
Gama berhasil menenangkan dan meyakinkan Dian bahwa dirinya tidak sama seperti Saka. Kini istrinya itu mulai tenang.
"Tidurlah, besok aku akan menemanimu ke psikolog. Aku ingin kamu sembuh dan bisa menjalani hidupmu dengan normal seperti dulu"
"Aku sudah lama ke psikolog. Semua saran dan ajurannya sudah aku lakukan. Tapi masih belum membuahkan hasil"
Gama mengusap pipi istrinya dengan lembut, "Itu karena kamu menjalaninya sendirian. Tapi mulai sekarang, ada aku yang akan selalu menemanimu"
Dian mengangguk, "Terima kasih sudah menerimaku apa adanya, Mas"
Gama tertegun, "K-kamu memanggilku apa barusan?"
"Mas"
"Kenapa tiba - tiba merubah panggilanmu?", tanya Gama. Walau sebenarnya dalam hati ia merasa senang
Bukannya langsung menjawab, Dian justru memeluk Gama dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. "Kamu adalah suamiku. Bukankah seorang istri harus menghormati suaminya?"
Perasaan Gama menghangat, mendengar apa yang Dian ucapkan, artinya Dian sudah mulai menerima kehadirannya sebagai suami.
"Thank you for everything"
Usapan tangan Dian membuat Gama mulai tak nyaman. Entah kenapa, sentuhan kecil itu membuatnya bereaksi.
"Sekarang tidurlah, kamu harus banyak istirahat"
Dian menyadari perubahan yang terjadi pada suaminya. Suara Gama terdengar berat.
"Mas, kamu-"
"Tidurlah sekarang"
Gama akan beranjak, namun Dian menahannya. Tanpa kata, Dian mengecup bibir suaminya. Jangan di tanya, Gama jelas semakin tegang. Meski bukan pertama kalinya, namun Gama tak mau jadi orang egois. Istrinya sedang sakit, kesehatan Dian jauh lebih penting dibanding keinginan dirinya.
Melihat tidak ada reaksi dari Gama, Dian kembali menyambar bibir suaminya disertai ******* kecil yang membuat aliran tubuh keduanya semakin menegang.
"Kamu sedang sakit, jadi istirahatlah"
"But ...!", Dian tersenyum misterius
🍀🍀🍀
Dian baru saja membuka mata, tapi ia tak melihat suaminya di kamar. Dengan bergegas ia mencari keberadaan Gama. Di kamar mandi tidak ada. Wanita cantik itu segera keluar kamar. Tapi di ruang tamu suaminya juga tidak ada. Wajah Dian mulai terlihat panik, hingga ia merasakan ada tangan yang memeluknya dari belakang. "Kamu mencariku?"
Dian berbalik lalu menatap suaminya, "Aku pikir kamu pergi"
"Aku memang pergi. Tapi hanya ke dapur. Apa kamu mulai mencintaiku hingga takut aku meninggalkanmu?" goda Gama
"Tentu saja tidak" sangkal Dian cepat
Gama menarik tangan istrinya, "Tidak apa kamu masih belum mau mengaku. Tapi sekarang waktunya kita makan. Aku sudah memasak sarapan untukmu"
__ADS_1
Dian tersenyum, mereka berjalan bergandengan tangan layaknya anak remaja. Begitu tiba di dapur, Gama meminta Dian duduk, lalu suami tampannya itu menyajikan beberapa menu hasil masakannya
"Sub jagung dengan suwiran ayam. Omelette. Ada roti bakar dengan selai coklat kacang dan jus tomat"
"Kamu yang masak semua ini?"
Gama tersenyum bangga, "Meski begini, aku bisa dindalkan dalam hal mengenyangkan perut"
"Papa dan Mama sudah pulang?"
"Mereka pulang tadi. Mama mau menyiapkan untuk penyambutan kita"
"Kita akan pulang hari ini?"
"Iya. Mama sudah memaksa. Dia takut kejadian kemarin terulang lagi"
"Aku merepotkan banyak orang ya?" lirih Dian pelan
"Jangan mulai lagi. Semua orang menyayangimu, jadi jangan berfikir yang tidak - tidak. Sekarang ayo kita makan"
Gama memberikan semangkuk sub untuk istrinya. Dian tampak memperhatikan sub buatan Gama yang terlihat enak. Ia pun menyendokkan sub ke dalam mulutnya.
"Enak kan?"
