Diandra

Diandra
Bab 46


__ADS_3

"Bagaimana kondisinya, Lan?" tanya Clara khawatir


dr. Ramlan tersenyum tipis, "Dia hanya demam biasa. Sepertinya calon istri Gama stres dan terlalu banyak pikiran" ucapnya seraya melirik Gama


Clara sedikit lega mendengarnya. "Syukurlah, jadi tidak perlu di rawat di rumah sakit kan?"


"Tidak perlu, Tante. Istirahat saja sudah cukup. Aku akan memberikan vitamin untuknya"


Ramlan bisa melihat wajah tegang Gama sedikit berkurang. "Apa Gama yang membuatnya banyak pikiran?" pertanyaan dr. Ramlan langsung mendapat tatapan tajam dari Gama


"Hahah, lihatlah putra Tante ini, dia begitu kaku. Dingin dan menyebalkan. Tapi aku bersyukur karena akhirnya ada juga yang mau padanya"


Clara tertawa pelan, "Walau kaku begitu, dia pintar juga mencari calon istri"


"Tante benar. Aku jadi tidak sabar ingin melihat Gama junior seperti apa" dr. Ramlan menyerahkan vitamin Diandra pada Gama.


"Thank's"


"Ck, ayolah Gam. Jangan seperti robot begitu. Sejak zaman SMA kamu selalu saja kaku. Semoga Diandra tidak cepat bosan denganmu"


"Kamu masih banyak pekerjaan 'kan di rumah sakit! Sebaiknya segeralah kembali"


"Gam, jangan begitu pada Ramlan" tegur Clara


"Aku sudah terbiasa di tindas olehnya Tante" dr. Ramlan mendramtisir, "Jangan lupa, vitaminnya minum dua kali sehari, pagi dan sore setelah makan. Kalau begitu aku pergi dulu. Semoga Dian lekas sehat kembali"


"Terima kasih, Lan. Maafkan sikap Gama ya. Ayo, Tante antar kamu ke depan"


"Tidak masalah, Tante. Meski begitu, dia adalah kawan terbaikku. Aku pulang dulu, Gam"


"Bayaranmu sudah aku transfer"


"Oke, thank you brother"


Setelah kepergian Ramlan dan Mamanya, Gama duduk di samping Diandra. Menatap lekat dan dalan wanita penuh luka tersebut. Semalam, setelah mencurahkan isi hatinya, Dian tertidur pulas dalam pelukannya. Gama yang tak tega membangunkan Dian, akhirnya membiarkan wanita itu tidur dalam pelukannya. Tepat jam tiga pagi, Dian mulai mengigau. Badannya begitu panas sedangkan tubuhnya menggigil. Gama segera mengambil kompresan lalu mengopres tubuh Dian. Beberapa saat panasnya sedikit rega, namun beberapa menit kemudian kembali panas. Akhirnya Gama menelpon Ramlan, sahabatnya.


Jika saja aku bisa menggantikan beban berat hidupmu, pasti akan aku lakukan, Di. Kamu terlalu berharga untuk menderita seperti ini.


"Gam, maaf aku merepotkan keluargamu" ucap Dian lirih dan pelan

__ADS_1


Gama menggeleng, "Kamu tidak merepotkan, Di. Seperti yang Mama katakan, kamu adalah bagian dari keluarga ini. Jadi tidak ada kata merepotkan dalam keluarga"


Dian merasa bersyukur, di tengah luka dan kesepian yang dia alami selama ini, masih ada keluarga tulus yang mau menerima dia apa adanya.


"Sayang, kamu sudah sadar? Makan dulu ya, Mama sudah buatkan kamu bubur" Clara masuk dengan membawa nampak berisi bubur yang masih hangat


Dian membetulkan posisinya menjadi duduk, "Gam, tolong suapi Dian ya"


"T-tidak usah, Ma. Aku bisa makan sendiri" tolak Dian halus


"Jangan dong, Sayang. Kamu masih lemah, tidak apa biar Gama yang menguapimu"


Dian hanya bisa pasrah, badannya memang masih sedikit tidak enak. Gama mengambil mangkok bubur itu lalu meniupnya dulu sebelum menyuapkannya pada Dian.


"Mama mau ke bawah sebentar ya, jangan lupa obatnya di minum"


"Terima kasih, Ma"


"Sama - sama, Sayang"


"Buka mulutmu"


"Buburnya masih panas? Atau buatan Mama tidak enak?"


Dian menggeleng, "Bubur buatan Mama enak. Mirip buatan Mama dulu"


Gama mengerti kerinduan yang Dian rasakan. Tidak lagi memiliki orang tua apalagi ibu, pasti sangatlah berat.


