
"Aku lah calon suami Diandra! Perkenalkan, namaku Gama Mahaditya"
Deg
Rey dan Saskia menatap Gama beku. Melihat sosok gagah yang baru datang dan mengaku sebagai calon suami Diandra.
Banyak pertanyaan yang muncul di benak Rey. Benarkah pria ini calon suami Diandra? Sejak kapan mereka saling mengenal? Siapa sebenarnya pria bernama Gama itu? Dan bagaimana bisa Diandra akan menikah lagi padahal perceraiannya belum genap satu tahun? Rey tahu betul Diandra seperti apa. Ini terlalu mencurigakan dan mendadak. Apa ada sesuatu yang terjadi? Atau jangan - jangan? Tidak, Diandra tidak mungkin seperti itu. Sekali lagi Rey menatap Gama. Lebih tepatnya menatap mata Gama dan mencari kebohongan dalam sorot matanya. Sayangnya, Rey tidak menemukan itu.
"Benarkah kamu calon suami Diandra?" tanya Rey lirih
"Benar" Gama menatap Dian tersenyum, "Kami akan menikah pekan depan?"
"Kenapa aku merasa ada yang janggal? Diandra belum genap setahun bercerai. Tidak mungkin dia memutuskan untuk menikah secepat ini. Sebab aku tahu betul Dian seperti apa"
Dian tertawa, "Semua orang bisa berubah seiring berjalannya waktu, Kak Rey. Apa yang salah jika aku akan menikah lagi? Masa Idahku juga sudah terlewati" balas Dian
Rey tampak menghela nafas, "Aku hanya merasa kamu sedang menutupi sesuatu, Di"
"Tidak ada yang Diandra tutupi. Kami memang akan menikah dan itu karena kami saling memahami satu sama lain"
"Saling memahami?" Rey bertanya dengan nada tak percaya, "Menikah harus dengan cinta. Bukan saling memahami"
"Cinta tidak bisa di jadikan patokan dua orang untuk memulai biduk rumah tangga. Kamu lihat, dulu aku dan Saka saling mencintai. Tapi apa yang terjadi? Dia tergoda oleh wanita lain. Cintanya memudar seiring berubahnya waktu. Cinta saja tidak cukup di jadikan pondasi, Kak Rey! Tapi saling memahami, akan berjalan selaras karena kita saling mengerti satu sama lain. Memahami kelebihan dan kekurangan pasangan. Dan tentunya akan ada cinta didalamnya"
Jawaban tegas Dian membuat Gama tersenyum. Ada sisi lain yang baru ia ketahui tentang calon istrinya itu. Diandra itu cerdas dan dewasa. Sejak awal Gama tahu, Dian berbeda dengan wanita lainnya. Betapa beruntungnya Gama bisa menjadi suaminya. Setelah mereka resmi menikah, Gama tidak akan pernah melepaskan Dian. Dia berjanji akan selalu menjaga dan mencintai Diandra.
"Di ...-"
"Kamu terlambat Kak Rey. Tapi meskipun belum, aku tetap tidak bisa kembali padamu. Rasa kita sudah berbeda. Jalan kita juga sudah tidak sama"
Rey terlihat frustasi dan putus asa. Dia datang dengan sejuta harapan. Namun semuanya roboh begitu saja saat mengetahui dirinya sudah tidak memiliki kesempatan lagi.
Saskia tak mampu menahan kesedihannya. Apalagi saat melihat tatapan terluka putranya. Menyesal, jelas saja. Tapi waktu tidak bisa di putar kembali. Andai dulu ia tak egois. Sekarang semua pasti baik - baik saja. Dan mungkin, Reyhan juga masih hidup dan bahagia di tengah - tengah mereka.
"Apa tidak ada kesempatan untuk Rey, Di?" tanya Saskia penuh harap
Diandra tersenyum masam, "Maafkan aku Tante. Aku tidak bisa kembali pada Kak Rey"
"Andai waktu bisa di ulang, mungkin-"
"Waktu yang sudah berlalu akan menjadi kenangan! Entah kenangan manis ataupun pahit. Tapi prinsip hidupku, aku tidak akan pernah mau mengulang kenangan pahit untuk yang kedua kalinya. Dan aku rasa, Tante paham maksudku!"
__ADS_1
Saskia bungkam, dia kembali mengingat keegoisannya dulu. "Aku minta maaf, Diandra. Aku benar - benar minta maaf"
"Tante bahkan tahu semua yang terjadi padaku! Semuanya! Tapi Tante seolah tidak melihat apapun! Padahal saat itu Tante tahu, jika aku membutuhkan Kak Rey!"
"Diandra, aku-"
"Apa maksud ucapan Diandra, Ma?" Rey merasa ada sesuatu yang terjadi pada mereka dulu. Dan ia tidak tahu hal itu
"Rey, Mama-"
Diandra menatap Rey nyalang, "Mamamu mengetahui semua yang terjadi padaku waktu itu! Tapi karena keegoisannya, dia membiarkan hidupku hancur!"
Rey tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. "Ma, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa Mama menyimpan begitu banyak rahasia padaku?" pinta Rey lirih
Saskia bungkam, jujur ia takut, apalagi setelah menantu yang ia bela dan dukung mati - matian ternyata membohonginya selama ini.
"Kenapa diam, Tante? Kenapa Tante tidak menjawab pertanyaan putra Tante? Apa Tante takut? Tante takut semuanya akan diketahui oleh Kak Rey?"
Saskia masih bungkam,
"Biar aku yang menjelaskan!"
