
"Papa, ayo!"
Gama tersenyum pada sang putri, "Hati - hati. Jangan lari, Sayang"
Gadis kecil berkepang dua itu tampak riang. Kaki mungilnya menapaki tanah demi tanah menuju ke makam yang akan mereka tuju.
"Papa ayo cepat" serunya lagi
Gama menghampiri sang putri lalu ikut duduk di depan gundukan tanah didepan mereka. "Kami datang lagi"
"Pa, kita berdoa dulu" ucapnya seraya menangkupkan kedua tangan sambil menutup mata
Gama terkekeh melihat betapa menggemaskannya sang putri. Gadis kecil berusia lima tahun yang ia beri nama Kristalia itu tumbuh menjadi gadis yang riang dan pintar.
"Mama, ayo cepat. Kenapa Mama lama sekali mengambil bunganya?"
Diandra tersenyum, "Ini. Kamu yang menaruhnya di makan opa dan oma, ya" Dian memberikan buket bunga itu pada putrinya untuk di taruh di atas makam bertuliskan nama Aditama dan Denata. Dian sengaja memakamkan Aditama disamping makam Mamanya agar mereka mudah untuk mengunjungi keduanya.
Kristal mengangguk, "Opa, Oma, hari ini Kristal datang lagi. Opa dan Oma baik - baik kan disana? Kristal selalu mendoakan supaya Opa dan Oma bahagia di surga"
"Dia baik hati sepertimu" bisik Gama pada sang istri
"Dan keras kepala sepertimu" jawab Dian
Keduanya berpelukan, Gama tak henti mengucap syukur atas kebahagiaan dan berkah yang Allah berikan untuk dirinya.
Flash Back Lima Tahun Lalu
"Kami minta maaf"
"APA YANG KAMU KATAKAN! ISTRIKU PASTI BAIK - BAIK SAJA! SELAMATKAN DIA, SELAMATKAN DIA!!"
Dokter hanya menundukkan wajah
"Gam, bersabarlah, Nak"
"Tidak mungkin, Ma!! Diandra tidak mungkin meninggal. Dia sudah berjanji tidak akan meninggalkanku"
Gama menerobos masuk ke dalam kamar operasi. Beruntung tadi ia menuruti perkataan Mamanya untuk ganti pakaian. Jadi Gama dalam keadaan bersih.
Bayinya sedang di bersihkan oleh suster, tangisannya terdengar kencang namun tidak dengan Dian yang terlihat pucat. Tubuhnya memutih seperti tanpa darah.
"S-sayang"
Tangis Gama pecah saat Dian tak merespon panggilannya. "Bangun, Di. Bangun Sayang"
"Maaf, Pak. Sebaiknya Bapak adzani dulu putri Bapak" pinta dokter
Gama mengambil bayi mungil berwarna merah tersebut dengan tangan bergetar. Wajah putrinya begitu mirip dengan dirinya. Dia cantik, bahkan sangat cantik meski masih bayi.
Gama kembali menangis. Dengan suara serak, Gama mengumandangkan adzan di telinga putri cantiknya itu.
"Sayang, lihatlah. Itu Mama"
Wajah Dian terlihat begitu pucat, "Sayang ... Ini putri kita. Kamu tidak mau melihat dan menggendongnya?"
"Maaf, Pak. Kami akan membawa jenazah-"
"KAMU BILANG APA?!! ISTRIKU MASIH HIDUP!! DIA MASIH HIDUP!!"
"Pak, Anda harus bisa menerima kenyataan"
"SIAPA KAMU BERANI MENGGURUIKU!!"
Keributan itu membuat Mama Clara dan Papa David masuk kedalam ruangan. Papa David menenangkan Gama, sedangkan Mama Clara segera mengambil bayi Diandra karena takut Gama lepas kendali.
"Tenangkan dirimu, Nak. Ikhlaskan Diandra"
"TIDAK! DIANDRA MASIH HIDUP! ISTRIKU MASIH HIDUP!"
"Gam, sadarlah! Jangan buat kepergian Dian berat" Mama Clara berkata sambil menangis
"Ya Allah, jika memang semua adalah takdirmu. Lapangkanlah hati putra hamba" Mama Clara mencium cucunya, "Kasihan sekali kamu, Nak. Kamu lahir tapi harus kehilangan seorang ibu"
"BANGUN DI! BANGUN! Kamu sudah berjanji untuk menua bersamaku! Kamu tidak boleh meninggalkanku seperti ini" Gama bersimpuh didepan jenazah Diandra.
