Diandra

Diandra
Kontrak Perjanjian


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


"Dua miliar? Apa kau sudah gila!" ucap Radit menatapnya.


"Jika kau tidak mampu membayarnya ya sudah, aku minta setengahnya dulu!" ujar Diandra memanfaatkan keadaan.


Radit memutar kedua bola matanya, berpikir menyetujui permintaan Diandra atau membatalkannya.


"Bagaimana Tuan Radit, apa kau bersedia membayar uang dua miliar atau setengahnya dulu?" ucap Diandra kembali mengulang kalimatnya.


"Baiklah... saya akan membayarnya, tapi setelah kamu menandatangani surat perjanjian ini!" seru Radit memperlihatkan selembar kertas yang masih kosong.


"Ini surat perjanjian? Kenapa masih kosong, apa kau sedang menjebakku?" tanya Diandra menelisik.


"Huhhhh. Menjebakmu? Apa untungnya bagiku, jika aku menjebakmu!" ujar Radit.


"Sudah cepat tanda tangani saja!" perintahnya terhadap Diandra.


Diandra masih ragu dengan surat perjanjian yang akan di tanda tanganinya, lantaran kertas itu masih terlihat kosong.


'Hufttt... kenapa harus ada di dalam posisi seperti ini sih, kalau aku tidak butuh uangnya aku tidak akan melakukan semua ini,' batin Diandra mencoret selembar kertas, membubuhkan tanda tangannya di sana.


Kemudian Radit langsung mengambil kertas kosong itu, dan mengambil ponsel di sakunya.


"Nah... kalau beginikan sama-sama enak, sudah cepat mana rekening kamu, biar saya transfer uangnya!" ucap Radit meminta nomor rekening pada Diandra.


"Iya... ini juga lagi di cari rekeningnya, bisa sabar sedikitkan?" gerutu Diandra sambil menscrol daftar rekening tabungannya di ponsel.


Kemudian memperlihatkan nomor rekeningnya, kepada Radit, kemudian Radit mengetik nominal yang akan di kirimkan kepada Diandra.


TRING. Suara pesan masuk ke ponsel Diandra.


"Coba kamu lihat, mungkin itu uang saya telah masuk ke rekening kamu!" seru Radit terhadap Diandra.


Diandra melihat isi ponselnya, benar saja itu pemberitahuan jika transaksi transfer sebesar satu miliar telah masuk ke rekeningnya.


"Kenapa cuma satu miliar, saya kan mintanya dua miliar!" protes Diandra terhadap Radit.


"Ya itu baru setengahnya, jika pekerjaanmu oke, maka nominal berikutnya akan menyusul!" ucap Radit tersenyum penuh kemenangan.


Diandra sangat kesal, lantaran nominal yang di harapkannya tidak sesuai keinginan.


'Huh. Dasar produser edan... beraninya dia mengerjai saya!' batin Diandra mendengus kesal.

__ADS_1


"Hei... Nona, urusan kau sudah selesaikan? Cepat keluar dari ruangan saya!" seru Radit sambil menggerakkan tangannya, memerintah Diandra untuk segera pergi dari ruangannya.


"Iya... saya juga akan pergi, meskipun tidak anda suruh!" sahut Diandra kemudian berbalik arah, berjalan gontai menuju pintu keluar.


"Eh, tunggu dulu. Sebagai percobaan nanti malam kita adakan dinner bersama Nenek saya!" ucap Radit memberitahu Diandra.


"Iya, Anda share lock saja lokasi restauran ya!" ujar Diandra.


"Nanti saya jemput, lokasinya bukan di restoran tapi di rumah Nenek saya!" seru Radit terkekeh melihat wajah kesal Diandra.


"Iya-iya..." ucap Diandra mendengus kesal, kemudian pergi.


KLEK. Suara pintu di buka oleh Diandra kemudian di tutup kembali olehnya, dengan cara membanting pintu tersebut.


BRUG. Sontak saja Radit, terlonjak kaget saat mendengar suara pintu itu.


"Huhhhh. Tampaknya gadis itu kesal padaku, tapi aku tidak perduli," gumamnya.


Diandra keluar dari ruangan Radit dengan raut wajah kesal, dia sangat jengkel dengan keadaan ekonominya yang semakin memburuk, semenjak ibunya gemar belanja barang-barang branded.


"Apa royaltinya sudah keluar?" ucap Lucy menyadarkan Diandra.


"Ah, eummm iya, bagaimana Lucy?" ucap Diandra terkesiap.


"Apa royaltinya sudah keluar?" ucap Lucy mengulang kalimatnya.


"Dan masih ada sisa satu miliar lagi di tangannya!" ucapnya lagi.


