
"Perkenalkan, Saya Diandra Veronica Abraham! Putri dari Denata Abraham. Pemilik sah perkebunan ini!"
Deg
Aditama tampak pucat seketika,
"Maksudnya bagaimana ini mah?" tanya Alim bingung
"Anda bisa menjelaskannya kan, Tuan Aditama!" sindir Dian
Aditama bungkam seribu bahasa. Gurat wajahnya mulai menunjukkan kegelisahan.
"Kak Gama, kamu pasti menjemputku kemari kan?" Cilla berlari ke depan halaman saat melihat Gama turun dari mobil.
"Suamiku bukan orang yang kurang kerjaan hingga mau menyusulmu kemari" sinis Dian
Cilla menatap Dian tak suka, "Selalu saja!"
"Wah ... Wah ... Wah ... Ada angin apa hingga seorang Diandra rela jauh - jauh datang kemari? Apa suamimu berubah pikiran dan ingin kembali pada putriku?" Livia baru saja keluar dari dalam rumah
Mendengar ucapan percaya diri dari Livia, Dian tertawa remeh, "Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah memberikan sesuatu yang menjadi milikku diambil orang lain! Termasuk perkebunan dan rumah yang kau tinggali saat ini!"
"Apa maksudmu?! Kalau kamu berfikir untuk meminta warisan pada Aditama. Huh! Jangan harap aku akan memberikannya!"
Dian kembali tertawa, ia menatap Aditama, Livia dan Cilla bergantian. "Warisan? Memangnya warisan apa yang bisa suamimu berikan, hm? Coba tanyakan padanya, harta apa yang dia punya!"
Livia mulai sedikit gelisah, dan Dian bisa melihat itu
"Kak Gama, ayo masuk ke dalam. Udara di luar sangat dingin" ajak Cilla
Gama tersenyum, dan Cilla pikir suami Dian itu tersenyum padanya. "Sayang, ayo kita masuk" ajak Gama pada Dian
"Tapi Kak, aku mengajakmu. Bukan wanita itu!" protes Cilla
Dian memeluk lengan Gama lalu bersandar di pundak suaminya itu. "Sejak kapan orang yang menumpang bisa mengatur pemilik rumah?!"
"Apa maksudnya semua ini?! Jangan bertele - tele!" tanya Livia geram, "Jelaskan, Pa!" pintanya pada Aditama
Namun Aditama hanya bisa bungkam,
__ADS_1
"Biar aku jelaskan. Perkebunan dan rumah yang kalian tinggali ini atas nama Mamaku. Jadi, akulah pemilik perkebunan ini!"
"Tidak mungkin!! Kamu hanya mengarang cerita!! Perkebunan ini milik suamiku!!"
Dian mendekat ke Aditama, wajah pria paruh baya itu nampak gusar. Hal itu membuat Livia juga ikut gusar.
"Tanyakan pada suamimu ini. Siapa pemilik perkebunan ini yang sesungguhnya?!" Dian menatap Aditama remeh dan hal itu membuat Livia semakin geram.
"Pa, jawab!! Perkebunan ini milikmu kan?" Aditama tetap bergeming, "Papa, jawab!!"
"Perkebunan ini atas nama Denata"
Deg
Lutut Livia terasa lemas seketika. Bagaimana bisa perkebunan yang sangat luas ini, yang menjadi sumber penghasilan mereka selama bertahun - tahun nyatanya bukan milik suaminya, melainkan mantan istri dari suaminya. Bukan hanya Livia, Cilla pun seketika menutup mulut tak percaya. Ternyata selama ini, dirinya menumpang hidup pada Diandra?
"Kami sudah mengurus masalah ini ke notaris. Dan setelah di cek kebenarannya, perkebunan ini memang atas nama mendiang Mama Denata. Jadi, bukan Tuan Aditama pemilik perkebunan ini!" ucap Gama
Kenyataan ini membuat Livia dan Cilla semakin tak berdaya. "Ini pasti salah! Perkebunan ini milik Papa. Bahkan selama bertahun - tahun, kami hidup dari hasil perkebunan ini! Dan tidak pernah ada kendala. Aku yakin Diandra hanya mengarang cerita!" tuduh Cilla
"Bukankah Papa tercintamu sudah mengakui jika perkebunan ini milik Mamaku. Apalagi yang kamu ragukan?"