Sebagai orang tua, Papa David dan Mama Clara merasa iba melihat Gama hancur seperti sekarang. Tidak ada seorang pun yang siap dengan sebuah perpisahan.
"Nak, ikhlaskan ya. Ini sudah takdir Allah"
"Aku tidak bisa, Pa. Aku tidak bisa!!" Gama memukul lantai berkali - kali untuk meluapkan emosinya
Jangan tinggalkan aku seperti ini, Sayang. Aku tidak sanggup. Lirih Gama dalam hati
__ADS_1
"Kami akan segera membawa jenazah ibu-"
Tit Tit Tit
Gama terperangah, begitupun semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Dokter detak jantung pasien kembali" seru suster.
Dokter pun segera melakukan pemeriksaan.
"Detak jantung pasien kembali normal. Dia sudah melewati masa kritis"
"Alhamdulillah" ucapan Pak David dan mama Clara bersamaan
Mertua Dian itu merasa sangat lega, begitupun dengan Gama yang tak kalah leganya. Ia menatap wajah sang istri yang tidak sepucat sebelumnya.
Terima kasih ya Allah, Terima kasih sudah mengambalikan istri hamba
"Silakan menunggu di luar. Kami akan memeriksa kondisi pasien lebih lanjut"
"Baik dok", Mama Clara menyerahkan cucu mungilnya kepada suster, kemudian mereka bertiga menunggu di luar.
Rasa syukur dan haru menyelimuti hati ketiganya. Kembalinya Diandra merupakan suatu keajaiban dan kebahagiaan bagi mereka. Khususnya bagi Gama. Dalam hati, ia tak henti mengucap rasa syukur yang teramat dalam.Bahkan air mata kebahagiaan tanpa terasa, menetea di pipinya, "Dian selamat, Ma, Pa. Istriku masih hidup"
"Iya, Nak. Ini sebuah keajaiban"
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan, "Kondisi pasien sudah stabil. Sebentar lagi pasien dan bayinya akan di pindahkan ke ruang perawatan"
"Terima kasih banyak dok"
"Sama - sama. Kalau begitu, saya permisi dulu"
Bayi Diandra dibawa ke ruang bayi oleh suster. Sementara Dian masih menjalani serangkaian hal pasca operasi.
Gama menunggu dengan harap - harap cemas. Sampai saat ini, istrinya belum juga sadar.
"Dian pasti baik - baik saja kan, Ma?"
Mama Clara tersenyum, "Dia pasti baik - baik saja"
Tak berselang lama, suster membawa brankar Diandra untuk di pindahkan ke ruang perawatan. Tentu Gama dan orang tuanya langsung mengikutinya. Setelah Dian dipindahkan, lima belas menit kemudian, suster membawa bayi cantik, anak Gama dan Dian ke ruangan yang sama.
"Putrimu cantik sekali, Gam"
"Mama benar. Dia cantik seperti Mamanya"
Papa David hanya tersenyum mendengar percakapan keduanya. "Siapa nama cucu cantik Opa ini?"
Mama Clara dan Gama menatap pria paruh baya itu lalu tersenyum bersama,
"Aku akan menamainya Kristalia"
"Kristalia?"
"Benar", Gama menatap putri kecilnya. "Aku dan Dian berharap, anak kami akan selalu bersinar seperti kristal"
"Dia akan menjadi anak yang hebat"
"Amin" sahut Dian pelan
"Di ... Kamu sudah sadar, Sayang?" tanya Gama terkejut melihat istrinya sudah membuka mata
"Nak, akhirnya kamu sadar"
Dian hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia menatap Gama dan bayinya bergantian, "Dia mirip kamu"
Gama langsung memeluk erat belahan jiwanya. Rasa haru kembali menyelimuti keluarga kecil itu.
"Mama dan Papa mau keluar sebentar" ucap Papa David, mereka sengaja memberi ruang untuk Dian dan Gama berbicara berdua. Tentu banyak yang akan putranya itu katakan, apalagi setelah ia melewati masa - masa sulit tadi.
"Mas, kenapa kamu menangis?"
