
...HAPPY READING...
...----------------...
*POV-RADIT*
Aku terbangun pagi itu, sambil mengitarkan pandangan kesekelilingku, kemudian melakukan peregangan pada otot-otot tanganku, aku kaget luar biasa saat melihat tubuhku tanpa busana, aku segera bangkit melihat pakaian yang aku kenakan berantakan di lantai, lalu aku tersadarkan oleh suara tangis yang terisak.
Ya aku ingat malam itu aku meminum teh dengan Monica, setelah itu aku berniat pulang, namun aku tidak mengingat apa-apa lagi.
Perlahan aku menghampiri sumber suara itu, langkah demi langkah jantungku berdegup kencang, lantaran aku takut bahwa aku telah melakukan sesuatu pada Monica.
Saat aku menghampiri suara tangisan seorang, aku sangat terkejut melihat Monica menangis, merengkuh tubuhnya tanpa di balut busana.
Aku langsung bergegas kembali, namun Monica menghampiriku.
“Kamu jahat Radit... kenapa kamu melakukan semua ini padaku, kenapa kamu merenggut kesucianku Radit!” ucap Monica bergetar hebat mulutnya mengancing menatap wajahku.
DEG.
Aku lemas seketika mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Monica, pasalnya aku sama sekali tidak sadar, ketika aku melakukannya.
“Enggak-enggak ini tidak mungkin... aku tidak melakukan apapun padamu Monica! Kami bohong kan, kamu bercanda kan?” ucapku menatapnya.
Marah, benci, menyesal, kini berkecamuk dalam hatiku.
“Aku benci padamu Radit... kenapa kamu melakukan ini padaku, kenapa Radit,” lirihnya memukul-mukul dada bidangku, terisak dalam tangisnya.
Awalnya aku tidak percaya dengan kejadian ini, dan aku sempat mengira jika Monica menjebakku. Namun saat melihatnya menangis, aku tahu ini adalah perbuatanku dia tidak menjebakku sedikitpun.
“Monica-Monica, dengarkan aku! Aku pasti bertanggung jawab sama kamu, aku janji, tapi aku tidak bisa menikahi kamu!” ucapku terhadapnya.
Seketika Monica melepaskan pelukannya dariku, menatap tajam padaku, entah tatapan apa itu, tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.
“Baik jika itu maumu, tenang saja aku tidak akan memaksamu Dit... anggap semuanya tidak pernah terjadi!” ujar Monica segera bergegas menuju kamar mandinya.
“Monica-Monica... tunggu aku, aku belum selesai bicara denganmu!” sentakku kesal.
“Apalagi yang harus di bicarakan. Radit! Aku mengerti kamu sudah memiliki kekasih selain aku kan? Tenang saja aku tidak akan pernah mengganggumu!” ujarnya menghempaskan tanganku.
Monica berjalan gontai meninggalkan aku, yang masih berdiri menatapnya. Aku menyesal telah mengatakan kalau aku tidak akan menikahinya, tapi memang benar aku tidak akan menikahinya, aku hanya akan mengganti kompensasi untuk keperawanannya.
__ADS_1
Kemudian aku mengambil secarik kertas, menuliskan sejumlah uang di sana, kemudian aku pergi dari apartemen tersebut.
Dengan segera aku turun dari unit apartemen milik Monica, aku segera menuju basemen, namun dengan tidak sengaja aku menabrak seorang perempuan yang menamparku kemarin malam.
BRUKKKK. Seketika aku terjatuh dan perempuan itu juga terjatuh tepat di atasku.
Mata indah itu, mata yang selalu aku rindukan, dengan tidak sengaja bertemu lagi di sini.
“Lepaskan saya, Tuan Radit yang terhormat!” umpatnya membuyarkan lamunanku.
Perlahan kami bangkit, secara bersamaan aku menggenggam tangannya saat ia akan pergi.
“Andara, aku mohon jangan pergi dariku, please tetaplah bersamaku di sini. Maafkan aku!”
Namun seketika ia memberontak, sehingga membuatku tidak mengerti.
“Tuan Radit yang terhormat... sudah saya katakan, saya bukan Andara. Saya Diandra! Lepaskan saya!”
“Tidak Andara, aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku mohon maafkan aku Andara!"
“Anda sudah gila ya! Saya Diandra, bukan Andara, apa Anda tidak bisa melihat wajah saya dengan jeli!”
Aku mulai ingin menyelidiki perempuan itu, tidak apa-apa, meskipun dia bukan Andara pun dia sedang berpura-pura, aku tidak peduli, yang jelas dia adalah Andaraku.
