
"Hati - hati bawa Diandra nya, Gam"
"Tentu, Ma"
"Aku pulang duluan, Ma. Mama hati - hati nanti pulangnya" pamit Dian
"Pasti, Sayang"
Gama mulai melajukan mobilnya meninggalkan butik milik Amber.
"Kamu mau langsung pulang?"
"Aku masih ada urusan. Antarkan aku ke kantor saja"
"Urusan apa?" tanya Gama kepo
"Kenapa kamu ingin tahu? Bukankah aku tidak punya kewajiban untuk memberitahumu"
Gama menatap Dian tajam, "Segala sesuatu yang berhubungan denganmu sekarang menjadi urusanku. Jadi katakan, kamu ada urusan apa?"
"Aku mau kerumah sakit!"
"Kamu sakit?" Gama mengecek dahi Dian, dan langsung di hempas oleh yang punya dahi
"Aku tidak sakit! Memangnya kalau ke rumah sakit artinya dia sakit!"
Gama terkekeh, "Aku khawatir padamu"
"Cih, aku percaya dengan bualanmu" cibir Dian dengan senyum mengejeknya
"Wajar jika aku khawatir padamu. Pernikahan kita tinggal enam hari lagi. Bukankah aku harus menjaga kondisi calon istriku? Kamu harus baik - baik saja sampai resmi menjadi istriku" ucap Gama penuh penekanan
"Terserah kau saja lah!" jawab Dian malas
Gama kembali fokus menyetir, tanpa bertanya pun, pria itu tahu rumah sakit mana yang akan mereka tuju.
"Aku benar kan? Kamu memata - mataiku" tanya Dian penuh selidik
"Kenapa kamu punya pikiran begitu?" tanya Gama pura - pura bodoh
"Kamu tahu arah rumah sakit yang akan kita tuju tanpa bertanya dulu padaku!"
"Hanya feeling seorang calon suami"
Dian menatap Gama nyalang, "Kamu memang tidak bisa di tebak. Aku harus berhati - hati padamu!"
Gama tertawa keras, "Aku jinak jika bersama pawangku"
"Ah, benar! Seekor ular akan jinak pada pawangnya!" sahut Dian asal
__ADS_1
"Ular? Astaga ... Kamu membuat pikiranku traveling" Gama terkekeh pelan
"Gama!! Kamu mesum juga ternyata!!" teriak Dian kesal
"Mesum? Memangnya aku berkata apa? Maksud perkataanku adalah, aku geli pada ular. Syukurlah kalau kamu pawangnya, jadi aku tidak perlu khawatir jika suatu saat ada ular di rumah"
Dian semakin di buat jengkel oleh jawaban Gama.
"Jangan di tekuk begitu bibirmu itu. Bibirmu sudah seperti mulut bebek. Aku jadi gemas ingin mencubitnya!"
Bug
"Awwhh! Kenapa kamu suka sekali KDRT? Sakit tahu!" Gama mengusap lengannya
"Syukur!"
Mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Gama menghentikan mobilnya di depan lobi rumah sakit. Lalu turun terlebih dahulu.
"Gam, kamu marah? Ambekan sekali. Persis anak kecil!"
Gama tak menghiraukan, dia tetap berjalan di depan Dian.
"Gama ih!! Tunggu!!", Dian menarik lengan Gama hingga pria itu berhadapan dengannya
"Apa?"
"Memangnya apa yang aku lakukan? Merengek minta balon? Atau eskrim?" jawab Gama ketus
"Kamu selalu saja membuatku kesal!"
"Itu agar kamu selalu mengingatku sepanjang hari!"
Dian melongo mendengar jawaban Gama. Rumus darimana coba? Dasar aneh.
Keduanya berjalan terus hingga tiba di depan kamar yang di jaga oleh dua orang polisi
"Kami ingin mengunjungi Saudari Avika. Saya Diandra, pelapor dalam kasus ini"
Polisi itu menatap Dian dengan menelisik, "Bisa Anda tunjukkan kartu identitas diri"
Dia membuka tas lalu mengeluarkan dompetnya. Tak lupa mengambil kartu identitas diri yang diminta oleh polisi
"Ini, Pak" Dian menyerahkan identitas dirinya
"Baiklah, silahkan masuk. Jam besuknya hanya lima belas menit"
"Sepuluh menit saja sudah cukup, Pak"
Setelah mendapat izin, Diandra perlahan membuka pintu. Kedua matanya langsung di suguhi pemandangan yang sangat mencengangkan, dimana Saka dan Vika sedang asyik bertukar saliva.
