Diandra

Diandra
Bab 70


__ADS_3

"Cilla!!"


Saat Dian berlari dan membantu suaminya, Livia dan Aditama berlari ke arah Cilla yang jatuh tersungkur setelah Dian menendangnya.


"Apa yang kamu lakukan pada putriku, Diandra!!"


"Aku hanya memberinya pelajaran! Dia memang pantas mendapat itu!"


Dian menatap suaminya, "Gam, kepalamu berdarah", Dian mengusap darah yang mengalir di kepala sang suami. Sayang, darahnya tetap saja mengalir, "Pak Alim, saya minta tolong ambilkan kotak obat!"


"B-baik, Non"


Dian membawa Gama masuk kedalam rumah. Sementara Cilla nampak merintih kesakitan.


"Sakit, Ma"


"Ayo kita masuk. Kita periksa keadaanmu di dalam"


Livia menatap Dian yang sibuk mengobati kepala Gama. Istri Gama itu hanya melirik Livian sinis.


"Mana yang sakit, Cill? Kalau ada yang sakit, kita periksa ke rumah sakit sekalian visum. Hasil pemeriksaannya bisa kita jadikan bukti untuk melaporkan wanita sialan ini!"


"Laporkan saja! Kamu pikir aku takut?" tantang Dian


"Baik, aku akan melaporkanmu! Tunggu saja!"


Dian tertawa sinis, "Aku juga akan melaporkan kalian karena sudah mengambil hak milik mendiang Mamaku dan para buruh!"


Livia seketika bungkam, wanita itu tampak mati kutu. Sementara Cilla masih tampak meringis kesakitan.


"Kak Gama, maafkan aku" lirihnya pelan


Gama menatap Cilla dingin, "Aku bisa menuntutmu dengan percobaan pembunuhan!"


Semua orang terbelalak, kecuali Dian. Wanita cantik itu justru menyeringai. "Kalau kamu berfikir bisa menarik simpati suamiku. Kamu salah besar, Pricilla!"


"Gam, kamu jangan melaporkan Cilla. Dia tidak sengaja"


"Bagaimana bisa menyerang dengan sadar Anda bilang tidak sengaja?"


"Tolong jangan perbesar masalah ini. Aku minta maaf atas nama Cilla" tutur Aditama


"Wah ... Enak sekali ya, meminta maaf! Apa semua masalah bisa selesai dengan maaf saja? Anda sungguh tidak punya malu, Tuan Aditama!" sindir Dian


"Kali ini mungkin aku bisa memaafkan Cilla. Tapi jika hal seperti ini terulang kembali, maka tidak ada ampun lagi!" putus Gama


Dian menatap suaminya lalu mengusap wajahnya pelan, "Kamu memang sangat baik, suamiku. Aku jadi makin beruntung menjadi istrimu" Tentu saja Dian sengaja memanas - manasi Cilla, "Sebaiknya kita istirahat sekarang" Ajak Dian pada suaminya. Sebelum benar - benar pergi, Dian menatap Livia, Aditama dan Cilla, "Jangan lupa untuk membereskan barang - barang kalian. Besok kalian harus pergi dari sini"

__ADS_1


Wajah Livia tampak marah, "Oh satu lagi. Jangan lupa membayarkan upah buruh yang kalian potong besok pagi!"


Setelah kepegian Dian dan Gama, Livia berteriak kesal. "Anak sialan itu sangat menyebalkan!"


"Benar, Ma. Dia itu manusia paling menyebalkan di dunia ini!" imbuh Cilla


"Semua ini gara - gara Papa!! Bagaimana bisa Papa tidak mengubah perkebunan ini menjadi nama Papa!! Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar! Kenapa Papa malah membiarkannya perkebunan ini masih atas nama Denata!!"


"Karena yang membeli perkebunan ini memang Denata"


"Dasar bodoh! Kamu memang pria bodoh!!" maki Livia


Aditama hanya mampu menghela nafas,


"Lalu kita akan kemana setelah ini? Bagaimana kehidupan kita setelah ini? Darimana kita akan hidup? Hah!!"


