
Setelah para murid SMA Cakrawala melakukan upacara sedari tadi pagi, kini semua terlihat sudah berjalan menuju kelas mereka masing-masing. Tak ada yang melakukan kesalahan atau masalah pada waktu upacara berlangsung tadi, semua murid mengikuti upacara dengan baik. Beberapa murid juga ada yang langsung menuju kantin terlebih dahulu sebelum masuk ke kelasnya.
Di kantin, suasana sekarang ini terlihat sepi karena memang belum jam istirahat. Namun, beberapa murid kelas sebelas terlihat duduk santai mengobrol sambil menyantap makanan mereka. Tak terkecuali murid nakal kelas 11 IPS2 juga ada di sana, ya, siapa lagi kalau bukan Dirgantara. Dirga tidak sendirian, dia ditemani Rahman dan Udik. Mereka terlebih dahulu mengobrol di kantin sebelum masuk ke kelas, ahh, ini sudah biasa bagi mereka, hampir setiap hari senin mereka melakukan hal ini. Nanti saat masuk ke kelas alasannya gak jauh dari toilet.
“Ehh, lo tadi dicariin Rafika,” ucap Rahman pada Dirga yang sedang minum es tehnya.
Dirga menaruh kembali es tehnya, menoleh ke arah Rahman. “Ngapain tuh anak nyariin gue?” tanyanya.
“Kangen kali, Di. Habisnya lo sih nge-baper-in mulu,” celetuk Udik begitu saja.
“Bukan salah gue juga kali. Dia sendiri tuh yang mudah baper orangnya,” jawab Dirga cuek.
“Masuk, Di,” ajak Rahman yang langsung berdiri hendak membayar makanan dan minumannya.
“Ehh, sekalian bayarin yang gue, Man,” pinta Dirga.
“Gue juga, Man.” Udik pun juga minta dibayarin sama Rahman.
Rahman langsung menoleh pada dua temannya itu. “Gue anak kosan, gak punya uang. Lo enak tinggal di rumah sendiri. Bayar sendiri lah!” hardik Rahman yang mulai marah.
“Ya udah,” Dirga berdiri, “gue yang bayarin semunya.” Dirga berjalan mendekati penjaga kantin dan langsung membayar makanan dan minuman mereka bertiga.
Tanpa ada ajakan mau pergi ke kelas, Dirga berjalan begitu saja meninggalkan kedua temannya itu. Udik buru-buru menghabiskan minumannya, dan segera menyusul Dirga, begitu juga dengan Rahman yang langsung berjalan menyusul temannya itu. Mereka bertiga menuju kelas bersama-sama.
“Assalamualaikum, Bu,” ucap Dirga sambil mengetuk pintu kelasnya. Dia berjalan masuk ke kelas terlebih dahulu, disusul kedua temannya dari belakang.
Bu Rina tidak marah kepada mereka bertiga yang baru saja masuk ke kelas, karena memang dia sendiri juga baru saja masuk ke kelas. Dirga dan kedua temannya disuruh Bu Rina duduk di kursi mereka masing-masing.
Mereka bertiga mengeluarkan buku dan pena untuk belajar. Bu Rina pun memulai pelajaran Bahasa Indonesia di jam pertama ini.
Suasana di kelas tenteram, tidak terdengar suara murid yang sedang berisik, semua diam mendengarkan penjelasan dari Bu Rina, dan mencatat apa saja yang diperlukan, serta harus memahami materi yang diberikan. Pelajaran Bahasa Indonesia ini memang sangat penting bagi setiap anak-anak sekolah terkhususnya di Indonesia. Bahasa kesatuan harus benar-benar bisa dipahami dan dimengerti oleh siapa pun, bahkan masyarakat Indonesia harus tahu Bahasa Indonesia sendiri.
Seperti biasanya, Dirga masih duduk santai di kursinya tanpa memegang pena untuk mencatat materi yang diberikan Bu Rina. Dirga memang memperhatikan Bu Rina yang sedang menjelaskan, tapi apa pun perkataan dari Bu Rina lewat begitu saja di telinga Dirga. Lain halnya dengan kedua temannya itu, Rahman dan Udik terlihat mencatat apa saja yang penting menurut mereka. Nakal boleh, tapi pelajaran masih wajib untuk diikuti dan harus dipahami. Entahlah apa yang ada di dalam pemikiran Dirga saat ini.