__ADS_1
"Sungguh menjijikkan!" gumam Dian pelan
"Kamu mau juga seperti mereka?" bisik Gama
"Kamu belum pernah merasakan pukulanku yang sesungguhnya kan?" ancam wanita cantik itu
Dian kembali menatap Saka dan Vika, keduanya bahkan tidak sadar ada orang lain di kamar itu.
"Wah ... Wah ... Wah! Lihatlah dua manusia tak tahu malu ini! Bahkan saat keadaan seperti ini pun kalian masih berbuat hal menjijikkan!"
Ciuman itu terlepas, membuat dua tersangka menatap ke arah suara
"Oh ... Ada tamu rupanya. Maaf kalau sambutannya kurang baik. Kalian datang di saat yang tidak tepat!" tanpa rasa malu Vika berucap dengan santai. Sedangkan Saka terlihat menahan malu
"Maaf sudah menggangu kesenangan kalian. Bisa kalian lanjutkan kalau kalian mau!"
"Tidak baik kan, adegan suami istri di tunjukkan pada orang lain. Itu privasi!"
Dian tertawa pelan, "Benar sekali. Tapi kalau tidak salah, aku pernah melihat kalian berciuman di lobi kantor. Lalu di kamar mandi De Javu Cafe dan yang lebih ekstrim lagi di dalam mobil saat-"
"Padahal hotel di Jakarta sangatlah banyak. Tapi bagi pasangan yang di mabuk asmara, tempat umumpun jadi!" sindir Gama
Saka semakin malu mendengar penuturan Dian. Ditambah sindiran Gama. Itu artinya, Dian tahu dimana saja ia dan Vika berselingkuh dulu.
"Apakah itu penting sekarang? Aku dan Mas Saka sudah menjadi suami istri. Dan yang jelas, aku yang menang!" Vika tersenyum sinis ke arah Diandra
"Benar. Dan omong - omong soal pemenang, aku ingin membicarakan tentang kasus ini. Tanpa bertanya pun, kamu pasti tahu jika akulah yang akan memenangkan kasus ini" Dian duduk di samping Vika tanpa di minta. "Tapi aku punya penawaran yang bisa membantumu. Ya ... Bisa di bilang, negosiasi. Itu pun kalau kamu bersedia!"
Tatapan Vika berubah tajam, "Kalau kamu meminta Mas Saka untuk menceraikan aku agar aku bisa bebas! Dengan keras aku menolak!!"
Dian mengangguk - anggukkan kepala, "Sepertinya kamu lebih senang berada di penjara ya?"
"Di ... Bisa kita bicara berdua?" pinta Saka
"Untuk apa, Mas? Aku tidak mengizinkanmu berbicara dengan Diandra!!"
"Vik, aku hanya ingin-"
"Sekali tidak ya tidak!! Lebih baik aku mendekam di penjara daripada harus bercerai denganmu!!"
Saka menghela nafas, berbeda dengan Dian yang nampak begitu tenang. "Karena kamu menolak tawaranku, maka aku tetap melanjutkan kasus inu. Sepertinya kamu sudah sehat kan? Kamu sudah bisa kembali ke kantor polisi dan segera menjalani sidang pertama!"
"Wanita brensek!! Apa maumu sebenarnya?!!"
Dian tersenyum manis, "Bukankah sudah aku katakan! Aku ingin berbagi rasa!"
"Berbagi rasa? Itu tidak akan pernah terjadi! Jangan bermimpi terlalu jauh, Diandra! Sampai kapanpun, Mas Saka tidak akan pernah meninggalkanku!!"
"Aku juga tidak berminat kembali pada pecundang seperti suami tercintamu itu!! Aku hanya ingin mengingatkan satu hal!" Dian menatap Saka dan Vika bergantian, "Selain menuntutmu atas percobaan pembunuhan atas diriku, aku juga akan menuntutmu dan Saka dengan pasal 284 tentang perzinahan. Jadi- aku pastikan kamu, ah ... Bukan! Maksudku, kalian akan mendekam bersama di dalam penjara! Bukankah aku sangat baik hati?"
__ADS_1