"Papa akan cari kerja"


"Kerja?" tanya Livia remeh, "Kantor mana yang mau menerima lulusan SMA sepertimu?! Paling mending jadi OB! Itupun kalau masih laku!!"


"Lalu kuliahku bagaimana, Pa? Aku tidak mau putus kuliah"


Aditama menatap putrinya, "Papa akan berusaha keras agar kamu tetap bisa berkuliah"


"Kamu memang tidak punya pikiran, Aditama!!"


Livia meninggalkan suaminya, disusul dengan Cilla. Pria paruh baya itu mendudukkan bokongnya di kursi. Berkali - kali menghela nafas nyatanya belum bisa meredakan perasaannya.


Cilla berdiri di depan kamar Dian dan Gama, dia mendekatkan telinganya pada pintu agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi bukannya percakapan yang ia dengar, justru suara lenguhan yang membuat hatinya memanas.


"Tidak tahu malu! Bagaimana bisa mereka malah berbuat seperti ini!" Gadis itu memilih pergi dan menyusul Mamanya yang lebih dulu masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Gama dan Dian kembali menikmati malam indah mereka. Luka di kepala nyatanya tak menghalangi mereka untuk memadu kasih.


🍀🍀🍀


Dok Dok Dok Dok


Dian terus saja menggedor kamar Livia. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi namun wanita itu belum juga bangun


Dok Dok Dok


"Siapa sih!! Ganggu orang tidur saja!!"


"Astaga!! Ada singa baru bangun tidur!" sindir Dian saat melihat rambut Livia berantakan seperti rambut singa.


"Ada apa mengganggu tidurku!!"

__ADS_1


Dian bersedekap dada, "Kamu tentu tidak lupa kan, kalau harus angkat kaki dari sini!"


Wajah Livia tampak sangat tak bersahabat, "Kamu tidak bisa mengusirku dari sini!"


"Dasar bebal! Akulah pemilik rumah ini! Jadi aku berhak mengusir kalian sekarang juga!!"


"Ada apa sih, Ma?" tanya Cilla yang baru turun dari ranjang,


"Ini lagi! Gadis pemalas! Bagaimana bisa kamu bangun sesiang ini!"


"Mau aku bangun siang atau pagi lagi, tidak ada urusannya denganmu!"


Dian mengangguk, "Aku hanya berdoa semoga kamu tidak berjodoh dengan orang biasa. Kalau tidak, aku tidak yakin kalau kamu mampu bertahan. Suka bangun siang, aku yakin masak dan beberes rumah kamu tidak bisa!. Gadis manja sepertimu hanya tahu memerintah!"


"Berhenti menilai buruk putriku!!"


"Buruk? Aku hanya menyampaikan fakta! Bukan hanya Cilla sih, aku yakin kamupun sama!" sindir Dian telak


"Semuanya sudah siap" ucap Gama yang baru datang


"Terima kasih, sayang"


"Silahkan pergi! Tapi sebelumnya jangan lupa membayar uang buruh!"


"Aku tidak mau bayar!"


Dian menatap Livia, "Tidak mau bayar ya?" Dian menatap Gama, pria itu mengangguk, "Masuklah!"


Beberapa orang berseragam hitam datang dan membuat Livia sedikit menciut.


"Periksa kamar ini dan ambil barang - barang yang bisa dijual!"


"Jangan lancang!!" teriak Livia


"Jangan berani kalian masuk ke kamar kami!" timpa Cilla


"Cari semua barang, uang dan juga perhiasan!" perintah Dian


"Wanita sialan! Kamu benar - benar iblis!!"


"Aku memang iblis! Tapi kamu adalah ratunya iblis!!"


Orang - orang suruhan Dian segera menggeledah kamar Dian, Livia dan Cilla jelas kalah tenaga saat melawan orang - orang itu. Makian dan teriakan tak henti mereka teriakkan.


"Kami menemukan perhiasan, beberapa barang mewah dan juga uang"


"Bawa ke mobil" perintah Gama

__ADS_1


Dian menghampiri Livia yang menatapnya penuh amarah. "Keluarkan barang - barang mereka dan pastikan tidak ada yang tertinggal! Mereka harus pergi dari rumah ini sekarang juga!"


"DIANDRA!!!"


__ADS_2