
"Mas, aku mau bekerja lagi" ucap Vika pada suaminya
"Kamu mau kerja? Kenapa? Sekarang keuangan kita sudah membaik. Untuk apa kamu mau bekerja. Lagipula, siapa yang akan menjaga Yazna?" jawab Saka sedikit keberatan
"Ya kan ada Bunda, Mas. Lagipula Yazna sudah besar. Dia sudah berumur dua tahun. Aku bekerja juga untuk membantu keuangan keluarga kita"
Saka menatap istrinya heran, "Bunda sudah tua, Vik. Dan kamu tahu sendiri jika Yazna tidak seperti anak lainnya"
Vika memutar bola matanya malas, "Ya karena itu aku juga ingin bekerja. Kamu pikir biaya untuk Yazna itu sedikit? Dia perlu tongkat untuk bisa berjalan. Dan masih banyak lagi kebutuhan yang lainnya. Setidaknya kalau aku bekerja, kehidupan kita akan jauh lebih baik"
Saka menghela nafas, "Memangnya kamu mau bekerja apa?"
"Seorang teman menawariku untuk menjadi sekertaris"
"Teman? Siapa?"
"Teman lama. Kenapa kamu terdengar curiga seperti itu?!" tanya Vika sedikit kesal
"Tidak. Hanya saja, posisi sekertaris kan sangat penting. Kenapa kamu-"
"Maksudmu aku tidak mampu untuk jadi sekertaris, begitu?!" potong Vika cepat, "Kamu bahkan tahu! Sebelum menikah dengan mendiang suamiku dan menjadi istrimu, aku ini seorang karyawan kantor!"
"Bukan maksudku-"
"Kamu selalu saja meremehkan aku! Kamu harus tahu, Mas. Aku juga bisa membuktikan bahwa aku ini wanita karier dan pekerja keras sama seperti mantan istrimu itu!!" Vika beranjak, "Dengan atau tanpa izinmu, aku tetap akan bekerja!"
Saka kembali menghela nafas setelah kepergian istrinya. Untung saja Bunda sedang ke pasar, jadi dia tidak mendengar apa yang Vika katakan, jika tidak, mungkin Bundanya akan marah.
Bruk
"Hua...."
Saka berlari menuju ke kamar saat mendengar suara tangisan Yazna. "Ya Allah, Nak"
Balita berusia dua tahun itu terjatuh dari atas ranjang dengan posisi tengkurap. Saka segera menggendong Yazna. "Dahimu biru"
"Akit Yah. Akit"
"Kemana Bundamu, Nak?"
Dengan perasaan cemas, Saka membawa bayinya keluar kamar, kemudian mendudukkan putrinya di sofa. "Vik ... Vika!! Kemana dia?"
Saka mengambil kotak obat kemudian mengobati dahi putrinya yang memar. Tangisan Yazna membuat Saka tak tega. Dengan berusaha sepelan mungkin, Saka tetap mengobati putrinya.
"Kenapa dahinya Yazna, Ka?" tanya Bunda yang baru datang dari pasar
"Yazna jatuh dari tempat tidur, Bun"
"Memangnya Vika kemana sampai anaknya bisa jatuh?"
"Aku tidak tahu"
"Bagaimana bisa dia meninggalkan anaknya seperti ini? Keterlaluan!"
Saka tak menyahuti perkataan Bunda. Dia lebih memilih menggendong dan menenangkan putrinya.
🍀🍀🍀
"Sayang, jangan dandan terlalu cantik"
__ADS_1
Dian menoleh pada sang suami, "Loh, kan pertemuan ini akan dihadiri banyak pengusaha, Mas. Dan kebanyakan dari mereka adalah rekan kerjamu. Masa aku nggak dandan. Nanti apa kata orang kalau melihat istrinya Gama jelek"
Gama menghampiri dan mencubit hidung, Diandra. "Kamu tanpa bedak dan teman - temannya sudah sangat cantik. Jadi tidak perlu memoles wajahmu lagi"
Dian tertawa mendengar ucapan Gama, "Baiklah. Aku tidak akan berdandan cantik. Tapi perempuan memakai bedak dan lipstik, itu wajib"
"Perempuan memang tidak bisa dibantah. Oke. Kamu boleh pakai itu tapi tipis - tipis saja"
"Apa selama ini aku pernah dandan berlebihan?"
"Aku rasa tidak" jawab Gama terkekeh
"Dasar posesif"
"Posesif tanda cinta" Gama mencium pipi sang istri berkali - kali, "Kenapa aku jadi malas untuk pergi ke pesta itu ya. Rasanya aku hanya ingin berdua denganmu saja"
"Kenapa jadi kamu yang manja? Padahal yang hamil adalah aku"
"Entahlah. Aku hanya tidak rela membagimu pada orang lain meskipun hanya melihatmu saja"
Dian memutar bola mata malas, "Ayolah, Mas. Jangan berlebihan seperti itu. Apa kata rekan - rekanmu kalau kamu tidak hadir, hm?"
Gama beranjak, "Baiklah. Ayo kita pergi. Tapi sebentar saja ya?"