"Enak", Dian tampak lahap menikmati sarapan yang dibuatkan suaminya.
"Coba omelette nya juga. Ini tidak kalah enak"
Dian dan Gama makan dengan penuh kehangatan.
"Kamu tidak mau bertanya bagaimana kabar Tuan Aditama?"
"Kamu menyelidiki tentang mereka?"
Gama mengangguk, "Hanya untuk berjaga - jaga. Aku takut Nyonya Livia melakukan hal jahat"
"Sekarang mereka sudah tidak punya apa - apa. Menyewa penjahat juga butuh uang"
"Kita tidak boleh lengah. Tanpa melalui orang pun, dia bisa melakukannya sendiri jika sudah gelap mata"
"Kamu benar. Jadi, bagaimana kabar mereka sekarang?"
"Tuan Aditama sudah menjual rumahnya yang disebelah rumah Papa. Sekarang mereka tinggal di kawasan biasa"
"Aku yakin mereka masih punya tabungan. Setidaknya masih bisa digunakan untuk kebutuhan hidup beberapa bulan ke depan"
"Mungkin saja" Gama mengunyah makanannya, "Setelah ini kita ke psikolog dulu"
"Aku belum membuat janji"
"Tapi aku sudah"
__ADS_1
Dian menatap suaminya tak percaya, "Kamu memang bisa melakukan semuanya"
Gama tersenyum, "Aku anggap itu sebagai pujian" pria tampan itu meminum air, "Kamu tidak mau pergi bulan madu?"
"Apa masih perlu?"
"Sepertinya tidak masalah jika kita menghabiskan beberapa hari untuk bulan madu. Aku ingin pergi ke Villa yang terbuka dan berada di tepi pantai. Disana kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk memadu kasih. Aku suka suara desahanmu apalagi seperti yang semalam"
Wajah Dian seketika merah, "Jangan bahas hal seperti itu"
"Kamu malu?" tanya Gama dengan wajah menyebalkannya
"Hal seperti itu tidak perlu di bahas kan?"
Gama tertawa, "Jadi kamu lebih suka praktek langsung? Sepertinya bercinta di dapur akan memberikan sensasi yang berbeda"
"Jangan asal" sahut Dian melotot
Namun terlambat, Gama lebih dulu mengunci pinggang ramping istri cantiknya lalu berbisik, "Jika semalam kamu yang meminta duluan dan kamu yang memimpin, maka sekarang giliranku"
Berbeda dengan mereka, saat ini Vika kembali mengintrogasi suaminya. Sejak kemarin sore, Vika tak henti menatap Saka curiga. Segala tuduhan ia layangkan pada suaminya itu.
"Sudah aku katakan, aku tidak selingkuh, Vik!"
"Alah!! Mana mau kamu ngaku! Kamu itu memang jago berbelit!"
"Kenapa kamu selalu menuduhku yang tidak - tidak? Aku capek menghadapi sikap cemburuan dan curigaanmu itu!"
"Kamu masih tidak mau mengaku? Bukti chat itu sudah cukup menjadi bukti! Tidak masalah jika kamu tidak mau memberitahuku siapa selingkuhanmu itu! Tapi aku pastikan, dia akan menyesal sudah berurusan denganku!"
"Terserah kamu saja, aku capek!"
"Aku belum selesai, Ka! Jangan pergi begitu saja!" teriak Vika
Saka mengusap wajahnya frustasi, "Lalu maumu apa, hah?! Aku harus bagaimana?" geramnya
"Katakan siapa selingkuhanmu itu! Dan minta kembali cincinku!"
"Sudah aku katakan, cincinmu di ambil siapa aku saja tidak tahu!"
Vika tertawa pelan, "Kamu pikir aku akan percaya? Wanita itu mengatakan jika kamu memberikan cincin itu padanya! Kenapa kamu terus saja mengelak?!"
"Aku mengelak karena aku memang tidak melakukan apapun yang kamu tuduhkan! Jika kamu tidak percaya, pergilah ke klinik dan tanyakan sendiri pada petugas kasirnya!"
Saka meninggalkan Vika di dalam kamar, ternyata ada Bunda di depan kamar mereka.
"Sekarang ulah apa lagi yang istrimu buat?"
Saka menghela nafas kasar, "Jika Bunda mendengar semuanya, kenapa Bunda masih bertanya?"
Hastari menatap putranya sendu, "Semua yang terjadi padamu adalah karma atas perbuatan jahatmu pada Diandra!"
__ADS_1