Diandra

Diandra
Cinta Terlarang


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Radit kembali ke kantornya, setelah tidak berhasil menemukan Monica, dia kehilangan sosok sahabatnya itu, dia lelah harus mencari Monica ke mana lagi.


ARGGGG. Radit berteriak di jembatan menatap ke sungai, dia menyesalkan perbuatannya terhadap Monica.


“Monica... kenapa kau harus pergi! Tidak bisakah kau memberiku waktu!” teriak Radit, melepaskan rasa kesalnya.


Tidak sengaja Diandra yang lewat di jalanan itu, melihat Radit yang tampak terlihat frustasi. Pandangannya menatap ke sungai yang deras di bawah jembatan itu.


“Itu kan... Tuan Radit bukan?” gumam Diandra menatap pria yang saat ini menjadi produsernya.


“Iya, itu Tuan Radit, sedang apa dia di jembatan itu?” ucap Diandra bertanya pada dirinya sendiri.


Kemudian Diandra menepikan mobilnya, menghampiri Radit, dia mengira jika Radit akan meloncat ke bawah jembatan tersebut.


“Tuan Radit... Anda jangan lakukan hal senekat ini Tuan!”


Diandra terlihat panik, melihat Radit berdiri di jembatan itu.


Radit menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.


“Andara,” gumam Radit.


Perlahan Diandra menghampirinya. “Apa yang sedang Anda lakukan? Masa depan Anda masih panjang, saya tidak mengira ternyata Anda ini gampang sekali mengambil keputusan pendek ini!” ujar Diandra.


Radit heran dengan ucapan Diandra, ia bahkan tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja Diandra ada di sekitarnya.


“Maksud kamu apa? Saya tidak mengerti maksudmu Andara?” ucap Radit masih mengira Diandra adalah kekasihnya Andara.


‘Huh... lagi-lagi orang ini mengiraku Andara, siapa sih Andara?’ batin Diandra kesal.


“Maaf Tuan Radit... nama saya Diandra! Bukan Andara, oh ya! Anda sedang mau melakukan bunuh diri kan?” ujarnya menatap lekat wajah Radit.


Seketika Radit terkekeh, geli rasanya mendengarkan perkataan Diandra.


“Ok baiklah... siapapun kamu, saya tidak peduli. Mau Andara ataupun Diandra namamu, yang jelas saya di sini tidak sedang melakukan bunuh diri Nona!”


“Terus ngapain Anda berdiri di pinggir jembatan berteriak-teriak seperti orang gial?” tanya Diandra.


“Apa orang gila? Saya bukan---,” seketika ucapannya terpotong lantara. Diandra kembali meninggalkannya.

__ADS_1


“Bilang dong kalau tidak sedang mencoba bunuh diri, jadinya saya tidak perlu menghampiri Anda!” ketus Diandra kemudian pergi meninggalkan Radit.


Sementara Radit mengernyitkan dahinya, dia di buat bingung oleh sikap Diandra.


“What’s! Kenapa dengan gadis itu, saya tidak memintanya datang menghampiri saya, kenapa dia sewot seperti itu!” ujarnya heran dengan sikap Diandra.


Setelah itu Radit juga pergi dari jembatan tersebut, segera kembali ke kantornya, untuk menemui Melissa ibu tirinya, sedang menunggu kedatangannya.


Tidak berlangsung lama Radit telah sampai di kantor, di sambut oleh asistennya Maxcton.


“Tuan, ada hal penting yang harus saya sampai pada Anda!” ujar Maxcton berjalan di samping Radit.


“Hal penting apa Max... katakan saja,” ucapnya menyahuti sang asisten tersebut.


“Pihak PH di Turkey meminta kita, segera menyelesaikan proses shooting film terbaru kita Tuan, kalau tidak, kita akan di keluarkan dalam kerja sama menggarap film ini!” ungkap Maxcton memberitahu masalah perusahaannya pada bosnya itu.


“Kalau begitu beritahu semua jajaran, kita adakan meeting darurat sekarang juga!” perintah Radit segera bergegas menuju ruangannya.


Sementara Melissa masih menunggu kedatangan putranya itu, Melissa terlihat mengotak-atik layar ponselnya.


“Anak itu ke mana? Kenapa lama sekali... asistennya juga tidak muncul lagi untuk menemui saya?”


“Sangat menyebalkan!” gumam Melissa mulai kesal, lantaran dia merasa di abaikan oleh Radit.


Melissa berkeliling melihat-lihat desain interior kantor Radit, yang terlihat sangat mewah dan berkelas, interior berdesain klasik modern itu, membuat hati Melissa semakin ingin menguasai harta kekayaan dari Radit.


