal. Jadi benar? Mama adalah perusak rumah tangga Mamanya Diandra?"


"Cill, semua tidak seperti yang kamu pikirkan"


"Lalu seperti apa?" Cilla menatap Papanya, "Papa tidak mau menjelaskan sesuatu padaku?"


"Papa-"


"Biar Mama yang jelaskan! Penjelasan Papamu dan Mama sama saja!" potong Livia cepat


"Baik. Aku akan mendengarkan Mama"


Livia mengajak putrinya duduk di ruang tengah "Jadi, Papamu menikahi Mama saat dia sudah menikah dengan Mamanya Diandra itu memang benar. Tapi perlu kamu garis bawahi, Mama tidak pernah merebut atau merusak rumah tangga Papamu sebelumnya! Kami menikah atas dari saling mencintai!"


Cilla tertawa mendengar perkataan Mamanya, "Tapi tetap saja Mama menikah dengan suami orang, Ma!"


"Ya beda, Cilla! Kami saling mencintai! Memangnya salah?"


"Jelas saja salah, Ma!! Bagaimana bisa Mama membenarkan tindakan Mama atas dasar cinta!"


"Memangnya cinta bisa memilih akan berlabuh pada siapa? Sama seperti kamu yang mencintai Gama kan? Begitu juga dengan cinta Mama dan Papa!"


"Sekarang aku ingin mendengar penjelasan Papa!"


"Jelaskan, Pa!!" pinta Cilla memaksa


Aditama nampak menghela nafas, "Apa yang harus Papa jelaskan, Cill? Kamu sudah mendengar semuanya dari Mama"


"Sudah Mama katakan, semuanya sama! Kenapa kamu tidak percaya?" kesal Livia


"Terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu. Papa tetaplah bersalah!"


"Papa tahu itu" lirih Aditama


"Jika Papaku dan Papanya Diandra orang yang sama, artinya dia Kakakku"


"Dia bukan kakakmu!" tolak Livia, "Kamu anak Papa dan Mama! Sedangkan Dian anak orang lain!"


Aditama menatap istrinya dengan tatapan yang sulit di artikan. "Benar kan yang aku katakan?"


"Mama selalu benar" jawab Aditama lesu


Cilla meninggalkan orang tuanya, "Cill, kamu mau kemana?"


Seolah tuli, Cilla tetap keluar rumah.


"Anak itu semakin hari semakin membuatku gampang kesal!"


"Kan itu didikanmu!"


Livia melirik tajam suaminya, "Aku terus yang kamu salahkan! Cilla juga anakmu!"


Sementara Cilla pergi ke rumah Clara. Tanpa permisi seperti sebelum - sebelumnya, gadis itu masuk ke dalam rumah orang tua Gama

__ADS_1


"Cilla!"


"Tante Clara"


Clara menatap Cilla sedikit kesal, "Kalau masuk rumah orang setidaknya salam dan ketuk pintu dulu"


"Maaf Tante, soalnya aku sudah terbiasa sebelumnya"


Clara berdecak, "Sekarang keadaannya sudah berbeda. Jadi ingatlah untuk mengetuk pintu lalu mengucap salam!"


Cilla mengangguk, bertepatan dengan itu Gama dan Dian baru saja turun dari tangga sambil berjalan beriringan.


"Oh, ada Cilla rupanya" sapa Dian


"Mama berangkat dulu ya. Kalian hati - hati!" pamit Clara


"Mama juga hati - hati!"


Iri, jelas. Cilla iri melihat keakraban Dian dengan Mama Gama. Jika saja Dian tidak hadir dalam kehidupan Gama, pasti sekarang dirinyalah yang akrab dengan Mama Gama.


Setelah kepergian Mama Gama, Cilla menatap datar Dian dan Gama, "Bisa kita bicara sebentar? Ada yang ingin aku bahas dengan kalian"


Dian menatap Gama seolah meminta peraetujuan, "Sepuluh menit. Kami masih punya urusan yang lebih penting!" putus Gama


Cilla mengangguk, ia mengikuti Gama dan Dian yang lebih dulu berjalan menuju ke ruang tengah.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Aku-" Cilla terlihat ragu, namun beberapa saat kemudian, dia menatap Gama dan Dian mantap


"Papaku dan Papanya Diandra adalah orang yang sama. Itu artinya aku dan dia adalah Kakak beradik"


Dian tertawa pelan, dia masih memperhatikan dan mendengarkan Cilla.


"Lalu?"


"Bukankah seorang Kakak harus mengalah pada adiknya? Jadi, aku rasa kamu pasti mau memberikan Kak Gama untukku!"


Astaga, berani sekali beruang kecil ini mengatakan hal itu?


Berbeda dengan Dian yang terlihat santai, Gama justru terlihat emosi


"Cilla! Aku bukanlah barang yang di pindah tangankan dengan mudah. Bagaimana bisa kamu berpikir untuk memintaku pada Diandra?"


Cilla menatap Gama sendu, "Lalu harus dengan cara apa? Aku bahkan meminta Kakak dengan cara baik - baik!"


Dian masih tak bersuara, ia ingin tahu seberapa jauh Cilla akan bertindak.


"Kamu tahu betul jika aku hanya menganggapmu sebagai adik!"


"Adik? Itu hanya alasanmu, Kak. Lalu bagaimana dengan dia?" Cilla menunjuk Dian, "Dia hanya menjadikanmu alat balas dendam! Dia ingin membuatku cemburu karena dia tahu aku menyukaimu! Kamu akan terluka jika bersamanya, Kak! Lebih baik kamu bersamaku!"


Gama tertawa masam, "Ternyata kamu egois sekali! Kamu hanya mementingkan dirimu sendiri!"


"Apa yang salah? Aku hanya memperjuangkan cintaku!"


"Tapi kamu tahu betul bahwa cinta itu tidak mungkin bisa kamu raih!"


"Aku mencintaimu, Kak Gama. Sangat" suara Cilla terdengar putus asa, "Tidak masalah jika kamu tidak bisa membalas perasaanku. Tapi bisakah kamu menikahiku? Menjadi istri kedua pun aku tidak apa - apa!"


Dian menatap Cilla sinis, "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Rupanya sikap tidak tahu malu dan tidak tahu diri Mamamu menurun padamu, Cilla! Beraninya kamu meminta Gama menjadikanmu istri kedua?! Dimana otakmu, hah!!"


"Aku melakukan semua itu karena aku tidak mau kehilangan Kak Gama! Sejak kehadiranmu, semua orang yang aku sayangi mulai menjauh! Kamu membuatku kehilangan semuanya!"


"Bukan aku yang membuatmu kehilangan semuanya, Cilla. Semua terjadi karena semuanya memang bukan milikmu!!"

__ADS_1


Cilla menatap Dian sendu, "Kamu Kakakku, aku mohon, sekali ini saja mengalahlah padaku"


Dian tertawa, "Itu tidak akan pernah terjadi! Kamu menangis darah sekalipun, Gama tidak akan pernah menjadi milikmu!"


__ADS_2