“Andara tunggu aku!”
Aku berusaha mengejarnya, namun rupanya orang yang sangat mirip dengan kekasihku itu, telah pergi dengan mobilnya.
Aku segera bergegas menuju mobil, kemudian mengejarnya. Namun sayangnya Andara atau orang yang sangat mirip itu tidak berhasil aku kejar.
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke apartemenku.
Kini aku telah sampai di apartemen, aku bergegas menuju lift, untuk segera ke unitku.
Saat aku sampai di unit apartemenku, Nenek Milloma sudah ada di sana, menatapku dengan penuh kecewa.
“Dari mana kamu semalam? Kenapa tidak menemui Lucy di restoran!” hardiknya kesal.
“Maafkan aku Oma... aku lupa!”
“Lupa! Ya Tuhan... kamu benar-benar kelewatan Radit. Dia menunggumu di sana, jauh-jauh dia datang dari Surabaya, hanya untuk menemuimu, tapi kamu malah seperti ini! Nenek kecewa sama kamu!” sentaknya lalu pergi dari apartemenku.
__ADS_1
Aku tidak menghentikannya, lantaran aku tidak ingin nenek terus menerus mencarikan calon istri untukku, aku bosan dengan kencan buta yang sering nenek Milloma berikan padaku.
Padahal beliau tahu kalau aku sudah memiliki kekasih, tapi nenek Milloma tidak percaya sama sekali terhadapku.
Aku lelah dengan semua ini, aku menghela nafas, sejenak aku mengingat Monica yang tidak sengaja telah aku nodai.
ARGGGG. Sungguh sialnya nasibku, bagaimana bisa aku melakukan hal gila itu dengan sahabatku sendiri.
Aku mengumpati diriku sendiri, kesal rasanya tidak bisa mengontrol, namun ada sedikit keraguan dalam hatiku, jika aku telah melakukan hal itu dengannya.
Akan tetapi semua bukti itu menujukan kebenarannya, bercak merah di atas kasurnya membuktikan jika keperawanannya telah kurenggut.
Kini aku telah selesai membersihkan diri, kemudian aku segera bergegas pergi menuju kantor, meski suasana hatiku sedang kalut, telah meniduri anak gadis orang, bahkan tanpa cinta sekalipun.
Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan, haruskah aku menikahinya meski tanpa cinta sekalipun, bukankah terlalu jahat jika menikahinya tanpa cinta.
Jalanan pagi itu belum terlalu macet, sehingga aku bisa lebih dulu datang ke kantor.
Aku berjalan gontai memasuki gedung MIXARPICTURE, namun di sana rupanya banyak sekali para wartawan.
“What’s... kenapa kantorku banyak sekali di datangi para wartawan,” gumamku.
Seketika para wartawan itu menghampiriku, dengan kurang ajarnya mereka bertanya soal hubunganku dengan Diandra, jelas-jelas aku tidak ada hubungan sama sekali dengan orang itu.
“Mr Radit... tolong jawab pertanyaan kami, sebenarnya apa hubungannya Anda dengan Nona Diandra, apakah benar Anda adalah kekasih Nona Diandra?” ucapan demi ucapan terlontar, dari para wartawan itu.
Aku terpaksa menjawab pertanyaan mereka, meskipun kesal aku harus dengan tenang menghadapi awak media itu.
“Maaf ya! Saya tidak ada hubungan sama sekali dengan orang yang bernama Diandra!” jawabku kesal.
“Kalau Anda tidak ada hubungan apa-apa, kenapa Anda menginap di apartemen yang sama dengan Nona Diandra, Tuan Radit?”
Sejenak aku terdiam, berusaha mencerna pertanyaan dari mereka, lantaran mereka melontarkan pertanyaan yang sangat gila itu.
“Hah... tidak ada itu, saya sama sekali tidak menginap di apartemen Nona Diandra, itu hanya kabar bohong!” jawabku seraya melangkah.
Namun orang-orang itu, tetap saja tidak berhenti mengikutiku. Hingga pada akhirnya aku kesal pada mereka dan berteriak memanggil asistenku.
“Maxcton... cepat kau bereskan orang-orang ini, saya banyak urusan!” umpatku memanggil Maxcton, dengan santainya kulihat sedang memainkan ponselnya.
Setelah Maxcton membereskan para wartawan itu, aku segera bergegas pergi dari lobby menuju ke ruangan kerjaku.
__ADS_1