“Lo nggak nulis lagi, Di?” tanya Udik yang berada di sebelahnya.
“Gak, males!” balas Dirga cuek.
“Lo itu kenapa sih, Di? Gue heran sama lo, kok lo kayak gak semangat mulu setiap belajar, kenapa?”
“Percuma gue nyatet semua pelajaran, Dik. Lagian orang tua gue juga gak peduli dengan kehidupan sekolah gue.”
“Jangan gitu, Di. Orang tua lo pasti ingin lo jadi orang sukses dengan banyak ilmu, bukan jadi anak nakal yang banyak masalah.”
Dirga menyapukan tangan kanannya di hadapan Udik yang sok pintar. “Alah, lo gak usah banyak ngomong gitu, Dik, entar lo jadi pintar gue syok. Jalanin aja kehidupan lo sekarang.” Perkataan Dirga memang tidak disaringnya terlebih dahulu, dia asal-asalan bicara di hadapan Udik. Hal itu langsung membuat Udik sendiri kembali fokus pada bukunya, tidak menghiraukan Dirga lagi.
Pelajaran Bahasa Indonesia berlalu begitu saja bagi kelas mereka hari ini. Kini, bel pergantian pelajaran selanjutnya sudah berbunyi. Mereka melanjutkan pelajaran lainnya setelah Bu Rina keluar dan guru lainnya masuk.
Sama halnya dengan pelajaran pertama tadi, pelajaran jam kedua ini juga berlalu begitu saja bagi kelas 11 IPS2. Kelas mereka memang tidak ribut sama sekali, tapi Dirga yang terlihat diam itu sama sekali tidak mencatat materi sejak pelajaran Bu Rina tadi. Dirga nyaman dengan kelakuannya yang sekarang ini, beruntunglah baginya sampai saat ini belum ada pemeriksaan catatan untuk setiap pelajaran. Kalau ada, pasti Dirga orang yang pertama sekali akan dihukum, mendapatkan masalah.
***
Di kantin terlihat Ayu sedang mencari-cari keberadaan Dirga. Ayu yang ditemani Rafika terus mencari keberadaan Dirga. Sebelumnya mereka sudah mengelilingi sekolahan untuk mencari keberadaan Dirga, namun tetap saja orang yang dicari tak kunjung ketemu. Akhirnya, Ayu terpikirkan untuk mencari keberadaan Dirga di kantin, ada benarnya juga sih mereka mencari Dirga di kantin.
“Dirga!” seru Ayu mendekat kepada Dirga yang sedang duduk di kantin bersama Rahman dan Udik.
Dirga memutar kepalanya, menghadap ke arah orang yang memanggilnya. “Kenapa, Yu?” tanya Dirga dengan polosnya. Mereka bertiga sedang menikmati makanan serta minuman yang dipesan tadi sambil mengobrol.
“Ehh, ada Eneng Rafika,” goda Udik melihat Rafika yang sedang berdiri sedikit belakang dari Ayu.
“Gue siram entar muka lo!” ancam Rafika yang mulai marah.
Rahman dan Dirga langsung tertawa karena melihat ekspresi Udik yang baru saja diancam Rafika.
“Cantik-cantik kok mudah marah,” cibir Udik tanpa melihat ke arah Rafika.
“Diem lo!” Rafika membentak di hadapan mereka, itu ditujukan pada Udik.
Ayu yang mulai emosi mendengar pertikaian mereka langsung menyuruh Rafika dan Udik untuk diam. Sontak saja kedua orang itu terdiam. Ayu kali ini serius dengan perkataan yang akan diucapkannya, mereka pun melihat ke arah Ayu dengan tatapan penasaran.
“Lo dicariin kepala sekolah, Dirga!” ucap Ayu sedikit dengan nada tinggi.
Rahman dan Udik benar-benar kaget saat tahu Dirga sedang dicari kepala sekolah. Mereka berdua menerka pasti karena masalah Dirga minggat waktu itu, ahh, jantung Rahman dan Udik jadi dag-dig-dug karena gugup akan terlibat dalam masalah Dirga. Sungguh, suasana saat ini membuat Rahman dan Udik seketika diserang ketakutan yang luar biasa. Mereka berdua menatap Dirga yang terlihat santai menanggapi perkataan Ayu tadi.
“Gue serius, Di,” ucap Ayu sekali lagi.
