
David menghela nafas setelah mendengar cerita tentang Dian sebenarnya.
"Aku tidak menyangka jika Aditama sekejam itu"
"Pria akan lupa diri kalau sudah mencintai"
David menatap putranya, "Seperti dirimu yang mencintai Diandra?"
Gama tersenyum tipis, hanya di depannya Papanya dia bebas berekspresi. "Aku awalnya tidak percaya cinta. Entah kenapa tidak ada satupun wanita yang mampu menarik perhatianku. Bahkan hingga usianya tiga puluh lima tahun. Tapi pertama kali melihat Diandra, aku justru ingin mengenalnya lebih dalam. Dia berbeda dengan wanita lain. Dia terlihat menarik di mataku"
David tertawa kecil, "Papa tahu. Kamu juga sengaja menjatuhkan kameramu demi bisa bertemu dengannya lagi kan? Kamu bersikap seolah - olah Dian yang menabrakmu lalu kamu marah dan meminta ganti rugi. Sebenarnya, caramu sungguh tidak elit, Bung. Dian bahkan mengganti kameramu dengan yang lebih mahal!" ejek David
Gama kembali tersenyum, "Caraku mungkin terdengar gila, tapi dengan alasan itulah aku bisa mengenal Dian lebih jauh lagi. Terkadang, cinta memang butuh cara tidak elit untuk bertemu dengan pelabuhannya"
Pria tampan itu menyesap kopinya. "Mata indah itu telah berhasil menghipnotisku. Bahkan di pertemuan pertama kami, aku melihat mata itu meneteskan air mata. Begitu rapuh dan menyimpan banyak luka. Sosok Dian membuatku penasaran dan sejak hari itu aku mulai mencari tahu semua tentangnya. Aku pun tidak percaya dengan apa yang aku lakukan. Aku sudah di buat jatuh cinta sejatuh - jatuhnya oleh Dian"
"Cinta memang bisa merubah seseorang. Termasuk dirinya yang dingin dan menyebalkan itu. Papa bahkan sempat khawatir kalau kamu-"
"Aku menyimpang?" Gama tertawa keras, "Aku masih sangat normal, Pa. Hanya saja, mungkin baru sekarang aku bertemu belahan jiwaku. Aku pun tak percaya, bahkan takdir juga seolah mendukungku. Aku terpilih untuk bekerja sama dengannya. Dan kami jadi sering bertemu setelah itu. Terdengar tidak masuk akal, tapi aku percaya jika pertemuanku dan Dian adalah takdir. Jika bukan campur tangan takdir, kami tidak akan menikah sebentar lagi"
David menatap Gama lalu menghela nafas, "Kamu sudah yakin dengan pernikahan ini? Kamu tahu betul, Dian hanya menjadikanmu alat balas dendam, Gam. Kamu putra Papa satu - satunya, Papa ingin kamu bahagia"
Gama tersenyum, "Jangan khawatir, Pa. Untuk saat ini, mungkin Dian memang menjadikanku alat balas dendam. Tapi aku akan membuat Dian jatuh cinta padaku. Sama seperti dia yang sudah membuatku jatuh cinta"
"Dia wanita yang penuh luka, Nak. Apa kamu pikir gampang menyembuhkan trauma seseorang? Psikolog pun butuh waktu untuk menyembuhkan pasiennya. Trauma dari Papanya sendiri, mantan kekasihnya lalu mantan suaminya. Papa rasa Dian akan sulit untuk percaya lagi pada pria. Ia juga mungkin akan menjaga jarak denganmu. Membentengi dirinya agar tidak jatuh hati padamu karena dia pikir semua pria itu sama"
Gama mengangguk, Ia paham apa yang di khawatirkan Papanya. "Tidak akan mudah, tapi aku akan berusaha. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil kan, Pa?"
"Papa tidak akan mencegahmu. Melihat keyakinan dan besarnya semangatmu, Papa mendukung apapun yang kamu lakukan. Dan Papa yakin kamu pasti bisa. Kelak, jika kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, jangan pernah menyia - nyiakan atau melepasnya. Ingatlah bagaimana sulitnya perjuanganmu untuk meraih itu"
"Tentu saja, Pa. Perjuanganku baru akan di mulai. Aku tidak menyia - nyiakan semuanya jika apa yang aku inginkan sudah aku dapatkan"
__ADS_1
David menepuk pundak putranya, ia yakin Gama akan menjadi suami yang bertanggung jawab nantinya. Terlepas bagaimana cara mereka bersatu, David yakin keduanya akan berakhir bahagia.
"Sudah tidak ada pekerjaan lagi, kan? Sebaiknya kita pulang sekarang. Mamamu sudah berulang kali menelpon Papa"
Gama terkekeh pelan, "Mama selalu saja heboh. Padahal yang akan menikah adalah aku"
"Begitulah seorang ibu. Dia akan menjadi orang nomor satu yang paling bahagia jika anaknya menikah, apalagi menikah dengan orang yang tepat"
"Papa benar, lihatlah bagaimana antusiasnya Mama. Aku yakin pesta pernikahanku pasti akan jadi pernikahan paling heboh nanti"
David tertawa, "Sudah. Kita pulang sekarang sebelum Mamamu kembali menelpon"
🍀🍀🍀
Emosi Dian belum juga reda, bagaimanapun dia sakit hati atas apa yang baru Aditama perbuat. Dia juga putrinya, tapi yang di pikirkan Aditama hanyalah kebahagiaan Cilla. Dian pikir, Aditama akan merangkulnya sebagai penebus rasa bersalahnya sepuluh tahun lalu. Tapi harapan itu rupanya terlalu tinggi. Buktinya, bukan penyesalan yang pria paruh baya itu tunjukkan melainkan sebuah ketidak - adilan.
