Diandra

Diandra
Ancaman Nyata


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


"Daddy keterlaluan!" umpat Andara bangkit kemudian pergi keluar dari rumah sambil memegangi pipi bekas tamparan Daddy-nya.


Andara kesal dan marah pada saat itu, ia berlari ke jalan hampir saja tertabrak oleh Mobil.


CITTTTT. Sebuah mobil berhenti tepat di depan Andara yang sedang berlari, Andara memekik lantaran kaget.


"Andara!" teriak Nessa dari pintu utama rumah megah merasa shock melihat putrinya hampir tertabrak.


Namun Andara hanya menoleh kemudian pergi meninggalkan rumah tersebut.


"Andara jangan pergi... tunggu Mama, Dara!" seru Nessa hendak mengejar putrinya, namun dihadang oleh Hameed.


"Biarkan dia pergi! Biar dia merenungi kesalahannya," ujar Hameed menahan lengan istrinya.


"Tapi Mas... aku khawatir dengan Andara, kita susul dia ya Mas," bujuk Nessa terhadap Hameed.


"Tidak Nessa biarkan dia sadar, kalau yang telah dilakukannya itu salah. Tidak seharusnya dia membenci kamu selama ini, mau sampai kapan dia sadar!" ucap Hameed meminta Nessa untuk tak mengejar putrinya.


Sementara Andara terus berlari, ia terus menangis mengingat perlakuan Daddy-nya yang selalu membela ibu sambungnya itu.


"Aku benci pada Mama! Aku benci!" lirih Nessa.


Buliran air mata tiba-tiba melintas di pipinya, Andara merasa sedih lantaran yang ia pikirkan gara-gara Nessa hadir dalam kehidupan Daddy-nya.


Membuat rumah tangga Hameed berantakan dengan Sessi ibu kandungnya.


Sementara Marcello terus mengawasi Andara dari dalam mobil, lalu ia menelpon Alexander di Istanbul.


DRT-DRT-DRT. Getar ponsel di meja membuat Alexander tersadar, yang kala itu memang sedang menunggu kabar dari Marcello.


Dengan cepat Alexander mengangkat panggilan tersebut.


"Halo Marcello!" ucap Alexander di Istanbul sana, terpisah jarak dan waktu dengan Marcello di Jakarta.


"Tuan... gawat Tuan, Nona Andara sepertinya bertengkar dengan kedua orangtuanya. Ia lari dari rumah!" ucap Marcello melalu jaringan seluler.


"Apa!" pekik Alexander.


"Saya tidak mau tahu Andara harus kamu lindungi. Jangan sampai ada yang menyakitinya, kau tahu kan jika Andara kenapa-kenapa, aku akan membunuhmu Marcello!" gertak Alexander kesal.


"Iya Tuan... saya akan selalu berusaha mengawasi Nona Andara. Anda tenang saja!" jawab Marcello.

__ADS_1


"Lakukan dengan baik tugasmu!" tegas Alexander kembali mengingatkan. Dan langsung mengakhiri panggilannya dengan Marcello.


Sementara Alvazo harus terpaksa memaksa Papa-nya agar menyerahkan kendali perusahaan padanya, meskipun hanya sebagian. Karena ia tidak ingin Radit menguasai kerajaan bisnis itu lebih dahulu.


BRAK.


Suara pintu ruangan Rafael di buka seara kasar oleh putranya sendiri.


Rafael sangat murka pada Alvazo yang tak mempunyai sopan santun terhadap orang tuanya sendiri.


"Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu jika ingin masuk ke ruangan Papa, Alva!" Rafael seperti sudah sangat geram pada putra keduanya itu. Tatapannya sangat tajam kala itu, seperti seekor singa jantan yang akan menerkam mangsanya.


"Untuk apa aku mengetuk pintu, untuk orang yang sama sekali tidak pernah menghargai kinerjaku!" bentaknya merekat hebat balik menatap pada wajah Rafael yang garang.


"Jaga bicaramu kau sedang berhadapan dengan Papamu bukan musuhmu!" Rafael kembali mengingatkan putranya itu.


"Kau seorang Ayah yang tak perlu aku hormati keparat!" lagi-lagi Alvazo melontarkan kata-kata tak pantas untuk Rafael yang notabene adalah Papanya sendiri.


"Alvazo! Jaga batasanmu!" tukas Rafael membentak.


Sehingga Stevani sekretaris Rafael terlonjak kaget.


"Permisi Tuan sepertinya saya harus keluar," ucap Stevani sekretaris sekaligus selingkuhan Rafael.


Rafael sudah naik pitam dibuat olehnya.


"Alvazoooo!" teriak Rafael dengan nada yang meninggi. Serta kepalan tangan yang siap mengudara di pipi pria tampan itu.