“Iya, lo dicariin kepala sekolah, Di. Buruan sekarang temui kepala sekolah di ruangannya,” suruh Rafika.
Dirga berdiri dari tempat duduknya, menghadap ke arah Ayu dan Rafika. Tanpa bicara, Dirga langsung berjalan pergi meninggalkan teman-temannya di kantin. Dirga segera menuju kantor untuk menemui kepala sekolah.
__ADS_1
Setibanya di kantor, Dirga sudah ditunggu kepala sekolah yang terlihat sedang duduk di meja depan kantor bersama guru-guru lainnya. Tanpa Dirga sadari ternyata di situ juga ada Bu Resti sedang mengobrol bersama kepala sekolah. Dengan langkah yang santai Dirga mendekati kepala sekolah dan guru-guru lainnya.
“Ini dia Dirga,” kata Pak Efendi yang tersenyum sinis melihat Dirga langsung menghadap kepala sekolah.
Perkataan dari Pak Efendi tidak Dirga hiraukan, Dirga malah dengan sopannya mencium tangan kepala sekolah dan guru-guru yang ada di sana, termasuk juga Pak Efendi, tapi dengan tatapan yang tajam.
“Ayo masuk ke ruangan Bapak.”
Pak Burhan mengajak Dirga masuk ke ruangannya. Dirga berjalan mengikuti kepala sekolah menuju ruangannya, akan tetapi Bu Resti juga mengikuti mereka dari belakang. Kali ini hukuman apa yang akan Dirga dapatkan dari masalahnya. Kenapa Bu Resti juga harus ikut, sih? Dirga sendiri mulai dag-dig-dug dengan suasana sekarang ini. Dia sudah duduk di kursi tepat di depan kepala sekolah, serta Bu Resti berada di samping sebelah kirinya.
“Begini, saya dan Bu Resti sudah menerima laporan dari guru olahraga bahwa kamu minggat ketika jam pelajarannya. Dia sudah memeriksa pelajaran-pelajaran sebelumnya dan kamu hadir, tapi kenapa saat masuk jam olahraga kamu malah pulang duluan?” tanya Pak Burhan dengan santai.
“Begini Pak, waktu itu saya lupa untuk bawa seragam olahraga. Nah, kalau murid yang nggak bawa seragam olahraga itu gak bakal diabsen oleh guru itu. Daripada saya gak diabsen, mendingan saya pulang duluan, Pak. Begitu penjelasannya.” Dirga dengan santai menjelaskan kenapa dia pulang terlebih dahulu kepada Pak Burhan. Kelakuan Dirga memang sangat santai. Gila! Lo memang gak bisa ngehargain guru atau kepala sekolah.
“Terserah Pak Burhan saja mau memberi hukuman apa kepada Dirga. Saya sebagai wali kelasnya hanya mengikuti apa yang menjadi keputusan Pak Burhan, bahkan kalau Dirga harus dikeluarkan dari sekolah saya terima, Pak,” kata Bu Resti.
Sontak saja perkataan Bu Resti langsung membuat Dirga kaget setengah mati. Dirga dikeluarkan dari sekolah? Serius? Tenang, ini belum sesuai dengan keputusan yang diambil kepala sekolah. Dirga benar-benar kaget mendengar perkataan kalau dia bisa saja dikeluarkan dari sekolah hanya karena masalah ini. Pandangan Dirga langsung mengarah kepada Bu Resti, mata Dirga mulai berkaca-kaca sesaat semuanya terdiam. Dan kembali Dirga mengarah kepada Pak Burhan.
“Pak ....” Dengan suara berat, Dirga sangat berharap kalau dia tidak benar-benar dikeluarkan dari sekolah.
Pak Burhan menatap Dirga dengan tatapan seolah menyesal dengan apa yang akan dikatakannya nanti. “Begini, Nak ... kamu masih mau belajar di SMA ini, kan? Kalau masih mau, tolong ubah sikapmu mulai sekarang. Kalau memang sikapmu masih sama seperti ini, ya, pihak sekolah dengan terpaksa harus mengeluarkan kamu.”
“Apa pun hukumannya akan saya lakukan, Pak, asal jangan dikeluarkan dari sekolah. Saya mohon, Pak.” Dirga kali ini benar-benar mengemis di hadapan Pak Burhan dan Bu Resti―meminta agar dia tetap bisa bersekolah di SMA Cakrawala Jakarta ini, jangan sampai dikeluarkan.