"Bagaimana bisa Anda berkata demikian Nyonya Livia! Istriku tidak pernah merebut apapun dari kalian! Dia hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya!"
"Tapi perkebunan ini milik suamiku! Milik kami!"
"Dasar tidak tahu malu! Silahkan kalian angkat kaki dari rumahku. Aku memberi kalian waktu sampai besok pagi!"
"Kau!!" Livia berusaha menyerang Dian, namun Gama lebih dulu melindungi istrinya
"Jika Anda berani menyentuh Dian meski seujung rambutnya saja. Maka aku tidak segan - segan memberi Anda pelajaran, Nyonya!"
"Pa, jangan diam saja! Katakan sesuatu!"
Aditama nampak menghela nafas, "Kita akan pergi besok pagi!"
"Bagaimana bisa kamu mengatakan seperti itu! Perkebunan ini milikmu! Kamu yang mengurus dan mengelolanya selama ini. Kenapa kamu malah akan menyerahkannya pada wanita sialan ini!" tunjuk Livia pada Dian
Dian kembali mendekati Livia, "Sesuatu yang bukan milikmu, tentu harus dikembalikan bukan? Suamimu tidak punya hak atas perkebunan ini! Dan masalah yang mengurus dan mengelola perkebunan ini, itu bukan suamimu, tapi warga sekitar sini! Merekalah yang bekerja keras mengurus dan mengelola perkebunan ini, bukan suamimu ataupun dirimu! Benar begitu kan, Pak Alim?" tanya Dian, Alim tampak mengangguk ragu. Pria paruh baya itu menatap Livia takut - takut. "Peran suamimu hanya mengurus keuangan! Tidak lebih! Ah ... Lebih tepatnya menghabiskan uang dari hasil perkebunan ini untuk membiayai kau dan putrimu itu! Bahkan tanpa kalian juga memotong upah lembur buruh dan mengurangi bonus yang seharusnya mereka terima saat penjualan meningkat pesat. Selain menumpang, kalian dengan tidak tahu malunya mengambil hal orang lain!"
__ADS_1
"Itu tidak benar! Kami selalu membayarkan upah buruh tepat waktu dalam jumlah yang sesuai!"
"Tapu faktanya tidak seperti itu! Kamu pikir aku bodoh? Kalian bisa menipu warga awam, tapi kalian tidak bisa menipuku! Dan aku minta, kalian mengganti uang para buruh yang sudah kalian kurangi!"
"Semua laporan keuangan berjalan dengan baik dan sesuai fakta lapangan! Jadi aku tidak akan mengganti apapun!"
"Baiklah, sepertinya jalur hukum lebih baik. Jika di total berapa ya kira - kira uang yang sudah kalian pakai selama sepuluh tahun ini plus uang buruh? Jalan - jalan ke luar negeri, barang - barang branded dan gaya hidup hedon! Kalau aku meminta uang itu kembali, dan menyumbangkannya untuk panti asuhan juga warga yang membutuhkan, pasti mereka akan sangat bahagia!"
"Kamu tidak bisa melakukan itu!"
"Kenapa tidak? Uang yang selama sepuluh tahun kalian pakai adalah uang mendiang Mamaku! Selain itu, ada hak buruh juga didalamnya! Dan kalian memakai uang itu untuk hal yang tidak berguna!"
"Pak Alim, sampaikan pada semua buruh. Besok mereka bisa mengambil upah yang terpotong sekaligus bonus yang selama ini tidak dibayarkan. Nyonya Livia yang akan membayarnya!"
"B-baik, Non!"
"Kamu sudah melewati batas, Diandra!!"
"Tidak. Sama sekali tidak! Kalianlah yang melewati batas. Dan kali ini kesabaranku hilang sudah! Jadi, silahkan tinggalkan semua yang bukan hak kalian!"
"Diandra!!", Cilla berlari dan hendak memukul Dian dengan batu yang ia pegang, namun Gama menghalanginya
Bug
Batu lancip itu mengenai kepala Gama yang seketika membuat darah segar langsung keluar dari kepalanya
"Gama!"
"K-kak Gama!"
"Beraninya kau melukai suamiku!"
Bug
"Awwk!"
"Cilla!!"
🍀🍀🍀
__ADS_1
Kira - kira Cilla di apakan ya?