"HUH. Rupanya kau mau memukulku Pap! Ayo lakukan kenapa kau mengurungkannya!" ujar Alvazo sambil melihat kepalan tangan ayahnya.


"Anak kurang ajar dan tidak tahu di untung, mau apa kau datang kemari?" tukas Rafael kesal.


"Aku ingin meminta bagianku atas perusahaan ini!" ucap Alvazo.


DEG.


Seketika Rafael terdiam berusaha bersikap tenang, dalam menghadapi Alvazo yang selalu menagih soal harta dan kekuasaan.


"Tidak bisakah kau memintanya dengan cara baik-baik. Kau Putraku bukan musuhku, tentu saja suatu saat semua perusahaan ini akan menjadi milikmu dan juga Kakakmu Radit!" ujar Rafael sedikit menurunkan tensi emosinya.


"Aku ingin semuanya tanpa dibagi dengan Kakak yang pecundang itu, karena aku tidak akan pernah menganggap Radit sebagai Kakakku!" tukas Alvazo.


"Jaga bicaramu Alvazo... kau kira siapa dirimu. Kau hanya Anak tiriku, aku menikah dengan Ibumu bukan karena cinta, hanya kasihan pada Ibumu yang pada saat itu keluarganya hampir jatuh miskin," ungkap Rafael membeberkan yang sebenarnya.


"Dan sayangnya Ibumu itu membuatku kecewa, dia mencintai Radit. Anak tirinya sendiri selama ini kurang pasilitas apa Ibumu itu dariku!" ucapnya lagi.

__ADS_1


"Omong kosong apa ini! Kau jangan mengada-ada tua bangka!" kesal Alvazo tak terima ibunya telah direndahkan oleh ayahnya sendiri.


"Dan aku tidak pernah percaya kalau aku bukan Putra kandungmu, lalu Ayah biologisku siapa?" geram Alvazo mencengkeram leher ayahnya.


Kemudian Rafael berusaha melepaskan cengkeraman tangan Alvazo dari lehernya.


"Tanyakan saja pada Ibumu, siapa Ayah biologis darimu!" ujar Rafael menghempaskan tangan Alvazo, kemudian pergi dari ruangan.


Alvazo merenung dari situ, pantas Rafael tidak pernah menyayanginya ternyata dia bukanlah putra kandung dari Rafael.


Rafael lebih cenderung menyayangi Radit ketimbang Alvazo.


"Ini tidak mungkin, aku adalah Anak kandung Rafael Naratama. Bukan yang lainnya, aku tidak terima, aku harus segera menyingkirkan Radit!" murka Alvazo melempar benda yang mudah pecah di ruangan ayahnya itu.


PRANG. Suara Vas bunga dilemparkan oleh Alvazo ke dinding ruangan berwarna putih dengan hiasan lantai marmer Eropa.


"Aku akan menyingkirkanmu Radit, Perusahaan dan Papa hanya milikku. Cukup sudah kesabaranku kini telah habis Radit!" geram Alvazo berdiri menatap nanar langit-langit di ruangan itu.


Perlahan Alvazo melangkah pergi meninggalkan ruangan kerja milik Rafael, CEO yang terkenal dingin dan kejam.


***


Di salah satu sudut ruangan Medical Center Hospital, orang suruhan dari Alvazo sedang mengganti pakaiannya menyamar jadi seorang Dokter, membawa obat untuk diberikan pada Radit.


Perlahan orang itu bergerak menuju ruang perawatan Radit, layaknya seorang Dokter yang akan memeriksa pasiennya.


KLEK. Suara pintu dibuka oleh Dokter gadungan itu.


Terlihat di dalam ruangan itu ada Diandra dan Maxcton, sedang menemani Radit.


"Permisi Tuan, Nona! Sepertinya jam besuk sudah habis. Lebih baik biarkan Tuan Radit beristirahat," ucap Dokter gadungan itu mencurigakan.


"Oke baiklah Dok... Dit selamat beristirahat!" ucap Diandra berjalan meninggalkan Radit.


Begitu pun dengan Maxcton, berpamitan pada Tuannya.


"Tuan saya pergi dulu, selamat beristirahat!" ucap Maxcton.


"Oke... selamat beristirahat," sahut Radit menimpali Maxcton.


Sedangkan Dokter gadungan itu, terlihat sedang menukar obat-obatan Radit yang ada di mejanya.


Radit tampak curiga dengan orang tersebut, hingga akhirnya rasa penasarannya membuat ia berani melepaskan masker di wajah seorang yang mengaku Dokter itu.


"Kau!" ucap Radit menatap tajam pada orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2