"Terserahlah"
Gama menggandeng tangan sang istri dengan posesif. Malam ini mereka akan menghadiri sebuah acara yang di adalah salah satu perusahaan besar tanah air.
Gama mengemudi mobil dengan pelan. Alasannya tentu takut membahayakan keselamatan sang istri dan calon anaknya. Acara itu sendiri akan dilaksanakan di DV Hotel.
Telat lima belas menit sebelum acara dimulai, Gama dan Dian tiba di Hotel. Keduanya langsung masuk begitu Gama selesai memarkirkan mobilnya. Acara yang di adakan cukup mewah. Terlihat dari dekorasi dan serangkaian pengisi acara.
"Sama - sama Tuan Alexander. Selamat atas pencapaian perusahaanmu yang ke tiga puluh tahun"
"Terima kasih. Oh ya, Nyonya Gama, hotelmu sangat nyaman. Pelayanan dan fasilitasnya sangat lengkap. Setiap ada acara, aku pastikan akan menggunakan hotelmu sebagai tempatnya"
Dian tersenyum, "Terima kasih atas kepercayaan dan kepuasannya, Tuan Alexander. Sebagai tanda terima kasihku, kami akan mengirimkan bingkisan ke kantor Anda dan juga diskon dua puluh persen untuk pemesanan selanjutkan"
"Wah ... Selain cantik, Anda juga baik hati Nyonya Gama. Tuan Gama sangat beruntung bisa mendapatkan istri seperti Anda"
"Anda benar Tuan, aku adalah pria paling beruntung di dunia karena bisa mendapatkan istri sempurna seperti Diandra"
"Baiklah, aku silahkan di nikmati pestanya. Aku akan menyapa tamu yang lain dulu"
Selain menyapa Tuan rumah, Gama juga menyapa beberapa rekan kerja yang lainnya.
"Kamu mau makan sesuatu?"
"Hm ya. Aku mau mencicipi cake nya"
"Baiklah, ayo"
Saat akan mengambil salah satu cake, tangan Dian tak sengaja berbenturan dengan tangan lainnya"
"Maaf", ucap mereka bersamaan
"Vika"
Vika menatap Dian malas, "Oh kamu rupanya. Kalau tahu kamu orangnya, malas sekali aku mengatakan maaf" sahut Vika kemudian pergi
__ADS_1
"Sayang, kenapa?"
Dian menggeleng, "Tidak ada apa - apa"
Diandra menatap Vika yang sudah menjauh darinya. Pakaian istri Saka itu terlihat mewah dan mahal.
"Kamu lihat siapa sih?"
"Oh, tadi aku tidak sengaja bertemu Vika"
"Istrinya Saka?"
Dian mengangguk, "Apa mungkin Saka juga di undang di acara ini?"
"Aku rasa tidak. Acara ini khusus orang - orang yang bekerja sama dengan Tuan Alexander"
"Kalau begitu, apa mungkin Vika datang bersama dengan temanmu yang kemarin?"
"Entahlah. Bukan urusan kita juga. Jangan terlalu di pikirkan"
"Kamu benar, Sayang"
"Sudah mengambil kuenya?"
"Hm"
Acara inti pun dimulai, ada sambutan, ucapan terima kasih dan di akhiri pemotongan kue dari si pemilik acara. Kemudian acara di lanjutkan dengan hiburan.
Dian memperhatikan Vika sekali - kali. Dan tidak nampak keberadaan teman Gama yang kemarin. Bisa jadi, Vika datang bersama Saka. Tapi keberadaan Saka pun tak nampak. Lalu bagaimana Vika bisa datang ke pesta mewah ini? Kemudian beberapa detik kemudian, Vika sudah tak terlihat
Mungkin dia sudah pulang. Bathin Dian
"Mas, aku ke toilet sebentar ya?"
"Ya sudah, ayo aku antar"
"Tidak usah. Aku hanya sebentar. Lagipula toiletnya dekat kok"
"Kamu yakin?"
"Iya"
"Baiklah. Kalau sudah, langsung kembali ya"
"He em"
Dian berjalan ke arah toilet, begitu sampai di toilet perempuan, ia segera masuk karena sudah tak tahan. Setelah menuntaskan hajathya, Dian keluar dari toilet.
"Vika"
Perempuan itu berbalik lalu menatap Dian dengan senyuman sinis, "Jangan pernah ikut campur urusan pribadiku, Diandra"
Dian mengangguk dengan senyuman manis, "Ada angin apa tiba - tiba kamu mengatakan hal seperti itu? Padahal selama ini aku tidak pernah tahu bagaimana kehidupan dan urusanmu! Atau ... Kamu takut aku mengetahui rahasia yang selama ini kamu sembunyikan?" pancing Dian
Vika mendekat, kemudian menatap Dian serius, "Tidak penting apapun yang kamu katakan. Yang jelas, jangan pernah ikut campur urusanku!"
Vika berniat meninggalkan Dian, "Jadi benar. Kamu adalah simpanan Nevan?"
Deg
__ADS_1