Diandra

Diandra
Berita Kehamilan


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Renita menangis melihat kakaknya masih terbaring lemah di ruang ICU, ia terus berdoa, agar kakaknya masih bisa di selamatkan.


Buliran air mata masih jatuh bercucuran, menyapu pipi cantik itu.


Sementara Hameed dan Nessa baru saja datang ke rumah sakit, Nessa langsung menghampiri putrinya, Renita. Yang sedang menunggu Andara siuman.


"Re... kenapa kakakmu bisa kecelakaan seperti ini Nak? Apa kamu tidak menjaganya dengan baik Re!" lirih Nessa memarahi Renita.


"Mom's... maafkan aku, aku tidak sempat mengejar Kak Dara, dia terlalu gesit untuk ku kejar saat itu!" lirih Renita.


"Sudahlah... ini sudah nasibnya, kalian tidak seharusnya saling menyalahkan!" ujar Hameed berusaha menenangkan putri dan istrinya.


"Tapi Mas... lihat Putri kita Andara, kasihan dia Mas," lirih Nessa menatap nanar pada Andara yang terbaring kaku, tubuhnya di hiasi alat-alat medis.


"Lebih baik kita berdoa untuk keselamatannya yah, dari pada saling menyalahkan. Tidak ada yang salah di sini!" ujar Hameed membawa Nessa kepelukannya.


Tidak berapa lama dua orang Dokter keluar dari ruang ICU, untuk memberitahu keadaan Andara yang sebenarnya.


KLEK. Suara pintu ruang ICU terbuka, Nessa segera menanyakan soal keadaan putrinya Andara.


"Bagaimana, keadaan putri saya Dok? Apakah dia baik-baik saja!" seru Nessa terbata-bata.


"Putri Anda sudah berhasil melewati masa kritisnya, namun sepertinya janin dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan!" ucap Dokter itu.


Sontak saja Hameed merasa naik darah, dia marah terhadap Dokter yang memberitahunya, jika putrinya, Andara sedang dalam keadaan berbadan dua.


"Jaga ucapan Anda Dok! Putri saya tidak mungkin hamil!" tukas Hameed menatap tajam pada seorang Dokter yang memberitahu jika Andara sedang hamil.


"Tapi kenyataannya memang seperti itu Tuan... Nona Andara memang sedang mengandung!" ucap Dokter itu lagi.


"Anda berbohong kan? Anda pasti hanya ingin menghancurkan reputasi Putri saya kan?" tukas Hameed marah.


"Mas... tenang Mas, yang di katakan Dokter ini memang benar mas, Andara memang sempat mengalami pelecehan," lirih Nessa mengungkap kebenaran.

__ADS_1


Hameed merekatkan rahangnya, ia tak menyangka istri dan anaknya merahasiakan masalah sebesar ini darinya.


"Jadi selama ini kamu sudah tahu Nessa! Kenapa kamu hanya diam, kenapa kamu tidak memberitahu semua itu padaku!" geram Hameed terhadap Istrinya.


"Mas... dengerin penjelasan aku dulu, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan, Mas!" lirih.


"Dad's... Renita mohon, Daddy jangan marahin Momy, semua ini pasti gara-gara Alexander. Renita yakin seratus persen, ini semua yang melakukan adalah Alexander!" ucap Renita menebak.


Kemudian Dokter yang menangani Andara pada saat itu, terlihat bingung lantaran ia hanya ingin menyampaikan soal kondisi pasiennya.


Namun ternyata kondisi pasien yang dia sampaikan, malah membuat kegaduhan di rumah sakit itu.


"Maaf Tuan... Nyonya! Saya minta persetujuan Anda, tolong segera tanda tangani surat kuasa, biar janin yang ada dalam kandungan Nona Andara, segera saya angkat!" seru Dokter itu.


Kemudian Hameed dan Nessa menandatangani, surat yang di ajukan oleh Dokter itu, dan selanjutnya Dokter dan timnya segera mengoperasi Andara, mengangkat calon bayi yang belum sempat lahir ke dunia itu.


Hameed masih diam membisu, tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya, ia sangat kesal pada istrinya, karena tidak mau berterus terang perihal Andara yang sempat di lecehkan, pada akhirnya Hameed meminta pada anak dan istrinya, jika keadaan Andara sudah membaik ia meminta untuk pindah ke Indonesia.