Pak Burhan mengambil amplop dari laci mejanya. “Ya sudah. Silakan kamu terima ini,” Pak Burhan memberikan amplop itu, “berikan pada orang tuamu, suruh mereka datang. Dan sekarang silakan kembali ke kelasmu.”
Dirga menerima amplop itu. Pikirannya langsung tertuju pada kesibukan kedua orang tuanya. Ini yang dibutuhkan sekarang, Pak, terima kasih, kata Dirga dalam hatinya. Goblok atau memang bodoh sih Dirga ini? Kok dia malah berterima kasih pada Pak Burhan karena memberikan surat panggilan itu? Entahlah apa yang akan dilakukan Dirga setelah ini. Dirga rela menerimanya dan dia segera kembali ke kelasnya lagi.
Bukannya berjalan menuju ke kelas, Dirga malah pergi ke kantin lagi, terlebih dahulu dia mengelap matanya tadi yang sempat berkaca-kaca, lalu tersenyum sebentar memandangi surat panggilan itu. Senyum lagi? Mau lo apaan sih Dirga dengan surat panggilan itu? Dirga terus berjalan menuju kantin sekolah.
“Ehh, itu Dirga,” kata Udik menunjuk Dirga yang sedang berjalan mendekati mereka berempat.
Masih di tempat yang sama seperti sebelumnya, Ayu, Rafika, Rahman dan Udik berada di meja tadi. Mereka mengobrol, entah apa yang dibahas. Namun ketika Dirga mendekat, obrolan mereka berempat langsung terhenti begitu saja. Satu sama lain saling melihat seolah sedang ada yang disembunyikan. Lalu mereka bersamaan menatap Dirga yang sedang memegang sebuah amplop.
“Itu amplop apaan, Dik?” tanya Ayu pada Dirga yang masih berdiri.
Dirga menarik satu kursi kosong yang berada di dekat meja mereka, lalu duduk bergabung bersama teman-temannya. Menaruh amplop itu di atas meja tanpa melihatkan ekspresi menyesal atau sedih karena baru dipanggil kepala sekolah tadi.
“Ehh, lo kok anteng-anteng aja, Di? Emang tadi diapain di kantor?” tanya Udik sangat penasaran.
“Gue dicium sama Bu Ulfa di kantor tadi, Dik,” jawab Dirga asal-asalan, diiringi dengan tawa kecil.
“Jangan gitu, Yu,” bela Rafika atas tindakan yang dilakukan Ayu pada Dirga.
“Yaelah, dibelain lagi. Udah gak usah dibelain, Ra, orang gini emang pantes. Lagian Udik nanya serius, kenapa dijawab asal-asalan!” hardik Ayu pada Dirga
“Santai aja kali, Yu,” lanjut Dirga, “cuma dapat surat panggilan, nggak perlu khawatir berlebihan gitu kali.”
“Ehh, bukan cuma gue yang takut lo bakal dikeluarin dari sekolah karena masalah lo, Di! Semuanya juga takut kalau lo dikeluarkan dari sekolah, paham?!” Ayu terus membentak di hadapan Dirga tanpa mengkhawatirkan di sekitar mereka sedang ramai orang-orang.
Kalau Ayu sudah marah-marah gini Dirga pasti merasa bersalah. Ayu itu memang teman dekat Dirga yang berani memarahinya di mana pun, kapan pun, apa pun masalah Dirga pasti Ayu marah-marah mulu. Dirga terdiam setelah mendengar ocehan dari Ayu yang serius.
“Iya, gue juga takut kalau lo bakal dikeluarin dari sekolah, Di,” ucap Rafika dengan raut wajah mulai sedih.
Tatapan Dirga tertuju pada mata Rafika yang mulai berkaca-kaca, Dirga mulai mencerna perkataannya yang bercanda tadi. Dia merasa bersalah. Tanpa Rafika dan yang lainnya sangka, Dirga berani mengusap air mata yang keluar dari sudut mata Rafika dengan ibu jarinya. Semua temannya terfokus pada mereka berdua yang saat ini sedang serius. Mereka berdua bertatapan.
“Gue minta maaf kalau udah buat lo khawatir. Udah, lo jangan nangis, Ra.” Dirga mencoba menenangkan Rafika yang mulai bersedih. Tatapan matanya dialihkan ke arah teman-temannya. “Gue juga minta maaf sama kalian semua,” ucapnya dengan sadar.
