Diandra

Diandra
Bab 39


__ADS_3

"Kamu tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja, Rey" seru Saskia, Mamanya


Rey menatap Mamanya, "Sudah cukup aku mengambil tanggung jawab yang bukan milikku! Mama lihat, gara - gara tanggung jawab itu aku kehilangan cintaku! Aku kehilangan kebahagiaanku!"


"Mama tahu Mama salah, Rey. Tapi kita tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja pada Almera. Bagaimana pun, kamu dan Almera sudah menikah. Kalian suami istri. Ada Erlan di antara kalian"


"Sudah sepuluh tahun, Ma. Menikah dalam kepura - puraan sungguh menyiksa. Aku di paksa menjadi orang lain. Menjadi sosok yang bukan diriku sendiri. Apa Mama pikir aku bahagia? Alasan aku bertahan karena Mama berjanji akan mengatakan kenyataan ini pada Almera pelan - pelan. Tapi apa? Mama sama sekali tidak pernah membahasnya sedikitpun! Mama selalu menutupi kenyataan tentang Reyhan dan meyakinkah Almera bahwa Reyhan masih hidup. Sepuluh tahun waktu yang ku buang sia - sia. Aku sudah kehilangan kesabaran. Kali ini aku tidak bisa bersabar lagi. Aku tidak bahagia hidup bersama Almera. Dan aku memutuskan untuk melepas tanggung jawab itu. Lagipula, Almera harus tahu kalau aku bukan Reyhan, tapi aku Reynald!"


"Rey, tolong pikirkan lagi keputusan kamu. Apa Almera tidak akan terpukul jika mengetahui jika pria yang selama ini hidup dengannya bukan pria yang dia cintai, melainkan orang lain?"


"Aku harus memikirkan Almera? Lalu apa Mama memikirkan perasaanku beberapa tahun ini?Kenapa harus aku yang berkorban? Reyhan yang memakan nangkanya, aku yang kena getahnya!"


"Kamu tahu sendiri, Reyhan mengalami kecelakaan. Dengan kondisi Almera yang hamil, dia bisa depresi jika tahu kenyataan bahwa calon suaminya sudah meninggal. Dia bisa terpukul dan itu akan mempengaruhi kondisi kandungannya. Kamu tahu bagaimana dia frustasi saat mengira Reyhan sudah meninggal. Kita berusaha keras meyakinkan dan membuatnya percaya bahwa kamu adalah Reyhan"


"Tapi kenyataannya memang Reyhan yang meninggal!"


"Mama minta maaf, saat itu Mama berpikir hanya itu satu - satunya jalan supaya Almera tidak depresi. Kamu dan Reyhan kembar, dan Almera tidak akan mengetahui jika yang menikah dengannya bukanlah Reyhan"


Rey tertawa sumbang, "Bukankah itu namanya egois? Mama hanya memikirkan Almera tanpa memikirkan aku. Sudah sepuluh tahun, Ma! Sampai kapan kita akan menutupi hal ini dari Almera? Bagaimana pun, dia harus tahu kenyataan yang terjadi!"


Saskia menghela nafas, "Rey ... Ada kalanya kita yang harus mengalah. Kita tidak bisa memaksa keadaan"


"Almera baik - baik saja. Hidupnya berjalan dengan baik. Apa sepuluh tahun masih kurang untuk aku mengalah? Aku sudah benar - benar lelah dan muak!"


"Bersabarlah, Nak"


"Sampai kapan? Sampai aku kehilangan Diandra untuk yang kedua kalinya?" tanya Rey lirih


"Mungkin kamu dan Dian memang tidak di takdirkan bersama"

__ADS_1


Ucapan Mamanya membuat Rey menatap wanita itu nanar. "Aku baru menyadari satu hal, ternyata Mama lebih menyayangi Reyhan daripada aku. Buktinya selama sepuluh tahun ini Mama juga menganggap aku sebagai Reyhan. Mama bahagia aku menjadi Reyhan bukan? Padahal aku ini Reynald Ma, bukan Reyhan!"


Saskia menggeleng, "Mama tidak pernah membuatmu berubah menjadi Reyhan. Mama hanya meminta kamu menggantikan peran Reyhan untuk sementara"


"Sementara? Jika hanya sementara, harusnya drama ini sudah usai, Ma. Tapi apa yang Mama lakukan? Mama justru berusaha mendekatkan aku dengan Almera. Bahkan Mama menjebakku agar aku tidur dengannya!"