"Anda di larang masuk, Pak!!"
Diandra menatap mantan suaminya malas, belum juga hilang rasa penatnya, kini ia malah kedatangan Saka.
"Kalian boleh pergi" ucap Dian pada security. "Ada apa?" tanya Dian tanpa basa basi
"Tolong cabut laporanmu pada Vika. Kasihan dia, Di. Dia sedang hamil"
Dian tertawa sinis, "Rupanya ada satu lagi pria tak tahu diri. Kenapa semua pria yang pernah menyakitiku hanya datang untuk kepentingannya sendiri? Sekarang coba berikan alasan lain kenapa aku harus mencabut laporanku"
"Vika sedang hamil. Tidakkah sebagai sesama wanita kamu merasa kasihan padanya. Aku mohon dengan sangat, tolong kasihanilah dia"
"Aku lelah berdebat masalah yang sama setiap kali bertemu denganmu!"
"Aku hanya meminta kemurahan hatimu" lirih Saka
__ADS_1
Dian mengangguk lalu mengambil lembaran kertas dari dalam laci meja kerjanya, "Baca!" ucapnya seraya memberikan kertas itu pada Saka
Saka mengambil kemudian membacanya. Matanya membola begitu melihat isi lembaran tersebut. "K-kamu serius?"
"Tentu saja. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu. Aku tidak pernah mengingkari ucapan yang keluar dari mulutku! Sekarang keputusan ada padamu. Kamu sendiri yang bisa menyelamatkan istrimu!"
Dian menatap Saka puas. Pria itu terlihat frustasi. Biarlah dirinya di bilang kejam. Dian hanya ingin Vika merasakan apa yang pernah dia rasakan dulu. Dicampakkan oleh orang yang kita sayang, rasanya begitu sakit dan menyiksa.
"Sekarang pergilah, Ka. Aku masih banyak pekerjaan"
Saka tidak langsung beranjak, tangannya masih memegang kertas yang Dian berikan. Emosi, sudah pasti. Dian sempat melihat tangan Saka mengepal.
"Kamu marah?" tanya Dian santai, "Kalau kamu marah dan emosi, artinya kamu merasakan apa yang aku rasakan dulu! Saat kamu tanpa rasa bersalah membuangku seperti sampah! Kamu tahu? Waktu itu aku tidak hanya marah dan emosi, tapi aku juga sangat kecewa atas tindakanmu!"
"Jadi kamu berniat membalasku?" suara Saka mulai terdengar dingin. Tatapannya pun berubah tajam, tapi hal itu tak membuat Dian takut.
"Aku hanya ingin berbagi rasa. Apa itu salah?" Dian menyilangkan kakinya, "Kalau kamu tidak mau terluka, maka jangan membuat orang lain terluka. Apapun yang kamu perbuat, semua akan kembali pada dirimu sendiri"
Saka terlihat menghela nafas, tidak ada yang salah dengan ucapan Dian. Memang semua berawal dari kesalahannya. Mantan suami Diandra itu berusaha menekan emosinya. Dia tidak punya cara lain untuk membebaskan Vika selain memohon pada Diandra. Menyewa pengacara untuk melawan Dian pun rasanya tidak mungkin. Keuangannya sedang buruk. "Di ... Kalau kamu mau aku kembali padamu, akan aku lakukan. Tapi tolong, jangan memintaku menceraikan Vika. Dia sedang mengandung anakku. Bagaimana nasib mereka nanti jika dia aku ceraikan?"
Dian melongo mendengar apa yang Saka katakan. Kembali? Astaga, apa di dunia ini sudah tidak ada pria lain? Kenapa juga Dian harus kembali pada pecundang semacam Saka. Ingin rasanya Dian menertawakan kepercayaan diri yang Saka miliki. Memangnya apa hebatnya Saka hingga dia bisa seyakin itu kalau dirinya mau kembali?
"Ka ... Bukan aku yang ingin kembali. Tapi kamu!Kamu lupa dengan ucapanmu waktu itu? Apa perlu aku memutar CCTV agar kamu ingat bagaimana kamu memohon padaku?"
Saka seketika menjadi malu. Rasa percaya diri yang tadi sempat menguasainya, kini hilang begitu saja.
"Aku tidak pernah mengambil barang yang sudah aku buang. Tapi ... Lain cerita jika kamu bisa memberiku bukti"
"Di ... Aku-"
"Seperti yang pernah aku sampaikan padamu dan Kak Rey. Siapapun yang bisa membuktikan keseriusannya padaku, aku akan mempertimbangkannya kembali. Tapi dari sini saja, aku sudah bisa menilai jika kamu tidak pernah serius dengan apa yang pernah kamu ucapkan" Dian berjalan ke arah jendela, wanita itu menatap langit yang mulai sore "Kalau aku jadi dirimu, aku akan sangat malu untuk mengemis iba! Aku akan langsung menandatangi surat kesepakatan itu tanpa berfikir dua kali. Bukankah cinta butuh perjuangan, mantan suamiku sayang? Sama seperti saat kamu berjuang dengan kebohonganmu agar bisa menikmati tubuh selingkuhanmu itu!"
__ADS_1
Deg