“Lain kali kalau lagi serius coba serius, Di. Lo pikir ini masalah kecil? Lo nggak sendirian, di sekitar lo banyak orang yang peduli! Jangan ulangi lagi, Di.” Ayu mengingatkan Dirga agar tidak mengulangi hal yang sama lagi.
Bel masuk pelajaran selanjutnya memecah suasana serius mereka berlima di kantin. Dirga terlebih dahulu berdiri dari kursinya, mengajak teman-temannya untuk segera masuk ke kelas. Ayu, Rahman dan Udik berjalan terlebih dahulu meninggalkan meja mereka, namun Dirga menahan lengan Rafika. Mereka berdua bertatapan.
“Lo jangan nangis lagi ya, Ra. Kalau lo nangis gue juga ikutan sedih,” katanya, lalu melepaskan tangannya dari lengan Rafika, dan berjalan menyusul ketiga temannya tadi.
Rafika mencerna sebentar perkataan dari Dirga. Kemudian dia melangkah pergi menyusul teman-temannya menuju kelas.
Di dalam kelas semuanya sudah duduk rapi di kursi masing-masing. Dirga pun mengeluarkan buku dan penanya dari tas diletakkan ke atas meja. Kali ini suasana apa yang akan terjadi di dalam kelas? Ketika Dirga memandang ke arah Rafika, saat itu juga Rafika menghadap ke arah Dirga, otomatis mereka melakukan kontak mata secara langsung. Tatapan apa itu? Rafika terlihat tersenyum ketika Dirga menatapnya diam. Dan yang anehnya lagi Dirga membalas senyuman Rafika itu.
Seisi kelas seakan sunyi dan hanya ada mereka berdua saja di sana saling bertatapan berbagi senyuman. Pertanda apakah ini? Ruangan ini menjadikan tatapan mereka seakan sedang berada dalam satu ikatan, yang entah ikatan jalinan apa itu. Kalau ada yang menerka itu adalah cinta, emm ... mungkin benar kali, ya? Atau, tatapan mereka itu sebagai perantara atas perhatian Dirga terhadap Rafika di kantin tadi? Terus aja menerka sampai pusing sendiri. Mereka berdua masih teman baik kok.
“Assalamualaikum.”
Tatapan itu terhenti ketika guru masuk ke kelas mereka. Lagi-lagi tatapan mereka terputus begitu saja. Mereka berdua langsung kembali fokus dengan guru yang masuk ke kelas. Semua murid membalas ucapan salam dari guru itu secara bersamaan.
Entah kenapa gue bisa ikut-ikutan sedih saat lo sedih, Ra? Gue gak tahu kenapa gue sampai segitunya terhadap lo. Gue tahu kalau gue ini emang bodoh udah ngebuat candaan saat sedang serius, tapi itu gue sengaja agar kalian semua gak terfokus pada masalah gue, Ra. Lo tahu sendiri kan kalau gue itu gak mau kalian terlibat masalah gue. Gue mohon lo jangan sedih lagi ya, Ra. Dirga kembali bergumam dalam hatinya sambil menatap Rafika dari belakang. Sesaat ketika Dirga ingin berpaling dari arah Rafika, dan saat itu juga Rafika kembali melihat ke arah Dirga secara diam-diam. Namun pandangan mata mereka kembali bertemu. Itu hanya berlangsung singkat, Rafika terlihat malu karena kepergok menatap kembali Dirga.
Guru yang berada di kelas mereka langsung memberikan materi pelajaran. Mereka belajar dengan serius kali ini. Pandangan guru itu tertuju pada Dirga yang terlihat sedang menyandar di kursinya tanpa mencatat materi yang sudah ditulis di papan. Guru itu berjalan mendekati Dirga.
Dirga sendiri pun sedang bersantai, melamun dengan pemikirannya yang entah sedang dikuasai oleh apa. Dirga spontan tersadar dari lamunannya ketika guru itu menegurnya. Wajah Dirga tertunduk takut.
__ADS_1
“Kamu sedang apa, Nak?” tanya guru itu.
Kepalanya sedikit diangkat, menatap wajah guru itu. “Maaf, tadi saya melamun, Bu.” Dirga meminta maaf karena kesalahannya.
“Ya udah, jangan diulangi lagi, fokus belajar. Silakan salin materi yang ada di papan tulis.” Guru itu berjalan kembali ke kursinya.
