Diandra

Diandra
Terlena


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Dua orang berbeda generasi itu kini telah duduk di satu meja yang sama. Radit menarik kursi mempersilahkan ibunya, Melissa. Untuk duduk di kursi.


“Silahkan Ma,” ucap Radit.


Kemudian ia pun duduk di samping ibunya, lalu membaca buku menu. Radit memesan makanan khas Istanbul TURKEY.


“Silahkan Tuan...” ucap pelayan restoran tersebut.


Dengan suasana sunyi mereka berdua menyantap makanan itu. Sesekali Melissa melirik Radit putra tirinya.


‘Ish... bahkan saat makan beginipun kau masih saja terlihat tampan putraku,' batin Melissa menatapnya.


Sesaat kemudian tersadar, oleh suara dentingan Radit yang menyendok makanan.


‘Uhhh... kenapa denganku ini!’ gerutu Melissa.


“Eummm... kamu di apartemen tinggal dengan siapa Nak?” tanya Melissa memulai obrolan.


“Hanya sendirian, dan sekarang tentu dengan Mama. Oh ya kapan Mama kembali ke Istanbul?” ucapnya.


“Sepertinya Mama akan tinggal lebih lama di sini Nak, kamu tidak keberatan kan?” ucap Melissa lagi.


“Tentu saja tidak! Selama Mama bahagia aku akan bahagia!” jawab Radit, seketika hati Melisa berdesir hebat, merasakan perasaan tak biasa.


“Uhmmm... Mama jadi terharu Nak! Terima kasih yah, kau sudah bersedia menampung Mama!” sahutnya.


“Kenapa Mama harus berterima kasih, itu semua sudah kewajiban Radit berbakti terhadap orang tua Ma!” ujarnya.


“Ahaha... iya kamu benar!” ucap Melissa.


Tidak berlangsung lama, mereka pun menyelesaikan aktivitas makannya. Setelah itu Radit membayar makanan, kemudian pergi, dari restoran tersebut.


Kini mereka berdua telah sampai di apartemen, kawasan elite di kota Jakarta.


“Silahkan Ma... ini kamar untuk Mama tinggali, dan di sana kamar Radit, jika Mama butuh sesuatu panggil Radit ya Ma! Selamat malam,” ucap Radit sopan.


Kemudian Melissa memasuki kamarnya, merebahkan badannya melepaskan rasa lelahnya.


*KE ESOKAN HARINYA*


Radit bangun dari tempat tidurnya, melakukan peregangan pada otot-ototnya, kemudian bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sementara Melissa tahu kalau Radit sudah bangun, ia segera menuju kamar Radit, berpura-pura membersihkan kamar putranya itu.


“Huh. Syukurlah Radit sedang mandi, dengan begitu aku bisa berpura-pura membersihkan kamarnya,” ucap Melissa mulai menjalankan rencananya, berusaha menjerat Radit dengan cara menggodanya.


Beberapa saat kemudian, Radit telah keluar dari kamar mandi ia hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya, sehingga mengekspos otot-otot kekar yang menghiasi tubuhnya.


Radit tidak tahu, jika ibu tirinya sedang membersihkan ruangan kerjanya, yang hanya tersekat oleh pintu dorong yang menjadi pembatas, antara kamarnya.

__ADS_1


Dengan santainya Radit melepaskan handuknya, sehingga polos tanpa busana, ia membuka lemari.


Melissa segera membuka pintu, betapa terkejutnya Radit, saat mengetahui ibu tirinya berada di hadapannya, Radit gugup, begitu juga dengan Melissa.


Perlahan Melissa mendekati putra tirinya itu, menenggelamkan wajahnya di hadapan milik Radit.


Radit terbelalak tidak percaya, atas perbuatan yang telah dilakukan oleh ibu tirinya itu.


“ARGGGG!” Radit mengerang hebat, saat Melissa memainkan miliknya.


Dengan reflek Radit mendorong ibu tirinya itu.


“Kita seharusnya tidak melakukan ini Ma!” seru Radit kecewa atas perbuatan ibu tirinya.


“Ini perbuatan tidak terpuji Ma!” ucapnya tegas.


Kemudian Radit segera memakai pakaiannya, segera berangkat menuju kantornya.


Sementara Melissa tersenyum menyeringai, dia merasa telah berhasil mempengaruhi Radit, menggoda anak tirinya agar jatuh kepelukannya, dan setelah itu dengan mudah akan menghancurkan putra tirinya itu.


“Ini baru permulaan Radit... aku yakin kau selalu mengingat kenikmatan ini,” seringai Melissa menatap Radit yang telah pergi bekerja.


Kini Radit telah sampai di kantornya, tidak hentinya dia memikirkan tindakan ibunya yang melakukan hal tak senonoh padanya.


“Huh... kenapa dengan Mama Melissa, kenapa dia seperti ini, tidak mungkin bukan, jika dia menyukaiku!” gumamnya.


Sementara dari arah berlawanan, terlihat Diandra dan manajernya sedang berniat menghadap ke pihak yang menangani proses shooting filmnya.


Namun saat Diandar melihat Radit, ia mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke mobil, Diandra hanya mengutus sang manajer, untuk menanganinya.


“Lucy... kamu saja yang menghadap Tuan Maxcton ya, saya menunggu di mobil saja!” ucap Diandra.