"Mamaku juga Mamamu. Kalau kamu mau lagi, atau mau makan sesuatu, katakan pada Mama. Dia pasti dengan senang hati akan membuatkannya untukmu"


"Aku sudah banyak menyusahkan Mama. Tidak enak jika harus merepotkannya terus"


Sementara di dapur, Clara sibuk menyiapkan sarapan. Pagi - pagi sekali suaminya sudah ada urusan pekerjaan, jadi belum sempat makan. Dan rencananya, Clara akan mengirimi suaminya sarapan.


"Selamat pagi, Tante"


"Eh, Cilla. Selamat pagi"


Gadis remaja itu duduk di meja makan. Memperhatikan Clara yang sedang menyiapkan makanan ke dalam rantang.

__ADS_1


"Wanita itu ada di sini?"


Pertanyaan Cilla membuat Clara menatapnya sejenak. "Maksud kamu calon istrinya Gama?"


Clara sengaja menekankan kata calon istri agar Cilla sadar jika tidak ada kesempatan untuk gadis itu bersama putranya. Clara bukan tidak menyukai Cilla, wanita pruh baya itu hanya ingin melihat putra semata wayangnya bahagia


"Kapan mereka akan menikah?"


"Kamu mau membuatkan undangan pernikahannya? Bukankah kamu pandai dalam hal mendesain?"


Wajah Cilla berubah masam. Setelah kedatangan Dian, Cilla merasa sikap Clara padanya berubah.


"Perempuan itu merubah banyak hal. Kak Gama bahkan Tante juga berubah"


Clara menghela nafas, inilah sifat yang ia tidak suka dari anak Livia itu. Cilla terkesan egois.


"Tidak ada yang berubah, Cil. Hanya saja ada sedikit perkembangan. Dulu Gama tidak memiliki kekasih, sekarang puji syukur dia akan segera menikah"


"Tante sudah yakin untuk menjadikannya menantu? Bukankah Tante baru mengenalnya? Banyak hal yang Tante tidak tahu tentang dia. Begitupun Kak Gama, kenapa kalian mudah sekali mempercayainya?"


"Itu karena Dian memang tulus. Dia mungkin terlihat seperti antagonis. Namun sesungguhnya dia adalah protagonis yang menyembunyikan diri. Tidak perlu menunjukkan pada orang - orang agar kita terlihat baik. Cukup dengan bersikap baik, orang akan mengenal kita dengan sendirinya!"


Bukan Clara yang menjawab melainkan Gama.


"Kak Gama selalu saja membelanya. Seharusnya sebelum memutuskan untuk menikahinya, Kak Gama mencari tahu asal - usulnya terlebih dahulu. Bukan terburu - buru seperti ini. Kalau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan di kemudian hari, bukankah hanya penyesalan yang tersisa?"


Clara tersenyum, "Yang mengenal lama pun belum tentu bersama selamanya kan? Berusaha mendapatkan apa yang kita inginkan itu memang perlu. Tapi jika sudah terlihat ujungnya tak bisa bersama, bukankah sebaiknya menyerah sebelum terluka?"


Pertanyaan Clara membuat Cilla jengkel bukan main. Mama Gama itu seolah membicarakan dirinya.


"Gam, Mama akan ke kantor Papa mengantar sarapan. Kamu jaga Dian saja, tidak perlu ke kantor hari ini"


Gama hanya berdehem sebagai jawaban. Setelah Mamanya pergi, Gama segera kembali ke kamarnya. Cilla yang di tinggal begitu saja merasa di acuhkan. Diam - diam dia mengikuti Gama ke kamar pria itu. Jika ada kesempatan, Cilla akan memperingatkan Dian untuk menjauh dari Gama. Wanita itu harus sadar akan statusnya.


"Kamu mau kemana?"


Samar - samar Cilla mendengar suara Gama. Pintu yang tak tertutup rapat membuat Cilla dengan mudah mengintip ke dalam. Mata Cilla terbelalak saat melihat apa yang terjadi di dalam sana. Gama dan Dian berciuman, bukan hanya itu. Gama dengan jelas menikmati bibir ranum milik Diandra. Tangan gadis itu mengepal erat, wajahnya mulai memerah karena menahan emosi. Tanpa Cilla sadari, Dian tersenyum menyeringai


Jika Mamamu bisa membuat Mamaku hancur bahkan mati bunuh diri. Aku pun bisa melakukannya padamu, Pricilla Putri Aditama

__ADS_1


__ADS_2