***
Dirga, Rahman dan Udik sedang berjalan menuju parkiran. Para murid SMA Cakrawala sudah meninggalkan area sekolah, karena memang sekarang sudah waktunya pulang sekolah.
“Ehh, gue duluan ya, Di, Man,” ucap Udik pergi dengan mengendarai motornya meninggalkan parkiran.
Dirga dan Rahman hanya mengangguk mengerti. Dirga masuk ke mobilnya, Rahman pun juga naik. Dirga memutar mobilnya, perlahan menginjak gas mobilnya ingin meninggalkan area sekolah. Mobil mereka berhenti sejenak di depan pintu gerbang, Dirga sengaja menghentikannya karena melihat Ayu dan Rafika sedang berdiri di sana.
“Lo pulang naik apa, Yu?” tanya Dirga.
“Naik taksi atau gak angkot aja,” jawab Ayu.
Mata Dirga mengarah pada Rafika yang sedang berdiri di sampingnya.
“Kalau lo pulang naik apaan?” tanyanya.
“Lagi nunggu jemputan, tapi dari tadi nggak dateng-dateng,” balas Rafika, tertunduk terlihat bersedih.
Melihat Rafika yang mulai lelah menunggu, akhirnya Dirga sendiri berinisiatif untuk mengantar Rafika pulang. Tapi, kalau Dirga cuma ngantar Rafika, pastinya Ayu akan marah. Tanpa berpikir panjang lagi, Dirga langsung mengajak keduanya untuk segera naik ke mobil. Ini hanya sekadar perhatian sesama teman.
Tanpa menolak, Ayu langsung menarik lengan Rafika untuk segera masuk ke mobil Dirga. Mereka berdua duduk di belakang. Dirga segera melajukan mobilnya, terlebih dahulu dia mengantar Ayu dan Rafika pulang.
Kalau rumah Ayu, Dirga sudah tahu, tapi rumah Rafika dia belum tahu. Ya, gak apa-apa juga, lagian ada Rafika di dalam mobilnya, jadi Dirga hanya menuruti arah yang ditunjukkan Rafika nantinya. Setelah mengantar Ayu, Dirga langsung melanjutkan untuk mengantar Rafika.
Sepanjang perjalanan Dirga mengikuti petunjuk yang diarahkan oleh Rafika. Mereka berhenti di salah satu rumah yang ada di kompleks. Rumah itu tidak sebesar rumah Dirga, tapi kelihatannya Rafika orang menengah ke atas, terbukti di halaman rumah itu terdapat mobil, dan dua motor―salah satunya motor sport.
“Ini rumah lo?” tanya Rahman ketika melihat rumah Rafika.
“Iya, Man. Ini rumah gue. Kalian mau mampir, gak?” tawarnya. Benar, itu sesuai dengan arahan dari Rafika.
“Gak usah, lain kali aja,” jawab Dirga. Dirga kembali menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi meninggalkan rumah Rafika. Kaca mobilnya belum dinaikkan oleh Dirga karena dia sedang melihat Rafika yang melambaikan tangannya sedang tersenyum. Karena Rafika sudah masuk ke area rumahnya, Dirga menambah kecepatan mobilnya dan menaikkan kaca mobil itu. Mereka menuju kosan Rahman.
***
Sekarang sudah malam hari, dan Dirga pun baru sampai di depan rumahnya. Dirga sengaja pulang ke rumahnya hanya untuk menyampaikan bahwa dia mendapatkan surat panggilan untuk orang tua―agar datang ke sekolahan besok pagi. Dirga dengan ragu turun dari mobil. Dia berjalan masuk ke area rumahnya sambil memutar-mutar amplop surat panggilan itu. Dirga memberanikan diri menekan bel rumahnya. Tidak butuh waktu lama, salah seorang membuka pintu dari dalam.
Bi Siti yang membuka pintu rumahnya. Bi Siti menyuruh Dirga masuk, dan dia juga menjelaskan kalau di rumah ada Mama sama Papanya. Bi Siti mengikuti Dirga berjalan menuju kamar orang tuanya―yang berada di lantai dua―untuk segera memberikan surat itu.
Dari luar kamar saja Dirga sudah mendengarkan cekcok antara Mama dan Papanya. Dirga sendiri tidak mau tahu apa penyebab kedua orang tuanya itu bertengkar lagi, menurutnya itu sudah hal biasa terjadi di keluarganya. Dirga mendorong pintu kamar begitu saja, dan spontan menghentikan cekcok kedua orang tuanya.