Namun dengan tidak sengaja, Melissa membuka sebuah ruangan, di mana di dalam ruangan itu, terlihat putranya sedang memimpin rapat.


Sekilas Radit tersadar jika ibunya sedang memperhatikan, jalannya rapat tersebut.


Kemudian Radit memberikan aba-aba pada Maxcton, untuk menggantikannya memimpin jalannya meeting.


Radit tampak berpura-pura, mengangkat ponsel supaya tidak mengecewakan beberapa kliennya, lalu meminta ijin kepada jajaran staf di sana, untuk meninggalkan rapat tersebut.


“Maxc... tolong lanjutkan rapat ini, saya ada keperluan mendadak!” ucap Radit.


“Para hadirin semuanya, mohon maaf saya tidak bisa memimpin rapat kali ini, saya ada keperluan mendadak, untuk itu saya serahkan rapat ini, kepada wakil saya Maxcton!” ucap Radit lagi.


“Maxcton, silahkan!” perintah Radit mengambil alih kepemimpinan rapat itu.


Kemudian Radit segera bergegas keluar dari ruang meeting itu, menghampiri ibunnya.


“Mama... maafkan Radit ya Ma! Radit sangat sibuk hari ini,” ucap Radit menghampiri Melissa ibu tirinya yang masih terlihat sangat muda itu.

__ADS_1


“Tidak apa-apa Nak... Mama cukup mengerti dengan kesibukan kamu kok! Kenapa kamu meninggalkan rapat itu Nak?” ucap Melissa.


“Tidak kenapa-kenapa Ma! Radit hanya ingin mengajak Mama pulang saja kok,” sahutnya.


Kemudian Radit segera merapikan, pekerjaannya. Mematikan layar komputernya, dan segera bergegas pulang bersama ibunya ke apartemen.


“Ayo Ma, kita pulang!” seru Radit terhadap ibu tirinya Melissa.


“Ayo!” sahut Melissa mengikuti langkah gontai Radit yang membawakan kopernya.


Melissa menghela nafasnya, mendesah pelan dengan perlakuan Radit yang sangat perhatian padanya, padahal dia selalu ingin menghancurkan putranya itu.


‘Huh... coba saja Ayahmu yang bersikap segentleman ini Radit, Mama tidak akan membuat hidupmu menderita!’ batin Melissa, memperhatikan setiap langkah dari pria blasteran Turkey-indo itu.


Radit memasukkan koper ke dalam bagasi mobilnya, lalu membukakan pintu untuk ibunya. Setelah Melissa masuk, Radit berjalan mengitari mobilnya menuju kemudi di sebelah kanan.


DIPERJALANAN PULANG.


Sesekali Melissa memperhatikan wajah tampan Radit, ia mendesah pelan. Mengingatkan pada suaminya ketika masih muda, namun sedetik kemudian dia membenci wajah itu, mengingat wajah Radit sedikit mirip dengan wajah ibunya.


‘Keparat... kenapa wajah wanita itu tiba-tiba muncul!’ batin Melissa kesal.


“Mama sudah makan?” tanya Radit memecah keheningan.


Seketika Melissa menjawab pertanyaan putra tirinya.


“Belum... kamu sendiri apa belum makan?” ujar Melissa.


“Oke kalau Mama belum Makan, bagaimana kalau kita makan dulu, Radit tahu restoran Turkey yang ada di kota Jakarta!” ucap Radit tersenyum.


Sejenak Melissa terpaku dengan senyuman manis putranya itu, selama ini dia tidak sadar bahwa putranya ini adalah pria yang sangat tampan.


“Uhmmm... benarkah ada restoran khas Turkey di kota ini Nak!” jawab Melissa mengulum senyumnya.


‘Uhhh... sial kenapa Anak ini terlihat tampan!’ batin Melissa.


“Ada Ma... sebentar lagi kita akan sampai di restorannya!” sahut Radit, tanpa ia sadari ternyata diam-diam Melissa menatapnya.


Melissa berusaha, menyadarkan dirinya. Dia berusaha membuang perasaan itu, yang tiba-tiba muncul setelah dirinya mengusir Radit.


‘Sadar Melissa dia Anak tirimu, tidak seharusnya kau punya perasaan seperti ini, kau harus ingat dengan misimu membalas rasa sakit hatimu, pada suami brengsekmu itu!’ batinnya.


Sisi gelap Melissa muncul begitu saja, jiwanya yang haus akan cinta sehingga mengalahkan dendamnya yang di susun belasan tahun silam.

__ADS_1


__ADS_2