"Tidak ada pilihan lain, setelah Andara sembuh kita harus kembali ke Indonesia!" ujar Hameed.


Nessa tercengang dengan semua perkataan, yang terlontar dari suaminya.


"Karena hanya di Indonesia, Andara akan mudah meniti karirnya. Lagi pula perusahaanku juga banyak di sana!" tukas Hameed.


Kekhawatiran mulai datang menghantui Nessa, ia takut masa lalunya Hameed datang menghancurkan rumah tangga mereka.


"Baik, jika semua itu demi kebaikan Andara, aku siap ke manapun kau bawa aku pergi!" ucap Nessa menyeka air matanya.


Sementara Alexander, masih berada di kantornya, ia merasa khawatir setelah mengetahui jika Andara gadis yang ia cintai mengalami kecelakaan.


"Tidak, ini tidak mungkin! Andara harus bertahan, aku harus segera pergi menemuinya," gumam Alexander, kemudian pergi.


Kurang lebih memakan waktu perjalanan dua jam, Alexander telah sampai di Medical hospital, tempat Andara di rawat.


"Permisi Om... Tante!" ucap Alexander menyadarkan mereka.


Hameed langsung menggapai kerah kemeja Alexander, mencengkeramnya, hingga tersudut ke tembok.

__ADS_1


Memaksa Alexander mengakui, jika dia telah menodai putrinya.


"Laki-laki bajingan... kenapa kau menodai Putriku ha! Semua ini gara-gara kamu, pergi dari sini jangan pernah menampakan wajahmu di hadapan saya!" murka Hameed mencekik Alexander.


Uhuk-Uhuk. Alexander terbatuk, ketika Hameed mencekik lehernya.


"Om... tolong maafkan aku, semua itu aku lakukan murni karena rasa cintaku pada Anak Om!" ucap Alexander dengan nada tersenggal.


"Tapi cinta tidak membuat Putriku menderita Alexander, mulai sekarang kau jauhi Putriku! atau kau akan tahu sebenarnya siapa aku!" ucap Hameed dingin.


"Aku mencintainya Om... aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Andara, meskipun harus berhadapan dengan Om!" ujar Alexander lantang.


"Berani kau menantangku! Kau akan kuhancurkan. Ingat kata-kataku, dan simpan baik-baik Alexander!" geram Hameed menatap tajam Alexander.


Kemudian hameed melepaskan Alexander, dan memintanya pergi.


"Cepat pergi dari hadapanku, aku muak melihat wajah mengesalkanmu!" sentak Hameed mengusir Alexander.


"Kau tidak pantas menjadi pendamping Kakakku Tuan Alexander, kau sampah yang tak bisa di sejajarkan dengan keluargaku!" ujar Renita yang ikut geram terhadap Alexander.


"Kau sangat menjijikkan... pantas saja Andara seperti tertekan ketika kau datang ke rumah kami, ternyata kau adalah iblis!" murka Nessa.


"Pergi dari hadapan kami, kami muak melihat Anda Tuan Alexander!" usir Nessa terhadap Alexander.


Kemudian Alexander pergi meninggalkan rumah sakit tersebut, ia sangat kesal. Padahal rencananya untuk menikahi Andara tinggal selangkah lagi, akan tetapi rahasia itu terlanjur terbongkar begitu saja.


"Lihat saja Om, bukan Alexander namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan!" seringai Alexander, kembali merencanakan hal jahat.


Sementara Zevania kini sedang dalam tahap pemulihan, ia mengalami depresi paska Alexander melecehkannya, pada saat pemotretan.


Zevania hanya ikut mendoakan, keadaan sahabatnya Andara, ia takut dengan ancaman Alexander jika dia mencampuri urusannya lagi.


Zevania menangis melihat tayangan berita, jika Andara mengalami kecelakaan, namun ia terlalu talut untuk menemui sahabatnya itu.


"Maafkan aku Dara... aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu kali ini," lirih Zevania.


"Aku terlalu takut menghadapi iblis itu, maafkan aku Andara, semoga kamu baik-baik saja," lirihnya.

__ADS_1


Sesekali Zevania menyeka buliran bening yang terjatuh di pipinya, ia tak kuasa menahannya, seketika tangisnya pecah begitu saja.


__ADS_2