Gama mengusap air matanya, "Terima kasih sudah kembali, Sayang"
Dian tak menjawab, dia hanya memandang sang suami dengan tatapan penuh cinta.
"A-aku takut, Di" Suami Dian itu menggenggam tangan istrinya, "Aku benar - benar takut kehilangan kamu"
"Mas-"
"Aku hancur, aku lumpuh tanpa kamu", Gama menundukkan kepala karena tak mampu menahan tangisannya
"Aku ada bersamamu"
__ADS_1
Pria tampan itu mengangguk, "Jangan lakukan hal seperti tadi lagi. Aku bisa mati jika kamu meninggalkan aku lagi"
"Semua orang pasti akan pergi, Mas. Entah kapanpun itu"
"Tapi jangan sekarang! Aku mau jadi egois sekali saja. Aku masih ingin hidup lebih lama denganmu. Dengan anak kita juga!"
"Aku tidak bisa menjawab iya. Aku hanya bisa berdoa, semoga Allah memberi kita umur panjang agar bisa bersama lebih lama"
"I Love You, Diandra"
Dian tersenyum, "Me too"
oek oek
"Sepertinya putri kita iri kalau kita hanya bahagia berdua"
Gama mengambil putrinya dari dalam box kemudian memberikannya pada Diandra
"Dia mirip kamu" seru Dian
"Kamu benar. Semua orang akan tahu jika dia adalah putriku"
🍀🍀🍀
Dua hari kemudian, Dian sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Tentu hal itu disambut bahagia oleh semua orang. Mama Clara sengaja tidak ikut menjemput ke rumah sakit karena mempersiapkan acara tasyakuran kepulangan Dian dan Kristal. Jadi Gama meminta Tri dan Rani untuk menjemput mereka. Rani sempat marah pada Gama karena tak langsung memberitahunya tentang keadaan Dian, namun karena penjelasan Dian, akhirnya Rani mau mengerti.
"Kenzie tidak ikut?"
"Kamu tahu sendiri, rumah sakit tidak bagus untuk anak - anak" sahut Rani
"Benar juga"
"Semuanya sudah siap?" tanya Gama
"Sudah. Kita pulang sekarang?"
"Biar aku yang menggendong keponakan cantikku" ucap Rani, "Mas Tri kemana ya? Kok ngilang?"
Gama menatap Rani dan Dian bergantian, "Tri aku suruh mengurus sesuatu"
"Ada masalah apa?"
Gama terlihat ragu, "Mas, ada apa?"
Pria itu menghela nafas berkali - kali, "Aku menyuruh Tri mengurus Tuan Aditama"
Deg
Dian hanya diam tanpa berkata apapun,
"Ada apa dengannya?" tanya Rani
"Di ... Kamu mau memaafkan kesalahannya kan?"
Dia masih diam,
"Tuan Aditama di temukan meninggal di kawasan kumuh. Karena dia tidak punya keluarga, jadi dibawa kerumah sakit"
"D-dia sudah meninggal?"
Bukan hanya Dian, Rani pun tak kalah terkejut
"Benar, Sayang. Aku harap kamu mau memaafkannya. Dan aku juga berharap kamu tidak keberatan karena aku akan mengurus pemakamannya juga"
Dian meneteskan air mata, lalu langsung di usapnya cepat. "Tidak masalah"
Gama memeluk sang istri, "Menangislah kalau kamu mau menangis. Maafkan dia ya. Supaya jalannya mudah"
Dian mengangguk,
*Meski kamu memberikan luka mendalam padaku, tapi kamu tetaplah Papaku. Aku memaafkan semua kesalahanmu. Semoga kamu tenang di alam sana.
🍀🍀🍀*
Selain kematian Aditama, mereka juga mendapatkan kabar tentang Cilla dan Vika. Keduanya mendapat hukuman masing - masing 18 dan 20 tahun penjara.
Suami Cilla langsung menceraikan sang istri. Sementara Saka, ia menutup semua akses berita tentang Vika agar tidak sampai di telinga sang putri. Saka hanya menjaga agar psikis putrinya tidak terganggu akibat masalah yang dihadapi Bundanya.
Gama bersyukur, akhirnya mereka akan hidup damai seperti yang istrinya harapkan
***Flash Back Off
🍀🍀🍀***
__ADS_1
Apakah sudah end?
Belum kok 🥰