Saskia menatap Rey terkejut, "Rey, Mama-"


"Mama pikir aku tidak tahu?" pria itu terlihat begitu marah, "Kenapa Ma? Kenapa Mama tega melakukan itu? Mama sengaja berpura - pura agar aku dan Almera tidak berpisah? Sebegitu besarnya Mama menyayangi Almera sampai rela mengorbankan aku?"


"Tidak, Nak. Mama tidak bermaksud seperti itu" sangkal Saskia


Saka menggeleng, "Sudah cukup drama ini. Aku akan mengakhirinya sekarang juga"


Saskia mengangguk, "Rey, kamu harus tahu Mama menyayangi kamu dan Reyhan sama besar. Tidak pernah sedikitpun Mama lebih menyayangi dia. Kam-"


"Berhenti berpura - pura, Ma. Aku tahu semua drama yang Mama mainkan. Keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap kembali pada Diandra. Mama tidak bisa menghalangiku lagi. Dan satu lagi yang harus Mama tahu" Rey menatap Mamanya, "Aku sudah menceraikan Almera di pengadilan agama" Rey memberikan surat pada Saskia


"Anakku? Dia keponakanku, Ma. Dia anak Reyhan bukan anakku!"


Deg


🍀🍀🍀


Senyum menghiasai wajah Clara dan David. Berbeda dengan wajah Gama yang memang terlihat datar setiap harinya.


"Gam, belajarlah tersenyum. Wajahmu selalu saja terlihat kaku" komen Clara


Gama berdecak, "Wajahku memang seperti ini. Jadi jangan mengharapkan perubahan apapun dari wajah tampanku ini"

__ADS_1


David tergelak lalu menatap putranya, "Dia bagai kanebo kering. Dan Diandra bagiakan air yang akan membuatnya lebih lentur"


Clara mengangguk setuju, "Kapan Mama bisa menemui Mamanya Diandra? Apa Dian sudah memberi kabar?"


Gama menatap Mamanya, "Bukankah Dian mengatakan kapan saja. Hari ini pun kalau Mama mau, aku yakin Dian bisa mengantar Mama"


"Kenapa harus di antar. Mama bisa menemui Mama Dian sendiri. Dian pasti sibuk. Lagipula, Mama akan lebih asyik jika mengobrol dengan Mamanya Dian. Perempuan pasti nyambung kan? Banyak hal yang ingin Mama diskusikan dengannya tentang pernikahan kalian. Kalau dia setuju, Mama ingin temanya garden party. Dekorasinya serba mawar putih. Warna dekornya putih dan gold. Pasti akan terlihat sangat mewah" heboh Clara


Gama menghela nafas, "Sebaiknya Mama menemui Dian dulu. Untuk Mamanya, nanti bisa menyusul"


"Kenapa begitu? Akan lebih baik kalau Mama langsung bertemu dengan Mamanya Dian. Atau ... Mama undang saja mereka makan malam di rumah kita biar kenal dulu. Begitu lebih baik kan?" tanya Clara


"Bukankah Mama punya banyak kenalan? Menyiapkan pernikahan dalam waktu satu minggu pun, aku yakin bukan hal sulit. Kenapa Mama terburu - buru sekali?"


"Ya kan Mama sudah menantikan momen ini begitu lama, Gam! Lebih cepat bertemu dengan Mamanya Dian. Akan lebih cepat pula kita menemukan yang cocok untuk pernikahanmu dan Diandra!"


Gama berdecak,


"Ikuti saja apa kata bujang lapuk ini, Ma. Nanti sore kita temui Dian dulu" ucap David menengahi


"Mama hanya terlalu bersemangat, Pa. Memangnya salah?"


"Tidak salah, Ma. Hanya saja Mama terlalu heboh"


"Kamu mana tahu bahagianya Mama ketika kamu mengatakan akan menikah. Tentu Mama akan mempersiapkan semuanya dengan sempurna!"


"Iya, aku tahu. Tapi Mama tidak ta-"


"Gam, sudah. Nanti sore kita temui Dian sama - sama. Kalau bisa, kamu pulang lebih cepat" potong David, Gama hanya menjawab ucapan Papanya dengan anggukan. Hal itu membuat Clara sedikit curiga

__ADS_1


Wanita cantik itu menatap suami dan putranya bergantian, "Kalian tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?" tanyanya curiga


"Tidak ada, Ma. Kalau Mama penasaran, nanti sore Mama akan dapat jawabannya"


__ADS_2