“Ya sudah Nona tunggu di mobil ya!” sahutnya.


Seketika Radit berbalik arah melihat Diandra, Radit berniat meminta maaf pada Diandra, karena selama ini Radit mengira Diandra adalah kekasihnya, Andara.


“Hei... tunggu saya!” seru Radit berteriak kencang, sehingga memancing reaksi para wartawan yang ada di sana.


Diandra segera bergegas, menjauh dari Radit.


“Huh... mau ngapain sih dia malah memanggilku!” gumam Diandra, berjalan terburu-buru.


“Tunggu saya!” ucap Radit menggenggam tangan Diandra.


“Mau apa sih, lepaskan tangan saya Tuan Radit!” Diandra menghempaskan tangan Radit yang menggenggamnya.


“Bisakah kita bicara sebentar,” pinta Radit terhadap Diandra.


Namun Diandra menolak ajakan Radit, dia merasa tidak ada yang harus di bahasnya.


“Maaf... saya tidak bisa, lagi pula apa yang akan Anda bicarakan dengan saya!” serunya menatap Radit.


“Bailah, kalau kamu tidak mau. Tidak apa-apa!” ujar Radit kemudian pergi meninggalkannya.

__ADS_1


“Huh. Dasar Pria aneh,” gumam Diandra, segera menuju mobilnya.


Sementara Radit, segera bergegas menuju ruangannya.


KLEK. Pintu ruangan di bukanya, sejenak Radit terdiam menatap hamparan kota dari balik jendela ruangannya.


Radit terus memikirkan hal tidak pantas, yang dilakukan ibu tirinya Melissa terhadapnya.


“Uh... sial, kenapa Mama melakukan itu padaku, dan apa alasannya!” ucap Radit berbicara pada dirinya sendiri.


“ARGGG. Ini gila! Aku benar-benar bisa gila bila terus memikirkannya. Huh...” gumam Radit merasa dilema.


Sementara Maxcton, kini sedang bersama manajer Diandra, bernama Lucy. Mereka membahas soal pembagian royalti untuk artis pemeran Diandra, yang merupakan pemeran utama dalam film mereka yang berjudul Kekasih Kembarku.


“Bagaimana Tuan... klien saya sedang membutuhkan uang itu soalnya, bisakah saya menerima honornya sekarang?” ucap Lucy.


“Baiklah keluhan Anda saat ini saya tampung, tapi pihak kami tidak bisa sembarangan menggelontorkan dana Nona Lucy, saya harap Anda mengerti, saya harus konfirmasi dahulu ke atasan saya, dengan staf lainnya,” ucap Maxcton.


Setelah mendengar pernyataan dari Maxcton, Lucy dengan segera kembali menemui Diandra, dia segera memberitahukan perihal honornya.


Sedangkan Maxcton segera menemui Radit, di ruangannya.


TOK-TOK-TOK. Suara ketukan pintu dari seorang Maxcton, kala mengetuk ruangan bosnya.


“Masuk Maxc... saya tahu itu kamu!” seru Radit sedikit mengencangkan suara, agar terdengar oleh Maxcton.


“Permisi Mr Radit, ada hal yang ingin saya sampaikan pada Anda,” ucap Maxcton masih terlihat berdiri.


“Duduklah... hal apa yang ingin di bahas dengan saya?” tanya Radit dingin.


Suasana hati Radit sedang tidak baik-baik saja saat ini, hatinya berkecamuk pikirannya ke mana-mana, memikirkan perlakuan ibu tirinya yang tak pantas.


“Artis bernama Diandra itu meminta bayarannya lebih dulu Mr,” ucap Maxcton sambil meletakkan pantatnya.


“Jangan dulu di berikan, shootingnya juga belum kelar kan?” ujarnya.


“Tapi Mister... dia sepertinya sedang membutuhkannya!” ucap Maxcton, lagi berupaya agar Radit mau menggelontorkan dana tersebut.


“Saya tidak mau dibantah Maxcton, cepat kamu kembali ke ruanganmu! Saya tidak peduli, sebutuh apapun dia. Saya tetap tidak akan membayarnya jika proses film belum selesai!” tegas Radit.


Seketika Maxcton tercengang, dia belum pernah melihat bosnya semarah ini, badan Maxcton terlihat gemetaran. Ketika melihat rona kemarahan dari sang produser itu.


Kemudian Maxcton bangkit, dia tidak berani membantah Tuannya lagi.


“Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya Mister!” ucap Maxcton dengan gelagapan.


“Ya... memang lebih baik seperti itu! Katakan pada artis yang bernama Andara itu, pihak kita tidak akan menggelontorkan honornya sebelum proses shooting selesai, kecuali dia datang meminta langsung pada saya!” seru Radit mengingatkan asistennya.


“Baik Mister... saya akan sampaikan kepada Nona Diandra!” sahut Maxcton.


“Ya sudah cepat pergi dari ruangan saya!” ujar Radit mengibaskan tangannya, memberi aba-aba agar Maxcton segera pergi dari ruangannya.


Kemudian Maxcton segera meninggalkan ruangan CEO, yang merangkap jadi Produser itu.

__ADS_1


“Huh... syukurlah Mister Radit, tidak memecatku!” gumam Maxcton sambil menghela nafas.


__ADS_2