Deg
"Tante sengaja menghalangi Kak Rey menemuiku. Dan Tante juga sengaja mengirim Kak Rey ke luar negeri agar dia tidak mengetahui apa yang terjadi padaku! Dengan dalih kehamilan Almira, Tante memaksa Kak Rey pergi. Padahal Tante tahu saat itu aku membutuhkan Kak Rey!" Dian meluapkan segala emosinya, "Hari dimana Papaku pergi dengan istri dan anak barunya, hari itu pula Kak Rey menikahi wanita lain! Seolah tak cukup dengan semua itu, Mamaku memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri!"
Duar
Bak bom waktu yang meledak, Saskia hanya mampu menangis tersedu. Semua rahasia yang disimpannya akhirnya terbongkar sekarang. Bukan itu saja, rupanya semua perbuatannya dulu sudah menghancurkan hidup seseorang.
"D-di ... Kamu barusan bilang apa? T-tante bunuh diri?" tanya Rey terkejut
"Ya! Mamaku mati bunuh diri tepat di hari pernikahanmu! Penderitaaan mana lagi yang tidak aku alami!!"
Gama mengusap lengan Dian dan berusaha menenangkan wanita itu "Tarik nafas, tenangkan dirimu, Di" ucap Gama. Dian menoleh pada Gama kemudian melakukan yang pria itu katakan.
Setelah sedikit tenang, Dian kembali menatap Rey dan Saskia. "Dan kamu tahu, Kak Rey? Semua kejadian yang menimpaku, Mamamu mengetahui semuanya!!"
Deg
Saskia semakin tersedu. Air mata penyesalan terus saja mengalir ke pipinya.
__ADS_1
"Benarkah yang Diandra katakan, Ma?" tanya Rey dengam mata berkaca - kaca
Saskia tak sanggup menjawab pertanyaan putranya. Perempuan paruh baya itu hanya mampu tertunduk lesu. Melihat Mamanya yang hanya diam, Rey menjadi lemas.
"Jawab, Ma!!!"
Saskia menatap takut putranya, "I-iya. M-mama tahu semuanya"
Hancur. Itulah perasaan Rey saat ini. Kecewa lebih tepatnya. Bagaimana mungkin Mamanya tega berbuat hal kejam seperti itu. Banyak sekali kebohongan yang Mamanya sembunyikan. Tanpa terasa air mata mengalir daei sudut matanya. Rey mengusapnya kasar,
"Apa salah Diandra pada Mama? Apa yang membuat Mama jadi manusia yang tidak punya perasaan? Mama tahu? Perbuatan Mama sudah menghancurkan hidup orang lain! Dimana hati nurani Mama sebagai sesama perempuan?"
Lagi! Saskia hanya mampu menangis. Ingin sekali Rey melampiaskan kemarahannya. Tapi ia sadar, dia akan menjadi anak durhaka jika menyakiti orang yang sudah melahirkannya.
"Bukankah Mama tahu seberapa besar aku mencintai Diandra? Aku hanya tak habis pikir, kenapa Mama sekejam ini padanya?"
"M-maafkan Mama Rey. M-mama hanya takut kehilangan cucu Mama"
Rey tertawa kasar, lagi - lagi setetes air mata jatuh membasahi pipinya. "Sebegitu takutnya Mama kehilangan Almira hingga Mama berbuat kejam pada Diandra! Ini tidak adil untuknya, Ma. Seharusnya aku ada di saat dia terpuruk. Harusnya aku menjadi sandaran dan tempatnya berkeluh kesah. Tapi apa yang terjadi? Aku justru ikut menjadi manusia jahat yang menyakitinya di saat dia hancur!"
Gama dan Diandra saling menatap, jujur Dian kasihan melihat Rey. Sebenarnya, dia hanyalah korban keegoisan dan kebohongan orang tuanya. Namun seperti yang Dian katakan, dia tidak akan mau mengulang kenangan pahit untuk kedua kalinya.
Rey berlutut di depan Diandra, sesekali menyeka air matanya tak mau berhenti keluar dari mata tajam pria tersebut. "Aku mohon ampuni aku, Di. A-aku mohon ampuni aku"
Dian iba, "Bangunlah, Kak. Jangan seperti ini" pinta Dian
Rey menggeleng, "Aku sudah menjadi manusia jahat, Di. Aku sudah ikut menghancurkan hidupmu"
"Hidupku memang pernah hancur dan tidak mudah mengembalikan kewarasanku saat itu. Tapi karena kejadian itulah aku bisa jadi seperti sekarang. Aku bisa menjadi wanita tegar dan mandiri. Aku juga bisa membedakan mana orang - orang yang tulus dan orang - orang munafik" Dian berucap dengan tegas, "Berdirilah Kak Rey. Tidak ada gunanya kamu berlutut sekarang"
Rey berdiri, pandangannya tak lepas dari sosok Diandra. Ingin sekali ia merengkuh wanita itu dan memeluknya erat. Menyampaikan kerinduan yang begitu dalam. Namun Rey sadar, harapannya mustahil untuk ia lakukan. "Kamu memaafkan aku?"
"Aku sudah memaafkan semuanya. Tapi ... luka itu akan tetap membekas dalam ingatan!"
Wajah Rey terlihat putus asa.
Melihat tatapan putus asa putranya, hati Saskia seperti teriris. "Di ... Semua ini terjadi karena kesalahanku. A-aku juga minta maaf, Diandra. Maaf sudah membuat hidupmu menderita" sambung Saskia
Dian menghela nafas berat, "Aku sudah memaafkanmu, Tante. Bahkan jauh sebelum hal ini terungkap"
Saskia merasa malu pada Diandra.
__ADS_1
Rey menatap Dian dengan lekat, "Katakan padaku, Di. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semau kesalahanku dimasa lalu"
Dian menoleh ke arah Gama sekilas. "Tolong pergi dari hidupku selamanya! Pergilah sejauh yang kamu bisa agar kita tidak akan pernah bertemu lagi!"