“Lihat! Kamu lihat sifat Dirga!” kata Bastian setelah tahu Dirga masuk ke kamar mereka begitu saja tanpa mengetuk atau mengucapkan salam terlebih dahulu.
Dirga mendekati kedua orang tuanya, dan dia menaruh amplop surat panggilan itu di atas meja. “Ini surat panggilan untuk orang tua dateng ke sekolah, karena anak mereka membuat masalah saat di sekolah, dan diharuskan untuk salah satu orang tua murid agar hadir besok pagi,” jelas Dirga seolah kedua orang tuanya itu tidak mengerti arti surat panggilan dari pihak sekolah.
“Gak usah dijelaskan Papa sudah tahu!” bentaknya.
“Begitulah sikapmu terhadap anak sendiri, selalu membentak. Gak pernah sekalipun buat ngomong baik-baik, tanyain kenapa dia bisa dapat surat panggilan itu,” ujar Wulandari menasihati suaminya. Dia juga kesal dengan sikap suaminya yang selalu saja marah-marah di hadapan Dirga.
Sementara, Bi Siti terdiam di dekat pintu kamar, dia tidak berani mendekati mereka yang sedang cekcok.
Dirga mengajak Bi Siti keluar dari kamar orang tuanya. Bi Siti menuju ke dapur, sementara Dirga menuju kamarnya untuk mengambil beberapa pakaian, dan barang-barang yang dibutuhkan lainnya.
“Dirga selalu membuat masalah di sekolahnya, setiap bulan pasti saja mendapatkan peringatan dari guru. Dirga gak pernah ngertiin perasaan orang tuanya!”
“Kamu yang gak bisa ngertiin perasaan dia!”
“Kamu sendiri gimana? Masih sibuk dengan kerjaan kantor, gak pernah mau ke sekolahnya buat hadirin surat panggilan itu!”
“Jangan saling nyalahin dong! Kamu sendiri juga gak pernah ngehadirin panggilan sekolah buat Dirga!”
Sampai Dirga sudah berada di kamarnya pun cekcok kedua orang tuanya masih saja terdengar keras. Sebenarnya siapa yang gak bisa ngertiin perasaan satu sama lain? Menurut Dirga, dia berubah karena sikap kedua orang tuanya yang kurang perhatian terhadapnya. Dirga selalu mendengar keributan di rumahnya. Setelah selesai dari kamar, Dirga turun kembali menemui Bi Siti di dapur.
Mungkin hanya Bi Siti yang tahan dengan keributan di rumah Dirga sampai saat ini. Bi Siti tidak pernah bilang kalau dia ingin berhenti jadi pembantu di rumah keluarga Dirga ataupun ingin keluar. Bi Siti memang sangat membantu di kehidupan Dirga terkhusus keluarganya. Bi Siti lah yang dari dulu jadi pembantu di rumah Dirga, sejak Wulandari masih bersama suaminya yang pertama. Rasa kasihan terhadap Dirga pasti ada dalam benak Bi Siti, hanya saja dia tidak bisa berbuat banyak.
Setelah berpamitan dengan Bi Siti ingin pergi lagi, Dirga segera meninggalkan rumahnya. Dia keluar rumah berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang rumahnya. Dirga masuk ke mobil, dia melihat ke arah Bi Siti yang sedang melihatnya dari depan pintu rumah. Kalau bisa merasakan kesedihan Bi Siti, mungkin Dirga akan menangis sejadi-jadinya di hadapan Bi Siti sekarang, tapi Dirga coba menahan kesedihannya itu. Dia melajukan mobilnya.
Belum tahu pasti apakah salah satu dari orang tuanya akan datang ke sekolah besok pagi, apa tidak. Terpenting Dirga sudah memberitahu kalau dia mendapatkan surat panggilan, dan sudah disampaikan pada orang tuanya. Dirga tinggal menunggu besok, siapakah yang akan datang memenuhi panggilan kepala sekolah.
“Berharap hari esok akan lebih bahagia dibandingkan hari ini”
Dirga menuliskan status itu di whatsapp-nya sambil mengendarai mobil menuju kosan Rahman.
______________________________
__ADS_1
Sampai jumpa di part selanjutnya...