Lucy terkesima, dia tak menyangka bahwa royalti dari perjanjian awal ternyata lebih kecil, dibandingkan yang sekarang.


"Apa aku tidak salah mendengar, Diandra? Satu miliar, apa kau yakin?" tanya Lucy dengan rasa tidak percaya.


"Yakin! Kenapa kau tidak terlihat percaya seperi itu?" ujar Diandra.


"Aku percaya, tapi rasanya itu melenceng dari royalti awal deh, kan sebenarnya royalti kamu hanya lima ratus juta, kenapa jadi membesar seperti ini," ucap Lucy masih tidak percaya.


Lucy memutar otak, menebak-nebak kalau Diandra menjual diri pada Radit.


'Tidak mungkin kalau royaltinya sampai sebesar itu? Jangan-jangan Diandra menjual keperawanannya pada Tuan Radit,' batin Lucy bertanya-tanya.


"Kau memikirkan apa? Jangan katakan kalau kau berpikiran buruk tentangku ya!" ucap Diandra dingin.


Lucy terkesiap kaget, lantaran Diandra sedikit mengeram kesal, saat dirinya berpikiran buruk tentang sahabatnya itu.


"Diandra, apa aku boleh tanya sesuatu? tapi kamu jangan marah ya!" ucap Lucy ragu.

__ADS_1


"Ya... boleh, memangnya kamu mau nanya apa hemmm?" ucap Diandra menatap Lucy.


"Eummm... apa yang terjadi tadi di dalam, apa kau melakukannya dengan Tuan Radit?" tanya Lucy dengan rasa penasaran.


"Melakukan apa? Kalau nanya yang jelas!" seru Diandra.


"Anu!" ucap Lucy sambil menyatukan kedua tangannya, nyengir kuda di hadapan Diandra.


"Ya enggaklah... dasar gila kamu ini, bisa-bisanya berpikiran jauh kesana!" ucap Diandra menoyor kepala sahabatnya tersebut.


"Ehhehe... maaf, aku tidak bermaksud berpikiran sampai kesana!'' seru Lucy sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Kemudian Diandra segera pergi dari gedung mewah, perusahaan MIXARPICTURE. Mereka segera menuju lokasi shooting.


Sementara Radit kembali fokus pada pekerjaannya, menelpon Nenek angkatnya yaitu nenek Milloma.


"Halo Nek... apa kabar?" tanya Radit dengan penuh perhatian.


"Kabar baik... tumben sekali kamu menelpon Nenek! Oh Nenek tahu, pasti kamu akan memperkenalkan calon Istrimu ya?" sahut Milloma si seberang sana.


"Kok Nenek tahu, tepat sekali kalau begitu tebakan Nenek!" ujar Radit.


"Tebakan Nenekmu ini tidak akan melenceng, oke kalau begitu secepatnya bawa calon Istrimu untuk Nenek nilai kualitasnya!" seru Milloma si seberang sana.


"Kapan kau akan membawanya Cucuku?" tanyanya.


"Nanti malam Radit akan bawa kejutan itu ke rumah Nenek, tenang saja Nek!" seru Radit tersenyum.


"Baiklah Nenek tunggu kedatanganmu!" ucap Milloma.


"Ya sudah Nek, kalau begitu sudah dulu ya, Radit mau melanjutkan pekerjaan Radit lagi. See you Nenekku," ucap Radit sambil mengakhiri panggilannya.


Namun Rupanya Melissa menguping pembicaraan Radit dengan nenek Milloma dari balik pintu ruangan.


"Siapa yang di maksud Nenek oleh Radit, apakah dia masih memiliki anggota keluarga lainnya?" gumam Melissa.


Kemudian Ia masuk ke dalam ruangan, putra tirinya itu, sambil menenteng makanan di paper bag.


"Selamat siang Anaknya Mama!" seru Melissa memasuki ruangan Radit, tanpa ada rasa canggung sedikitpun, atas apa yang telah dilakukannya.


"Sel-sel-selamat siang Ma," ucap Radit gugup, lantaran kejadian tadi pagi masih tersimpan di benaknya.


"Kamu sudah makan atau belum Nak? Kalau belum, kita makan bareng yah, Mama sangat rindu dengan semua itu!" ucap Melissa tersenyum pada Radit.


"Ahaha... iya Radit juga sangat rindu dengan suasana itu," dusta Radit agar ibu tirinya itu tidak tersinggung.

__ADS_1


"Maafkan Mama atas kejadian tadi pagi ya! Mama berhalusinasi, Mama kira tadi pagi itu Papamu!" Melissa berdalih, agar di maafkan oleh putra tirinya itu


__ADS_2